
Kedatangan Pak Leon dan Asti di depan pintu masuk kafe itu segera disambut dengan ucapan selamat datang ... Ucapan itu berasal seorang pelayan wanita yang berdiri di samping meja kecil. Dia memakai seragam warna hijau lembut dengan topi lucu bertengger di atas kepalanya.
Mereka segera diantar ke sebuah tempat duduk yang lebih privasi. Tentu pelayan tadi berusaha untuk memenuhi permintaan Leon, yang terlihat sangat berwibawa. Apalagi siang itu suasana kafe agak sedikit ramai dengan pengunjung yang akan makan siang.
Tampak dari pintu depan kafe, berdatangan beberapa rombongan pengunjung, ada lima sampai sepuluh orang yang ada di kelompok itu. Rata-rata mereka itu adalah karyawan kantor yang bonafid. Terlihat dari mobil- mobil mewah yang mulai mulai berjejer satu persatu di lahan depan dan samping bangunan kafe yang cukup luas itu.
" Mau makan apa, Yang?" tanya Leon lembut.
Dari mereka diantar masuk ke dalam kafe, sampai di tempatkan di bangku yang lebih privasi karena lebih tenang , Asti hanya terdiam. Mereka dipilihkan tempat di selatan kafe dengan susunan meja tertata dengan kursi untuk dua atau tiga orang saja.
Mata Asti terus mengamati keadaan di sekelilingnya. Tampak taman kafe ini memang terasa sejuk, nyaman dan indah. Taman itu ditata rapi dengan rumput hijau menghampar. Di sudut ada kolam ikan dengan susunan air mancur. Seluruh halaman kafe di penuhi dengan pohon tinggi yang daunnya sangat rimbun... Konsep Kafe dengan taman ini benar- benar menyatu. Sehingga kafe ini seperti sebuah oase di sebuah kota kecil yang ramai dan sedikit gersang. Sebab daerah ini berada di dataran rendah yang lebih dekat Jaraknya menuju pantai Utara Pulau Jawa.
" Yang, ditanya dari tadi, kok diam saja. Jangan melamun terus, dong!" Pinta Leon agak gundah.
" Ngapain makan siang jauh- jauh ke tempat ini, Mas! Kamu sengaja melakukan ini untuk menghindari Mbak Almira, kan ? " Ujar Asti pelan. Tetapi Leon tampak terkejut.
" Nggak, kok! Aku Lihat kafe ini cukup rame juga beritanya di Instagram. Jadi mau coba, aja! Siapa tahu kamu makan di sini! Sebagai perubahan suasana..."
" Mas, pokoknya aku nggak mau makan. Sebelum Mas Leon bicara dengan jujur... Ada apa sih, dengan Mbak Almira?" Ucap Asti semakin tegas
" Benar. nggak ada apa - apa! Tetapi aku mulai nggak nyaman kalau kamu masih menganggap dia sebaik yang kamu kenal selama ini ...."
" Wuih, jadi benar kan? Ada rahasia terselubung di antara Mas dengan Mbak Almira?" Ujar Asti santai... Tetapi matanya menahan rasa kepedihan.
" Sebenarnya, saya sudah berjanji untuk mengusahakan Almira bisa bekerja di kantor Mas Pandu di Semarang. Setelah hasil pemeran itu sukses besar. Sayangnya Mas Pandu bukan saja menolak keberadaan Almira di kantornya. Dia juga wanti- wanti agar saya menjauhi wanita seperti Almira. Walaupun berbeda tampilan dengan Corinne. Tetapi mereka berdua adalah tipe wanita yang sangat ambisius... Wanita seperti itu, akan melakukan segala cara untuk memenuhi satu keinginannya agar tercapai!"
Lama Asti tercenung dalam diam. Matanya berusaha mencari suatu kebenaran di wajah suaminya itu.
" Apa saya adalah orang ketiga pada hubungan kalian? " tanya Asti sedih.
