
Kedatangan Pak Leon saat kembali ke dalam rumah malah disambut tawa geli dari Joko dan Pak Cakra, yang sengaja menunggunya di ruang tamu... Mereka tahu para ART di rumah ini, masih asyik menonton TV dengan tayangan sinetron kesayangan mereka. Sehingga tayangan sinetron itu sepertinya menjadi tontonan wajib bagi Mbak Ning, Bu Jum, dan Putri.
Jarang sekali para pria itu menonton TV di rumah Asti ini. Kecuali ada siaran langsung dari stasiun tertentu yang menyajikan pertandingan sepakbola antara timnas Indonesia melawan tim lawan dari negara lain. Barulah mereka berusaha untuk menontonnya. Apalagi kalau siaran itu berbarengan dengan jam dibukanya warung tenda.
Terkadang, Mas Kancil sedikit kecewa, karena tidak bisa melihat acara itu bersama-sama. Sebab mereka tetap harus berjualan dan melayani pesanan para pembeli. Walaupun Joko nanti akan merekam pertandingan itu agar bisa ditonton pada pagi harinya. Tetap saja kata anak-anak warung tenda, menonton rekaman seperti itu kurang greget, karena kehilangan euforia dari ketegangan suasana di lapangan hijau itu secara langsung.
Mbak Ning sudah beranjak ke dapur untuk menyiapkan kopi. Mumpung ada tayangan iklan lewat di sinetron tadi. Mereka juga sebenarnya agak sedikit bingung, sebab jarang sekali Pak Cakra dan Joko tertawa cekikikan seperti tadi, layaknya anak perawan. Namun wanita itu segera meletakkan tiga cangkir kopi di atas meja ruang tamu. Sementara Akbar sudah tidur... Asti pun sudah sejak Isya, tidak lagi keluar dari kamarnya.
Sejak Putri menyampaikan kalau ada Pakde Muin dan istrinya ada di warung tenda. Ketiga pria itu juga agak sedikit penasaran dengan kedatangan tamu mereka itu.
Dulu Joko pernah bertemu dengan lelaki itu di rumah kerabat mereka di Semarang. Kejadian itu hampir 4 tahun yang lalu. Namun ketika Pak Muin mengetahui kalau Joko adalah anaknya Sarno Winangun yang masih keponakan dari Pak Harjo Winangun. Pria itu malah memberinya uang saku yang jumlahnya cukup besar. Padahal saat itupun dia juga sudah bekerja.
Sebenarnya mereka juga agak shock ketika menemui pasangan fenomenal itu di halaman ruko. Pakde Muin sudah cukup unik dengan penampilannya yang berbau ala detektif partikelir alias detektif yang biasa muncul di cerita spionase atau film thriller. Sebab beliau selalu mengenakan jaket bomber atau jaket tebal berbahan wol yang panjangnya ada di bawah pinggul. Jaket itu sebagai pelengkap dari pakaian dalamnya yang berupa kaos berkerah Turtle Neck berwarna gelap. Belum lagi sepatu boot tebal yang membuatnya tampil gagah.
Yang cukup mengejutkan bagi mereka adalah sosok perempuan muda yang dikenalkan pada mereka sebagai istrinya...Wanita muda itu harus dipanggil dengan sebutan Bude itu, karena silsilah dalam keluarga mereka. Pakde Muin lebih tua kedudukannya dibandingkan dengan almarhum Harjo Winangun. Karena istri yang dinikahinya adalah adik ibunya yang merupakan keturunan Widagdo.
Malam itu penampilan Bude Mayang lebih mirip biduan dangdut yang akan siap naik panggung di acara hajatan kampung. Kata orang Malaysia, penampilan istri Pakde Muin itu sangat seronok!
Mungkin yang kurang dari penampilannya pada malam itu adalah rambut yang diwarnai pirang dengan keriting gelombang dan sepatu high heels dengan warna mencolok.
Bude Mayang memang menggunakan hijab tertutup. Namun dia selalu saja memadukan warna - warna berani dan terang dalam memilih pakaiannya. Dia senang mengenakan busana two piece, entah atasan atau gaun MIDI dress . Selalu dipadankan dengan legging.
Seperti malam ini Bude Mayang menggunakan long dress panjang dari bahan sejenis brokat renda sebetis berwarna biru terang, dengan legging merah. Dia memakai kerudung instan berwarna kuning tua. Untungnya tidak ada ada hiasan pita atau bunga korsase di kerudungnya itu yang akan menambah ramai pada penampilannya malam itu... Sebab dia juga memakai jaket jeans pendek dengan yang kancing- kancing pakunya yang berwarna silver yang mencolok.
