
Joko tahu, para buruh tani yang tidak muncul hari untuk bekerja di sawahnya lagi, karena terhasut dengan ucapan Pak Sungkono, ayah Dania. Asti pun, dilarangnya untuk tidak memberi bantuan sedikitpun kepada keluarga Dania itu. Keluarga Lek No juga sudah tidak peduli sedikit pun dengan kesulitan kerabatnya itu. Sebab, Dania harus berhadapan dengan masalah hukum.
Padahal buruh tani itu bekerja dengan upah harian. Mereka juga , sudah mangkir lebih dari dua hari tidak datang ke sawah Asti lagi. Mungkin mereka melakukan itu sebagai bentuk rasa simpati kepada keluarga Dania. Semacam demo atau unjuk rasa!
Dalam pemikiran mereka, Asti bukan lah kerabat yang tepo seliro, dengan kesulitan keluarga Dania saat ini. Dipikirin mereka, Asti terlalu pelit untuk mengeluarkan uangnya. Sekedar memberi jaminan pada Dania untuk menyewa jasa seorang pengacara.
Padahal Ibu Tumirah selalu membanggakan hubungan kekerabatannya dirinya dengan keluarga Asti. Walaupun selama ini Asti dan Bulek Ratih selalu menolong mereka karena rasa kemanusiaan. Mungkin hal itu juga berlaku pada orang lain, tanpa memandang adanya hubungan kekerabatan atau pun hanya orang lain.
Untunglah, panen besar itu dapat diselesaikan semuanya hari ini. Nanti sisa pekerjaan akan dikerjakan oleh para pekerja, yang merupakan para tetangga di sekitar desa sini. Mereka juga sudah cukup lama bekerja di sawah Asti, namun selama ini berjalan tanpa ada permasalahan apa pun.
Kemarin Asti sudah mengambil uang cash cukup banyak nominalnya, di sebuah bank pedesaan milik pemerintah. Seperti biasanya, Asti akan menukar sebagian uang yang diambilnya itu dalam bentuk pecahan lima puluh ribuan dan dua puluh ribuan. Dia dilayani dengan baik oleh para petugas bank di sana yang sudah sangat mengenal sosok wanita cantik itu.
Lek No dan Asti akan memberi upah kepada para pekerja kali ini dengan hitungan jam yang dihabiskan mereka bekerja di sawah hari ini. Para Bapak akan mendapatkan upah dua ratus ribu rupiah, karena pekerjaan mereka lebih berat. Sedangkan para ibu mendapat upah seratus lima puluh ribu rupiah.
Para pekerja pria itu juga mencabut tanaman singkong yang sudah cukup umur. Pohon itu banyak ditanam di pinggiran sawah dan kebun. Ternyata semua lahan yang ditanami itu masih merupakan milik Asti. Mereka juga dibekali hasil panen singkong dan beberapa sisir pisang saat pulang.
Kang Kasat dan buruh tani lain, sangat rajin untuk menanami bagian lahan yang kosong pada sawah itu. Mereka menanam berbagai tanaman selingan, seperti singkong, ubi juga pisang...
Pohon singkong di tegalan itu sudah berumur lebih dari 6 bulan, jadi bisa dipanen hasilnya. Kang Kasat memanfaatkan tanaman itu sebagai pagar untuk menjadi pembatas sawah Asti, dengan sawah warga lainnya. Dia juga menanam bunga Marigold dan yang lainnya sebagai upaya mengurangi hama padi berupa wereng atau walang.
Dua mobil bak terbuka itu kembali pulang ke desa Sidodadi setelah azan Dhuhur berlalu. Para warga itu pulang dengan bersuka cita.
Bahkan banyak dari tetangga Asti itu menawarkan diri untuk dapat membantu pekerjaan di sawah Asti
Terutama pada musim tanam atau musim panen yang akan datang.
Sementara Joko akan tinggal di rumah orang tuanya itu sampai sore. Dia yang akan membawa pulang mobil Asti. Mbak Ning pun masih betah berlama-lama di sana. Rencananya dia pulang sore nanti bersama Joko.
Asti, Akbar dan Bu Jum ikut mobil Pak Leon untuk pulang. Akbar duduk di depan dipangku Pak Leon. Ada satu rantang berisi sayur sop dan beberapa potong ayam goreng yang tadi disiapkan Bulek Ratih untuk makan Akbar nanti di rumah.
