Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 196. Di antara Satu Pilihan


__ADS_3

Ninuk keluar dari dalam mini market ini dengan wajah suram. Ternyata musuh seorang wanita muslim itu, ya wanita yang berhijab juga! Apalagi Mbak Nur itu merasa punya pendidikan tinggi dan latar belakang keluarga yang cukup terhormat dan disegani masyarakat di kotanya itu.


Dulu pada saat Bapaknya masih bekerja dan memegang sebuah jabatan di kantornya. Semua orang yang merasa berkepentingan dengan Pak Baihaki Sarman, selalu datang ke rumahnya itu... Mereka membawa bermacam- macam bingkisan sebagai tanda hormat. Kadang jumlahnya sangat banyak. Mulai dari hasil bumi, sembako sampai amplop tebal . Jadi segala kemudahan selalu didapatkan oleh keluarganya pada waktu itu.


" Yah, kok! Wajah Mbak Ninuk dan Mbak Asti seperti hampir sama, setelah bertemu dengan perempuan tadi!" Ucap Bu Jum sambil mengusap dada.


" Kita balik ke rumah saja, Bu Jum. Kasihan Qani kalau melihat kita berseteru dengan perempuan sombong itu!"


Ninuk melupakan rencananya semula untuk membeli panganan yang dijual di lapak depan mini market itu.


Di dalam rumah, Akbar sudah dimandikan oleh Putri dan sedang menikmati sarapannya. Mbak Ning sedang duduk santai sambil menikmati segelas kopi.


Qani menjerit senang melihat keberadaan ibunya. Asti segera menyiapkan waslap untuk membersihkan mulut dan dagu bayi itu dari sisa makanannya.


Kedua anak itu mulai duduk di lantai sambil menonton tv. Volume suara itu semakin besar, setelah dipencet sembarangan oleh Akbar. Ninuk meminta remote tv itu dan mengajarkan dengan sabar cara mengatur volume suaran yang pas.


" Kamu sudah bertemu, si Nur itu?" tanya Asti perlahan.


Ninuk masih memendam rasa jengkel rupanya... " Sudah! Baru kali ini aku ketemu perempuan angkuh seperti itu! Kupikir kalau seorang perempuan memakai hijab dan bercadar itu akan menyebarkan auranya positif kepada perempuan lainnya. Sebab dia sudah sangat memahami aturan dan hukum agama yang lebih baik dari para wanita kebanyakan. Mereka bisa juga dijadikan contoh kebaikan kepada sesama perempuan berhijab lainnya. Eh, aku malah dibentaknya dengan kasar. Katanya aku selalu menjadi mata-mata untuk mengawasinya. Apa kita kurang kerjaan , ya Mbak! Sampai harus ngurusin orang nggak penting seperti itu!"


" Memang dia ngomong, apa. Nuk?


" Cuma kedengaran sedikit, katanya Wulan harus waspada, kalau aku akan mencuri di mini market itu!"


" Astaghfirullah!" Sahut Asti kaget.


" Kok, perempuan itu bertambah parah saja ucapannya! Sayang sekali, kalau Mas Qosim mendapatkan istri seperti Nurwati itu nantinya...."


" Siapa si Mas Qosim itu ?"


" Pengusaha muda dari Magelang, yang akan menjadi rekanan bisnis Mas Leon. Lelaki itu merupakan tunangan Mbak Nur... Calon suaminya itu adalah pria yang cerdas, sangat santun dan sopan!"


Ninuk menatap sepupunya itu," Apa yang dilihat pria itu dari perempuan seperti Nur itu, ya. Mbak? Percuma dong, memakai pakaian tertutup seperti itu! Tetapi segala ucapan, tingkah lakunya tidak terkontrol. Tidak sejalan dengan hijrahnya!"


" Namanya juga manusiawi, kita selalu tak luput dari segala kesalahan!"


" Tetapi sebisa mungkin, sebelum memakai pakaian tertutup seperti itu! kita perbaiki dulu sikap, tingkah laku dan ucapan kita... Baru mengubah penampilan kita agar sesuai dengan ajaran dan hukum agamanya! Konsekuensinya, jadi mereka berpakaian seperti itu hanya

__ADS_1


karena sedang mode atau trend saja ! Kasihan kalau ada wanita muslim yang berniat untuk berpakaian tertutup dan bersungguh - sungguh beribadah dengan niat memperbaiki keimanan mereka!"


