
Perjalanan hidup manusia itu layaknya seperti air mengalir. Dari p mata air terus bergerak mengikuti arus di perjalanan panjang. Kadang terhambat batu besar, terkadang terpecah alirannya menjadi sungai yang lebih kecil. Penuh perjuangan berliku sebelum mencapai lautan luas.
Berhubungan Ninuk yang punya keinginan dan acara, Asti membiarkan adik sepupunya itu yang mengatur acara pergantian malam tahun baru. Kebetulan Joko juga meliburkan warung tendanya selama empat hari mendatang.
Asti mengusulkan untuk mengadakan doa dan pengajian bersama setelah sholat Isya berjamaah. Mbak Ning sudah menyiapkan bahan- bahan makanan yang akan diolah untuk disajikan pada acara itu.
Si Mak rempong sudah ribut sejak pagi hari nya. Dia terus mengingatkan agar kakaknya mengambil pesanan ikan gurame, ikan mas dan cumi. Sedangkan ayam sudah dimasak ungkap dalam banyak bumbu.
Agar tidak menggangu pekerjaan para wanita itu di dapur, Asti yang menjaga Akbar setelah dia pulang dari pasar agak pagi. Kira- kira pukul sebelas.
Asti sudah memberi informasi kepada Dania. Kalau keadaan pasar sudah sepi setelah Dzuhur, toko bisa ditutup. Dania pun diberi libur dua hari untuk istirahat. Nanti sepulang dari pasar, Dania akan membawa kunci toko itu ke rumah Asti.
"Sini, dek. Sama Ibu. Bu Jum lagi bantu Tante Ninuk buat sate. Ade mau makan sate?"
" Sate?" tanya Akbar lagi mengikuti kata akhir yang dia dengar. Segera ditepuk- tepuk bokong Akbar agar segera tidur siang ini, di kamar tidur utama.
Lama- lama mata Akbar terpejam juga. Kemarin dia sempat mengurut kaki Akbar juga. Sejak Akbar mulai banyak berjalan, secara teratur Asti mengurut kaki bayinya pada Mbok Sami. Wanita itu tinggalnya ada dalam sebuah rumah sederhana di kampung seberang ruko.
Setelah tidur Akbar lebih nyenyak. Asti memindahkan Akbar ke dalam boks. Boks itu mempunyai penutup. Sehingga cukup aman bila Akbar akan ditinggal Asti untuk bergabung dengan Mbak Ning di dapur.
" Sudah sampai mana persiapannya?" tanya Asti saat masuk dapur. Potongan daging ayam berbumbu sudah ditusuk- ditusuk ke lidi dari bambu. Bu Jum sedang memotong timun dan wortel untuk dibuat acar. Mbak Ning mulai membuat sambal juga berbagai bumbu olesan untuk segala jenis ikan yang sudah ditumpuk di wadah dalam keadaan setengah matang.
" Siapa yang kamu undang nanti ? Nggak mungkin kan kita makan makanan sebanyak ini?" Tantang Asti.
"Itu beres, Mbak!" Jawab Ninuk cengar-cengir.
Huh, Asti kepengen jitak saja kepala Ninuk ini. Semakin dia tumbuh dewasa, semakin banyak hal yang absurd yang dia lakukan. Untungnya bukan hal- hal yang terlalu negatif. Soal pergaulan, Joko pun sering memantau semua kegiatan adiknya itu. Kebetulan, tempat kost Ninuk adalah milik salah satu orang tua dari temannya.
Lek No dan Bulek Ratih datang setelah Ashar. Sepertinya biasa, wanita itu membawa dua wadah berisi makanan buatannya, Tengkleng dan Tongseng. Pria itu mendapati Akbar yang sedang didandani Asti setelah mandi sore.
Jangan tanya teriakan senang si bayi itu. Dia langsung berlari dan masuk ke dalam pelukan Kakeknya.
__ADS_1
" Ini seperti mau acara pesta saja, Nuk?" tegur Bulek Ratih.
