Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 256. Menuju Kota Batu


__ADS_3

Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam. Rombongan yang terdiri dari dua kendaraan beroda empat itu berhenti di sebuah masjid besar di pinggir jalan raya yang cukup ramai. Biasanya jalan raya yang menjadi penghubung antarkota itu sering itu disebut juga dengan jalan provinsi.


" Ini sudah sampai kota Nganjuk, belum , Mas ?" tanya Ninuk. Gadis itu baru terbangun dari lelapnya tidur, walaupun cuma sebentar. Jadi nyawanya serasa belum terkumpul semuanya.


Maklum mereka makan banyak di restoran tadi. Sambil bercengkerama dengan kerabat yang tinggal di daerah itu. Mbak Nindya malah banyak ngobrol dengan dia, Mas Joko dan Putri. Tak ada pandangan meremehkan dari anak bungsunya Pak Sampurno itu, kepada lawan bicaranya. Padahal kedudukan Putri hanyalah sebagai pengasuh Akbar. Juga pendidikannya pun hanya tamat SMP. Berbeda jauh dengan si Tantenya itu, yang tetap duduk di sisi Mas Adam. Seakan - akan dialah yang memang berhak mendampingi pria mapan, yang disebut kakak iparnya itu tadi, adalah CEO dari Abadi Murti. Sebuah perusahaan property terbesar di Jawa Tengah.


Saat konvoi kendaraan berangkat meninggalkan restoran itu, mereka para penumpangnya sudah kekenyangan dan berusaha memejamkan mata sejenak. Apalagi dengan jalan yang mereka lalui begitu mulus. Sehingga bertambah nyaman ketika mobil itu melaju dengan kecepatan yang sedang.


Restoran " Selera Masakan Jawa"' itu memang yang paling recommended, menurut pandangan Ninuk. Di antara sekian banyaknya tempat makan yang mereka singgahi dalam kepergian mereka selama lima hari ini.


Sebuah tempat makan dengan memadukan unsur modern dan bangunan khas yang beradaptasi rumah rakyat Jawa dengan nuansa bilik bambu yang unik atau gedek. Sehingga makan di sana terasa nyaman dan apik. Menu yang disajikan pun adalah masakan dari Jawa Timuran. Seperti Rawon, Soto dan menu bakaran lainnya. Namun masakan itu cocok untuk lidah semua orang. Karena takaran bumbunya agak netral. Tidak terlalu banyak, Juga ada beberapa masakan yang tidak menggunakan bumbu petis. Mengingat ada beberapa orang yang alergi apabila mereka makan udang.


" Mungkin dia jam baru nyampe Nganjuk , Mbak. " Jawab Mas Aji. Pria itu terburu-buru wudhu agar tidak tertinggal sholat jama'ah Isya dengan para pria dari rombongannya itu.


Di bagian belakang masjid, Asti sholat bersama Bulek Ratih dan Bu Jum. Mbak Ning dan Putri menjaga Qani dan Akbar yang ikut terbangun.


" Cari tempat menginap terdekat dari sini saja, Nuk! Ada?" tanya Pak Leon.


" Nggak apa-apa, Mas! Kami masih cukup seger kok, untuk satu atau dua jam perjalanan lagi!" Kata Pak Sugeng ketika mendengar rencana menantunya Lek No itu. Sebenarnya mereka juga sanggup menjalankan kendaraan itu sepanjang malam agar segera sampai di kota Batu yang akan sampai tujuan pada dini hari nanti.


" Kita istirahat saja dulu saja , Pak! Anak-anak juga kurang tidur sejak siang tadi!" Tambah Leon.


Pria itu melihat kedua anaknya masih terdiam di pelukan masing-masing para pengasuhnya. Sedangkan Pak Sugeng dan Mas Aji sedang menikmati kepulan asap rokoknya. Beruntungnya, kedua supir itu selalu membawa kendaraan besar itu dengan hati-hati dan penuh perhitungan.

__ADS_1


Setelah melakukan pencarian dari beberapa aplikasi, Ninuk mendapatkan tempat penginapan yang jaraknya hanya satu jam lagi dari tempat rombongan itu berhenti. Tercatat di situ, kalau penginapan umum untuk rombongan keluarga. Sebab kamar - kamar yang disiapkan berukuran besar dan bisa minta tambah ekstra bed.


