Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 189. Asti yang Berbeda


__ADS_3

" Dimas, Ikut aku ke pasar. Besok kan ?" tanya Asti pagi itu.


" Iya, Mbak! Pak Leon malah minta saya selalu menemani Mbak Asti... Jangan takut, Mbak! Kita semua akan menjaga dan melindungi keluarga Mbak Asti." Kata Dimas.


Perintah itu sudah diberikan Leon kepada Dimas sejak kemarin....Bukan maksud Leon mengurangi kebebasan Asti dalam beraktivitas di luar rumah. Sejak melahirkan Qani, Asti jadi sering kalut dan panik kalau banyak pikiran. Padahal semua itu bukan dari kesalahan dari sikap atau tingkah lakunya yang membuat beberapa orang tidak menyukai kehidupan Asti yang sekarang.


" Terimakasih, Dimas! Saya masih kurang fokus sejak kemarin. Tetapi barang-barang itu sangat diperlukan untuk stok di toko yang hampir habis!"


" Iya, Mbak. Saya akan siap besok pagi!"


Besoknya, Dimas yang membawa mobil Inova itu. Karena Akbar merengek mau ikut, Asti terpaksa membawa anak itu bersama Mbak Putri sekalian. Mereka berangkat ke pasar, setelah Leon dan Joko juga berangkat ke kantor perumahan.


Di parkiran, ada dua pria tukang angkut yang diminta tolong oleh Asti membawa barang - barang itu. Tiga kardus besar berisi belanjaan itu berpindah dari bagasi mobil sampai tertumpuk di dalam toko.


Sekarang toko pakaian "Muslimah" semakin bertambah semarak dengan banyaknya model pakaian yang ditawarkan dan dijual. Dimas membawa Akbar untuk nongkrong di sebuah warung kopi. Agar anak itu tak mengganggu ibunya dan para pekerja di toko itu yang sedang sibuk mengeluarkan barang belanjaan.


Para wanita itu mulai menghitung jumlah barang yang dibeli, dengan catatan yang kemarin ditulis oleh Puspita.Setiap barang ditumpuk sesuai model dan jenisnya sebelum dimasukkan ke dalam rak-rak dan etalase depan toko.


Sementara mereka bekerja menghitung belanjaan... Ningrum sesekali masih melayani para pembeli yang satu persatu bergiliran datang ke toko itu. Toko mereka itu tidak pernah sepi dari para pembeli.


" Ningrum tolong kamu pesan makan siang untuk kita semua, ya! Akbar dan saya dibelikan es dawet saja! Apa ada yang mau minuman yang lain?"


" Es campur boleh, Mbak?" pinta Pita menawar.


" Aku juga mau, Mbak Asti! Aku ikut Ningrum pesan makanan ke warung, boleh kan?"


Saking reportnya, Asti mengurus semua belanja itu sambil ngemil beberapa jajanan pasar seperti getuk lindri dengan taburan kelapa parut yang gurih.


.


Ningrum dan Putri berjalan menuju warung makan langganan mereka, yang lokasi berjualannya ada di los belakang. Dimas masih menjaga Akbar yang minta dibelikan mainan dari kayu menyerupai kuda-kudaan. Mereka duduk-duduk di area depan pasar yang cukup lengang dan aman.

__ADS_1


" Ya, Ampun Dimas! Jangan semua permintaan Akbar kamu turuti! Kakak, lain kali kalau mau sesuatu minta sama Ibu atau ayah... Nanti Om Dimas uangnya habis...Kamu mintain terus!"


Wajah Akbar cemberut ditegur Asti agak keras, ketika mereka datang ke depan toko. Dimas hanya tertawa saja melihat wajah Akbar yang suram. Dia membelikan mainan itu seharga sepuluh ribu rupiah. Cukup murah memang. Walaupun Dimas tahu, Pak Leon mampu membelikan Akbar mainan yang mahal seperti mobil remote control itu. Tetapi semua mainan mahal itu merupakan pemberian dari sanak keluarganya, saat Akbar berulang tahun.


" Sudah bilang apa sama Om Dimas tadi, hmm?"


" Terimakasih!" ucap Akbar cepat.


" Besok lagi, Ibu hanya bawa adik Qani kalau Akbar nggak patuh sama ibu!"


Akbar terdiam... Dia tahu ibunya marah. Sesekali dia menatap mata ibunya. Tadi pun dia sudah memasukkan beberapa snack dan minuman untuk Akbar di tas punggung kecilnya. Jarang sekali dia memberi uang untuk Akbar jajan ke warung sendirian.


Sejak punya mini market sendiri, justru Asti membuatkan stok kue dan minuman susu untuk Akbar untuk seminggu. Dia mengusahakan agar Akbar terbiasa hidup hemat dan sederhana.


