Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
bab 41. Kejutan untuk Ninuk


__ADS_3

Rancangan gambar denah rumah dan bentuk rumah yang dibawa Mas Adam, sangat memuaskan Asti.


Apalagi, pria itu secara terbuka merinci biaya pembuatan rumah berlantai dua itu. Dari mulai bahan untuk pondasi dengan batu kali yang membuat bangunan aman dan kuat. Juga pemilihan bahan- bahan bangunan terbaru yang lebih murah harganya. Misalnya dengan memasang atap dengan rangka baja.


Berbagai surat- surat dari mulai IMB sampai perjanjian kerja sama untuk pembangunan rumah segera diselesaikan. Dibantu oleh orang di kecamatan. Nanti Lek No dan Joko akan bergantian mengawasi jalannya pembangunan itu.


" Mbak, itu kenapa Ibu Suparlan bolak - balik lewat di depan rumah, ya?"


Pertanyaan Mbok Bayah itu agak mengejutkan Asti. Baru saja, Joko datang bersama Mas Adam untuk membicarakan gambar ruko yang sudah dirancangnya.


" Masak sih, Mbok? Mau ketemu Bu Ery, mungkin!"


Jangan kepo dan jangan terpancing! Bisik Asti dalam hati. Dia sudah menjauhi Ibu Suparlan sejak peristiwa sebelum dia melahirkan. Malas saja! Mendengar ucapan wanita itu yang tidak sesuai dengan penampilannya yang selalu disebutnya modern, canggih juga berkelas.


Tadi Mbok Bayah menjemur baju- baju Akbar yang harus dicucinya sendiri oleh Asti dengan tangan. Untuk baju harian dan baju kerja Satrio, Asti menitipkan pada Mbok Bayah untuk dicuci pada laundry dekat rumahnya.


Sejak urusan gambar rumah, Mas Adam beberapa kali datang ke sini. Dia juga tidak datang sendirian. Kalau tidak ditemani dengan Joko pasti dengan mandornya.


Mbok Bayah pun ada di rumah. Sebab wanita tua itu sangat suka menjamu tamu yang datang ke rumah Asti. Katanya, orang dari desa lebih bersikap sopan dan menghargai dirinya.


Pria itu selalu mendiskusikan berbagai kendala yang ada di lapangan . Seperti mereka harus membangun bedeng yang lebih permanen untuk menyimpan bahan bangunan yang harganya agak mahal seperti semen, besi dan baja. Maklum rumah yang akan dibangun terletak di pinggir jalan yang sangat ramai. Jadi rawan pencurian.


Dalam beberapa bulan lagi, rumah impian Asti akan segera terwujudnya. Pekerjaan itu dilakukan oleh 6 orang tukang, seorang mandor dan Mas Adam sebagai pengawasnya.


Pria itu sangat antusias dengan proyek itu dan mendokumentasikan tiap langkah pembangunannya. Katanya gambar- gambar itu nanti dapat dipasang di kantornya untuk ajang promosi .


" Bismillah!" Itulah ucapan yang disampaikan Lek No untuk memulai pekerjaan itu. Setiap tiang yang yang mulai didirikan. Setiap bata demi bata yang disatukan untuk menjadi dinding adalah doa dan mimpi Asti.


" Asti, nanti kalau atapnya sudah naik, dilanjutkan saja untuk membangun ruko. Mas Adam sudah membuat dua contoh gambar ruko yang bagus kemarin." Kata lelaki itu lagi.


" Uangnya Lek . Asti takut kurang!"


" Apa Mbak Sasya belum menelpon kamu?"

__ADS_1


"'Maksud Lek No...."


" Iya, kemarin Pak Cahyadi cerita, Kalau ada seorang bapak yang tertarik membeli perhiasan warisanmu!"


" Alhamdulillah, mudah- mudahan tawarannya bagus, ya .Lek!"


Pria itu tertawa senang sambil mengayun- ayunkan tubuh gemuk Akbar di pelukannya. Mereka ngobrol di ruang tamu bersama Mbok Bayah juga Joko.


Pintu depan terbuka lebar. Tadi Asti sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Sampai Mbok Bayah memberi kode. Benar saja, Ibu Suparlan lewat sudah dua kali di depan rumahnya. Untung saja mereka masih terlibat pembicaraan yang seru. Kalau tidak! Mata muda Joko yang bakal melotot keluar melihat gaun yang sedang kenakan Ibu Suparlan siang itu.


Gaun ala londres hijau tua semata kaki, dengan kerah Sabrina. Belahan di gaun itu sampai mencapai paha kirinya. Dia berjalan gemulai dengan sandal teplek dan rambut yang digelung dengan cara diangkat semua rambutnya di atas kepala.


Asti hanya tersenyum miris. Mengapa setiap ada orang yang bertamu ke rumah ini, Ibu Suparlan yang repot? Benar sih kata orang, kalau ada tamu itu membawa berkah bagi tuan rumah yang menerimanya dengan baik.


Di meja makan, sudah disediakan hidangan yang cukup lengkap. Ada Sayur bening bayam dengan jagung, ayam goreng, tahu dan tempe bacem juga sambel bajak.


"Tambah Lek, Joko!"


Kedua orang yang terhubung sebagai ayah dan anak itu menikmati makan siang dengan masakan berbeda dari yang biasa disediakan oleh Bulek Ratih saat mereka di rumah.


