
Ucapan Mbak Asni tadi juga didengar oleh Bulek Ratih yang ikut membantunya membawa sisa piring dan gelas kotor dari ruang tamu untuk di cuci di dapur.
" Biar, Asni! Si Yumi itu mau ngomong apa pun, terserah... Kita jadi orang berbaik sangka saja!"
" Ya, ditahan gitu, Yuk! Kalau mau ngomongin orang , jangan di depan orangnya, langsung! Kena skak math, kan dari Asti... Apa nggak kebangetan Bu Yuminah itu, ya ? Oleh - olehnya mau. Eh, malah yang yang ngasih oleh- oleh, diomongin jelek, disindir sekaligus dihina! Waras nggak sih tu orang ? Bibir Julit-nya langsung diam, setelah dikasih tahu, kalau Om Ardi itu adik ibunya Mbak Asti! Boro-boro mau minta maaf ..."
" Sudah kadung malu dia, Yuk! Nggak punya muka! Dia tadi juga sudah ditegur juga sama. Bu RT!" jelas Mbak Mar.
Omelan Mbak Asni barusan malah membuat Bulek Ratih jadi menasehatinya. " Biar Asni, si Yumi kan merasa jadi orang kota. Jadi selalu benar saja tindak - tanduknya. Sebab yang dilihat di desa ini cuma wedus karo gudel aja! Kalau salah pun nggak perlu minta maaf, " balas Bulek Ratih. " Eh, aduh, tuh tamuku, belum dibuatin minuman!"
Om Ardi hanya tersenyum mendengar sambutan Bulek Ratih. Apalagi tadi di melihat banyaknya para ibu tetangga yang datang ke rumah ini . Mereka pada umumnya adalah para tetangga yang tinggal di kiri dan kanan rumah joglo ini. Secara halusnya hanya ingin menengok keadaan Bulek Ratih, setelah seminggu tidak terlihat berada di rumah ini.
Ada seorang tetangga Lek No yang mengenal baik dengan Pak Sugeng. Tentu saja supir Elf itu dengan senang hati menceritakan acara jalan-jalan k Keluarga Lek No bersama keluarga Asti ke Jawa Timur. Sebab pria itu kagum dengan kebaikan Asti dan suaminya itu yang menanggung semua biaya Perjalanan itu yang kurang lebih ada 20 orang. Belum lagi ketambahan kerabat Asti, yang berjumlah tiga orang.
Justru setelah mereka mendengar cerita pak Edy, suami Ibu Sari, para ibu-ibu di sekitar rumah Joglo di desa itu mulai berhitung. Berapa puluh juta yang harus dikeluarkan suaminya Asti itu untuk membiayai acara liburan mereka. Apalagi semua pembantu rumah tangganya juga dibawa serta. Belum lagi Keluarga Lek No yang berjumlah empat orang. Ditambah dia asisten Pak Leon yang sudah berada di Madiun lebih dulu!
Sebagian tetangga yang lain, yang tidak pernah kesampaian untuk liburan juga, mulai merasa cemburu juga iri hati. Sehingga mereka mulai berkomentar miring tentang acara jalan-jalan itu, yang menurut mereka hanya menghambur - hamburkan uang.
Omongan mereka itu juga didengar Asni dan Mar yang menjaga rumah Joglo. Malah Mbak Mar yang geli mendengarnya. Sebab bagi keluarga Leon , bepergian ke berbagai daerah wisata dan keluar negeri adalah hal biasa untuk acara tahunan keluar- mereka. Sebab semua kakak Leon menikah dengan para pengusaha, yang mendirikan perusahaan P.T Abadi Murti. Salah satu bakal proyek mereka adalah pembebasan lahan di Madiun yang akan segera dibangun perumahan tingkat menengah sampai vila mewah.
__ADS_1
Apalagi kalau para tetangga mendengar jumlah uang yang dikeluarkan oleh suaminya Asti itu! Bisa kejang-kejang mereka karena biaya jalan - jalan keluarga itu seluruhnya, bisa dibelikan lebih dari dua buah motor matic jenis terbaru!
