
Gosip tentang bayi Zahra yang mengidap penyakit dengan kepalanya yang semakin membesar itu, menyebar luas ke semua anggota organisasi istri para abdi negara itu. Termasuk didengar juga oleh ibu ketua organisasi tersebut. Si Ibu yang dulu sangat mengenal sosok Asti, istri pertama Satrio. Wanita itu agak miris juga mendengar berita itu.
Mungkin dia perlu menanyakan hal itu kepada para anggota yang lain. Terutama wanita yang tidak suka bergosip dan dapat dipercaya.
"Bu Anggita, dicari Ibu Safitri Wicaksono!" Lapor Pak Masyur.
Seorang petugas OB di kantor itu yang diserahkan tugas untuk membersihkan ruangan itu setelah selesai untuk kegiatan para ibu itu.
Ibu Anggita menghentikan langkahnya saat akan keluar dari gedung kantor yang cukup besar itu. Dia berbalik kembali ke ruangan aula.
"Ibu mencari saya?" tanya Ibu Anggita ketika melihat istri dari pimpinan tertinggi di kota ini, duduk manis menunggunya di ruang aula gedung ini.
Wanita itu menoleh, menatap Anggita sambil tersenyum. " Jeng Anggita nggak buru- buru pulang, tho?"
"Nggak, Bu. Tadi sudah pesan sama Mbak yang di rumah untuk menjemput si kembar sekolahnya."
" Ya, s udah... Ikut ke mobil, yuk! Saya perlu berbicara sebentar..."
Pak Masyur membawakan beberapa barang milik Ibu Safitri berupa dua tas kantong besar dan sebuah laporan organisasi. Pria tua itu keluar lebih dahulu menuju mobil si ibu yang berada di tempat parkir. Di sana ada sebuah sedan mentereng berwarna gelap telah siap menunggu kepergian mereka.
" Jalan, Fik! Kita pergi ke kafe Taman Asri Raya, ya!"
Pak Supir yang belum terlalu tua usianya itu dengan patuh mengikuti perintah Ibu Safitri. Mobil itu bergerak menuju ke arah pinggiran kota. Kafe Taman Asri Raya itu baru saja dibuka dua bulan yang lalu. Namun sudah mempunyai banyak peminat. Malah dijadikan ikon kota itu sebagai tempat wisata kuliner yang patut dikunjungi para wisatawan.
Siang hari, di kafe itu banyak didatangi oleh orang - orang dari berbagai kantor swasta dan instansi pemerintahan untuk makan siang di sana. Sebab suasana di kafe itu yang mempunyai taman yang luas, rimbun dan tertata apik itu terasa sejuk dan segar. Sedangkan menjelang malam, banyak didatangi para kaum muda. Apalagi dengan nyala lampu-lampu kecil di atas pepohonan yang menimbulkan suasana romantis. Pihak kafe pun sering menyelenggarakan live music di sana, minimal seminggu tiga kali.
Wanita yang juga berbisnis berlian dan tas- tas branded itu membawa Ibu Anggita menuju meja yang telah asistennya pesan sebelumnya. Tetapi Mbak Mawar, sang asisten dan supir pribadinya, justru memesan meja di teras kafe yang ada di sebelah timur bangunan utama. Sebab taman itu berbatasan dengan sebuah sungai. Suara aliran air yang mengenai batu- batu besar terdengar bergemuruh di bawah sana. Nyaman dan tenang didengarnya.
" Kita bicara nyantai, aja. Ya? Sejak seminggu yang lalu, telingaku ini sudah gatal mendengar gosip soal anaknya Satrio dari istri barunya itu. Coba kamu cerita deh, Anggita! Kamu kan dulu dekat dengan Asti dan menolong wanita muda yang malang itu."
__ADS_1
" Kok, Ibu Safitri tahu? Saya jadi nggak enak, lho. Bu!"
" Saya selama hanya diam, Anggita ... Tetapi tetap mendengar semuanya. Sayangnya Satrio masih bertanggung jawab dengan tugas dan pekerjaannya. Kalau nggak? sudah aku minta si 'Bapak' untuk memutasi dia kembali ke kota asalnya!"
Ibu Anggita terkikik geli melihat ekspresi wajah Ibu Safitri yang terlihat gemas. Memang persoalan Satrio dan Zahra ini sudah membuat orang lain ikut geregetan juga.
" Saya juga nggak terlalu dekat dengan Zahra, Bu! Beda dengan Asti... Dia dan ibunya jarang keluar rumah. Sekalinya keluar rumah pun pakai mobilnya Satrio dengan supirnya."
"Zahra juga nggak mau mengenal para ibu tetangga! Apalagi basa- basi menegur mereka. Mungkin dia takut diomongin jelek oleh para ibu di sana. Sebab dia menikah belum 6 bulan dengan Satrio, eh bayinya sudah keburu sudah lahir...."
Ibu Safitri Wicaksono ikut nyengir mendengar ucapan Ibu si kembar itu. " Soal bayinya. Bagaimana?"
" Itulah, Bu... Ketika saya datang ke rumahnya. Buru- buru bayinya langsung dibawa masuk kamar sama nenek si bayi. Hampir setiap hari bayinya selalu menangis terus. Saya pikir karena bayi perempuan, jadi agak cengeng."
Wanita yang telah punya dua cucu itu merenung sedikit. " Bukan apa- apa, Anggita! Yang saya dengar, kalau istrinya Satrio itu seorang perawat. Masa nggak mencari tindakan untuk mengobati anaknya..."
