
Kedatangan Pak Basuki H. Murti dari rumah sakit, ternyata bersamaan dengan kehadiran kerabat yang lain. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga yang sangat luas itu. Untuk sekedar memberi support atau unjuk wajah di keluarga ini.
Di ruangan yang mirip aula itu sudah duduk Ibu Anggun dan kedua putrinya yang cantik. Di seberang mereka juga sudah ada dua menantu lelaki kebanggaan keluarga Murti. Juga adanya kerabat lain dari adik atau kakak dari pihak Ibu Anggun dan Pak Basuki Murti.
Kedua menantu lelaki dari keluarga Murti itulah yang memegang tampuk pimpinan Perusahaan property terbesar di Semarang. Proyek di dekat rumah Asti itu adalah proyek kedua yang menjadi tanggung jawab Leon Narendra Murti dalam perusahaan itu. Setelah proyek pembangunan apartemen di daerah Jabotabek itu laris di pasaran. Padahal si adik ipar baru bergabung dengan mereka dalam perusahaan itu selama 4 tahun yang lalu.
Pak Leon sudah mengajak Ninuk, Bulek Ratih dan Asti berkumpul bersama mereka di ruangan keluarga itu. Mereka satu persatu dikenalkan oleh Leon. Asti tersenyum sopan sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di dada, ketika berhadapan muka dengan kerabat dan keluarga besar Basuki H. Murti. Apalagi sebagian besar dari mereka adalah kaum Adam.
Beberapa kerabat memaklumi perilaku Asti. Walaupun hijab Asti tidak terlalu lebar, juga gaun gamisnya tidak lebar. Tetap saja wanita itu tampil sederhana dan tidak menyolok. Beda dengan Ninuk yang masih memperlihatkan sikapnya sebagai remaja putri masa kini. Hijabnya lebih santai, dengan berpakaian t- shirt lengang panjang gombrong dan bawahan rok kulot denim longgar.
" Saya, selaku wakil dari keluarga Murti, mengundang Tante, Om dan para sesepuh lainnya untuk datang ke pernikahan kami, pada hari Minggu tanggal 27 di bulan ini!"
Setidaknya, Leon sudah mengundang mereka lewat virtual. Karena jarak dan waktu yang sangat mepet. Apalagi Asti juga tidak ingin mengelar pesta besar yang mewah.
Para kerabat bergumam. " Kami akan mengusahakan untuk datang, Leon! Kebetulan Mbak Ditta tinggal di Solo. Masih jauh kah tempat itu dari rumah pengantin wanitanya?" tanya seorang pria yang merupakan sepupu dari Ibu Anggun.
" Maaf, Pak... Mungkin masih perlu waktu 30 sampai 40 menit lagi. Baru sampai ke rumah kami !" Jawab Ninuk. Sebab Ninuk yang merancang undangan itu, karena Pak Leon sudah sangat sibuk di lokasi proyek.
Dia juga sudah meletakkan denah lokasi rumah Mbak Asti dengan tepat. Walaupun tinggal di kampung, dengan google Map pun niscaya akan dipandu oleh aplikasi itu untuk sampai ke rumah. Rumah Asti apalagi di tepi jalan simpangan di daerah yang cukup strategis.
Pembicaraan mereka menjadi lebih akrab karena membahas permasalahan sehari- hari. Asti, Ninuk dan Bulek Ratih pun ikut bergabung dalam obrolan itu. Apalagi mereka sangat tertarik dengan rumah Asti yang dekat dengan proyek perumahan yang sedang digarap oleh Pak Leon saat ini.
Menjelang sore, mereka pun pamit pulang. Pak Basuki malah ngotot minta diantar suster yang merawatnya untuk menemui Akbar. Pria itu sudah sering melihat foto bayi itu di media sosial milik anaknya. Jadi beliau ingin melihat si calon cucu setelah mendengar mereka akan kembali ke rumah malam nanti.
Akhirnya Pak Basuki Murti diantar suster menuju paviliun tempat para tamu menginap di sana. Akbar kaget saat dipanggil oleh seorang kakek yang duduk di kursi roda dan didorong oleh suster.
" Dek, Ini. Mbah Kakung! " panggil Asti.
__ADS_1
Mereka sedang duduk di kursi taman. Bulek Ratih segera mengendong Akbar dan menyalami lelaki itu.
" Maklum, Pak! Dia jarang bertemu dengan orang lain. Jadi agak malu - malu!"
Wajah lucu Akbar sesekali memandangi kursi roda yang diduduki pria tua itu. Mungkin dipikirnya kursi roda itu sama seperti stroller yang sering dinaikinya saat dibawa ibunya bepergian jarak jauh.
" Papah?" Panggil Leon kaget.
Bulek Ratih lagi asyik ngobrol tentang perkembangan kesehatan beliau. Leon menepuk bahu ayahnya itu dengan hangat. Tentu saja Akbar langsung mau digendong ketika Pak Leon mengulurkan tangannya.
" Akbar, ini Mbah Kakung!"
Dengan gemas, pria tua itu mengusap pipi gembul Akbar. Bayi itu tertawa. Sebab dia merasa disayang.
" Jaga anak ini dan istrimu baik- baik , Leon! Papa sebenarnya ingin ikut mendampingi kamu di saat acara pernikahanmu itu. Cobalah kamu belajarlah dari kesalahan pada pernikahan kamu sebelumnya, agar tak mengulangi lagi. ...."
