
Suara anak- anak sudah terdengar dari loby penginapan di gedung utama. Mereka sudah tidak sabar untuk segera berangkat ke Jatim Park 2 . Di sana mereka akan mengunjungi museum satwa juga melihat berbagai hewan aslinya di Batu Secret Zoo. Yaitu kebun binatang yang sangat luas, dengan berbagai koleksi hewan yang berasal dari berbagai negara.
Kali ini Pak Yusuf yang tidak ikut dalam acara jalan-jalan itu. Sebab beliau akan menggurus berbagai penagihan kepada para pelanggan di daerah Malang dan sekitarnya. Tetapi dia sempat menitipkan Istri dan anaknya kepada keluarga Asti untuk ikut dalam rombongan wisata itu.
Mereka telah merencanakan untuk pergi bersama - sama ke Gunung Bromo, malam nanti. Sebagai acara pertemuan terakhir mereka. Tetapi ada janji akan terus menjalin kontak, agar hi persaudaraan terus terjalin. Setelah dari Gunung Bromo, nanti Asti dan keluarganya akan langsung pulang ke Jawa Tengah bersama Om Ardi. Sedang Pak Yusuf masih mengurus harus segala usahanya yang ada di Surabaya.Juga menjaga mertuanya yang harus cuci darah ke rumah sakit secara rutin seminggu dua kali.
Minggu depannya Leon dan keluarga kecilnya akan berencana mengunjungi Keluarga Pak Yusuf di Surabaya. Sekaligus mengantarkan Om Ardi pulang ke kota itu juga.
Para orang dewasa masih asyik ngobrol dan bercengkrama di depan restoran setelah menyelesaikan sarapan mereka. Para supir mengecek mesin mobil masing-masing untuk persiapan kepergian nanti malam. Mas Aji yang akan membawa pajero itu, karena Pak Cakra maupun Leon kurang menguasai medan untuk menuju gunung Bromo, melalui Malang. Sebab jalan ke sana berupa dataran tinggi dan pengunungan.
" Ayo, Bu! Kita pergi. Akbar mau lihat macan!" seru Akbar semakin tak sabaran.
Asti baru saja memandikan adiknya, setelah selesai disusui. Sedangkan Bu Jum sedang menyiapkan botol susu, air panas dalam termos dan susu bubuk dalam wadah khusus. Nanti akan bisa dibuat untuk 2 kali minuman dalam perjalanan ini. Mereka juga menyiapkan strollernya untuknya.
"'Sabar, sayang! Itu Mas Hafiz dari tadi duduk tenang! Cuma kamu yang nggak bisa diam... Tadi dihabiskan nggak sarapannya?" ujar Leon sabar. Sambil memeluk balita bertubuh kekar itu.
"'Habis , Yah. Disuapin Mbak Putri!" ujar Akbar sedikit bangga. Leon selalu menekankan agar Akbar banyak makan selama masa bepergian ini. Biasanya anak itu kalau sudah terlalu senang, sulit sekali untuk makan dengan tenang.
Mbak Ning membantu Bu Jum merapikan tas bepergiannya Qani dengan segala keperluan bayi itu. Termasuk dua setel baju ganti untuk Akbar sebagai persiapan.
__ADS_1
Jarak penginapan mereka dengan beberapa objek wisata di daerah Batu ini saling berdekatan. Sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengunjungi beberapa tempat wisata itu sekaligus dalam satu harinya.
Mereka akhirnya berangkat pada pukul.09.00. Om Ardi memilih untuk ke kebun binatang saja nanti. Sebab mereka akan ke meseum satwa terlebih dahulu, demi menyenangkan anak-anak. Jadi Asti yang akan menemani Omnya duduk di sebuah area santai. Apalagi di area parkir yang luas ini ada penjual berbagai makanan dengan booth-booth yang ditata menarik.
Sebelumnya mereka berfoto - foto bersama keluarga besar, di depan Meseum itu. Sampai Pak Jan, supir Pak Yusuf yang kali ini menjadi fotografernya. Mbak Sarah ikut bergabung dengan Asti dan Ardi di area depan. Hafiz dengan nyaman mau digandeng Pak Cakra atau pun Joko.
" Saya kurang enak badan! Sejak Bapak sakit, kami jadi sering begadang! " bisik Wanita itu.
Lama wanita itu juga memandangi wajah Asti dengan seksama. " Kalau secantik ini anaknya Emilia ... Pantas saja ibumu menjadi rebutan para pemuda dan menjadi bunga desa di kampung saat masih remaja!"
" Tetapi Bapak meminta kakak Emilia melanjutkan pendidikannya, daripada berumah tangga di usia yang masih belia!" ujar Ardi menjelaskan.
Banyak orang menilai kalau Pak Jaffar hanya menggunakan dalih seperti sebagai alasan untuk menolak lamaran pemuda itu. Sebab beliau mengetahui, kalau pemuda itu bukan orang yang baik tingkah laku dan budi pekertinya. Sekolahnya saja DO di STM terbaik di kotanya. Selain menganggur Sandia mulai sering mabuk-mabukkan dan berbuat onar. Sampai beliau mengirim Emilia ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolahnya di kota pelajar tersebut untuk mencari aman.
