Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 231. Dosa yang Tak Ampunkan


__ADS_3

" Asti, masuklah! " Panggil Ibu Ika Sawitri, istri Pak Kades Darmaji Hendardi, yang sering Asti panggil Bulek Ika.


Wanita yang tadi berdiri di dekat pintu kamar itu, segera meraih lengan Asti dan membawanya masuk ke dalam ruangan. Segera dengan patuh Asti duduk di kursi kayu yang ada di samping dipan kayu tempat Pakde Kerto terbaring.


" Pakde, Ini Asti sudah datang!" bisik Ibu Ika.


Mata Pakde Kerto mengerjab dan terbuka... Dia menolehkan sedikit kepalanya untuk melihat Asti. Namun ada tetes air mata yang mengalir di pipi tirus pria tua itu.


" Maafkan... Asti! Sebagai orang tua, saya bukan memberi contoh yang baik buat anak - anak dan cucu saya...!" ucap lelaki itu lirih.


" Untuk apa minta maaf pada saya, Pakde! Sudah lama saya tidak pernah bertemu Pakde. Terakhir yang saya ingat, waktu itu Pakde marah-marah dengan Bude Ayu di depan rumah Joglo dan di kantor kelurahan. Dengan bengisnya Pakde menghina Bude dengan kata-kata kasar dan jorok... Saya akan selalu ingat penghinaan itu, Pakde! Juga dengan dosa- dosa lain yang telah Pakde buat bersama almarhum Pak Kushari, untuk menghancurkan keluarga saya!"


" Deg!"


Kata-kata Asti tegas itu membuat nafas pria tua itu semakin sesak. Pria itu berusaha menahan tangisannya. " Iya... Saya melakukan banyak kesalahan dan dosa dengan keluargamu!"


" Sebaiknya Pakde minta maaf saja kepada Mbah Kung dan Bude Ayu!" Ujar Asti pedih.


Semua yang hadir di sana jadi terkejut ... Setahu mereka, Asti bukanlah seorang yang pendendam. Tetapi semua kata-kata yang diucapkan itu benar. Sedangkan kesalahan terbesar dari lelaki yang dulu sangat arogan itu lebih banyak ditujukan pada dua anggota keluarga Winangun yang sudah tiada. Kakeknya, Mbah Harjo Winangun dan Bude Ayu Sulaksmi, yang secara tidak mereka sadari, sudah masuk dalam perangkap permainan licik mereka, hanya dengan tujuan mengeruk kekayaan harta Winangun.


" Aku menyesal, Nduk! Sudah berbuat khilaf kepada Mereka. Saya mohon maaf..."

__ADS_1


" Apakah itu sebuah khilaf, Pakde? Justru Pakde sudah merencanakan kejahatan itu dengan Pak Nasri dan Pak Sabar ... Memang rumah Joglo pada waktu itu kosong... Tetapi saya baru mengingat sekarang, sebab orang yang memerintahkan kejahatan itu ternyata adalah Pakde Kerto Juwono!"


" Kamu, kamu... Pernah mendengar semua rencana saya itu?" ujar pria itu ketakutan.


" Iya, sekarang saya baru, ngeh! Setelah mendengar suara pakde seperti ini... Agak serak saat berbisik . Waktu itu saya sakit dan tidur di kamar utama di rumah Joglo. Tentu bagi anak kecil berusia 10 tahun agak bingung dengan pembicaraan itu yang ternyata merupakan rahasia... Betapa kalian sangat keji! Membuat kakek dan Bude terjebak dengan rencana itu agar merasa berhutang budi bukan?"


Pak Sarno maju dan berdiri di samping Asti. Dipeluknya separuh badan Asti yang masih gemetar menahan segala emosi dan kemarahannya. Ternyata Asti kecil mendengar rencana antara Pakde Kerto itu dengan anak buahnya yang diminta untuk menjaga rumah Joglo yang kosong saat pak Harjo dan anaknya pergi ke Surabaya. Mereka diantar oleh Pak Kushari dan supirnya. Pak Winangun baru mendapat laporan dari tetangga samping rumah, kalau dia bertemu dengan kakaknya Emilia dan adiknya itu di Surabaya seminggu yang lalu. Kedua paman Asti itu berjualan di depan sebuah pertokoan besar di kota Pahlawan.