Putri dan Pita menggotong baki berisi piring dengan nasi pesanan Mbak Asti dengan lauk -pauk yang lengkap. Ciri khas makanan di pasar ini adalah setiap jajanan dan makanannya yang dijual selalu enak dan murah.


" Dimas! Makan di sini, saja! Kamu jaga tiga gadis ini baik-baik, ya! Saya ke dalam pasar dulu mencari sayur dan buah-buahan."


Akbar digandeng Asti agar ikut berbelanja, dengan masuk ke dalam pasar. Anak itu masih mengendong kuda kayunya. Dimas untuk sementara tetap menjadi supirnya. Sebab Leon tak mau Asti membawa mobil ini sendirian walaupun sudah cukup lancar.


" Mbak Asti, ini Akbar?Lho, kamu sudah gede banget, Cah ganteng...."


Teguran itu datang dari beberapa ibu penjual buah dan sayur. Dulu Akbar yang dibawanya ke pasar ini saat dia berjualan di toko. Akbar patuh saja saat membawa satu kantong apel yang dia minta tadi kepada ibunya.


" Nanti dibuat Jus ya, Bu?"


" Iya!" Jawab Asti sambil menggotong dua kantong belanjaan berisi sayur dan buah. Mereka berjalan pelan kembali ke tokonya yang ada di los depan.


Tampaknya Dimas dan para gadis muda itu sudah menyelesaikan makan siang mereka. Mbak Putri tanggap. Dia mencari wadah bekal yang tadi disiapkan oleh Asti di tas Akbar.


" Kak, makan dulu!" ajak Putri setelah dia membuka tas bekal Akbar. Anak itu berusaha makan sendiri, walaupun sedikit agak berantakan.

__ADS_1


" Dimas, Putri ayo kita pulang!" Ucap Asti. Setelah wanita itu membahas catatan hasil belanjaan mereka kemarin. Kini Puspita dan Ningrum sedang menempel harga-harga pakaian itu, pada tumpukan yang paling atas, setelah ditata di dalam rak dan etalase.


" Terimakasih, Mbak! Atas makan siang dan es campur ya! " ucap Ningrum.


" Sama-sama. Pita WA lagi kalau mau belanja. Bu Rani masih belum bisa memenuhi permintaan kita!"


" Beres, Mbak!" Jawab Puspita.


Dimas dan Putri membawa kantong belanjaan itu menuju ke tempat parkiran. Akbar berjalan cepat di sisi ibunya. Dia duduk di kursi di samping ibunya. Sebab Asti mau beristirahat sejenak... Putri jadi terbiasa duduk di depan , bila Dimas yang menjadi supir dalam perjalanan kali ini.


" Kita pulang ya, Bu?"


" Iya, nanti adik Qani cariin Ibu... Akbar mau terus main di pasar?"


" Nggak, nanti uang ibu habis sama Akbar... Akbar tadi sudah minta beli apel!"


" Iya, Nak... Uang Om Dimas juga habis sama Akbar... Buat apa beli mainan itu? Nanti jatah kue dan susu rasa strawberry Akbar dikurangi ya?"


Anak laki-laki yang berumur tiga tahun itu mengerti. Awalnya, Leon juga agak kaget ketika Akbar tidak selalu mendapatkan mainan yang dia inginkan... Asti yang terbiasa hidup di desa, jarang membelikan Akbar mainan yang berharga mahal. Sebisa mungkin diajarkan kepada anaknya itu memilih dan membeli mainan yang bermanfaat.


Jadi di kotak mainan Akbar lebih banyak mainan yang biasa digunakan untuk anak-anak yang bersekolah di TK atau PAUD. Mainan itu pun atas usul Ninuk, yang mempelajari tentang perkembangan anak. Mainan itu kebanyakan terbuat dari limbah,sisa potongan kayu dan didaur ulang oleh suatu usaha UMKM di suatu daerah. Mereka menjual mainan itu secara online. Asti memilih mainan seperti sempoa dari butiran kayu sebagai alat hitung sederhana, barisan angka dan huruf sampai berbagai mainan yang dari berbagai susunan bangunan menyerupai puzzle.


" Akbar minta dibelikan apa tadi sama Om Dimas, di pasar?"


" Kuda-kudaan, Ayah?"


" Ibu marah?" tanya Leon lagi.


" Ya, Ayah. Kalau Akbar minta mainan terus, uang Om Dimas habis!"


Leon memeluk anak laki-laki itu dengan penuh rasa sayang. Beberapa waktu lalu, Asti sudah membicarakan untuk niatnya menyekolahkannya Akbar pada sekolah yang berlatar belakang agama, seperti pesantren.. .Setelah anak itu lulus SD nanti.

__ADS_1


Qani pun sudah ikut-ikutan mengaji meniru kakaknya dengan suara bayinya yang lucu. Hampir setiap sore Akbar terus belajar menghapal berbagai doa itu. Tampaknya Asti berkeyakinan, kalau ajaran agama itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.


__ADS_2