Kang Kasat dan Kang Slamet yang sering diajak ngobrol oleh Joko, tentang dirinya yang dilibatkan dalam proyek pembebasan lahan yang ada di daerah Madiun itu. Nilainya bukan hanya puluhan juta saja, tetapi sudah mencapai milyaran!
Lihat saja, Joko juga kecipratan rejeki dari transaksi proyek itu. Dia menitipkan oleh-oleh kepada saudara ibunya itu. Joko membelikan mereka beberapa t-shirt, celana cargo dan Hoodie. Semua dibeli di toko milik Om Ardi, sehingga mendapatkan diskon besar. Padahal barang - barang itu sangat bagus mutunya dengan gaya model masa kini.
Lazimnya orang mengadakan acara jalan- jalan, seperti keluarga Pak Sarno itu. Pasti mempunyai cadangan dana yang cukup untuk acara tersebut . Mungkin ada uang sisa untuk membeli sedikit oleh- oleh buat mereka, para tetangganya. Istilahnya, walaupun hanya mendapatkan seiris kue saja! Tak apa - apa. Itulah harapan para tetangga, terutama kaum ibu - ibu julit.
Padahal perjalanan itu direncanakan Leon untuk menghibur Asti ... Sejak Pakde Muin berusaha mencari keberadaan dik dan kakak tiri ibu Emilia kurang mendapatkan hasil yang maksimal. Sampai mereka mendapatkan sedikit pencerahan lewat informasi yang diberikan kerabat yang tinggal di Madiun. Yaitu berita yang disampaikan Pak Prayoga dan Pak Sampurno.
Di meja makan, sudah tersedia menu andalannya Bulek Ratih. Di sana disajikan berbagai masakan untuk makan siang hari ini. Termasuk tongseng berbahan dasar daging kambing muda. Anak - anak Asti mau makan masakan Bulek Ratih itu karena hanya menggunakan cabe rawit utuh yang dimasukkan dalam kuah masakan, jadi tidak pedas.
Ardi menikmati sepiring nasi dengan tongseng kambing itu. Sampai pria itu nambah lagi. Maklum, jarang sekali dia makan masakan rumahan seenak ini. Sejak keluarga Pak Yusuf pindah ke Surabaya, bersama istri dan anak bungsunya untuk menjaga Pak Kromo Jati yang sakit parah.
Dia dan kakaknya terbiasa hidup sederhana, atau istilahnya ngirit! Sangat jarang berfoya-foya, walaupun sekarang keuangan mereka sudah cukup stabil. Malah tabungan mereka digunakan untuk berinvestasi di bidang usaha yang lain. Terkadang digunakan mengembangkan dan memperbesar usaha konveksi itu yang ada sudah ada tempat di beberapa kota di Jawa Timur ini.
Di Surabaya, Kak Yusuf sudah mempunyai toko servis hape yang dijalankan oleh kakak iparnya. Dia masih mengawasi usaha konveksi yang pembuatan T-shirt , juga hoodie. Sedangkan celana panjang cargo untuk kaum pria dikerjakan pada konveksi lainnya yang bekerja sama dengan usaha mereka.
" Pak Sarno sudah mendapatkan kabar tentang keadaan Pakde Kerto saat ini? Kesehatan pria tua itu sudah semakin menurun ... Katanya, dia sudah tidak dapat mengenali keluarga dan orang - orang yang ada di sekelilingnya." Kata Bulek Ratih sedih.
__ADS_1
" Nggak apa-apa, Bu Ratih! Saya juga nggak menaruh dendam atau menuntut kepada pria itu! Semua sudah menjadi masa lalu. Biarlah... dia menjalani semua kesalahannya itu dengan mempertanggung- jawabkan dihadapan Allah!" ujar Om Ardi bijak.
Asti sekarang sudah cukup kuat mendengar soal pria tua itu! Memang umur manusia ditentukan oleh takdir dari Allah! Tetapi sangat nyata kalau sekarang Pakde Kerto mendapatkan semua balasan dari segala perbuatan yang dilakukannya dahulu. Karena itulah dia merasakan kesulitan ekonomi keluarganya dalam beberapa tahun terakhir ini.
