
Tekanan kuat yang dilakukan oleh Joko di leher pengemudi motor sport itu, membuatnya ambruk di sebuah kursi. Firman mengikat kuat kedua lengan lelaki itu dengan tali . Mereka segera membuka helm mahal itu , juga melepas masker penutup wajahnya.
Joko terkesiap. wajah lelaki itu bukan seperti Ryan yang ada pada fotonya di Facebook. Mereka dua orang yang berbeda. Si Nardi berinisiatif mengeledah dompet yang ada di saku jaket kulitnya.
Dari identitas yang ada di KTP , nama orang ini adalah Sutarjo. Dia seorang pedagang di sebuah pasar tradisional di kota tempat Mas Barep dan Bambang tinggal.
Segera difotonya wajah pria itu, juga KTP itu untuk dikirim ke WA Bambang. Licik sekali orang yang menyuruh lelaki ini menjadi penguntit. Lucunya tak lama terdengar suara motor lain. Namun motor itu adalah hanyalah motor matic biasa sejenis Honda Beat keluaran dua tahun yang lalu. Motor itu bolak-balik di depan rumah Asti sampai dua kali.
Si pemuda yang masih berada di dalam ada di warung Bu Atiek yang menelpon Mas Joko dan melaporkan hal itu. Sebab memang anak buah Nardi itu bertugas mengawasi situasi di sana. Sampai mereka berhasil mendapatkan maksud dan tujuannya lelaki yang berhasil diringkus oleh Joko tanpa perlawanan.
" Ada apa ini, Mas Joko... Sepertinya ini sebuah konspirasi, ya?" tanya Nardi bingung.
Joko tersenyum penuh arti. Dia tahu, si Ryan meminjam tangan orang lain untuk mengamati rumah Asti. Sebab jelas dari foto yang baru saja dikirim, wajah pengendara honda beat itu adalah Ryan.
Orang yang duduk diikat tangannya mulai tersadar. Dia kaget saat ada banyak orang yang mengelilinginya.
" I- ni. Di-mana, ya?"
Nardi dengan cepat menyebutkan nama kampung ini. Mata pria yang profesinya berjualan buah di sebuah pasar tradisional itu berkedip tak yakin. Apalagi ketika melihat Joko berdiri di belakang pria muda yang siap mengintrogasi dia.
" Ngapain Mas Sutarjo datang dari kota ke kampung ini? Nggak kejauhan mainnya?"
Pertanyaan beruntun dari ketua pemuda di kampung ini, hanya mendapat jawaban berupa gelengan kepalanya saja dari si penguntit. Dia masih berupaya tutup mulut. Bodoh!
" Oke! Kampung kita ini mendapat julukan disebut Kampung Gaib. Jangan kan hanya menghilangkan sebuah motor sport yang mahal. Orang di kampung ini pun dengan mudah mencabut nyawa seorang lelaki konyol dan tak berguna seperti anda!" Gertak Nardi keras
__ADS_1
Mas Firman mulai mengikat kakinya . Wajah orang itu semakin panik. Sebab ikatan itu sangat kuat. Apalagi tiga wajah lelaki yang terus memandangnya itu bisa dikatakan tidak ramah. Walaupun dia hanya orang biasa, dia tahu kalau Joko tadi menyergapnya dengan kekuatan yang terkendali. Apalagi ketika lehernya ditekan kuat, sampai dia hilang kesadaran.
" Maaf, Mas! Saya salah ...!" Akhirnya dia menyerah. Sejak tadi dia mengawasi Joko dengan takut- takut! Tampaknya dia tidak bisa menutup mata, sebab tindakan pemuda tadi yang seperti pendekar tanpa bayangan yang siap mencabut nyawanya.
" Salah kenapa? Siapa yang menyuruhmu!" Suara Joko mulai mengintimidasi.
" Ada seorang anggota polisi yang meminta saya jadi informan untuk mengawasi rumah ini. Saya harus melaporkan situasi rumah ini... Juga harus mencari tahu tentang kegiatan Mbak Asti sehari- hari."
" Apa yang menyuruh kamu itu bernama Ryan?"
Pria itu mengangguk. Joko tertawa geli.Tadi Juga dia sudah mengirim foto wajah Ryan dan tunggangannya yang berbeda dari yang seharusnya.
Mungkin ada beberapa anak motor, dari kelompok Barep yang sedang menyambut kepulangan Ryan itu, di perbatasan kota. Tentu dengan sambutan yang cukup manis dan sangat berkesan.
Mereka pasti dapat memberi Ryan sedikit pelajaran berharga. Setidaknya Ryan harus berlaku sopan bila berada di kampung orang lain. Jangan mentang-mentang dia sepupunya Zahra yang menikah dengan seorang anggota polisi! Lalu jabatan Satrio turut dipertaruhkan!
" Dua ratus ribu... Tetapi Nanti Ryan yang akan menuntaskan soal Asti!" ujar pria itu semakin ketakutan.
