
Rumah mewah di kawasan elite di tengah kota, itulah tempat tinggal Mbak Sasya dengan suami dan kedua anak perempuannya. Kedua anak perempuannya itu berusia 8 tahun dan 10 tahun.
Sebelumnya, Keluarga Mbak Sasya tinggal di Semarang. Berkat naiknya jabatan sang suami yang menjadi kepala cabang di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri garmen, mereka pindah ke Solo.
Lewat jemari terampil Ninuk, yang kini duduk di samping Pak Sopir, mereka dapat menjelajahi separuh kota dengan sebutan Surakarta Hadiningrat itu, dalam cuaca pagi menjelang siang yang cerah. Petunjuk GPS memperlihatkan kalau kebanyakan jalan- jalan penghubung di kota ini berlaku hanya satu arah.
Wanita cantik itu tampak sangat senang dengan kehadiran tamu- tamunya. Mereka disajikan teh hangat dengan kue- kue tradisional yang kaya rasa dengan gula, ketan dan santan.
Bank yang mereka tuju pun juga tidak terlalu jauh letaknya dari rumah Mbak Sasya. Karena masih berada di tengah kota. Sementara Asti masuk ke dalam gedung itu dengan membawa dompet berisi empat lembar cek itu. Keluarga Lek No bersama Akbar menunggu di pelataran parkiran gedung bank yang bernuansa biru tua itu.
Ternyata urusan di bank itu dipermudah berkat campur tangan Mbak Sasya. Mereka dilayani oleh si Mbak di bagian customer service , dipantau oleh seorang supervisor. Sebagian dari cek itu itu menjadi buku rekening keluaran dari bank tersebut untuk biaya pendidikan Akbar. Sebagian lagi dimasukan ke dalam rekening Asti dari dua bank pemerintahan yang berbeda.
Lucunya, setelah menyelesaikan beberapa transaksi di meja itu, Asti mendapat bingkisan berupa tiga kantong tas kertas dengan logo bank tersebut yang berisi sovenir dan dua buah payung besar.
" Mbak, terima kasih banyak sudah dicarikan pembeli perhiasan, dibantu urusan ke bank! Aku merasa bersyukur punya Kakak Ipar sebaik Mbak Sasya."
Mbak Sasya malah membawa mereka jalan- jalan dan makan di sebuah mall terbesar di kota itu .
Sebelumnya , Asti sempat memberikan liontin terbaik dari koleksi Bude Ayu. Saat mereka masih di rumah, namun Wanita itu menolak. Tetap saja Asti memaksa. Sampai akhir dia mau menerima itu. Sebab Asti ingin benda itu menjadi kenangan bagi mereka.
Awalnya, Asti mau memberinya uang. Namun dia ragu - ragu. Sebab dengan rumah sebagus ini, dan kedudukan suaminya di perusahaan, tentu Mbak Sasya tidak pernah kekurangan uang bukan?
Sementara Joko berkeliling kota dengan keluarganya, Asti kembali ke rumah Mbak Sasya. Akbar akan dikenalkan dengan anak- anak Mbak Sasya sebagai saudara sepupu.
Anak- anak perempuan Mbak Sasya bersekolah di sekolah di SDIT yang cukup terkenal di kota itu sebagai sekolah swasta terbaik. Ternyata jam belajarnya lebih panjang. Sehingga mereka sampai di rumah sudah agak sore dengan diantar oleh mobil jemputan sekolah.
Apalagi Mas Pandu Adiyaksa, suami Mbak Sasya, jam pulang kantornya lebih malam lagi. Jadi untuk mengisi waktu luang, Mbak Sasya sibuk di berbagai kegiatan sosial dan kewanitaan.
"Kenapa Satrio nggak mau mengantar kamu? Untuk nengok Bapak ke Purwokerto aja, dia mendapat izin dari atasannya."
" Itulah, Mbak Sasya. Satrio sepertinya tidak terlalu suka dengan rencana saya membuat rumah dekat pasar kecamatan. Padahal di rumah dinas itu saya nggak bisa menyiapkan kamar yang layak untuk Bapak dan Ibu kalau datang menginap. Apalagi berbarengan kalau keluarga Lek No datang. Rumah itu sudah mirip tempat pengungsian!"
__ADS_1
" Cara berpikir kalian memang sangat berbeda! Kamu lebih mengutamakan untuk kepentingan keluarga. Tampaknya Satrio hanya untuk kepentingan pribadinya saja! Kamu harus sabar- sabar Asti! Satrio dulu sangat dimanja oleh Ibu, juga Eyang Putri Ningsih. Maklum cucu laki-laki satu- satunya."
Kedua anak Mbak Sasya, Davina dan Sharena sangat senang bertemu dengan Akbar. Apalagi Akbar yang sudah berusia lebih dari 4 bulan sudah mampu berinteraksi dengan saudara sepupunya itu.
"Pah, ini ada Asti dan bayinya yang lagi berkunjung ke rumah kita!"
Asti hanya mendengar suara Mbak Sasya yang berjalan dengan seorang laki-laki gagah menuju ruang keluarga. Tempat Akbar bermain dengan kedua anak itu.
" Ini, Istri Satrio? Halo, saya Pandu, Suami Sasya Anindita!"
"Ih, Papa norak banget kasih salam begitu!" Cemooh Mbak Sasya ketika suaminya itu menyalami Asti.
"Beginilah, Asti! Kalau nggak ditelpon, kalau di rumah ada tamu. Mas Pandu mungkin akan tidur di kantor dengan laptopnya."