Harta yang dicarinya dengan segala cara, termasuk dengan memakan hak orang lain, telah menghancurkan hidup anak-anak mereka. Seperti nasehat para ustadz dan ustadzah, yang selalu didengungkan kepada orang tua. ' Berilah anakmu makanan dari rejeki yang halal. Insyaallah anakmu akan memberikan kebaikan dan keberkahan di hidupmu.
Nyatanya, sekarang keluarga Winangun dan keluarga Jaffar berhasil menghadapi hambatan dan kesulitan hidup, yang diberikan Allah sebagai ujian... Juga halangan dari orang-orang yang menggunakan kesulitan mereka untuk mencari untung dirinya sendiri. Contohnya almarhum Pak Kushari Juwono, yang selalu dibantu kakaknya Kerto Juwono untuk melancarkan aksi kejahatannya untuk menguasai harta orang lain, dari cara yang halus penuh taktik. Hingga mengerahkan bantuan preman atau tukang pukul untuk melancarkan aksinya itu.
Ardi menikmatinya udara semilir di teras depan yang dipenuhi pohon - pohon besar yang rimbun. Tadi Pak No dan dua orang kepercayaan sedang membeli pupuk ke KUD di samping gedung kelurahan. Mereka juga mendapatkan arahan dari petugas bimbingan penyuluhan pertanian di sana, untuk persiapan musim tanam berikutnya.
Suara mobil Avanza itu terdengar memasuki halaman depan rumah Joglo. Akbar cepat turun dari kursi di ruang tengah dan berlari keluar. Dia ke langsung menyambut kedatangan Mbah No, Pakde Kasat dan Pakde Slamet.
Kedua pria itu tertegun ketika Lek No memperkenalkan Ardi kepada mereka. Selain tampan dan bertubuh tinggi, wajahnya masih terlihat muda. Agak lucu juga kalau pria itu dipanggil Akbar dan Qani depan sebutan 'Kakek'!
" Ini Omnya Asti?" tanya Kang Kasat lagi yang merasa tak percaya diri. Mungkin usia mereka sebaya, masih dibawah 40 tahun. Tetapi karena bekerja keras dan berada seharian di sawah, kulit wajah dan tubuhnya menjadi lebih gelap. Wajahnya Kang Kasat pun lebih tua dengan helaian rambut putih menghias di atas kepalanya
" Iya, Kang. Masak nggak percaya. Sih?" tanya Bulek Ratih geli.
Pria itu menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Memang, kalau dilihat sepintas ada sedikit kemiripan antara Asti dan Pak Ardi ini.Terutama pada bagian wajahnya , yaitu sama - sama berhidung bangir. Juga kulit mereka putih bersih. Sebab kebanyakan orang-orang yang berasal dari daerah ini rata - rata. berkulit sawo matang.
__ADS_1
" Asti ini mirip neneknya, Ibu Syarifah. Yaitu, Ibu kandung saya. Pak Yusuf saudara tiri, karena lain ibu ... Tetapi Kak Yusuf berperan melebihi dari seorang ayah, bagi saya . Dia bekerja sangat keras untuk membiayai kehidupan saya dan juga mengusahakan biaya terapi yang tidak murah. Agar kaki saya dapat pulih akibat cedera dalam bakaran itu, setelah kami tinggal di Surabaya..."
Semua orang terdiam ketika Om Ardi berbicara dengan suara pelan dengan suara yang sedikit bergetar, menyampaikan perihal keadaan dirinya itu. Kang Kasat ikut menatap wajah pria tampan di hadapannya dengan penuh prihatin... Pak No dan Bulek Ratih pun kemarin banyak bercerita kepada mereka, tentang bertemunya mereka dengan kerabat Ibunya Asti di Malang. Bahkan mereka berpiknik bersama ke Gunung Bromo... Sambil mengukir kenangan indah di sana.