Pak Cakra segera melakukan pemesanan. Penginapan itu berada tidak jauh dari pinggiran kota. Di sana mereka mendapatkan tiga kamar besar yang tersisa. Ternyata di daerah itu akan ada perayaan adat yang berhubungan dengan tradisi panen raya. Upacara itu akan dihadiri para pembesar dari Pemda Surabaya.Juga ada beberapa menteri yang akan datang langsung dari Jakarta. Karena akan dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu ini. Jadi beberapa tempat penginapan dan hotel kecil yang terdekat dari wilayah itu mengalami full booking.


Perjalanan terasa lebih ringan, setelah mereka beristirahat tak sampai satu jam lamanya. Padahal lalu lintas di jalan provinsi itu juga tidak terlalu ramai. Maklum bukan malam Sabtu dan Minggu.


Biasanya di kedua malam itu volume kendaraan akan semakin bertambah dengan banyaknya orang-orang melakukan perjalanan dengan kendaraan sendiri ataupun naik mobil umum.


Mereka akan bepergian antar kota untuk sekedar mencari hiburan atau berpiknik ke beberapa tempat wisata di daerah di sekitar itu. Beberapa pemda setempat mulai memperbaiki segala infrastruktur dan fasilitasnya untuk memudahkan berkunjung ke objek wisata terbaru. Sebagai bagian dari program pemerintahan daerah, untuk menjadikan sektor pariwisata, sebagai sektor unggulan, juga dapat menambah pemasukan pendapatan daerah yang cukup menjanjikan.


Terlihat di jalan raya itu hanya ada satu atau dua truk besar mengangkut barang-barang atau sembako. Lain halnya dengan bus - bus antar kota dan provinsi berseliweran dengan kecepatan yang cukup tinggi.


'Penginapan Sejahtera " begitulah nama tempat penginapan itu yang mereka datangi. Penginapan itu terdiri dari dua bangunan bertingkat, memanjang dari timur ke barat. Di bagian yang paling dekat dengan jalan raya, ada semacam loby atau kantor yang buka di sana selama 24 jam. Tempat parkirannya juga terlihat aman, terang dan luas.


Ada satu orang petugas mirip bell boy yang membantu mereka membawakan barang - barang yang diambil dari bagasi mobil Elf, yaitu tas perlengkapan Qani. Juga beberapa tas lainnya. Karena cuma menginap semalam, mereka hanya mengambil peralatan mandi dan pakaian ganti untuk esok hari.


Satu kamar tidur yang lebih kecil digunakan untuk keluarga Leon dan kedua anaknya. Satu kamar besar untuk kaum perempuan. Satunya lagi untuk kaum laki- laki. Mereka meminta tambahan ekstra bed, masing - masing kamar besar berupa dua buah.


Tengah malam akhirnya mereka dapat merebahkan tubuh yang cukup lelah dan kaku. Setelah bersih- bersih dan berganti pakaian yang lebih nyaman. Walaupun di kamar untuk perempuan ada sebuah ranjang besar berukuran King size, untuk mereka. Namun hanya ada Mbak Ning, Bu Jum dan Bulek Ratih yang tidur bertumpukan seperti ikan asing. Ninuk dan Putri yang mengalah untuk tidur di kasur lipat. Sebab Ibunya dan dua wanita lainnya sudah lebih tua usianya. Kasihan kalau tidur di ranjang besi seperti ini, kurang nyaman tampaknya.


Anak-anak sudah tidur kembali dengan tenang setelah digantikan baju yang lebih nyaman oleh Asti. Takut pipis di celana ke-duanya dipakaikan pampers. Leon tidur dengan kedua lengannya dipeluk Akbar. Sedangkan Qani langsung terlelap di pelukan ibunya.


Paginya mereka dibangunkan dengan suara azan yang sangat dekat dan keras. Ternyata letak masjid besar itu hanya beberapa meter saja , dari tempat mereka menginap.

__ADS_1


Dari pihak penginapan mereka diantar sarapan berupa bubur kacang ijo dan setangkup roti tawar dengan olesan selai nanas. Anak - anak cukup menikmatinya setelah mereka mandi. Lain halnya dengan para orang tua yang jarang sarapan. Biasanya mereka lebih suka minum kopi dan menikmati rebusan singkong atau ubi, sebelum ke sawah atau berangkat bekerja.


