Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 237. Jalan ke Pasar Kecamatan


__ADS_3

Kesehatan Asti berangsur -angsur mulai membaik dalam beberapa hari berikutnya. Tetapi dia tetap dilarang oleh Leon untuk membawa kendaraan sendiri bila akan keluar rumah. Sedangkan Dimas juga sudah jarang muncul, sejak dia diperbantukan oleh Leon di kantornya. Jadi Asti agak kesusahan sendiri dengan keadaan seperti itu. Karena banyak urusan yang harus dia lakukan di luar rumah. Salah satunya adalah belanja kebutuhan dapur.


Tanpa kehadiran Pak Cakra dan Joko, Leon tampak repot menyelesaikan segala urusan administrasi di kantornya itu. Sehingga kehadirannya Damar dan Dimas, di kantor itu, tidak bisa diganggu gugat oleh kepentingan orang lain.


Jadilah pagi itu , Asti menerima tawaran Pakde Muin yang mau mengantarkannya berbelanja ke pasar kecamatan. " Sekalian biar Bude kamu itu cuci mata!" alasan pria itu.


" Bu, Akbar boleh ikut?" tanya bocah laki-laki itu. Sambil mendekati Asti agak takut-takut. Mereka berada di dalam kamar tidur utama.


" Akbar nggak mau main sepeda lagi?" tanya Asti sambil bersiap - siap. Dia membuat beberapa catatan untuk bahan makanan yang akan dibelinya di pasar nanti.


" Libur main sepedanya, Bu. Akbar boleh beli mainan?"


" Mainan Akbar masih banyak itu.. Apa sudah bosan? Ya , sudah besok semua mainan itu ibu bagikan ke Rendy, Tini sama Ditra , ya?" ujar Asti. Sambil menyebutkan beberapa anak tetangga yang menjadi teman sepermainan Akbar.


Akbar menggelengkan kepalanya. Dia hampir mau menangis. Asti tahu Akbar masih banyak mempunyai mainan yang masih bagus. Leon hampir setiap bepergian, pulangnya selalu membelikan kedua anaknya itu oleh- oleh berupa mainan. Apalagi Leon sering pergi ke Semarang mengunjungi ayahnya. Atau ada urusan bisnis ke Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta. Tentu di kota-kota besar seperti itu banyak toko mainan yang menjual koleksi mainan terlengkap untuk anak-anak balita.


Akbar tetap mau ikut, dengan sebuah janji untuk tidak membeli mainan. Kali ini Putri di rumah karena akan membantu Mbak Ning membersihkan kamar - kamar di lantai atas. Sedangkan Bu Jum akan menyetrika pakaian kerja Pak Leon, bila Qani tidur.


Sampai di pasar kecamatan, Pakde Muin dan Akbar akan menunggu di depan toko Asti... Toko pakaian muslimah itu semakin hari semakin ramai saja pembelinya... Sebagian koleksi pakaian yang dijual di toko itu adalah gaun muslim, setelan wanita dan berbagai perlengkapan aksesoris untuk wanita berhijab... Sedangkan untuk gaun pesta, koleksi itu dikenakan pada patung- patung setengah badan yang diletakkan di atas etalase sehingga tampil apik dan menarik .


Asti agak repot menjawab salam para teman sesama pedagang di sana, yang terus menanyakan kabarnya. Sebab Asti sudah jarang berada di tokonya lagi. Sesekali dia masih menjawab salam dan teguran dari pengunjung pasar lainnya yang cukup mengenal dirinya. Di sisinya, Bude Mayang terus mengikutinya masuk ke dalam pasar.


Dia memesan tiga kilo ayam boiler yang sudah dipotong-potong. Satu kilo daging khas dalam, juga tulang iga. Kemarin dia sudah pesan pada Pak Sadikun untuk menyiapkan ikan bandeng, udang dan cumi yang akan dibelinya... Karena daerah ini termasuk dataran rendah dan jauh dari pantai, oleh karenanya harga ikan laut agak sedikit lebih mahal dibandingkan harga di daerah lain.

