Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 35. Bertemu Bapak


__ADS_3

Asti masih terbaring lemah. Namun dia masih mendengar lengkingan tangis bayi dan suara dokter Siska yang mengatakan. "Selamat, ya. Bu! Anaknya laki- laki."


Suara - suara Bidan Yati dan Dokter Siska yang memberi perintah pada beberapa perawat yang lain seperti dengungan di telinga Asti.


" Dokter, dokter, Istri saya ! Dokter! "


Panggil Satrio. Tampak pria itu mengguncang bahu istrinya agak kuat.


Genggaman tangan Asti melemah. Sampai akhirnya terlepas. Segera wanita yang dipanggil dokter Siska itu memberi pertolongan pada Asti. Ruangan itu masih bercahaya terang.


Asti hanya memperhatikan sosok pria yang tampak mengendong bayi sambil mengazankannya. Suara azan yang dikumandangkan oleh Satrio itu seperti nyala sebuah senter yang memberi jalan pada Asti sesaat sebelum memasuki sebuah terowongan yang sangat panjang. Tak lama kemudian semuanya menjadi gelap...


" Asti, bangun!" Panggil sebuah suara dari kejauhan. Suara seorang pria yang sudah sangat lama dirindukannya.


"Mbak Kung?" Tanya Asti tak percaya. Sebab dia mulai mengenali seraut wajah pria tua yang menatapnya penuh rindu dan kebahagiaan.


Sejenak mata Asti mengamati keadaan di sekelilingnya. Suasana rumah ini mirip rumah joglo mereka, di desa Sendang Mulyo. Tetapi rumah ini lebih megah dan lebih besar. Belum lagi tiang-tiang kayu penyangga rumah terlihat kokoh dengan ukiran yang sangat rumit.


Tampaknya di rumah ini akan mengadakan suatu acara pertemuan besar- besaran. Karena banyak orang yang hadir dan memenuhi ruangan tengah yang sangat luas. Namun Asti sama sekali tak mengenal seorang pun yang hadir di sana.


Mereka semua sedang duduk bersama di lantai, dengan beralas karpet warna merah dengan motif bunga- bunga yang indah. Kebanyakan dari tamu-tamu di sana, usianya sudah agak jauh di atas Asti. Malah ada di antara mereka terlihat sudah sangat sepuh. Bahkan pakaian yang mereka kenakan juga sudah agak ketinggalan zaman.


.


"Ini saudara- saudara dan kerabatmu, Asti!" Kata Mbah Kung menjelaskan. Suara pria itu membuat hati Asti menghangat. Beliau menuntun Asti berjalan menuju keb tengah ruangan.


" Ini Bapakmu, Bagas Prasetyo Winangun!" Tambah pria itu lagi.


Tiba- tiba Asti merasa seperti dipeluk oleh seorang laki- laki bertubuh lebih besar dan lebih kuat dari Satrio. Pria muda itu juga berpakaian sama dengan beberapa tamu pria yang hadir. Pakaian yang agak kuno berupa beskap lurik dengan secarik kain batik di kepalanya.


" Itu, Mbah Putrimu! " Bisik Pria yang memeluknya yang disebut Mbah Kung, sebagai ayahnya. Tangannya menunjuk ke seorang wanita paruh baya.

__ADS_1


" Jaga anakmu dengan baik, ya!" Kata lelaki itu kembali sambil menepuk bahu Asti lembut.


Wanita tua yang tadi disebut sebagai Mbah Putri berjalan mendekat pada sosok Mbah Kakung Harjo Winangun. Mereka berdiri bersisian sambil memandang Asti dengan senyum bahagia.


Tampak ada sosok wanita cantik yang berdiri agak menyendiri dari kerumunan para tamu. Sampai Asti menyadari wajah wanita muda itu sekilas mirip wajahnya. Tetapi wanita itu tidak mau mendekat. Dia tetap sendirian berdiri di sana. Hanya memandangi Asti dengan pandangan matanya yang sangat sedih.


Sampai Asti seperti terbangun ketika, ada seorang Suster yang memeriksa jarum infus yang menusuk pedih di punggung tangan kanannya.


"Assalamu'alaikum, Ibu. Permisi, ya?" Bisik perawat itu sambil memeriksa keadaan wanita yang telah terbaring koma selama lebih dari 6 jam itu.


Ibu Widya mendekat. Dia meraih kursi di samping ranjang tempat Asti berbaring. " Ayo, bangunlah Asti. Ada bayi mungil yang menunggu perhatian dan kasih sayangmu..."


Satrio sudah kembali ke ruangan tempat Asti dirawat. Air mata Bulek Ratih sudah menetes kembali melihat keadaan keponakannya yang belum mengalami perubahan apa pun. Beberapa kali Asti terbangun namun kurang merespon ucapan dokter yang memeriksanya.


Sekarang dokter Anwar Sadikin yang memeriksa Asti hampir dua jam sekali. Namun dia melepaskan oksigen pada hidung Asti setelah melihat kesadaran Asti semakin pulih.


Kembali Asti dipindahkan ke sebuah ruangan inap tersendiri. Para suster bergantian memeriksa Asti. Namun Satrio diperbolehkan ada di ruangan itu untuk menjaga istrinya.