Leon mengecup pipi tirus ayahnya yang sudah bersimbah air mata. Sungguh semua itu terasa berat bagi lelaki itu. Inilah alasan utamanya, sehingga dia pindah dari Jakarta ke Semarang. Agar dekat dengan ayahnya setelah mendapat laporan dokter dari hasil Check Up terakhir. Beliau mengalami permasalahan di jantungnya. Karena ada komplikasi di tubuhnya, upaya operasi untuk jantungnya ditangguhkan untuk sementara. Sejak itulah lelaki tua itu harus bolak balik masuk rumah sakit.
Leon dan Akbar mengiringi, ayahnya kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Suster mendorong kursi roda itu dengan hati- hati. Akbar cukup anteng digendong oleh calon ayah sambungnya itu. Hal itu dilakukan Leon, sambil pamit kepada para ART dan pekerja lain di rumah besar orang tuanya ini. Sambil menitipkan kedua orangtuanya, agar dijaga dengan sepenuh hati.
Pak supir Elf sudah memanaskan mesin mobil. Dimas dan Ninuk telah membawa koper dan tas- tas pakaian mereka untuk disimpan di bagasi.
Saat Asti menyusul Pak Leon ke rumah utama, para pekerja di sana secara serempak mendoakan agar acara pernikahan mereka berjalan lancar. Seperti rencana semula, Bu Anggun dengan anak, dan menantunya akan hadir sehari sebelum acara pernikahan itu diselenggarakan.
Perjalanan malam dimulai setelah mobil meninggalkan kota Semarang. Sempat tadi mereka mampir di sebuah area pertokoan yang menjual berbagai oleh- oleh. Asti sudah mendengar tentang bandeng presto Juwana. Dia membeli beberapa kotak, juga membeli wingko babat sebagai makanan khas daerah itu untuk oleh- oleh.
Sayangnya, toko yang menjual lumpia Semarang yang asli agak jauh letaknya dari pertokoan itu. Justru mobil itu harus berbalik arah , masuk kembali ke dalam kota untuk mendapatkan makanan khas yang paling orisinil.
__ADS_1
Jadi Asti menangguhkan rencana itu. Sebab mereka harus segera kembali ke rumah. Sampai Asti merasa disentuh secara lembut bahunya oleh Pak Leon. " Tidurlah ... Biar Akbar dijaga oleh Bu Jum!"
Mereka berhenti setelah pukul 21.00 untuk sholat Isya di sebuah rest area di sebuah kota. Pak supir beristirahat sambil menikmati segelas kopi, dan makanan gorengan.
Bulek Ratih mencoba minuman hangat yang dijual di sebuah lapak di tempat itu. Nanti Akbar akan diletakkan di jok depan bersama Bu Jum. Bulek Ratih dengan Ninuk duduk di tengah. Sementara Asti duduk di belakang di samping pak Leon, kali ini Asti akan menjulurkan kedua kakinya pada sisa dua bangku belakang yang kosong.
Menjelang dini hari mereka telah memasuki wilayah tempat mereka tinggal. Mas Yanto segera membuka pintu pagar depan , ketika mobil ELF itu memasuki jalan di depan rumah dengan perlahan.
Demi apa pun, Mas Yanto rela begadang untuk menunggu Asti dan Pak Leon pulang ke rumah dengan selamat.
Pak Supir menolak untuk menginap karena dia segera pamit untuk langsung kembali ke pool. Tempat itu letaknya di seberang kantor Biro travel Haji dan umroh milik Pak Anwar Sa'id.
Dimas dan Pak Leon akan menginap di salah satu kamar di lantai atas. Di sana juga ada Ninuk yang akan tidur bersama di ibunya di kamarnya. Bu Jum sudah tergolek kelelahan di kamar lain karena menjaga Akbar yang beberapa kali terbangun yang untungnya tidak terlalu rewel.
Akbar kembali terbangun, jadi dia ditemani Mbak Ning karena Asti akan menyiapkan susunya. Segelas air hangat telah dituang ke gelas dengan beberapa sendok susu bubuk di dalamnya. Saat Asti sedang sibuk mengaduk susu itulah Pak Leon turun.
" Yang, bisa dibuatkan air hangat untuk mandi kan?" tanya pria itu pelan.
Asti tahu, di rumah orang tua Pak Leon di Semarang, semua kamar mandinya hampir disediakan kran s air panas secara otomatis. Jadi mereka mau mandi malam pun, tidak masalah. Karena daerah itu akan sangat dingin di malam hari.
Dengan ember plastik berisi sedikit air dingin, Asti menuang air panas yang telah dimasaknya. Pria itu akan mandi di kamar mandi di lantai bawah. Sambil Asti menyiapkan handuk barunya untuknya.
Justru setelah mandi, Pria itu malah memilih menggelar tikar dengan kasur lipat di ruang tengah. Dia akan tidur di sana, karena sudah sangat mengantuk. Selain itu tidur di ruangan ini lebih sejuk karena ruangan lebih luas dengan ventilasi yang banyak.
Rumah mulai sepi, setelah Mas Yanto menutup pagar depan dan kembali ke posnya di samping ruko.
Justru beberapa anak motor dan komunitasnya lewat di depan ruko.
__ADS_1
Mereka terdiri dari empat atau lima orang dalam kelompok itu. Salah satu diantara mereka adalah Mas Barep. Pria itu memberi kode pada Mas Yanto dengan menyalakan dan mematikan lampu motornya sebanyak 3 kali, yang menandakan keadaan di sana cukup aman.