" Iya, Bu. Pesta makan. Nanti malam semua pegawai Mas Joko mau datang. Biar Chef Danu yang bakar - bakar. "
" Kamu itu, Nuk. Mas Danu mau istirahat dulu, malah dikasih kerjaan... Huh dasar!" Omel Joko yang baru turun dari tangga. Sejak siang tadi tidur di salah satu kamar di lantai atas. Setelah mengambil pesanan Ninuk di sebuah pasar ikan, di daerah lain.
Bau berbagai aroma bumbu masakan ini memang berbeda dari sehari- hari. Asti sudah menyiapkan acar timun - wortel, sambel untuk sate Tai can juga sambel kacang.
Kemarin dia sempat membeli alat masak seperti happy call yang digunakan untuk membakar berbagai ayam atau ikan. Namun Ninuk tetap ngotot untuk membakar berbagai jenis sate secara tradisional dengan arang dan juga alat bakar dari besi itu. Mereka pernah membelinya di pasar.
"Terserah..." Jawab Asti.
Dia meninggalkan dapur dan bergabung di taman samping kanan rumah. Di sana ada Lek No dan Bulek Ratih yang menjaga Akbar. Anak itu berlarian di sepanjang taman yang ditanami rumput tebal. Tangannya asyik menarik daun- daun dari berbagai tanaman hias yang dirawat Pak Roh dengan telaten.
" Jangan, Akbar!" Mendengar suara ibunya yang melarangnya untuk menarik daun- daun itu, si Akbar mulai berulah. Dia kembali berlari ke arah lek No untuk segera ditangkapnya dan diangkat tinggi.
Persiapan sudah mencapai 90 persen selesai. Acara bakar- bakaran akan dilakukan di teras samping kiri. Di dekat bangunan sementara warung Tenda Joko. Kebetulan tempatnya lebih luas dan terbuka. Sebab semua lahan itu juga sudah diplester jadi lebih mudah untuk dibersihkan nantinya.
Beberapa meja dan bangku digeser ke pinggir ruangan. Mereka menggelar tikar dan karpet di ruangan itu. Mereka memulai acara itu dengan berdoa bersama. Belum lagi acara dimulai, Akbar sudah muncul dengan memakai Koko, sarung kecil dan memakai kupluk putih. Asti tadi yang memakaikannya dengan sedikit bujukan.
Segera saja kehadiran Akbar yang lucu itu menjadi tertawaan orang- orang. Dia segera duduk di pangkuan Lek No. Padahal si kakek sebentar lagi akan memimpin acara doa bersama itu.
Asti duduk di sudut ruangan, masih dengan memakai mukena putihnya. Mukena yang merupakan bagian dari mahar pernikahannya dulu dengan Satrio. Mukena yang terbuat dari bahan katun terbaik itu dibeli dari butik paling bagus di kota Solo. Asti jarang memakainya sehingga terlihat seperti baru.
Wajah Asti tertunduk sambil membaca Alquran kecil yang ada di tangannya. Banyak doa yang dilantunkan oleh mereka dari anggota keluarga yang telah mendahului mereka, perjuangan mereka untuk bangkit dengan berbagai usaha, sampai memohon keselamatan untuk keberangkatan umroh mereka di bulan mendatang.
Sampai mereka mulai menyadari, kalau dari pintu samping rumah Asti sudah ada tamu yang menunggu. Selain para pegawai yang bekerja di warungnya Joko, di sana juga ada Pak Leon dengan asisten yang dua orang itu.
Mereka segera dipersilahkan masuk. Para wanita segera mengeluarkan beberapa makanan kecil dan minuman teh hangat tawar. Makan malam akan segera disajikan setelah berbagai sate dan ikan selesai dibakar.
Mas Danu dibantu dua pegawai pria lain segera membakar sate, ikan, cumi dan udang. Mereka menggunakan bakaran dari besi dengan arang dari batok kelapa dan api besar.