" Kamu kali, Nuk yang harus seperti itu. Aku kan enggak!"


" Ya, ampun, Mbak! Nggak ada serius - seriusnya!" Keluh Ninuk melihat Mbak Asti tersenyum geli. Kehadiran Ninuk ternyata telah sangat menghiburnya.


Ternyata seperti itulah sifat dan watak seseorang, sulit diubah! Walaupun kita sudah berhijrah dengan ajaran agama kita... Asti hanya berdoa, agar hanya Almira dan Nurwati saja yang mempunyai sikap seperti itu. Mereka merasa mempunyai banyak kelebihan dan keunggulan pada dibandingkan wanita lainnya. Jadi sering bersikap merendahkan orang lain!


" Ayo jalan, yuk. Mbak!"


"Mau kemana? Dimas nggak ada di kantor, lho!"


"Ayok, kita jalan ke kota sebelah, Mbak! Katanya di sana ada pasar malam! Aku dan Putri bisa kok, jaga Qani dan Akbar! Aku kan niatnya ke rumah Mbak Asti mau refreshing! Sudah dua minggu sebelumnya pikiran ini dipakai untuk belajar selama persiapan dan ujian.... Eh, malah ketemu kuntilanak! Berbaju hitam lagi! Jadi panas lagi otakku ini!'


" Banyak alasan, kamu! Sana bantuin Putri nyiapin Qani dan Akbar! Baru kita pergi!"


" Siap, Bu Bos!"


Qani melonjak senang ketika digendong Ninuk! Putri sibuk memasukkan barang - barang keperluan Qani dan Akbar ke dalam tas khusus bepergian itu... Bu Jum malah menolak ikut dengan alasan akan istirahat di rumah saja, menemani Mbak Ning!


Mata perempuan tua itu terus-menerus, mengamati segala kegiatan mereka. Sampai matanya dia tak berkedip ketika Asti masuk ke kursi pengemudi, dan membawa Innova itu dengan mulus ke luar dari garasi samping rumah sampai ke jalan raya.


Asti sengaja tidak memperhatikan keberadaan Ibunya Mbak Nur itu...Wanita itu ternyata menurunkan sipat keras kepala dan suka membanggakan dirinya itu kepada anak perempuannya juga.


" Gila, matanya si Ibu itu, seperti mau copot saja. Nggak pernah melihat perempuan desa bisa jadi strong woman juga! " kata Putri kesal.


" Benar, Put! Kalau dekat, sudah ku colok mata ibu itu! Biar buta sekalian... Nggak lihat apa? Kita walaupun perempuan yang lahir di desa, terbiasa hidup sederhana, masih bisa ramah dan bersikap baik kepada orang lain. Ternyata bisa menjadi monster bila


bertemu dengan Mbak Nur dan ibunya itu yang merasa paling beradab dan modern, karena lahir dan besar di kota!"


" Sudahlah! Capek hati, kalau ingat ucapan mereka yang sangat menyakiti hati!" Ujar Asti perlahan.


" Setidaknya, kita jangan seperti mereka. Bukannya memperbanyak ibadah! Malah menambah dosa karena membuat orang emosi dan marah dengan mereka..."


Padahal banyak wanita berhijab di daerah mereka ini berlomba - lomba untuk berbuat kebajikan kepada orang lain. Paling utama adalah dengan anggota keluarga, kerabat dan tetangga.


Seperti Ibu Haji Anissa, tetangga depan rumah, yang sangat rajin mengajarkan mengaji kepada ibu-ibu dan remaja putri di desa mereka... Belum lagi para ustadzah muda yang mau menyiarkan ajaran agama dari satu pengajian ke pengajian lain, ke berbagai pelosok desa. Tujuannya agar para wanita di desa juga mendapatkan pengajaran agama secara umum sebagai dasar untuk mendidik putra-putri mereka di rumah.

__ADS_1


Pasar malam itu tepat berada di di depan alun- alun kota, yang terlihat mencolok dari segala arah. Berbagai permainan terpasang di sana, dilengkapi dengan suara musik yang keras dan bertalu- talu. Ditambah hiasan lampu dan umbul-umbul yang ramai dan mencolok. Sehingga suasananya menjadi ramai dan meriah.