" Hus!" Cegah Leon cepat. Dia segera berdiri, lalu duduk di samping Asti. Kedua tangannya meremas tangan Istrinya itu dengan lembut.
__ADS_1
" Sayang, kamu adalah wanita yang aku cari selama ini, untuk menjadi pendamping hidupku. Sejak kita bertemu, karena Akbar yang kabur dari dalam rumah. Kamu Percaya dengan cinta pada pandangan pertama, kan? Itulah yang aku rasakan setelah bertemu dengan kamu. Walaupun itu tidak mudah! Perlu waktu agak lama sampai kamu benar - benar dapat melupakan rasa sakit hati akibat perceraian itu... Aku dan Almira hanya bekerja sama dalam suatu pekerjaan. Kalau dia berharap banyak pada hubungan itu, aku jelas nggak bisa!"
Justru Asti berusaha tidak menangis. Kalau pun ada hubungan cinta, mengapa Mbak Almira malah mau menikah dengan Mas Pram? Padahal waktu itu Leon adalah pria bebas. Dia tidak terikat lagi dengan wanita mana pun.
" Kita makan, ya? Ini menunya sudah aku tulis. Nanti kamu sakit lagi! Kalau telat makan dan banyak pikiran!"
" Terserah...! " Kata Asti tak bersemangat.
Siang itu Asti hanya dapat menghabiskan separuh makanan yang ada di piringnya. Sebenarnya masakan udang asem manis, sup ikan gurame dan menu lain yang dipilih Leon adalah menu terfavorit di kafe ini. Justru di lidah Asti semua rasa masakan itu campur aduk dan terasa hambar.
Dia hanya menguyah dan menguyah saja tanpa dapat menikmatinya. Kebetulan pagi tadi dia juga hanya sarapan sedikit.
Leon kebingungan melihat mood Asti yang langsung drop sejak kembali dari kafe yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Hampir, 40 menit ditempuh dengan kecepatan sedang dan lalu lintas yang tidak terlalu ramai di siang menuju sore hari.
Leon bahkan tidak tahu apapun yang terjadi, ketika dia terpaksa kembali ke kantor. Wajah Asti terlihat sedikit pucat ketika dia mengantarnya sampai pintu depan rumah.
Di kamar mandi, Asti memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia merasa sangat mual dan pusing. Dalam kamar yang hening dia mencoba membaringkan tubuhnya yang lemas. Segelas air putih hangat diminumnya untuk mengatasi rasa tidak nyaman di tubuhnya.
Hati-hati Asti bangun dan turun dari tempat tidurnya... Dibukan pintu kamar itu. Di depan kamarnya, bukan hanya ada Mbak Ning, ada Puspita juga.
" Hey, Mbak Asti kurang enak badan ya?" tegur Puspita yang melihat wajah Asti agak pucat.
"'Cuma mual saja sedikit... Maklum perut orang kampung, mencoba masakan menu terbaru, malah enek tadi!" ujar Asti beralasan. Setelah dia menerima Puspita di ruang tengah. Mbak Ning kembali ke dapur untuk membuatkan minuman.
" Memang makan apa, Mbak?" tanya Puspita, setelah sempat tadi Asti bercerita tentang kunjungan mereka ke sebuah kafe yang cukup menarik perhatian, karena mendapatkan perhatian penuh di sebuah Instagram.
" Masakan sup ikan gurame!"
" Memang benar-benar, nggak enak apa, Mbak?"
" Di kafe itu banyak yang memesan makanan itu. Ternyata baunya agak amis . Karena ikan itu dimasak dengan kuah bening tanpa digoreng lebih dahulu. Walaupun bumbu pelengkapnya banyak, dengan sayuran seperti kemangi." Cerita Asti lagi. Mereka minum es teh manis hangat, juga goreng tape yang dibeli Puspita pada ibu yang sering mangkal di depan toko mereka.
__ADS_1
" Mungkin bagi kita enaknya ikan gurame itu di goreng, terus disediakan sambel sama nasi putih hangat satu piring, nikmat!"