" Sudahlah Bu Sarah... Asti sudah sangat bahagia bisa dipertemukan dengan kakak dan adiknya ibu Emilia di sini, sejak kemarin. Sebab orang-orang yang sudah berbuat jahat kepada kami l, telah mendapatkan balasannya masing-masing ... Itu semua karena Kuasa Allah SWT!" bisik Asti." Saya sudah sangat ikhlas dengan semua takdir ini!"
Bu Sarah segera memeluk keponakannya dari suaminya itu. Wanita itu tahu, kalau keluarga suaminya adalah orang-orang yang baik dan berbudi. Bahkan bertahun - tahun yang lalu Yusuf harus berbesar hati untuk menggurus Ardi di kota Surabaya sendirian... Sampai adiknya itu sembuh. Tetapi keadaan sebelah kakinya juga sudah sangat parah. Jadi kakinya sedikit pincang bila dipakai untuk berjalan.
" Ini kenangan - kenangan dari kampung!" begitu cerita Ardi setiap orang menanyakan mengapa berjalan pincang. Padahal pemuda itu juga merasakan adanya kekurangan dengan cacat yang ada pada dirinya itu. Dia jadi minder bila berhadapan dengan kaum wanita. Apalagi apabila ada wanita muda yang cantik, yang menarik perhatian. Dia juga tak bisa membawa kendaraan roda dua atau pun roda empat, karena satu kakinya terasa sangat nyeri bila dipaksakan digunakan. bekerja terlalu lama.
__ADS_1
Hampir dua jam rombongan itu berada di dalam meseum Satwa. Sampai mereka akhirnya masuk ke kebun binatang bersama - sama dari pintu area depan bangunan yang cukup sangat unik itu.
Leon, Pak Cakra dan Joko menggunakan sepeda listrik untuk mengunjungi kebun binatang yang masih menjadi bagian dari Jatim Park 2. Mereka nanti akan membawa anak-anak dengan kendaraan anti polusi tersebut.
Om Ardi naik bersama Lek No, membawa Akbar. Leon dan Ninuk mengendong Qani. Pak Cakra, memboncengkan Bu Sarah dengan Hafiz. Yang lainnya berjalan santai mengelilingi kebun binatang itu dengan berbagai koleksi binatangnya yang banyak dan sangat lengkap. Ada juga yang berasal dari negara lain di beberapa benua.
Bulek Ratih, Mbak Ning, Bu Jum juga Asti dan Putri berjalan santai di depan. Sementara para supir berjalan sambil berjaga-jaga di belakang mereka. Sesekali Asti dihampiri sepeda listrik yang dibawa Leon. Malah Qani tertawa-tawa meledek ibunya dan keluarganya itu dengan aksi Leon. Seolah - olah membawa motor balap di sirkuit balap.
Perjalanan yang cukup melelahkan itu berakhir juga di bagian belakang kebun bintang. Mereka semua makan di sebuah warung makan yang tidak jauh dari parkiran itu. Setelah sholat Asar mereka kembali ke penginapan untuk persiapan ke Bromo dan pulang ke rumah di esok harinya.
Di penginapan mereka bertemu dengan Pak Yusuf yang sudah menyelesaikan urusannya. Mereka dibantu Pak Jan menggurus pemesanan jeep, di sebuah lokasi.Jeep itu yang akan membawa mereka berwisata ke Gunung Bromo dan daerah wisata di sekitarnya. Di sana ada beberapa tempat yang cukup menarik juga untuk dikunjungi.
Ternyata ada saudara Pak Jan yang yang juga mengusahakan perjalanan ke Gunung Bromo tersebut. Mereka memberi ancar- ancar ke tempat dia dan teman - temannya itu biasa mangkal dan menerima orderan seperti itu. Ke titik itulah nanti rombongan itu harus datang. Minimal dini hari, agar tidak ketinggalan melihat untuk melihat sunrise. Itulah adalah salah satu agenda wajib bagi para wisatawan datang yang datang Gunung Bromo itu.
Mereka akan memesan 3 buah Jeep untuk transportasi ke sana. Nanti setiap Jeff akan diisi oleh 5 atau 6 orang di dalamnya. Leon memaksa Asti ikut. Walaupun perjalanan itu akan dilakukan dini hari nanti. Setidaknya pengalaman itu akan menjadi kenangan-kenangan yang akan selalu diingat oleh anak-- anak mereka nanti.
Beberapa koper pakaian sudah ditumpuk di ruang tengah kamar penginapan mereka. Sebab mereka akan segera memasukkan barang - barang bawaan itu kedalam bagasi Elf dan Pajero. Pakde Muin tidak ikut Karena dia akan mengunjungi adiknya yang tinggal di Blitar. Mereka segera berpamitan, setelah sore tadi. Tugas Pakde Muin sebenarnya sudah selesai. Tetapi beliau tetap berusaha mencari keberadaan Emilia yang mungkin berada di negara tetangga, yaitu di Malaysia.
Ternyata Pak Jan dan Pak Sugeng pernah mengunjungi obyek wisata ke Gunung Bromo itu. Jadi mereka tidak mendapatkan kesulitan untuk membawa kendaraan itu untuk mencapai ke tempat itu malam nanti.
__ADS_1