Asti memarkir mobilnya di tempat yang cukup aman, karena ada petugas parkir dan mendapat tiket. Tak lupa dia mengeluarkan stroller agar Qani tetap duduk nyaman, selama mereka berkeliling ke seluruh arena pasar malam.


Jadilah ketiga wanita dan dua balita itu menikmati berbagai tontonan dan keramaian yang ada di sana. Asti juga membelikan mereka jajanan dan minuman, yang dijual oleh para pedagang yang membuka lapak di sana.. Akbar menikmati wahana permainan yang sesuai dengan usianya, seperti naik kereta api atau lomba memancing ikan plastik dalam bak air.


Qani berteriak senang, ketika melihat balon dalam berbagai bentuk dijual para pedagang itu, disekitar arena permainan anak-anak. Tetapi Asti tetap tidak membelikannya mainan itu buat bayinya. Sebab balon itu berisi gas hidrogen, takut akan meletus dan membahayakan bayinya apabila tak sengaja digigitnya.


Di area pasar malam, Asti asyik mendorong stroller Qani kemana-mana. Sambil mengawasi Akbar yang digandeng dua gadis muda itu di depannya. Ninuk benar - benar ingin menghibur dirinya, ketika dia mencoba naik komidi putar yang sangat besar itu. Sampai mereka yang ada d komidi putar itu berteriak-teriak karena benda yang sangat besar itu berputar sangat cepat!


Ninuk terlihat cukup puas, karena senyumnya sangat lebar setelah turun dari permainan itu.


" Mbak Asti! Ada cowok ganteng! Godain, Mbak! " Bisik Ninuk ribut . Sepupunya itu sampai menarik tangan Asti agar menoleh.


Asti terkejut, sebab Leon sudah berdiri di sampingnya. Dasar si Ninuk! Pasti dia yang memberitahukan kepergian mereka ke tempat ini. Qani malah sudah anteng, setelah mereka menunggu agak jauh dari arena permainan.


" Mas? sama siapa ke sini? "


Pria itu tersenyum, melihat Asti kebingungan... Hari masih pukul 16.00... Dia meraih pinggang langsing Asti. Ditatapnya wanita cantik itu penuh rasa rindu!


" Itu, sama Damar dan Dimas!" Kata Leon kalem...Dia tersenyum melihat Qani yang sudah mengantuk berat, tetapi tetap mencoba membuka matanya, karena mendengar suara ayahnya.


Leon menelpon Damar untuk memberi tahu kalau mereka ada di di pintu luar sebelah timur area. Sebab arena pasar malam itu malah semakin ramai menjelang sore... Lampu-lampu mulai dinyalakan , namun suara musik dan berbagai kegiatan di sana mulai dihentikan menjelang azan Magrib.


Mereka bertemu dan berkumpul di seberang alun- alun. Rencananya mereka akan sholat berjamaah di masjid besar yang ada di sisi alun-alun. Akbar pun terlihat sudah lelah setelah berkeliling area pasar malam yang cukup luas itu...Jadi dia tak menolak ketika mereka harus kembali ke rumah.


Putri menjaga Qani di sudut Masjid Raya, di area khusus untuk sholat para wanita... Sedangkan Akbar dibawa Dimas masuk ke bagian dalam masjid.


"Kita makan, dulu, ya?" ajak Leon. Dia meraih Akbar ke dalam gendongannya... Anak itu sudah kelelahan.


Leon membawa mereka berjalan menjauh lagi ke seberang alun-alun. Di sana ada warung sate yang cukup


luas dan ramai dengan para pembeli.


Banyak ragam menu sate yang menjadi jualan di restoran itu. Asti memilih sate ayam dengan bumbu sambel kacang ... Masing-masing memilih nasi putih untuk pelengkapnya. Qani dan Akbar mencoba satu porsi sup ayam. Asti dan Putri yang menyuapi mereka.


Rombongan itu mendapat meja yang paling besar di tengah warung... Jadi mereka cukup leluasa menikmati makan malam itu. Leon dan Damar lebih memilih sate kambing dengan bumbu kecap, beserta acar timun dan wortel. Terasa kenikmatan yang berbeda., setelah daging sate itu digigit. Empuk dan garing. Apalagi ketika si pemilik warung sate itu mengatakan kalau mereka menggunakan daging dari kambing yang masih muda.

__ADS_1


__ADS_2