Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 68. Badai Belum Usai


__ADS_3

Malam melingkupi kediaman rumah Asti. Suasana rumah semakin sepi. Akbar tertidur lelap setelah disusui Asti sebentar. Berbagai makanan tambahan, nasi tim, dan biskuit membuat bayi itu sudah kenyang. Apalagi sejak pagi dibawa ibunya pergi ke desa lain yang cukup jauh jaraknya.


"'Bulek, apa Mbah Sanjaya sudah lama sakitnya? Kok, nggak ada kabar nya. Tiba- tiba ada berita beliau sudah meninggal !"


Bulek Ratih memandangi wajah Asti yang sendu. Wanita itu sangat mengenal watak dan kepribadian anak asuhannya itu. Walaupun Asti sudah bercerai, tetapi masih merasakan sakit hati dan kecewa. Apalagi ketika bertemu dengan Satrio dan Zahra di rumah duka tersebut.


Belum lagi melihat wajah si Zahra yang sepertinya terlalu belia untuk menjadi seorang perusak rumah tangga wanita lain! Bulek Ratih saja sudah muak, melihat gayanya yang manja, dengan cara wanita itu yang tidak mau jauh dari suami hasil rebutannya itu.


" Sejak Susanto memvideokan Satrio yang jalan dengan Zahra, sanak keluarga di Sendang Ranti sudah heboh. Apalagi dengar kamu minta cerai. Mbah Sanjaya sudah sangat marah dengan Satrio! Dia terus memantau keluarga anak perempuan pertamanya itu."


" Kenapa seperti itu, Lek?"


" Sebab , Sudah lama Mbah Sanjaya berkeinginan agar salah satu dari cucu atau kerabatnya dapat berjodoh denganmu. Tetapi Ibu Widya yang baru mendengar hal itu segera mengusulkan Satrio, anak bungsunya. Bahkan Bude Ayumu main terima saja! Nggak terlalu memperhatikan watak, tindakan dan masa lalu Satrio, yang katanya kurang patut. Begitu...."


" Apa gosip tentang Pak Cahyadi itu benar, Lek?"


" Sudah lama Pak Cahyadi dan Ibu Widya itu kurang akur . Hal itu bermula karena tempat tugas Pak Cahyadi, sebagai camat harus ditempatkan jauh di luar kota. Sedangkan sekolah tempat Ibu Widya bekerja itu ada di tengah Purwokerto. Jadi mereka tinggal terpisah. Apalagi Waktu itu Ibu Widya itu baru saja diangkat jadi kepala sekolah di Sebuah SMA negeri di kota itu. Jadi dia dan ketiga anaknya tinggal bersama dengan ibu mertuanya di rumahnya, Jauh dari suaminya."


" Sampai Ibu Widya mendengar gosip kalau suaminya berhubungan dekat dengan seorang janda beranak satu. Wanita muda itu bekerja menggurus semua keperluan Pak Cahyadi sehari- hari, yang tinggal di rumah dinas di desa itu. Mereka ribut besar. Sampai hampir bercerai. Karena sudah terlanjur malu, Pak Cahyadi akhirnya menikahi wanita itu. Sebagai rasa tanggung jawab akibat Ibu Widya bertindak main hakim sendiri. Wanita itu dianiaya Ibu Widya sampai masuk rumah sakit. Sekarang mereka malah sudah mempunyai dua anak, perempuan dan laki-laki yang sudah remaja."


" Sejak peristiwa itulah, Bude Widya berubah menjadi pribadi yang sangat sangat keras, pahit dan tak peduli karena rasa kecewa terhadap tindakan suaminya. Bahkan tak peduli dengan protes Pak Cahyadi, karena cara Ibu Widya dan ibunya yang sangat memanjakan Satrio. Jadilah Satrio seperti sekarang! Egois, selalu merasa benar sendiri dan tak mau disalahkan karena selalu dibela oleh ibu dan eyangnya itu."


Asti menatap mata Bulek Ratih dengan ragu, " Kalau Satrio pakai kruk, Bulek ?"


" Kata Joko, dia mengalami kecelakaan setelah pulang dari rumah ini, dulu!"


" Bukan dikeroyok dan dianiaya sama temen -teman Joko, Lek?"

__ADS_1


" Ya, ampun Asti! Joko nggak bakal berani bertindak konyol. Terus main hantam kromo seperti itu. Apalagi Satrio juga seorang abdi negara. Hanya saja dia sangat terlambat mendapat informasi dari Susanto, cucu Mbah Sanjaya tentang Satrio itu..."


" Sudahlah... kamu harus tenang dan ikhlas dengan permasalahan ini. Kesabaran hidupmu sudah teruji. Tinggal orang- orang munafik itu yang akan menerima segala perbuatan buruk yang dilakukannya, iya kan?" Suara Bulek Ratih semakin lembut dan menenangkan.


Sekarang Asti sudah cukup puas dengan penjelasan Bulek Ratih.


Di kamar tidur yang cukup besar itulah dia tidur dengan Bulek Ratih. Setelah Lek No memberi kabar, telah sampai rumah dengan selamat diantar Susanto, menjelang tengah malam.


Pagi hari, udara tak secerah kemarin. Langit di Timur agak gelap dengan gumpalan awan hitam menggantung berat.