" Apa kamu tahu? Ryan itu bukan seorang polisi! Justru sepupunya Ryan itu istri mudanya Satrio. Zahra yang merusak rumah tangga Asti dengan Satrio! Perbuatan kalian ini bisa saya laporkan ke polisi di daerah ini..."
" Ampun! Saya hanya disuruh!" seru orang itu menangis sambil tubuhnya mulai gemetaran.
" Dia kok ketakutan, Mas?"
" Biar saja... Ryan dan Zahra ada di belakang permasalahan ini! Apa saya laporkan saja pada Pak Hermawan saja. Dia kenal baik dengan Satrio..."
__ADS_1
Mendengar nama kepala polisi di daerah ini disebut Joko! Tangis pria yang bernama Sutarjo ini makin tergugu. Untung saja pagar di samping warung tertutup rapat. Juga ramainya suara kendaraan agak yang lalu lalang di sana agak menyamarkan suara tangis laki - laki itu yang kurang enak didengar oleh telinga mereka.
" Itu resiko pekerjaan kan, Mas? Kamu ngapain menerima pekerjaan konyol begini....Apa telingamu kurang mendengar gosip soal sepupunya Ryan itu dan pak polisi yang bernama Satrio itu di kompleks itu?"
" Saya dengar juga dari Pak Sayur yang sering berjualan keliling di kompleks itu. Tetapi kata Zahra, Mbak Asti yang mengirim guna- guna tersebut ke rumahnya. Sehingga keluarganya mengalami kesialan dan musibah bertubi - tubi."
" Kalau Mas percaya dengan omongan perempuan Dajjal itu sama juga percaya kalau mereka itu yang setan! Suami istri itu sebelumnya adalah pasangan yang pelaku zinah! Mereka menikah pun, setelah Zahra hamil. Belum lagi ada korban seorang bayi yang tak berdosa yang tak diakui ayahnya sebagai anak kandung. Asti harus bercerai karena Zahra adalah duri yang sangat menusuk dalam rumah tangganya." Balas Joko dengan keras.
" Saya tak berani menghitung dosa mereka... Sebab hanya Allah yang mengetahui segalanya... Jadi kesusahan hidup mereka saat ini, karena perbuatannya sendiri!"
Joko melepaskan ikatan di tangan pria itu. " Sana Mas bicara kepada mereka! Kalau Zahra atau Satrio mengusik Astri lagi! Akan saya laporkan ke Pak Cahyadi atau Ibu Widya di Purwokerto. Agar mereka dapat mendidik anak dan menantunya agar tahu ajaran agama dan jangan musyrik!"
Sebenarnya Nardi sudah gatal tangannya untuk menghantam wajah pria yang terlihat gagah tetapi cengeng itu dengan sekali tonjokan saja. Tetapi mendengar nama mantan suami Mbak Asti yang polisi aktif, semangatnya Nardi jadi surut.
Tertatih-tatih pria itu keluar dari halaman samping menuju motor yang tersandar di dekat pagar. Tak lama pria itu sudah mengendarai motornya itu dan pergi menjauh.
" Nardi, kamu tahu sedikit kan cerita Mbak Asti?"
" Iya... Kok, istrinya Mas Satrio jadi pendendam begitu, ya? Bukankah kalau orang yang berzinah, menghancurkan pernikahan orang lain akan mendapatkan pembalasannya. Ini malah Mbak Asti dituduh mengirim guna- guna. Lucu juga, ya?"
Joko mendapatkan laporan terakhir dari Barep setelah lewat pukul 14.00. Motor yang dipakai Ryan dipepet oleh anak anak motor. Ryan terjatuh tak jauh dari Jembatan besi. Mungkin Ryan lupa kalau motor yang dinaikinya adalah motor biasa. Jadi tak bisa dibuat kebut-kebutan. Apalagi sampai adu kecepatan dengan anak gang motor yang menghadang kepulangannya!
Ryan jatuh terseret bersama motornya dengan kecepatan tinggi. Beberapa motor modifikasi itu bergerak menjauhinya setelah misi mereka selesai.
Tak lama orang-orang yang berada di pinggir jalan itu mendekati tubuh Ryan yang terkapar di jalanan di perbatasan kota itu. Suara jatuhnya motor yang menabrak tonggak beton itu juga sangat keras. Ryan sampai tidak sadarkan dan terluka cukup parah. Dia segera ditolong banyak orang di sana.
__ADS_1
Wajah Joko tetap tenang walaupun tidak terlalu senang mendengar berita itu. Dia berharap, anak buah Bambang dapat segera menyingkir jauh dari kota sana setelah berhasil memperdaya Ryan.
Sekarang dia punya cara tersendiri agar Zahra atau Satrio jangan mau terlalu mau enaknya sendiri. Menyalahkan Asti, yang tidak pernah mengusik kehidupan mereka sejak dia keluar dari rumah itu, bersama Akbar. Bahkan sebelum mereka bercerai! Dia segera menghubungi seseorang.