__ADS_1


Terkadang para pedagang ikan di pasar kecamatan hanya membawa stok dagangan yang tidak terlalu banyak untuk dijual. Kecuali mereka sudah mendapat pesanan ikan dari pelanggan tertentu , barulah ikan jenis lain itu dibawanya lebih banyak.


Di depan toko, Pakde Muin malah asyik ngobrol dengan Koh Edy, pemilik toko emas sebelah. Sejak peristiwa pembobolan toko di pasar ini, keamanan pasar mulai ditingkatkan. Kini pagar di sekeliling pasar sudah diperbaiki. Petugas keamanan juga diperbanyak untuk berjaga di malam hari.


Koh Edi pun sangat menaruh hormat kepada semua kerabat Asti. Termasuk Pakde Muin, yang ternyata masih keponakan dari almarhumah nenek Asti.


Pria keturunan Cina -Jawa Timur itu merupakan pendatang baru di wilayah ini yang membuka usaha berjualan perhiasan emas. Ternyata toko emas nya semakin laris, terus bertambah maju dan besar sampai seperti sekarang ini.


Dulu toko Asti, yang ada di sebelah tokonya sudah diincarnya dari pemilik pertama yang berniat menjualnya. Rencana Koh Edi, toko itu akan nanti akan digabungkan dengan tokonya agar menjadi lebih luas tempatnya.


Ternyata toko perlengkapan alat listrik itu adalah milik Pak Haji Mugeni yang berkerabat dengan Pak kades Desa Sendang Waru. Jadilah toko itu dibeli oleh Ibu Ayu Sulaksmi , yang sering dipanggil banyak orang, Bude Ayu. Tetapi Koh Edy tidak marah ataupun tersinggung karena toko incarannya itu jatuh ke tangan orang lain.


Terlihat betapa keluarga Winangun masih sangat dihormati oleh orang banyak, juga beberapa pedagang di pasar kecamatan... Apalagi beberapa keturunan Winangun yang menetap di daerah lain... Mereka selalu dapat menjaga kehormatan dan martabatnya keturunan Keluarganya.


Kebanyakan kerabat Winangun itu bekerja pada pemerintahan setempat. Ada yang berkarier menjadi pejabat di pemda, menjadi abdi negara. Seperti polisi atau tentara. Sampai menjadi pengusaha terkenal yang berkedudukan di Jakarta dan Surabaya.


" Toko di desa, Bude! Kalau mahal nggak ada yang beli!" ujar Asti menjelaskan. Sebab dia berlangganan dengan beberapa pengusaha konveksi yang cukup terkenal di daerah ini. Harganya tidak mahal, tetapi gaun gamis, bawahan dan setelan yang merupakan produk konveksi itu modelnya bagus dan nyaman dipakai.


Lain halnya dengan Puspita dan Ningrum yang menjaga toko itu. Wajah kedua wanita muda itu agak sedikit julit, ketika perlente kali melihat tamunya Asti itu. Penampakan dari wanita yang dipanggil Asti, Bude Mayang agak mengejutkan juga.


Menurut mereka, walaupun gaun, legging dan kerudung yang dipakai wanita itu bagus dan mahal... Tetap saja di mata mereka terlihat norak atau terlalu berlebihan. Sampai lebih meriah warnanya dari lampu lalu lintas atau lampu merah yang ada di perempatan depan pasar sana.


Seperti biasa, Mbak Asti itu tetap kalem dan tidak pernah membicarakan kekurangan orang lain. Meskipun penampilan Bude Mayang siang ini cukup heboh dan menarik perhatian banyak orang.

__ADS_1


" Hey, Akbar nggak mau digendong Mbak Pita lagi?" ledek Puspita. Melihat Akbar begitu dekat dengan suami Bude Mayang yang dipanggilnya Mbah Mu.


