
Lek No hanya tersenyum mendengar pertanyaan Pak Darmaji Hendardi itu. Tampaknya lelaki itu sedikit penasaran. Maklum Lek No hanya sesekali memberi kabar kepada Pak Darmaji tentang tujuan keluarganya ke Madiun untuk menengok Joko.
Mungkin dia juga lupa memberitahukan kepada kerabatnya itu. Kalau pada saat yang bersamaan, mereka berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan kedua saudara Emilia, yang pernah tinggal di kota Malang.
Mereka begitu senangnya menemui kedua saudara ibu Emilia itu sehat dan cukup berhasil dengan usahanya... Ternyata dibalik kesulitan hidup Pak Yusuf dan adiknya selama dalam perantauan, mereka juga diberi kekuatan untuk bertahan dan berusaha lebih keras lagi. Sehingga hidup yang mereka jalani diberikan kemudahan dalam berusaha dan mencari rezeki.
" Ini Ardi, Kang! Adik kandungnya. Emilia...Pakde Muin berhasil melacak jejak adik dan Kakak Emilia yang tinggal di Malang!"
" Allahu Akbar!" Seru Bulek Ika agak keras. Wajahnya terlihat penuh rasa kagum dan syukur. Sesekali wanita itu menangkupkan kedua telapak tangannya.
" Apa kalian semua bertemu dengan Asti pada hari Kamis Minggu lalu ?" tanya Bulek Ika lagi. Sepertinya wanita itu mulai menebak-nebak rangkaian peristiwa yang terjadi.
" Iya,Yu! Kami akhirnya bisa dipertemukan oleh Pakde Muin di loby sebuah penginapan untuk kami bermalam di sana. Ninuk sudah lama mengusulkan untuk mampir ke kota itu untuk sekedar berlibur dan berjalan - jalan bersama keluarga di kota Batu. Pak Yusuf baru bisa menemui Asti keesokan harinya..."
" Tuh, kan. Pak! Insting Ibu benar... Sebab sejak hari kamis siang, keadaan Pakde Kerto seperti orang sedang sekarat ... Lidahnya seperti ditarik dengan kuat seakan terkunci. Dia sudah pingsan dua kali, dan mulai kurang mengenali orang- orang yang berada di sekelilingnya. Apalagi anak dan cucu- cucunya sendiri!"
Mereka yang mendengarkan penjelasan dari istri Pak Kades dari Desa Sendang Waru itu menjadi terdiam. Sepertinya Pakde Kerto banyak menyimpan rahasia kelam di kehidupan masa lalunya. Tetapi pria itu sudah tak mampu lagi mengungkapkan rahasia yang sudah tertahan di lidahnya. Dia lebih suka menyimpan semua tindakan jahat dan kezaliman itu sampai ke liang kuburnya nanti.
Lain halnya dengan kematian yang harus dihadapi saudara kandungnya yaitu Pak Kushari Juwono. Pada tahun-tahun sebelumnya, pria itu secara mulus menjalankan tugasnya sebagai Kepala Desa Sendang Waru dalam kurun 6 tahun masa jabatannya. Itu pun juga dibantu dengan peranan Bude Ayu yang memang sudah aktif di kegiatan Ibu PKK kelurahan dan memimpin kelompok ibu- ibu pengajian dari desanya sampai di Kecamatan.
Bisnis ilegal Pak Kushari juga berjalan lancar dengan memanfaatkan orang- orang tertentu yang mau berbisnis haram dengannya. Dia mengerahkan bantuan dari mantan narapidana dan preman setempat. Namun kegiatan mereka itu akhirnya mulai terendus oleh pihak yang berwajib. Jadi penjualan barang - barang ilegal harus sangat hati- hati dilakukan agar itu diketahui aparat kepolisian .
Padahal Pak Kushari tidak hanya menjual kayu jati gelondongan, yang memberinya keuntungan berlipat-lipat ganda. Dia juga menjual BBM oplosan ke beberapa pengecer yang menjualnya di pinggir jalan.
Pokoknya berbagai hal yang menguntungkan dan memberinya banyak pemasukan, pasti dikerjakan oleh kedua Juwono bersaudara. Termasuk hampir menjual tanah bengkok, milik masyarakat Desa Sendang Waru. Padahal tanah itu khusus diperuntukkan hanya kepada kepala desa yang masih bertugas memimpin desa mereka. Tanah garapan itu seperti gaji bagi kepada desa selama masa kerjanya saja. Bukan untuk dimiliki secara pribadi. Apalagi tanah bengkok itu luasnya mencapai puluhan hektar.