Pria itu sholat dan mengaji di dekat tempat tidur Asti, sambil memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar istrinya diberi kesembuhan dan kesehatan agar dapat merawat bayi mereka.


Mata Asti terbuka saat dia ditatap Satrio penuh pengharapan."'Haus! bisiknya. Dengan cekatan Satrio mengambil sebuah gelas yang masih diberi plastik, lalu menusukkan sedotan plastik sebelum disodorkan ke mulut Istrinya.


" Terima kasih! " ujar Asti lemah. Dengan telaten Satrio mengusap dagu Asti yang sedikit basah karena minum sambil berbaring dengan tisu.


Suster telah datang ketika Satrio memberi tahu kalau Istrinya sudah siuman kembali. Jangan bertanya! Betapa sedih dan kalutnya Satrio melihat istrinya di dorong ke sebuah kamar isolasi setelah koma di ruang persalinan.


" Sehat dan cepat sembuh , sayang! Anak kita memerlukan ibunya."


" Dia baik- baik saja ?" tanya Asti terbata- bata setelah menyadari keadaan dirinya. Perutnya terasa sedikit nyeri, namun sudah kempes.


Lembut tangan Satrio mengusap kepala Asti yang diberi dalaman hijab berwarna hitam untuk menutupi rambutnya .

__ADS_1


" Anak kita sehat. Dia berjenis kelamin laki - laki. Beratnya 3, 2 kg.Panjangnya 51 cm .... "


Antusias Satrio ternyata tidak ditanggapi oleh Asti. Sebab Istrinya itu hanya terdiam. Matanya menatap dinding dan langit- langit ruangan ini. Sebuah ruangan yang semuanya bernuansa putih.


" Apa yang sakit? Mau dipanggilkan dokter? "


Jawaban Asti hanya gelengan lemah dari pertanyaan Satrio tadi. Dia seperti ingin meyakinkan kalau di sekelilingnya itu adalah nyata. Apa bertemu Mbah Kung, Mbah Putri dan ayahnya itu khayalannya. Tetapi siapa wanita muda yang tampak sedih itu? Apa dia ibunya?


Satrio mendengar tarikan napas Asti berulang-ulang. Tadi suster yang termuda telah mengganti infus di lengan Asti. Perlahan mata Asti kembali terpejam.


Suasana pagi di rumah dinas di Satrio agak sepi. Hampir semalaman Pak Cahyadi terus mendapat telepon dari Satrio yang menyampaikan perkembangan kesehatan Asti dari jam ke jam.


Sudah 5 hari Asti dan bayinya dirawat di rumah sakit itu. Ibu Widya dan Bulek Ratih yang bergantian menjaga di sana, saat di siang harinya. Karena Satrio harus tetap masuk kerja.


Kini ada bala bantuan dari Ninuk yang lebih kuat, lebih muda dan tahan banting. Karena gadis remaja itu bisa bolak- balik rumah sampai ke rumah sakit setiap harinya tanpa mengenal lelah. Apalagi dia sangat suka mengendong bayi tampan dan imut itu yang jarang rewel itu. Anak Asti.


Hampir setiap pagi dan sore, Ninuk datang ke rumah sakit dengan menggunakan motor milik sepupunya itu. Apalagi dia mulai menghapal beberapa jalan pintas sehingga jarak rumah Asti yang ada di pinggiran kota ke rumah sakit di pusat kota menjadi lebih cepat waktu tempuhnya.


Dokter telah memeriksa keadaan Asti yang mulai membaik dan mengizinkan pasiennya itu pulang. Berita itu sangat melegakan hati Ibu Widya dan Bulek Ratih yang seharian ini menjaga Asti dan bayinya.


Rombongan itu kembali dari rumah sakit sebelum Magrib. Kamar untuk Asti dan bayinya telah dibersihkan dan dirapikan. Semua merasakan kebahagian atas kedatangan anggota baru di keluarga mereka. Hanya Pak Cahyadi dan Satrio yang mendapat laporan dari dokter atas keadaan Asti setelah berjam- jam koma. Mereka berusaha merahasiakan keadaan itu setelah Asti mengalami trauma yang berkepanjangan.


Sedihnya, Bude Prapti segera minta izin untuk kembali ke Desa Sendang Ranti. Wanita itu bermaksud untuk menyiapkan acara lamaran anak bungsunya, sekaligus acara pernikahan .


Anak bungsunya, Budi akan melamar kekasihnya, gadis asal kota Madiun. Selama ini mereka sama - sama bekerja di sebuah perusahaan percetakan di kota tersebut.


Ibu Widya segera mengabarkan keadaan Asti pada ayahnya , Mbah Sanjaya. Sehingga para keluarga dan kerabat di sana yang akan membantu Bude Prapti untuk mempersiapkan acara lamaran tersebut.


Kini semua orang di rumah ini berusaha membuat hidup Asti tenang dan nyaman. Apalagi Satrio belum ditugaskan untuk keluar kota dalam mingu-minggu ini.


Bayi mungil itu akan diberi nama Muhammad Akbar Wibowo oleh Satrio.

__ADS_1


__ADS_2