" Lek, nanti tolong bantu urusan dengan Mbak Sasya, ya?"


" Beres, Asti. Apa kita perlu menginap di Solo? Biar Joko yang nganter!"


Sedikit mungkin, Asti membicarakan soal Mbak Sasya dengan kenalannya yang mau membeli perhiasan Asti. Takut persoalan ini didengar orang lain. Sebab nilainya perhiasan itu bisa ratusan juta rupiah.


Akbar mulai mengenali Lek No dan Joko. Jadi Asti membiarkan Joko mengendong anaknya itu keluar, setelah mereka pamit untuk kembali pulang.


"Ini buat jajan Lek No. Biasa lek, jangan beli rokok, ya! Ini buat isi bensin mu, Joko."


Uang sejumlah satu juta itu dibagi dua oleh Asti. Pastinya nanti Lek No akan menyerahkan pada istrinya. Untuk uang belanja.


Benar saja, Akbar mulai mewek ketika mobil yang dikendarai Joko mulai meninggalkan jalanan di depan rumah. Padahal Lek No sudah melambai- lambaikan tangganya dengan heboh.

__ADS_1


" Besok kita jalan- jalan, yah. Sama Om dan Mbah juga!" Bujuk Asti.


Mbok Bayah segera bersiap pulang setelah memandikan Akbar. Wanita itu membawa satu kresek besar pakaian kotor milik Satrio. Sebagian besar adalah seragam kerjanya. Besok siang, pakaian itu sudah selesai di laundry dan akan dibawa kembali dibawa oleh Mbok Bayah.


Benar saja, Mbak Sasya menelpon Asti di pagi harinya. Besok mereka harus bersiap-siap untuk menemui seorang pria yang merupakan tokoh penting dan juga kolektor perhiasan antik.


Dia datang ke kota itu karena mendapat undangan dari sahabatnya, seorang pejabat yang sedang menikahkan putri sulungnya. Acara resepsi itu diselenggarakan di sebuah hotel ternama di kota itu. Hotel berbintang lima.


Berita yang disampaikan Asti kepada keluarga Lek No mendapat sambutan meriah. Sampai Asti mengenali suatu suara yang paling keras dan paling cempreng. Suara siapa lagi? kalau bukan suara Ninuk!


" Ninuk? "


" Iya, apa?" Jawab Ninuk bete.


"Hampir tiga minggu Ninuk nggak pulang! Kalian banyak menyimpan rahasia, ya? Mas Joko beli mobil baru, Mbak Asti bangun rumah. Eh, sekarang mau jalan- jalan ke Solo. Enak aja.... Aku Ikut!"


Semua tertawa geli karena Ninuk cukup kesal mendapat kejutan yang bertubi- tubi.Tentunya kejutan yang menyenangkan.


Rombongan keluarga itu sudah sampai di rumah Asti tepat pukul 07.30. Padahal Satrio baru saja keluar dari rumah untuk menuju ke kantornya. Sepertinya dia akan bertugas dinas ke luar kota lagi. Sebab sejak tadi malam, pria itu sudah menata pakaian seragam dan pakaian kerjanya di koper bepergian.


Salahnya sendiri! Bude Prapti tidak dibayar gajinya dengan layak selama ada di rumah ini. Padahal wanita itu yang selalu mengurus semua keperluannya. Kalau sekarang, Mbok Bayah hanya bekerja pulang hari. Dia hanya menjaga dan menggurus Akbar. Asti juga memberinya libur di Sabtu dan Minggu. Kalau Asti bepergian atau pulang ke desa, tugas Mbok Bayah lebih ringan lagi.


Dia cukup datang ke rumah ini di siang hari, menyapu dan mengepel lantai. Setelah membuang semua sampah ke tempat sampah umum di bak depan rumah, Mbok Bayah akan pulang .


Wanita itu juga bingung ketika Asti membicarakan rumah yang berbau busuk ketika Asti kembali dari desa pada waktu itu. Padahal Mbok Bayah selalu membersihkan rumah setiap harinya. Sampai wajah wanita itu berubah pucat ketika dia masih dapat mencium bau- bau tak sedap pada esok harinya.


"Diapain, Mbok?" Tanya Asti heran.


Mbok Bayah menuang air bekas cucian beras ke dalam ember plastik biru yang biasanya untuk mengepel lantai. Sebelumnya dia memasukan alat pel itu ke dalam ember sambil mulutnya komat- Kamit. Sepertinya dia membaca doa. Ada yang diucapkan dengan bahasa sehari- hari ditambah beberapa hapalan surat pendek dalam bacaan Alquran.


Segera dia mengepel lantai rumah, dimulai dari teras depan, sampai ke lantai dapur. Wajah tuanya bersimbah keringat.


" Biar, Mbak. Orang yang berbuat jahat ini akan kembali menerima hasil dari kejahatannya!"

__ADS_1


Ucapannya terdengar menahan emosi antara marah dan ingin menganiaya seseorang. Setelah meneguk dua gelas air es dari kulkas, Mbok Bayah beristirahat. Sebelum pulang, bekas air pel itu dibawanya ke luar rumah lalu disiramkan ke beberapa pohon di taman depan sebagai pembatas dari dua jalan yang berbeda.


__ADS_2