__ADS_1
Sampai berkali-kali Joko mengucapkan istighfar dalam hati. Padahal informasi yang disampaikan oleh Pakde Muin itu sangat penting. Tetap saja penampilan wanita yang ada di sampingnya itu agak mempengaruhi daya konsentrasinya.
Joko malam itu berharap, kalau Mas Leon dapat berbicara dengan kerabat Asti itu. Sebab pria tampan itu sudah terbiasa dikagumi dan dipandangi oleh lawan jenis, yaitu kaum wanita. Jadi dia tidak mudah terpengaruh oleh kehadiran orang lain. Meskipun wanita yang ada di sampingnya itu penampilannya membuat pria lain geli dan hampir tertawa berguling - guling.
Bagi Leon yang biasa bertemu dan dengan wanita dari berbagai kalangan, penampilan istri Pakde Muin cukup ' mempesona' juga. Sampai dia kaget sendiri, ketika Bude Mayang memandanginya tanpa berkedip. Setelah ditelisik, pakaian yang dibeli Bude Mayang itu juga bukan barang murah. Tentu buka dibeli dari toko yang ada di pasar atau dibeli secara online. Mungkin karena seleranya agak berbeda saja, jadi gaun hijab yang digunakan terlihat agak ajaib saking, ramai warnanya. Main tabrak warna saja, persis cake pelangi.
Leon cukup prihatin mendengar ulasan pria di hadapannya itu. Juga dia tak terlalu yakin apakah Asti mampu mendengar sendiri akan keberadaan ibunya, kalau Pakde Kerto dan almarhum Pak Kushari telah sangat lama menyembunyikan fakta dan kejadian sebenarnya tentang ibu dari Asti, Emilia Jaffar.
" Joko! Saya besok harus membawa Asti ke rumahnya Pakde Kerto itu. Apakah sakitnya lelaki itu berbahaya?" Ujar Leon yang tadi mengantar pasangan itu kembali ke desa Sendang Mulyo. Rupanya mereka betah tinggal di rumah Bu Ratih yang ada di sana.
Joko tahu tentang sakitnya pria yang merupakan kakak dari almarhum Pak Kushari itu. Pak Kades Darmaji pernah memberitahukan kepadanya, saat dia mengusut masalah pelemparan batu di jendela rumah Asti oleh anak sulung beliau. Dia sampai mengejar lelaki pengecut itu sampai ke desa Sendang Waru, rumah Pakde Kerto.
" Walaupun beliau hanya sakit stroke, jangan bawa anak - anak ke sana , Mas! " Pinta Joko agak cemas. " Rumahnya itu sangat kotor, bau dan banyak sampah. Mungkin malah jadi sarang penyakit!"
" Ugh, anak- anaknya sudah terbiasa hidup enak karena orang tua mereka kaya raya. Jadi bersikap semaunya.. . Saat jatuh miskin pun, sifat mereka tidak berubah! Tetap malas dan tidak peduli pada orang lain. Bahkan bertahun -tahun rumah itu, tidak pernah dibersihkan. Selain malas juga tidak punya banyak uang untuk memperbaiki rumah itu yang sudah sangat tua dan usang. Bagaimana mau rumah bersih? Mencari kerja yang layak saja tidak mau, padahal untuk kebutuhan perut sendiri!'
" Terus mengapa pada ketawa geli di sini? Apa ada yang lucu?" tanya Leon bingung.
" Kata Pak Cakra, istri Pakde Muin itu mirip ondel-ondel... Setelah saya cari di google apa itu ondel-ondel, ya kami jadi tertawa geli, lha!" jelas Joko. Begitulah kalau Leon sudah keluar aura kepemimpinannya. Tegas dan berwibawa. Semua hal harus dijelaskan secara rinci dan masuk akal.
Saudara sepupu Asti masih bergidik ngeri, bila membayangkan penampakan rumah Pak Kerto yang sudah sangat tidak layak dihuni manusia. Saking malasnya anggota keluarga Juwono itu, rumah mereka dipenuhi berbagai barang rongsokan, halaman yang kotor dengan semak-semak yang tinggi bercampur sampah yang tidak pernah disentuh oleh sapu.
Setelah mendengar cerita Pakde Muin itu, mereka menjadi maklum. Mungkin Pakde Kerto juga mau meminta maaf langsung pada Asti. Sebab kedua kakak beradik itu telah memutuskan hubungan ibu dan anak demi kepentingan pribadinya. Sedikit informasi itulah yang didapatkan Pakde Muin dari hasil penyelidikan beberapa rekan kerjanya yang pernah ditempatkan di daerah itu.