" Asti, kalau Leon mau, di seberang jalan ada warung kopi. Kami ke sana dulu... Kita jalan jam 8 kan?" tanya Lek No.


" Iya, Lek No!" Jawab Asti sambil melipat pakaian kotor anak- anak dan dimasukan ke dalam tas kresek besar. Qani sudah digendong Bu Jum dan berjalan ke halaman penginapan depan. Ternyata tempat itu sangat ramai. Karena tepat berada di perbatasan antara kota kecil dan desa- desa di wilayah kabupaten itu.


Di depan jalan raya sana, ada banyak orang datang dari berbagai desa di sekitarnya, membawa berbagai hasil bumi dan kebun untuk di jual di pinggir lapangan besar itu. Seperti alun - alun tampak atau lapangan serbaguna. Padahal letak pasar tradisional itu malah berada agak jauh dari lapangan itu. Justru para pedagang musiman itu melakukan jual beli di sana. Terkadang pembelinya juga pedagang yang akan memborong semua dagangan itu. Sebab mereka bermaksud menjualnya kembali di lapak mereka yang ada dalam pasar. Tentu dengan cara diecer atau dijual satuan, kepada para pembeli, sehingga banyak mendapatkan keuntungan. Sebab para pembeli di pasar pada umumnya adalah ibu-ibu rumah tangga.


Iseng - iseng, Bulek Ratih dan Ninuk mendatangi pasar tradisional yang berbeda dengan pasar yang ada di tempat mereka. Rata-rata para pedagang dari desa itu menjajakan dagangannya dengan menggunakan gerobak, sepeda ontel atau pun mobil bak terbuka. Sementara di dalam pasar lebih banyak lagi dijual buah-buahan dan sayur-sayuran.


Mereka juga membeli beberapa makanan tradisional yang dijual di dalam sana. Seperti campuran ketan, cenil dan beberapa panganan dari olahan singkong yang diberi parutan kelapa muda dan siraman air gula merah kental. Juga membeli gorengan seperti pisang, ubi dan semacam bakwan. Juga buah pisang.


Menjelang pukul 8 pagi, mereka telah bersiap - siap. Bulek Ratih mengontrol kembali ke area kamar mandi. Takut ada barang dari anggota keluarganya yang tertinggal. Akbar mau ikut ayahnya berpindah ke Pajero. Kalau Qani semakin anteng, karena ditidurkan di bangku tengah sementara Lek No dan Bulek Ratih pindah ke bangku yang agak di depan.


Perjalanan itu semakin menarik perhatian, karena cuaca semakin cerah. Sehingga terlihat kesibukan orang-orang beraktivitas di kanan - kiri jalan provinsi itu. Mereka mendapatkan pemandangan yang berbeda-beda dari setiap tempat yang dilewati. Baik di wilayah pedesaan, kebun - kebun, area persatuan juga hutan sebelum memasuki wilayah kota kecil lainnya.


Pada umumnya jalan - jalan raya di sepanjang jalan provinsi Jawa Timur ini dibuat lebih lebar dan aspal yang cukup rata atau mulus. Sehingga jalan raya penghubung utama wilayah tengah provinsi Jawa Timur ini cukup aman. Asal para pengemudi itu mau mentaati peraturan lalu lintas, juga tidak ugal-ugalan saat membawa kendaraan.


Sedangkan beberapa orang- orang di sana mulai mendengar pemberitaan tentang rencana dari pemerintah pusat untuk pembuatan jalur jalan tol trans Jawa. Jadi jalan tol itu nanti akan menghubungkan lintas Pulau Jawa dari ujung barat, di Provinsi Banten sampai di Banyuwangi, di ujung Timur provinsi Jawa Timur.


Sebuah jalan yang dapat mempermudahkan transportasi darat di pulau dengan Jumlah penduduk terpadat di Indonesia itu.


Setiap memasuki wilayah sebuah kota, mereka harus mengikuti peraturan lalu lintas yang berbeda- beda. Kalau kota itu lebih besar, biasanya mereka harus mengikuti jalur jalan dengan satu arah. Sehingga kadang harus berputar - putar di dalam kota itu, hanya untuk mencapai jalan luar kota. Di pinggir jalan sana pun banyak pedagang berjualan buah - buah yang dihasilkan dari daerah setempat . Seperti berjualan buah durian, sawo, mangga sampai alpukat.

__ADS_1


__ADS_2