Kejadian terakhir yang membuat keuangan Pak Kushari mulai menyurut, ketika usahanya di sebuah pertokoan di kota sebelah, disegel oleh pihak yang berwajib. Terbukti di toko itu sedang ada kegiatan mengoplos bensin sekarang ilegal yang dilakukan oleh rekan usaha Juwono bersaudara itu. Di toko itu menyimpan banyak drum berisi BBM dan hasil yang sudah dioplos. Bensin oplosan itu sudah siap akan diedarkan dan dijual ke masyarakat. Karena mengunakan nama orang lain dari kepemilikan usaha tersebut, untuk sementara nasibnya Pak Kushari masih aman.Tetapi dia mengalami kerugian yang sangat besar, sampai ratusan juta rupiah, Akibat penyegelan toko dan ratusan liter bensin yang disita oleh polisi.
__ADS_1
Sejak itulah keuangan Pak Kushari mulai seret. Istri-istrinya mulai ribut, dengan semakin berkurangnya jatah uang belanja bulanan mereka. Bahkan Bude Ayu yang dituduh oleh para kakak madunya itu dengan alasan mau menguasai sendiri semua harta suaminya.
Saking tidak tahannya dengan tuduhan itu, Bude Ayu nekad meninggalkan rumah yang ada di perbatasan dua desa itu. Dia kembali ke rumah Joglo. Tetapi rumah pemberian Pak Kushari itu ditempati oleh kerabat istrinya Pak Darmaji, yang bekerja menjadi anggota polisi di polsek setempat. Setelah dikontrakkan Bude Ayu selama 2 tahun.
Pusing juga Bude Ayu setiap anak-anak tirinya itu datang ke rumah dan meminta uang. Padahal dia mengelola uang hasil panen sawah dan kebun milik peninggalan orang tuanya sendiri, dari warisan Winangun. Wanita itu sejak lama sedikit saja membelanjakan uang bulanan pemberian Pak Kushari. Setelah tahu kalau lelaki itu banyak melakukan tindakan yang menyalahi aturan agama dan hukum untuk memberi nafkah kepada istri , anak dan keluarganya.
Pada saat yang hampir bersamaan, Asti juga masih bersedih setelah kakeknya, Pak Harjo Winangun wafat beberapa bulan sebelumnya.
Sampai berbagai usaha Pak Kushari mulai terkena imbas, yaitu tutup atau bangkrut. Banyak orang- orang yang berbisnis ilegal dengannya mulai tidak suka bekerjasama dengan mereka. Sebab kedua Juwono bersaudara itu hanya mau untung sendiri saja.
Pak Kushari mempunyai sikap yang tamak, curang dan tidak setia kawan. Dia. tidak mau menolong bila ada satu atau dua orang dari rekan bisnis mereka tersangkut urusan dengan pihak berwajib.
Lelaki itu lebih memilih diam, agar nama baiknya tetap terjaga. Tak peduli kalau rekan bisnisnya itu harus terpuruk dengan segala kesulitan yang dihadapinya.
Pak Kushari meninggal di dini hari itu setelah mendapatkan serangan jantung. Ketika seorang anaknya buahnya menyampaikan suatu berita yang sangat mengejutkannya. Truk - truk miliknya berhasil dicegat oleh polisi di suatu jalan di daerah provinsi Jawa Timur.
***
" Pak kades! Pak Kades Darmaji!"
Tiba - tiba mereka dikejutkan dengan panggilan suara seseorang di depan rumah itu. Suasana juga cukup ramai di sana. Terlihat
sudah banyak warga yang mulai berkumpul. Kebanyakan dari mereka adalah ibu- ibu. Para ibu itu ada yang masih berusia muda sampai yang paruh baya. Hampir semua para perempuan itu mengenakan kerudung hitam di kepalanya. Seperti randa ikut berduka cita.
Pria bertubuh tinggi besar, yang dipanggil Pak Kades itu meminta izin sebentar kepada tamu tersebut untuk menemui warganya. Sebagian dari mereka sudah masuk ke dalam pagar rumah. Sebagian lagi berkerumun di pinggir jalan yang sangat ramai.
" Ada apa ini, Pak Pur?" tanya Pak Kades kepada pria yang mengenakan kopiah hitam.
__ADS_1
" Ini Bu Kerto sudah sejak siang tadi meminta tolong kepada Pak Samiun tetangga sebelah rumah ... Kalau suaminya mungkin sudah berpulang alias meninggal dunia. Karena sudah tidak merespon kalau dipanggil. Tetapi anak - anaknya hanya diam saja, saat dimintai bantuan!"