Asti kecil tidak dibawa serta karena baru sembuh penyakit cacar air. Sehingga Mbah Harjo meminta bantuan orang lain untuk menjaga cucunya saat mereka akan bepergian agak lama. Saat itu di desa mereka banyak anak-anak terserang penyakit yang sering disebut juga Chicken Fox atau varisela, akibat musim kemarau yang panjang , dengan udara yang sangat panas, kering dan berdebu.


Bulek Ratih pun harus mengawasi kedua anaknya yang mengalami gejala penyakit yang serupa. Jadi ketiga anak itu dipisahkan di dua rumah yang berbeda.


Terdengar tangis Pakde Kerto tergugu... Asti kecil telah menyimpan rahasia itu cukup lama. Sayangnya, dia tidak terlalu mengenal orang yang merencanakan kejahatan itu.Mereka berbicara di depan teras rumah Joglo, sambil berbisik - bisik ditambah gelapnya malam. Sesekali bayangan mereka terlihat dari lampu depan yang temaram.


Hampir dua bulan kemudian, Bude Ayu diminta ayahnya, Pak Harjo Winangun untuk menerima lamaran Pak Kushari. Entah siapa yang membuat gosip yang bertuip panas di kedua desa yang bertetangga itu. Kalau Bude Ayu sering pergi berduaan dengan Pak Kushari itu. Padahal pria yang sudah punya dua istri itu berniat akan mencalonkan diri untuk maju dalam pemilihan kepala desa sebelah.


Bagi orang desa, untuk maju dalam Pilkades tentu harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit. Bisa puluhan sampai ratusan juta. Demi meredam gosip itu, Pak Harjo meminta anaknya yang juga sudah lama menjanda itu menikah dengan Pak Kushari. Tentu saja berita itu sangat mengejutkan bagi semua orang. Walaupun sudah hampir sepuluh tahun Bude Ayu menjanda, tetapi dia janda terhormat. Sebab dia memilih bercerai dari suaminya yang merupakan seorang tentara. Apalagi kehidupan keluarga Winangun cukup makmur saat itu dengan hasil panen padi yang melimpah, kebun yang luas dan dua rumah besar yang melindungi seluruh anggota keluarga Winangun.


Asti juga mulai merasa dijauhi teman - temannya setelah dia masuk sekolah SMP. Awalnya mereka para gadis remaja itu hanya berbisik-bisik, ketika dia melewati beberapa ruang kelas setiap masuk dan pulang sekolah. Tetapi menjelang dia duduk di kelas 9, para remaja putri itu mereka berbicara terang -terangan di depan nya dan menjauhinya. Kadang ada yang membuang muka. Bahkan ada yang meludah penuh rasa jijik ketika mereka saling berhadapan.


Ternyata bisikan itu sengaja dilakukan oleh Pak Kushari pada seorang wanita tua yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah pak camat.. Apalagi anak perempuan pak Camat itu juga sekelas dengan Nastiti Anjani atau Asti... Hubungan pak Kushari dengan Bude Ayu juga banyak menghadapi berbagai masalah. Karena kedua istri beliau dan anak-anaknya selalu ikut campur dalam segala hal. Terkadang menyalahkan wanita itu secara terang - terangan yang menjadi istri ketiga adalah ayahnya. Jadilah Bude Ayu sering pulang ke rumah orangtuanya, dengan alasan merawat ayahnya yang sedang sakit. ... Padahal rumah yang ditempatinya di desa Sendang Waru itu sudah atas nama Bude Ayu sendiri . Sebagai kompensasi dari janji Pak Kushari yang menjadikannya istri ketiga dan beliau terpilih sebagai kepala Desa Sendang Waru yang baru.

__ADS_1


" Kamu dengar rencana kejahatan mereka, Asti?" bisik Bulek Ratih tak percaya.