Sesekali Mbak Ning ingin bersantai di desa Sendang Mulyo. Dia senang tinggal di rumah Joglo yang sangat nyaman, indah dan antik. Rumah milik Asti itu banyak menyimpan kenangan dan peninggalan bersejarah bagi keluarga Winangun.
Para ibu tetangga setelah Asti segera membakar singkong itu untuk menjadi makanan camilan di sore hari. Sementara ibu yang lainnya akan mengolah singkong itu menjadi berbagai jenis makanan. Daripada hanya direbus atau digoreng saja, makanan seperti itu sudah sangat biasa di makan mereka. Singkong pun dapat diolah menjadi berbagai makanan seperti getuk, combro atau misro.
__ADS_1
Pada masa lalu, banyak masyarakat di daerah ini makan hasil olahan singkong ini untuk pengganti makanan pokok, seperti nasi. Nama makanan itu adalah tiwul.
Pada zaman itu agak susah membeli beras. Seringkali padi di sawah mereka gagal panen karena terserang hama. Atau sawah mereka mengalami kekeringan yang sangat lama di musim kemarau. Sehingga mengalami musim paceklik atau rawan pangan. Jadi harga beras melambung sangat tinggi.
Sekarang zaman sudah modern dan berkembang teknologi pertanian pun semakin maju. Tak ada orang yang akan kelaparan, jikalau mereka mau bekerja keras mengolah sawahnya dengan baik. Juga mematuhi bimbingan dari para penyuluh pertanian.
Sayangnya, banyak warga di pedesaan yang menjadikan sawah dan tanah mereka sebagai investasi layaknya seperti simpanan emas. Banyak dari mereka akan menjual sawah itu untuk membayar hutang, ada yang tidak bisa untuk biaya pernikahan anaknya, atau biaya lainnya yang nilainya cukup besar.
Padahal kalau mereka tidak mempunyai sawah, petani itu akan kehilangan mata pencahariannya. Sebab kemampuan mereka adalah bertani. Salah satu pekerjaan yang kini sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muda di berbagai desa.
Mungkin karena para kaum muda itu merasa pekerjaan itu tidak keren, atau kurang menarik. Harus kena lumpur dan kotor setiap hari. Juga hasilnya baru beberapa bulan kemudian dapat dinikmati, setelah panen.
***
Insting Joko selalu tepat. Sebelum azan Ashar berkumandang, ada dua buah sepeda motor dengan empat orang di atasnya, hilir mudik di sekitaran lahan sawah milik Asti itu.
Mereka berkeliling dengan dua motor itu di sepanjang bantaran sawah yang dalam beberapa bulan ini menjadi lahan suburnya tumbuhnya tanaman kacang tanah jenis varietas unggul.
Lahan itu sekarang terlihat kosong, dengan bekas tanah yang telah digali. Juga banyaknya tumpukan pohon kacang tanah tua yang layu terbakar matahari. Hampir semua tanaman kacang tanah di lahan yang sangat luas itu telah dipanen seluruhnya.
Kegiatan empat orang itu terus dipantau Joko dari drone yang dipinjam dari Pak Cakra, tadi pagi. Asisten Pak Leon itu menggunakan alat ini untuk memantau pekerjaan penyelesaian beberapa fasilitas. Karena daerah yang dikerjakan sangat luas, dengan drone inilah mereka terbantu. Sebab proyek itu sangat penting sebagai pelengkap sarana dan prasarana di perumahan itu.
Lek No, Bulek Ratih dan Mbak Ning terkagum- kagum dengan alat tercanggih saat ini. Mereka berdiri terus di depan Joko, sambil melihat kamera pengendali itu tanpa berkomentar banyak.
Tampak kedua motor mulai meninggalkan area persawahan... Motor itu mulai menuju ke jalan pemukiman warga desa Sendang Mulyo. Mereka tampak singgah di sebuah warung milik Ibu Dian.
Suami Bu Dian padahal baru saja pulang dari rumah ini. Pria itu adalah pekerja yang paling rajin dan ulet diantara pekerja yang lainnya. Tadi dia sudah membantu Lek No merapikan tumpukan karung-karung kacang tanah di gudang.
Besok mereka semua akan melakukan penjemuran, agar kacang tanah menjadi kering dan segala kotoran tanahnya dapat dibuang. Kemarin Joko sudah mencari informasi tentang teknologi pengupasan kulit pada kacang tanah. Sebab mereka punya ratusan kilo kacang tanah bibit unggul. Kalau dikerjakan secara manual akan memerlukan waktu yang sangat lama.