Asti masih nyaman tertidur, setelah menjalankan sholat Subuh.


Sambil memeluk Akbar. Bayinya hanya menangis sebentar karena haus. Setelah itu dipindahkan bayi itu dari boks ke ranjangnya.


" Mau ikut ke pasar, sama Ibu?"


Mata bayi Akbar menatap wajah Asti agak lama. Nanti dia akan mulai menyapih Akbar dengan bantuan Bulek Ratih. Akhir - akhir ini dia kurang berselera makan, sehingga air asinya semakin berkurang.


Bayi itu dengan nyaman tidur di gendongan Bulek Ratih. Akbar mulai bermanja- manja pada semua orang menurutnya baik dan menyayanginya.


" Taruh di stroller aja, Bu Jum! Akbar biar sama saya di toko. Sana, kalau Bu Jum mau ikut Bulek Ratih masuk ke pasar! "


" Hanya ini catatannya, Dania?"


" Iya, Mbak. Barang yang sudah dikirim dua hari lalu dari Bu Tuti. Sudah saya cek, dan diberi label!"


Tak lama, Asti mentransfer harga barang yang tertera ke rekening Bu Tuti. Barang hasil kiriman bagus semua. Jadi tak perlu ada yang dikembalikan ke konveksi.

__ADS_1


Dania semakin dapat dipercaya. Gadis itu akan membawa uang penjualan barang di toko dan menyimpannya dengan rapi. Uang itu akan disetor ke Asti tiap dua kali dalam seminggu.


Bulek Ratih muncul sambil menyerahkan satu kresek besar ke tangan Dania. Ibu Dania masih sepupunya Bulek Ratih. Wanita itu membelikan ibu Dania berbagai lauk- pauk kering, bumbu dan sembako.


Keluarga Dania tinggal di sebuah desa yang letaknya jauh di belakang pasar ini. Kadangkala kedua orang tuanya, harus berjalan jauh ke luar dari desanya itu bila mendengar ada warga yang mencari buruh tani untuk mengerjakan sawah mereka.


" Terima kasih, Bude!" sahut Dania sopan.


Dania hanya dapat mengendong Akbar sebentar. Bayi itu makan apa saja, yang dimasukan ke dalam mulutnya. Dari bubur sumsum, es cendol juga sebuah kue tradisional yang tidak terlalu keras.


Asti membawa mobilnya menuju ke jalan desa Sendang Mulyo. Di bagasi ada banyak kantong kresek belanjaan. Tadi ada di ibu pedagang dari sebuah desa yang membawa hasil kebun berupa berbagai buah- buahan dengan sepeda ontelnya. Asti membeli sirsak, mangga dan jambu air dari ibu itu.


Kedatangan mobil Asti sudah ditandai oleh para ibu dari tetangga Bulek Ratih. Sejak kemarin para Ibu itu sudah gatal untuk menanyakan tentang perempuan yang sedang hamil besar itu yang duduknya tak mau jauh -jauh dari Satrio.


Menurut penilaian mereka, wanita muda itu tidaklah secantik Asti. Sebab dia masih sangat muda dengan makeup tebal yang membuatnya lebih tua dari usia sebenarnya. Belum lagi perutnya yang sedang hamil besar.


Benar kata orang! Terkadang kehadiran wanita lain yang mengganggu kehidupan rumah tangga seseorang, bukan karena si istri lebih jelek atau ada kekurangan apapun. Malah wanita penggoda itu di bawah standar Asti. Yang penting berani dan tak punya malu!


Niat semula Asti ke rumah Bulek Ratih adalah mencari dukun bayi yang akan memijat Akbar. Malah di rumah joglo sudah penuh ibu- ibu yang ramai akan bergosip.


" Akbar kenapa, Asti?"


" Kecapekan, Bu. Ada Mbah Minto, kan ?"


"'Sebentar aku panggil!" seorang ibu yang paling muda berlari ke luar rumah. Dia tetangga di sebelah rumah Mbah Minto. Sebab kalau terlambat, Mbah Minto sudah pergi dari rumahnya karena mendapat panggilan memijit dari warga di desa lain.


Suara Akbar yang menangis sampai serak saat diurut oleh Mbah Minto. Bocah lelaki ditelanjangi, tubuhnya dibaluri dengan minyak kelapa dan ramuan tertentu. Kedua kakinya diurut agak kuat agar capeknya hilang. Akbar dipijit di ruang tengah, di lantai beralas tikar plastik.

__ADS_1


Asti pura-pura tak melihat Akbar. Sebab bayi itu terus memandang nya, seakan-akan minta pertolongan. Beberapa ibu yang melihat hal itu tertawa. Akbar memang cerdas dan banyak akal.


Wanita tua itu telah menyelesaikan urutan. Akbar segera dipakaikan pampers dan bajunya diganti. Oleh Bulek Ratih Akbar diberi minuman seperti jamu. Katanya agar Akbar tidak mau minum susu ASI lagi.Tak lupa Asti menyisipkan dua lembar lima puluh ribuan ke telapak tangan wanita tua itu sebagai upah memijit dan menyiapkan ramuan untuk putra nya itu.


__ADS_2