Memang Pak Kushari dan Pak Kerto itu sangat baik kepada Pak Harjo Winangun. Tetapi dalam hubungan pertemanan pun, Kakek Asti itu selalu membayar dengan tepat apa pun barang yang digunakan untuk keperluan pribadinya. Seperti menyewa truk untuk membawa panen padi atau panen kelapa. Menyewa mobil untuk bepergian menyambangi keluarga Pak Harjo yang lain yang tinggal di luar kota. Sebab sejak beliau terkena penyakit tekanan darah tinggi, mobil tua miliknya langsung dijual.


Dia tak berani mengemudikan kendaraan roda empat lagi karena penyakitnya sering kambuh. Setelah diperiksakan ke dokter, Kakek Asti itu mengalami komplikasi akibat penyakitnya itu ditambah usianya yang sudah menua


Asti segera berdiri dari duduknya yang memberinya rasa tidak nyaman. " Pakde, Mohonlah ampun kepada Allah SWT. Bertobat Pakde! Mumpung masih diberi umur... Asti sudah ikhlas dan memaafkan semua perbuatan jahat yang dilakukan Pakde Kerto dan Pak Kushari kepada keluarga saya. Di sini Asti tidak mau menghakimi Pakde. Sebab semuanya itu sudah Asti serahkan kepada Allah SWT. Dialah pemilik rahasia hidup semua umat manusia...."


Tangis Pakde Kerto mulai tergugu! Semuanya mendengar dengan hati miris... Betapa seseorang yang dalam keterpurukan dan ketidakberdayaan itu barulah menyadari dan mengingat segala dosa dan perbuatannya di masa lalu...


" Asti hanya mengingatkan kepada Pakde Kerto! Berapa keluarga dari teman Asti di sekolah dulu, yang sudah dihancurkan ekonominya oleh Pakde dengan praktek perjanjian bisnis yang curang! Mereka hidupnya menjadi susah! Karena Pakde sudah mengambil sawah, kebun, rumah juga sapi mereka untuk membayar hutang... Apa Pakde juga sudah meminta maaf juga kepada mereka?"


Semua orang masih terdiam... Jadi Pakde Kerto juga melakukan praktek rentenir dengan meminjamkan modal kepada para petani di desa lain! Apakah ada hal yang lebih buruk yang telah dilakukan Pak Kushari yang justru meninggal lebih dulu dari kakaknya ini... Perbuatan itu apakah sangat berbahaya dan merenggut nyawa orang lain?


Pakde Muin terpana... Dia tidak pernah menyelidiki perbuatan lelaki ini, karena fokus dengan lelaki yang dulu menikahi Bude Ayu secara siri...Tentu Bude Ayu mampu bertahan selama 6 tahun pernikahan nya dengan lelaki pongah itu. Yang hanya memberinya hinaan dan cemoohan dari kerabat Juwono lainnya..


Pantas Ayu terlihat sangat kesal setelah Pakde Kerto menolak permintaannya untuk tidak lagi menggarap sawah milik keluarganya... Pria itulah tidak peduli! Sebab hanya dari sawah keluarga Winangun itulah, keluarganya masih bisa makan. Setelah satu demi satu para petani mulai menolak menjual hasil buminya kepada lelaki itu.


Di beberapa desa mulai menjamur pendirian koperasi unit desa. Badan yang bersifat umum itu banyak membantu segala keperluan para petani. Bahkan ada yang juga memberi pinjaman uang dengan bunga yang rendah dan cicilan yang tidak memberatkan.


Gudang - gudang besar milik pak Kerto lama kelamaan mulai kosong... Bahkan beberapa toko beras dan toko sembako mulai tutup karena tidak ada pasokan hasil bumi yang murah... Keadaan itu semakin terus berlarut larut... Bahkan beberapa mobil angkutan itu mulai dijual dari puluhan truk dan mobil pick up... Sampai gudang pun dibeli oleh orang lain dan mengubahnya menjadi tempat usaha lain karena letaknya di tepi jalan besar dan ramai...

__ADS_1


Asti melangkah keluar dari kamar yang suram itu... Tiba -tiba saja barulah dia memahami akan rencana pria itu dulu dengan beberapa anak buahnya... Seharusnya yang bertanggung jawab adalah Pak Kushari yang membawa Emilia dan kakaknya ke Banjarmasin... Sejak tragedi itu datang, kedua keluarga itu mengalami berbagai masalah sampai menghancurkan segalanya.


__ADS_2