__ADS_1
Dulu memang agak sulit melacak keberadaan seseorang yang disebut menghilang . Apalagi sarana informasi dan teknologi tidak secanggih sekarang. Apalagi terkendala jarak yang jauh, juga memerlukan biaya pencarian yang mahal. Mungkin kalau ada CCTV, hape dan pendataan data seseorang yang secanggih sekarang, jejak Emilia akan mereka dapatkan.
Pakde Muin meyakini dari cerita Asti, yang pernah bermimpi melihat ibunya. Sepertinya Emilia Jaffar sudah lama tiada. Yang sangat disayangkan, Kakak tiri Emilia dan adiknya pun menghilang bagai di telan bumi. Ada apa gerangan dibalik peristiwa pembakaran di rumah orang tua Emilia waktu itu?
***
Paginya hari, Mbak Ning dan Asti mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk anggota keluarganya. Sedangkan Asti mengolah sendiri makanan untuk kedua anaknya itu. Qani dibuatkan nasi tim sayur dan suwiran ayam. Sedangkan Akbar disiapkan nasi goreng tanpa bumbu cabai.
Joko, Pak Candra dan Topan menginap di kamar atas... Mereka segera bergabung di meja makan untuk sarapan bersama Leon.
Baru bangun tidur saja, Akbar sudah ribut menanyakan sepeda mininya yang disimpan di ruang tamu... Sepertinya anak itu semakin patuh saja ketika disuruh mandi dan ikut sarapan, asalkan boleh bermain sepeda.
Leon menelpon Damar yang tinggal di sebuah rumah contoh di proyek pembangunan perumahan satu. Di sana juga ada beberapa pegawai lelaki lainnya yang masih bujangan. Sedangkan dua pegawai wanita dan seorang pegawai pria yang sudah berumah tangga, tinggal di beberapa rumah sewa atau kontrakan di sekitar Pom Bensin, di desa Sekarwangi.
Asti hanya termangu saat Leon bermaksud akan mengantarkannya ke rumah Pakde Kerto... Awalnya juga Leon agak emosi dengan sikap dan perilaku keluarga Juwono itu. Mereka sudah merugikan Bude Ayu, juga memperdayai wanita itu dengan memanfaatkan sebagian sawahnya untuk dikerjakan oleh keluarga Pak Kerto. Belum lagi banyak berbohong dengan pura-pura repot menggurus kepulangan ibunya Asti itu dengan kakaknya waktu itu.
" Aku sudah pasrah, Mas! Pakde Muin sudah bisa memperkirakan kalau ibuku sudah lama tiada. Tetapi almarhum Pak Kushari sepertinya tahu di mana , kakak ibu dan adiknya yang tinggal di Surabaya. Atau mereka sudah dipindahkan ke kota lain atas perintah Juwono bersaudara itu, ya?"
Leon melihat kesedihan itu di wajah Asti yang agak sendu... Sudah lama Bude Ayu berusaha mencari keberadaan mereka, baik kedua orang tua Emilia juga kakak tiri dan adiknya. Sayangnya, si pelaku utama, yaitu Pak Kushari sudah lama menghadap Ilahi. Mungkin adab ganjaran lain yang harus diterima Pak Kushari itu, karena berbuat keji terhadap orang lain semasa hidupnya.
Terkadang Asti sangat sedih, ketika Bude Ayu mau menerima pinangan lelaki itu dengan setengah hati Karena keterpaksaan. Banyak tekanan yang dirasakan oleh kakak perempuannya ayahnya Asti itu. Dari pertemanan ayahnya dengan lelaki terkaya dari desa sebelah. Sampai ada ucapan hutang budi, rasa persaudaraan dan entah apalagi yang diucapkan Pak Kushari kepada Mbah Harjo untuk meyakinkan hati kakek Asti itu. Nyatanya pernikahan itu pun adalah ikatan yang membuat Bude Ayu semakin tak berdaya.
Bude Ayu pasrah saja ketika dihina secara fisik dan verbal oleh kedua kakak madunya. Sebab para wanita itu tak berani menentang kehendak suaminya untuk menikah lagi. Kalau menolak mereka pun akan diceraikan dan dibuang.
__ADS_1
Belum lagi kelima anak tirinya, yang sudah dewasa sampai remaja. Terus memusuhinya dan berani menghinanya di depan umum. Sampai Pak Kushari meninggal dunia terkena sakit jantung setelah mereka menikah hampir 6 tahun. Bude Ayu justru memilih untuk kembali ke rumah Joglo. Meninggalkan semua yang telah diberikan Lelaki itu kepadanya sebagai Istri ketiga. Dari sebuah rumah mungil bergaya minimalis, dengan taman yang apik, motor, dan barang-barang elektronik mewah yang menjadi isi rumah itu.