" Ha, ha,ha !" Tawa Puspita membahana. " Kejadian seperti itu persis seperti yang pernah saya alami, Mbak. Waktu saya main ke rumah teman di kota... Di sana ada warung jajanan anak muda kekinian yang sangat terkenal. Teman saya memesan makanan paling favorit , yaitu mie rebus dengan campuran boba yang lagi viral itu. Saat dimakan malah nggak enak! Campuran rasa gurih mie dan manis boba itu malah membuat saya mau muntah! Yah, enaknya makanan atau masakan yang biasa- biasa aja, jadi perut kampung kita nggak kaget!"
Mereka ngobrol lama di teras samping. Bahkan Puspita pun mau juga ditawari untuk makan sore di sini. Sebab Asti tahu, Puspita jarang makan lagi setelah tutup toko. Anak gadis itu sedang menabung dari sisa gajinya untuk membeli suatu benda yang diinginkannya.
" Kalau mau pulang bareng Mas Firman, mandi sore di sini aja, Puspita. Di kamar Ninuk juga ada baju ganti."
"'Nggak apa- apa ini, Mbak? Aku nggak ngerepotin?"
" Pita, kamu tuh sudah saya anggap seperti Adek sendiri! Ayo jangan sungkan! Di kamar Ninuk juga ada kabar mandi di dalamnya. Pokoknya kamu Istirahat di sana dulu sampai Magrib. Sedang baju ganti punya Ninuk ada di keranjang putih, nanti pilih saja yang pas!"
Benar saja, saat Puspita masuk kamar Ninuk, dia sampai terkagum- kagum dengan penataan kamar tidur sepupunya Mbak Asti itu. Gayanya kamar tidur itu mirip dari salah satu kamar dari tokoh gadis di sebuah tayangan Drakor dari internet.
Kasur spring bed yang hanya digelar di lantai dengan sprei katun lembut yang penuh rumbai dan pita. Semua lantai dipasangi parket, dengan motif kayu coklat tua. Cat di dinding perpaduan antara ungu muda dan hijau mint dari tiap sisinya.
Di sana semua perabotannya berwarna putih. Dari lemari pakaian dari rotan, cermin besar yang berdiri dengan penyangga. Satu lemari kontainer plastik menyimpan tas dan sepatu Ninuk. Juga rak stainless, yang bersatu dengan meja multi fungsi. Sebab di atas ada rak-rak berisi make up. Sedangkan buku-buku kuliah Ninuk bertumpuk rapi di laci- laci.
Kedatangan Leon dan dua asisten dilayani Asti seperti biasanya. Mereka bersiap - siap makan sebelum mandi dan sholat Magrib.
Leon segera asyik bermain dengan Akbar di taman samping. Anak itu duduk di lutut Leon, dan akan digoyangkan seperti naik kuda. Kadang ada tawa dari Akbar, kala Leon menggelitik perut bayi itu yang agak buncit.
" Akbar sudah mandi?" tanya Leon iseng.
" Sudah!"
" Kok, masih bau asem?"
" Ndak, ini wangi... Ayah belum mandi... " ledek bayi itu lagi. Penuh rasa sayang Leon mengangkat anak itu tinggi - tinggi di pundaknya. Sampai Akbar berteriak senang.
Benar kata orang! Setelah kita lelah bekerja. Pulang ke rumah dan melihat kelucuan Akbar, semua rasa lelah itu luruh. Tampaknya anak ini telah menjadi mob booster bagi kehidupannya saat ini.
__ADS_1
Dari ruang makan, terdengar suara Mbak Ning yang sedang menyiapkan piring untuk dua asisten Leon... Siang tadi, mereka makan di sebuah rumah makan masakan Padang yang warungnya ada di dekat SPBU. Sebab tahu sang bos sedang pergi bersama istrinya. Jadi mereka tidak enak pulang ke rumah Asti hanya untuk sekedar makan siang. Tetap saja sayur dan olahan masakan Mbak Ning tetap 'The Best'.