Pak Darmaji menatap halaman depan rumah tetangganya. Tampak di sana para tetangga mulai banyak berdatangan. Biasanya begitulah kebiasaan warga desa di sini. Bila mendapat kabar kematian, mereka segera ke rumah orang yang sedang berduka cita, alias melayat . Biasanya kabar duka itu disampaikan dari mulut ke mulut, sampai menyebar ke seantero desa. Namun dalam keadaan ini beberapa orang pria masih meragukan kematian Pak Kerto.
Mereka masih meminta pendapat Pak kades dulu. Agar keadaan Pak Kerto dapat dinyatakan benar - benar meninggal dunia, baru akan disiarkan secara resmi melalu pengeras suara yang ada masjid di seberang jalan sana.
Pria itu bergegas keluar rumah sambil memakai peci dan kemeja batiknya. Langkah itu diikuti oleh Lek No dan Ardi di belakangnya. Sebab rumah Pak Kerto ada di seberang rumah Pak Kades.
Kedatangan beliau langsung disambut oleh beberapa pengurus desa yang sudah menunggu. Banyak juga Ada orang yang mengenal Pak Sarno Winangun juga. Jadi mereka jadi saling bertegur sapa, dan bersalaman dengan akrabnya.
Mereka semua cukup menghormati pamannya Asti itu. Walaupun sebenarnya Pak Sarno mempunyai nama belakang yang berbeda dari pihak keluarga ayahnya. Sebab menurut urutan silsilah keluarga, Ibu Pak Sarno adalah adik tirinya Pak Harjo Winangun. Dulu neneknya adalah wanita yang menggurus Ibu Ratnasari Sutiyah, istri pertama dari ayah dari Pak Harjo Winangun yang sedang sakit keras. Wanita itu dinikahi ayahnya Pak Harjo atas izin istri pertamanya, yang sudah lama sakit parah dan tidak bisa menggurus semua keperluan untuk suaminya itu. Namun Pak Harjo Winangun sudah menganggap Sarno seperti adiknya kandungnya sendiri.
Mereka bersalaman dengan banyak orang yang sebagian ada di dalam rumah itu. Ada seorang tokoh pemuda yang berinisiatif memanggilkan seorang dokter yang bertugas di Puskesmas. Kebetulan gedung puskemas itu tidak jauh dari kantor kelurahan. Gedung itu ada di seberang jalan utama desa Sendang Waru....
Beberapa menit kemudian datanglah Pak dokter itu, dibonceng oleh Rangga, ketua karang taruna setempat. Dokter itu diantar masuk oleh salah satu pria yang menyambutnya di pintu depan rumah Pak kerto. Pak Dokter itu segera mengeluarkan berbagai alat dari tas hitam yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi ke rumah pasien untuk melakukan pemeriksaan.
" Pak Kerto masih hidup, hanya keadaannya sangat kritis!" bisik Dokter Ahmad Sofyan kepada bapak yang tadi menemani memeriksa keadaan pria tua itu.
"Bu Mus, Pakde belum meninggal Kata Pak dokter, hanya beliau dalam keadaan yang sangat kritis!" ucap pria itu.
Wanita yang dipanggil Bu Mus adalah istri kedua pria itu. Wajah wanita itu tampak pucat dan sangat merasa bersalah. Ada genangan air mata di wajahnya yang tirus. Dia menatap wajah dokter itu seperti memohon maaf.
" Dari kemarin, Bapak sudah tidak bisa membuka mulut.Jadi saya tidak bisa memberikannya makanan dan minum, " ujarnya terbata-bata.
Dokter itu menghela nafas panjang. " Sejak kemarin, harusnya pihak keluarga lapor saja ke puskesmas. Biar Bapak kita rawat di puskesmas, Bu. Pak Kades Darmaji sudah melaporkan tentang keadaan Pak Kerto. Harusnya ada Inisiatif sendiri dari pihak keluarga, Bu! Usahakan diberi makan atau minum!"
Pria itu segera menyiapkan infus. Tangannya dengan tertampil menusukkan sebuah jarum suntik di pergelangan kiri Pak Kerto. Sekarang tiang infus itu sudah berdiri, Pak Dokter kembali memeriksa selang infus itu. Agar pertolongannya itu sedikit membantu keadaan Pakde Kerto yang sudah terdiam agak lama. Wajahnya sangat pucat.
__ADS_1