
Mereka akhirnya sampai di depan rumah Asti. Mendengar ada orang yang mengucapkan salam di siang itu, Bude Prapti segera membuka pintu. Tampaknya tamunya itu adalah Ibu Anggita dengan anak kembarnya. Di halaman sana, Ninuk agak repot mengatur dua sepeda mini parkir dengan aman di depan rumah.
" Masuk, Bu. Silakan..."
Di ruang tengah, Asti segera bangun dari duduknya ketika melihat salah satu dari anak kembar itu berlari memeluknya .
" Aku kangen Tante Asti. Ngajarin ngaji lagi, ya? " Pinta si Torro manis. Walaupun terkadang ada ucapannya yang terdengar kurang jelas dan agak cadel.
Dengan penuh rasa sayang, Asti mengusap rambut anak laki- laki yang cukup ganteng itu." Boleh aja. Torro kan sudah belajar ngaji sama Ibu?"
Wajah Asti agak heran melihat si kembar satunya malah menempel ketat pada ibunya. Padahal biasanya Tarra adalah anak yang lincah dan ceria
" Apa Tarra sakit, Ibu Anggita?"
" Nggak kok, tadi cuma kaget sedikit..." Kata Ibu Si kembar hati - hari.
Ninuk segera datang membawa baki berisi tiga gelas air putih. Ibu Anggita segera memberikan air di gelas itu kepada anak yang masih memeluknya erat.
"Oh, Tarra Nggak apa- apa kan?"
tanya Ninuk tidak yakin. Bocah itu mulai mengangguk.
Mereka akhirnya berkumpul di ruang tengah, sambil mencicipi tahu isi ala Bude Prapti. Ternyata Eyang Putri, nenek si kembar masih berada di rumahnya di Yogyakarta karena ada urusan keluarga. Nanti, beliau akan kembali ke kota ini sambil membawa beberapa barang milik si kembar untuk bayinya Asti.
Barang itu sudah dipilih dan dirapikan oleh seorang pembantu di rumahnya Eyang Putri, yang masih ada darah biru.
Menurut penjelasan Ibu Anggita, beberapa barang untuk keperluan bayi itu hanya dapat digunakan sebentar. Paling tak sampai setahun. Sebab bayi sekarang lebih cepat tumbuh dan besar.
Ninuk masih menemani si kembar nonton film kartun di tv. Sementara Ibu Anggita dan Asti yang sibuk menyusun daftar beberapa jenis pakaian yang diperlukan untuk bayi setelah dia melahirkan nanti. Rencananya nanti Asti membelinya di saat suaminya libur kerja, di sebuah toko perlengkapan bayi yang terbesar di kota ini.
Ibu Anggita juga sibuk menelepon ibunya yang masih ada di rumahnya di Yogyakarta. Menurut Ibu Anggita, dia dulu lama tinggal di rumah induk milik keluarga besarnya itu setelah hamil besar dan melahirkan anak kembar. Pada saat itu suaminya selama dua tahun ditugaskan di kota Tegal .
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti ketika ada suara mobil Satrio memasuki halaman depan. Kedua anak kembar itu berlari menyambut kedatangan Satrio yang beberapa bulan ini sangat dekat dengan mereka.
"Kami, pamit Asti, Pak Satrio! " Ujar Ibu Anggita.
Anak- anak itu turun dari pelukan erat Satrio. Sebab mereka juga tahu, sang Ayah juga sebentar lagi akan segera pulang.
"Ninuk antar ya, Bu. Biar lebih aman!"
Ninuk ikut keluar rumah, sambil mendorong sebuah sepeda mini . Si kembar mengayuh sepedanya lebih bersemangat, apalagi ketika melihat mobil yang biasa dipakai sang Ayah terlihat datang dari jalan di hadapan mereka. Segera sang ayah meminggirkan mobilnya dan membiarkan anak kembarnya lewat. Mereka tampaknya gembira karena mobil ayahnya tertinggal di belakang. Sejenak Tarra dapat melupakan peristiwa tadi.
Santai saja Ninuk berjalan melewati depan rumah ibu Suparlan. Tampaknya sepasang tamu tadi juga masih berada di rumahnya. Tentu mereka juga akan menunggu kedatangan Pak Suparlan yang biasanya lebih sering menaiki motor besarnya, dibandingkan dengan mobilnya. Sebuah Inova hitam keluaran lima tahun yang lalu.
Mobil itulah yang selalu digunakan Ibu Suparlan beraktivitas sehari- hari. Dari mengantar dan menjemput ketiga anaknya ke sekolah, berbelanja ke pasar sampai jalan-jalan ke Solo atau Yogyakarta, bila suaminya ada pekerjaan dinas ke kota lain.