" Aku udah gede, sudah punya adek.. Jadi ngga minta digendong!" ujar Akbar lugas.


" Masa? Kok sama ayah masih minta gendong!" ledek Bude Mayang yang sudah hapal kebiasaan anak itu.


" Kan ayah kuat, jadi gendong Akbar nggak berat..." Semua tertawa mendengar alasan Akbar itu. Memang mereka sering berolok - olok berat ketika Akbar minta digendong, dengan mengatakan kalau tubuhnya sudah berat.


" Mbah Muin juga kuat, kok! Akbar nggak minta gendong?" tanya Asti.


Bola mata Akbar mengerjab terlihat agak sedih. " Kasihan Mbah Muin sudah tua..."


Bude Mayang terdiam, yang lainya pun saling bertatapan agak kaget. Yah, walaupun penampilan pria yang sudah berusia 60 tahun itu selalu bergaya anak muda. Namun kerut dan keriput di wajah lelaki itu sudah memperlihatkan usianya yang mulai senja.


Dasarnya perempuan, Bude Mayang pun membujuk suaminya agar dia boleh membeli gaun gamis, atasan yang bergaya simpel dan sederhana di toko Asti itu. Walaupun Asti tahu, semua gaun dan setelan hijab di tokonya ini sangat jauh dari selera Bude Mayang, yang biasa dia kenakan sehari - hari.


Jadilah beberapa gaun dan tunik model terbaru itu dibeli oleh istrinya Pakde Muin itu. Puspita yang menentukan harganya. Setelah mendapatkan potongan yang lumayan besar juga. Sehingga transaksi penjualan itu, membuat penjual dan pembeli sama-sama puas dan senang.


" Ini dalaman kerudung hijab terbaru, Bude . Nggak mau ambil?" Tawar Ningrum lagi.


Memang kedua penjaga toko Asti itu semua berhijab rapi. Setiap hari mereka memadu-padankan atasan berupa kaos lengan panjang, blus ataupun kemeja. Akan dipadankan dengan rok panjang, kulot ataupun celana jeans sekalipun. Walaupun berdandan ala anak muda dengan berhijab kekinian. Tetapi mereka tetap berpakaian rapi, tidak ketat di tubuh dan menutup aurat. Itulah keutamaan wanita yang menggunakan berhijab. Sekaligus bila kita akan bekerja atau beraktivitas keluar dari rumah... Tetap sopan dan rapi.


Pak Muin pun membeli bermacam-macam buah, jajanan pasar dan minuman kesukaannya yaitu dawet. Walaupun minuman yang terbuat dari tepung beras atau tepung sagu itu hampir bisa didapatkan di semua wilayah di Jawa Tengah. Tentu dengan beberapa ciri khas tertentu dari setiap daerahnya. Malah minuman ini sampai diklaim oleh dua negara tetangga kita . Kalau cendol atau dawet itu adalah minuman asli dari nenek moyangnya.

__ADS_1


Ternyata sejarah cendol atau dawet ini sudah tertulis bertahun- tahun yang silam dalam sejarah bangsa Indonesia. Sampai minuman khas ini dibawa oleh beberapa orang Jawa yang merantau ke negara Malaysia dan Singapura. Jadi salah kalau kedua negara serumpun itu yang berkali - kali selalu mengakui berbagai budaya, kebiasaan dan adat dari bangsa kita, yang sering disebut Nusantara.


Sampai di rumah, segala macam lauk-pauk itu dieksekusi oleh Mbak Ning dan Bu Jum. Ada yang dimasukan ke dalam wadah - wadah plastik tertutup dan disimpan di Freezer. Semua Ikan dibuang kotoran dan insangnya. Sementara beberapa potong ayam mulai diungkap dengan bumbu yang banyak. Sehingga bau harumnya rempah - rempah itu memenuhi dapur dan ruang makan.


__ADS_2