" Ini siapa, Pak?" tanya Joko pada ayahnya. Setelah dia berhasil memperbesar foto beberapa orang yang duduk di warung Bu Dian. Mereka sedang minum kopi dan merokok.
" Lho ini, Azis sama Jambul, adiknya
__ADS_1
Pak Budi...." Ujar Lek No. Menatap wajah- wajah pria yang lebih muda umurnya dari dia beberapa tahun di bawahnya.
" Apa mereka punya hubungan baik sama Pak Sungkono, ayahnya Dania?"
" Bapak nggak tahu, Jok! Kalau mereka mau mendengar omongan Sungkono itu, ya nggak apa-apa! Untung tadi tetangga Asti mau membantu kita. Jadi panen lebih cepat selesai hari ini!"
" Apa mereka nggak rugi, begitu? Nggak bekerja sudah lebih dua hari. Memangnya Pak Sungkono berani membayar upah mereka yang tidak bekerja di sini lagi!" Omel Joko panjang lebar. Sebab dia yang melarang orang tua Dania bekerja di sawah Asti ini , beberapa waktu yang lalu.
" Kang Slamet, Kang Kasat! Hapalkan wajah orang - orang dari Wetan ini. Besok kalau mereka datang dan minta kerjaan lagi di sini. Jangan di kasih." Tegas Joko lagi.
" Beres Mas Joko!" ucap mereka hampir bersamaan.
Pantas saja, puluhan orang kemarin tidak mau datang ketika diberitahukan rencana untuk memanen kacang tanah. Padahal selama ini, Lek No juga sangat menghargai kerja keras mereka dengan memberi upah yang cukup tinggi.
Asti cukup kecewa dengan sikap orang tua Dania kali ini. Atau Ini ulah Dania yang pandai memutarbalikkan fakta. Asti berharap dengan tertangkapnya Dania, kelompok Jago akan segera digulung oleh pihak yang berwajib. Sehingga permasalahan ini bisa dibuktikan kebenarannya di meja hijau.
Pak Leon sudah kembali ke rumah sore itu. Tak disangka, di meja makan sudah ada makanan hangat tersedia. Asti masak cah kangkung, ayam rica- rica dan pepes tahu telur asin.
Pria itu bersama dua asisten makan semua masakan itu dengan lahap. Maklum rasa masakan ini agak berbeda dari menu yang biasanya mereka temui. Masakan ini terasa lebih ringan bumbunya, lezat dan menyatu. Bu Jum malah menikmati mie nyemek yang dibuat Asti dalam porsi yang lebih sedikit.
" Yang , sayur kangkungnya mau habis!" Lapor Pak Leon.
" Habiskan saja! Kami makan ini, kok!" jawab Asti.
Pak Leon berdiri meninggalkan meja makan. Dengan santai dia membawa sendok di tangan. Tanpa rasa malu atau jalan jijik, dia mencicipi mie kuah nyemek yang ada di mangkok Asti.
" Ini juga enak juga, Yang! Apa kamu juga masak mie nyemek cukup banyak . Ada sisanya, nggak ?" tanya Pak Leon lagi. Matanya mencari- cari wadah mie itu di meja makan. Tetapi tak ditemukannya.
Asti menyerahkan mangkok itu, dengan mie yang masih cukup banyak isinya. " Tinggal ini saja, Mas! Makanlah! Nanti malam aku buatkan lagi, kalau Mas masih lapar!"
Cepat pria itu menghabiskan mie nyemek itu. Memang Asti selalu masak dengan cara yang lebih cepat dan simpel. Jadi setiap masakan terasa pas di lidah.
" Gila, Mbak Asti! Semua masakan ini enak betul. Padahal hanya dari bahan sederhana saja. Dikasih bumbu apa lagi ini. Bumbu cinta, ya? Bisa- bisa kita pulang ke rumah besok sudah jadi bola ini, karena selalu makan yang enak- enak!" Canda Pak Cakra.
__ADS_1
Tadi mereka juga makan banyak di rumah Bu Ratih di desa. Semua masakan di sana memang terasa berbeda. Kata Bu Jum, semua ilmu memasak Bulek Ratih itu resepnya didapat dari peninggalan Nenek buyut Asti yang berasal dari daerah yang lebih Timur lagi dari wilayah ini. Semua wanita - wanita Winangun harus pandai memasak dengan mengolah menu warisan keluarga mereka.