Ibu Anggita seperti tergerak untuk menyampaikan sesuatu." Justru karena itu, sekarang Zahra terus menguntit kehidupan Asti yang tinggal tidak jauh dari desa kelahirannya itu, Bu!"
" Untuk apa, coba?" Tanya Ibu Safitri gemas." Ada- ada saja istri Satrio itu. Benar kata orang, ya? Beda istri itu juga beda rezeki... Lihat kehidupan Satrio. Pria muda itu seperti nelangsa!"
" Begitulah, Bu... Kalau lelaki terlalu mengedepankan nafsu birahinya saja. Sekarang tinggal merasakan apesnya..."
" Apa tindakan penguntitan Zahra itu sangat merugikan kehidupan Asti di sana?"
" Asti di sana dilindungi keluarnya. Terutama Joko. Sepupu laki- lakinya itu merupakan garda terdepan untuk menjaga dirinya. Malah kemarin Joko datang ke rumah untuk mengundang saya ke pernikahan Asti pada tanggal 27 bulan ini. Hanya syukuran biasa saja. Jadi nggak ada pesta atau resepsi!"
" Alhamdulillah.... Akhirnya Asti dapat jodoh lagi. Mudah mudahan lelaki ini lebih baik segala - galanya daripada Satrio Wibowo itu, " kata ibu pimpinan itu lega.
"Sebentar, Bu! Asti kemarin mengirim undangan itu secara virtual. Katanya calon suaminya itu yang merancangnya!"
__ADS_1
Tak lama Ibu Anggita memperlihatkan undangan Asti di WA miliknya. Ibu Safitri menatap undangan itu sambil tersenyum lebar. Terutama ketika melihat foto diri kedua calon mempelai.
" Pria ini bukannya pengusaha properti dari Semarang yang membuka proyek pembangunan di dekat Simpang Tiga, di dekat desa Sumber Rejosari itu, ya?"
" Mungkin? Mana saya faham urusan bisnis, Bu Safitri! Di sini tertulis nama calon suaminya Asti adalah Leon Narendra Murti ...."
" Benar itu! Lelaki itulah adalah salah pemilik dari perusahaan properti dan jasa Konstruksi " Murti Abadi. " Tegas Ibu Safitri yang membuat Ibu Anggita agak shock juga mendengarnya.
Wanita itu membiarkan ibu Safitri menelpon dan memberi perintah kepada asistennya, Mbak Mawar. Sementara mereka menikmati makan siang yang telah disajikan oleh pelayan di kafe ini.
" Ini, tadi... Mawar sudah mendapat kan data dari media sosial milik Leon Narendra Murti..." Jelas Ibu Safitri sambil menekan- nekan layar hapenya.
Segera wanita itu memperlihatkan sosok Leon, yang diperkirakan akan menikahi Asti minggu depan. Wajah Ibu Anggita terperangah. Ada foto- foto Leon yang terbaru bersama keluarga Asti. Pria itu juga suka menguploadnya foto kebersamaan dirinya dengan Akbar. Terlihat di sana ada beberapa pose dari bayi lucu dan tampan itu.
" Ini anaknya Satrio, kan?"
" Iya, Bu. Tetapi Satrio tidak mau mengakuinya! Itulah yang membuat Asti semakin sakit hati dan kecewa. Saat itu Satrio bukan hanya buta matanya, juga hatinya! Semua perkataan Zahra selalu didengar dan diikutinya. Walaupun salah!"
" Iya, sih! Mungkin itu akibat pelet, atau kebodohan karena cinta mati!"
" Ibu Safitri lihat sendiri, kan? Perbedaan Asti dan Zahra sekarang ...."
Kedua wanita itu berdiam diri agak lama setelah menyelesaikan makan siangnya. Mereka duduk sebentar sambil merasakan hembusan sejuk dari angin di lembah sana. Sampai samar- samar mendengar suara gemericik air menimpa bebatuan di dari kejauhan.
" Zaman dahulu kalau orang berbuat dosa, akan lama mendapat balasannya. Kalau sekarang? Sudah seperti membalikkan telapak tangan saja. Belum setahun Asti dihancurkan oleh Satrio dan Zahra. Balasannya langsung instan. Kehidupan mereka selalu saja mendapatkan malapetaka..." ujar Ibu Safitri seperti merenung.
" Itulah... Saya yang melihat sendiri betapa sombong dan percaya dirinya Zahra, karena merasa dicintai oleh Satrio! Padahal lelaki itu masih berstatus suami Asti. Malah mereka mengadakan acara pertunangan segala... Ya, ngamuk- lah keluarga besar Satrio. Sebab pernikahan Asti dan Satrio adalah upaya keluarga besarnya, untuk menyatukan kekerabatan mereka. Karena kakek Satrio dan Nenek Asti adik- kakak. Gobloknya Satrio malah kepincut Zahra yang memiliki susuk pengasih, ajian warisan yang diterima dari neneknya."
" Sudah, Ibu Anggita! Serem kalau ngomongin hal klenik seperti itu... Bagaimana, ya? Kita nggak mau percaya, tetapi sebagian masyarakat di sini masih mempercayai hal begituan. Bahkan masih dilakukan oleh mereka. Padahal itu musyrik dan menyekutukan Allah! Lihat saja apa yang terjadi pada Zahra dan Satrio selanjutnya. Itulah harga yang harus mereka bayar!"
__ADS_1