__ADS_1
Bau bakaran daging dan ikan yang harum menyeruak masuk ke dalam rumah. Asti sibuk memotong lontong buatan Jum, yang dibuat dengan daun pisang. Semua makanan di sajikan di atas meja.
Takut Akbar berlarian di atas tikar dan akan memporak porandakan persiapan itu
Tak sampai satu jam, Ninuk masuk membawa dua wadah aluminium berisi sate dan ikan gurame,dan sejenisnya.
Lek No segera memimpin ke meja makan duluan dengan membawa piring. Bulek Ratih dan Ninuk membantu menyiapkan sajian sate di piring besar dengan siraman bumbu kacang.
Akbar tampak sangat gembira dengan banyaknya orang yang berkumpul di rumahnya malam itu. Dia berlarian dari satu lelaki ke lelaki lain sampai masuk ke dalam pelukan Pak Leon. Asti menyiapkan sedikit nasi dengan lauk ikan gurami bakar tampak bumbu, hanya menggunakan kecap saja.
Dengan sabar Asti menyuapi Akbar makan lebih dahulu. Para pria makan dengan nikmat. Mas Danu saja sampai nambah nasi lagi. Sate ayam dan sate Tai can laku keras.
Pak Leon diam- diam melihat Asti yang hanya makan sedikit. Ninuk sangat senang acara makan-makannya sukses dengan undangan dadakan untuk para tamu.
Pak Cakra mulai menyalakan kembang api besar di halaman samping. Akbar sangat kagum saat melihat taburan nyala api itu. Dia berteriak senang , sambil melompat - lompat.
Ternyata curhat Ninuk kemarin tentang sepinya suasana di desa, juga di daerah ini menjelang pergantian tahun didengar Pak Leon. Sejak kemarin pria itu pergi membeli berbagai petasan dan kembang api untuk sekedar merayakan tahun baru di rumah Asti.
Baru pukul sepuluh malam, Akbar sudah teler di pelukan Bulek Ratih. Wanita itu mengangkat Akbar dan akan dibawanya ke kamar tidur utama.
Di meja, berbagai makanan hampir tandas. Lontong dengan sate ayam dengan bumbu kacang atau sate tai can yang terlihat pucat, justru sangat nikmat dengan sambel cabe rawit pedas.
Belum lagi berbagai ikan dan sejenisnya yang dibakar dengan balutan bumbu barbeque.
Tak lama datang Mas Yanto dan Pak Roh. Mereka ikut bergabung di teras samping, dengan menyalakan kayu untuk mengusir nyamuk juga udara malam yang mulai dingin.
Tepat pukul 24.00, Pak Cakra mulai menyalakan petasan secara beruntun. Lagi - lagi Ninuk sibuk mengabadikan peristiwa itu lewat hape dan media sosialnya. Sungguh dia menikmati acara yang selalu diimpikannya sepanjang hidupnya.
Kini wajah gadis remaja menuju dewasa itu penuh keharuan saat dipeluk Ibunya, sambil disaksikan ayah dan kakaknya. Di belakang pintu, Asti hanya melihat muncratan api berwarna - warni dari petasan yang dibakar Pak Cakra dan Mas Dimas bergantian di langit malam yang gelap.
Pak Leon juga melihat sosok Asti yang berdiri di belakang pintu samping. Agak menjauh dari tadi tubuh Mbak Ning dan Bu Jum.
__ADS_1
Wanita muda itu tadi menutup telinganya rapat- rapat karena belum terbiasa mendengar suara petasan yang menggelegar kuat. Namun Asti juga mau tahu, sehingga wajahnya tengadah untuk melihat petasan itu yang melayang tinggi ke angkasa . Semburat cahaya terang dan sisi gelap dari belakang tubuh Asti, justru memantulkan wajah cantiknya. Wajah polos tanpa make-up, yang selalu memberi Pak Leon rasa nyaman, terpesona sekaligus kagum.