Ya, Allah! Pasangan suami itu sangat serasi dan harmonis. Benar- benar pasangan ideal. Wajah Mas Pandu mirip dengan aktor Indonesia yang bermain laga di beberapa filmnya. Sedangkan kecantikan Mbak Sasya sudah dibuktikan sewaktu dia kuliah dan menjadi primadona di kampusnya.
Apa begini jalan dan takdir seseorang? Yang cantik berjodoh dengan yang ganteng! Orang Kaya akan memilih pasangannya yang berasal dari orang kaya juga.
Jangan - jangan dirinya hanya seorang Upik Abu yang dinikahi oleh Satrio yang mempunyai latar belakang kehidupan sangat cemerlang. Mungkin perubahan sikap Satrio belum lama ini menunjukkan kalau Asti harus melepaskan gelarnya sebagai Cinderella yang siap terhempas ke bumi. Tetapi ini bukan mimpi!
Memang, Asti segera pamit pulang. Padahal kedua anak perempuan itu masih ingin bermain dengan Akbar. Kedua anak itu menjalankan sholat Asar dan Magrib di sebuah ruang khusus sholat di rumah megah itu, dengan Asti sebagai imamnya.
" Mama nggak diajak, shalat?"
" Mama masih sering- sering telat sholat nya, Tante Asti. Apalagi kalau sudah banyak kerjaan, banyak juga lupanya!"
Belum sampai halaman parkir losmen, Akbar sudah tertidur. Karena agak repot. Pak Sunandar, supir Mas Pandu yang membawa sebagian barang- barang Asti sampai ke kamar tempat Asti menginap.
Pria itu berulang - ulang mengucapkan terima kasih setelah Asti memberinya dua lembar uang berwarna merah itu.
Hampir Isya, barulah keluarga Lek No kembali ke Losmen. Sejak kemarin Asti sudah memberi uang jajan kepada Keluarga Lek No untuk belanja dan makan- makan di mal.
__ADS_1
Ninuk membeli hape android terbaru. Lek No membeli sandal kulit yang bagus, katanya agar dapat dipakai kalau dia menghadiri kondangan. Sedangkan Bulek Ratih memborong daster batik yang mutunya cukup bagus.
Asti melarang keluarga Lek No membelikan berbagai barang untuk Akbar. Sebab Akbar sudah mendapat banyak kiriman baju bayi dan mainan dari Kakak perempuan tertua Satrio yang tinggal di Cirebon.
Besok siang, keluarga mereka akan kembali ke desa. Sebenarnya Ninuk belum puas selfie dengan hape terbarunya untuk mengambil gambar dari beberapa sudut terbaik di kota ini.
Sarapan ala orang kota dinikmati Lek No dan Bulek Ratih yaitu roti bakar dengan selai stroberi dan segelas kopi susu. Asti memesan nasi goreng plus telur mata sapi. Entah apa yang dipesan Ninuk dan Joko pada staf losmen ini.
Barang- barang bawa sudah dirapikan dan diturunkan ke loby. Di meja resepsionis Asti membayar sewa dua kamar itu secara tunai. Tak lupa Asti memberi tips untuk pegawai yang membawakan tas- tas mereka sampai ke parkiran mobil.
" Enaknya, jadi orang yang banyak duit, ya. Asti?"
" Cuma sebentar aja, Bu! Jangan kelamaan mimpinya, nanti kalau jatuh, kan jadi sakit!" ujar Ninuk berfilsafat.
"Tumben bener itu otak nggak korslet, " kata Joko menggoda adiknya.
Ampun, si Ninuk malah jadi manyun lagi. Mereka berputar mengelilingi kota yang sesuai dengan GPS di hape Ninuk. Sampailah mereka menuju sebuah pasar besar yang menjual berbagai macam - macam batik, yaitu Pasar Klewer.
Kali ini Joko dan Ninuk yang mengawal Asti. Sebab Lek No dan Bulek Ratih menyerbu penjual makanan yang banyak mangkal di sepanjang jalan di samping gedung pasar yang besar dan megah itu.
Katanya makan roti sebagai sarapan belum membuat pasangan suami istri itu merasa kenyang. Sebab perut orang desa kalau belum diisi nasi katanya belum makan.
Akbar akhirnya dibawa Lek No dengan memakai stroller. Sebab keadaan di dalam dan di luar pasar sangar ramai. Mereka berusaha membuat bayi itu tetap nyaman dan aman.
"'Mbak Asti, lama lho Sampeyan nggak belanja di sini lagi!" Ujar Ibu Sito.
" Ini mau mampir. Biasa ya Bu. dapat diskon kan?"
Asti memilih beberapa blus batik, rok kulot juga ada daster. Ada sebuah Gaun batik yang cukup bagus model dan jahitannya, rencananya akan dia berikan kepada Ibu Komandan dan ketua organisasi yang diikutinya di kantor Satrio.
Sampai tanpa sadar, Asti juga membeli tiga kemeja batik untuk suaminya itu. Dua lengan panjang, satu lengan pendek dengan potongan yang sangat bergaya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Asti selalu terngiang-ngiang kata dari Mbak Sasya, 'Kalau di rumah Satrio suamimu, kalau sudah melangkah keluar pagar dia milik orang lain!'
Boleh Juga perkataan itu kalau Satrio bekerja dan menunaikan tugasnya sebagai abdi negara. Asti siap lahir batin! Namun bila hati Satrio berpaling, Asti akan bersabar dan bertahan untuk anaknya, Akbar. Namun Asti tidak menerima perselingkuhan. Jika sampai Satrio melakukan hal itu, Asti siap bercerai.