Ninuk jadi kaget ketika wanita yang sedang dipikirkannya itu malah muncul di hadapannya. Wanita itu mengenakan t-shirt ketat hitam dengan bawahan celana jeans selutut itu datang menghampirinya.
"Eh, kamu ngapain ngintip rumah saya?"
"Eh, situ siapa, ya ? Pake ngasih tahu saya. Kamu kan cuma tamunya Bu Satrio kan? Jadi Jangan banyak tingkah kamu!" Ancam Ibu Suparlan geram.
"Cuma kasih tahu aja, Bu! Siapa tahu nanti Pak Sadewo yang akan marah ke tamu ibu, karena membuat seorang anak kembarnya ketakutan. Ibu berani menghadapi kemarahan beliau? Ya. Silakan ..."
Mata Ibu Suparlan tambah melotot, karena dia tidak terima dengan ucapan Ninuk yang membawa nama Pak Sadewo. Pria itu adalah orang yang paling tinggi pangkatnya di perumahan ini, juga paling disegani ibu-ibu yang lain. Karisma beliau pun sampai terdengar dari luar kompleks ini, karena tegas dan berwibawa.
Eh, Wanita itu malah mengacungkan kepalan tangannya kepada Ninuk. Dibalas Ninuk dengan membuang muka. Dia tadinya sengaja ingin memastikan kalau perempuan yang menjadi tamu Ibu Suparlan itu adalah Mbak Nanik.
Mau dipermak sebagus apapun! Dia tetap Mbak Nanik istri Mas Timbul yang pernah jadi omongan para tetangga akan pekerjaan sampingannya yang lain!
Memang benar kata orang. "Gajah mati meninggalkan belalai, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan amal dan budi baik. Harta Pak Kushari, sang mertua Mbak Nanik semakin lama semakin berkurang, bahkan habis tak bersisa setelah beliau meninggal dunia.
Padahal selama beliau ada, kehidupan anak-anaknya yang didapat dari dua orang istri sangat bebas . Mereka berfoya-foya bahkan jarang ke sekolah. Juga ada gosip, anak- anak pak Kushari itu tiap naik kelas harus menyogok wali kelasnya. Maklum lebih banyak bolosnya daripada jam belajarnya di kelas!
__ADS_1
Sayangnya azan Magrib terdengar berkumandang dari masjid besar yang ada di seberang jalan perumahan ini. Ninuk segera masuk, sambil mengunci pintu depan setelah menyalakan lampu teras rumah.
Dari dalam kamar, terdengar suara Asti yang mengaji. Sedang Satrio sedang menikmati makan malamnya. Tak lama. Asti keluar, wanita muda itu mulai agak susah berjalan karena perutnya semakin besar.
" Nuk, makan....! Panggil Asti pelan mengetuk pintu kamar Ninuk yang dulunya dijadikan ruang kerja buat Satrio.
" Tuh muka, sepet banget. Habis tawuran, Neng?" tegur Satrio melihat gelagat Ninuk yang tak biasa.
" Biasa kali, lagi dapet? Ya, Ninuk! " Ledek Asti sambil menikmati potongan buah melon yang disiapkan Satrio di sebuah piring untuk istrinya.
" Iya, dapet musuh ..." Kata Ninuk emosi.
" Sudah dapat lawan debat juga, dia."
Ledekan suami- istri itu membuat Ninuk tambah manyun alias kesal.
"Tadi tamu tetangga depan membuat Tarra kaget, karena membawa mobil agak ngebut. Penumpang perempuan yang ada di samping si supir keluar dan marah- marah. Siapa perempuan itu, Mbak?"
" Ya, mana aku tahu! Siapa, Nuk?"
"Mbak Nanik!"
" Masa, sih?" tanya Asti santai.
"Sengaja aku tadi antar si kembar itu pulang lewat rumah si Jeng Inneke itu, untuk memastikan kalau tamunya itu Mbak Nanik. Eh, Bu Suparlan itu menuduh aku ngintip rumahnya. Ya, jadi aku adu mulut deh!"
" Syukur," bisik Asti. "Jadi orang itu jangan kepo, Nuk. Nggak baik itu. Jadi, ribut kan sama tetangga..."
" Mas Satrio nggak mau bela aku, nih?" Pinta Ninuk tak percaya.
" Ngapain! Si Ibu Suparlan itu kan galak. Tapi galakkan istriku , deng..."
__ADS_1
Belum sempat Satrio meneruskan ucapannya, dia sudah diserang dengan cubitan Asti di lengan dan perutnya. Di mulailah perang ketiga hari ini, yang berasal dari rumah dinas Pak Satrio Wibowo.