Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 161. Dibayar dengan Sepantasnya


__ADS_3

Hati Asti masih saja melow , walaupun peristiwa itu telah berlalu dalam dua hari. Sampai Leon kehabisan akal untuk mencari cara agar dapat menghibur bumil cantiknya itu. Selalu wajah Asti berlinangan air mata kalau mengingat perkataan Ibu Widya.


Bisa-bisanya Ibu Widya terus- menerus membela Zahra. Jelas - jelas, kalau menantunya yang sekarang itu adalah si pelakor dalam rumah tangga anaknya. Sekarang bahkan menjadi menantu kesayangan mantan Ibu mertua. Saat Asti menghubungi kedua mantan kakak iparnya, dia sungguh mendapatkan seribu kejutan yang tak pernah didengarnya dari siapa pun!


"Zahra itu main dukun, Asti! Jadi Ibu sangat mudah dipengaruhi nya... Ibu itu sudah seperti 'kerbau dicucuk hidungnya' . Apa pun perkataan Zahra selalu diturutinya. Termasuk menjual beberapa aset tanah dan rumah di Purwokerto. Satu - persatu harta Ibu itu mulai raib atas inisiatifnya sang menantu ' Nini Genderuwo ' itu. Sekarang Ibu hanya mempunyai satu rumah saja! Itupun peninggalan eyang putri dari pihak Bapak! Rumah itu ada dipinggir kota Purwokerto...."


Lain lagi dengan perkataan mantan kakak Iparnya yang lain, Mbak Sasya. " Maafkan, kami. Ya, Asti! Satrio sudah membuang berlian seperti kamu, untuk mendapatkan Zahra yang seperti batu kali. Blash, nggak ada harganya sama sekali. Sudah noraknya minta ampun, kalau ngomong itu selalu tinggi dan sombong. Matanya Satrio buta waktu kesemsem perempuan model Zahra itu kali, sampai menceraikan perempuan sebaik kamu..."


" Nggak apa -apa, Mbak Sasya... Saya sudah dibantu selama ini. Tetapi mengapa Ibu Widya nggak suka, ya? Padahal rumah dan ruko ini, dibangun dari menjual perhiasan warisan Mbah Putri...."


"'Itulah, Asti... Sebelum Mbah Sanjaya wafat, ternyata beliau sudah menetapkan isi warisannya. Semua anak- anaknya mendapat pembagian, kecuali ibu yang nggak dapat. Ternyata dulu ibu meminjam uang kepada Mbah Sanjaya dalam jumlah yang sangat besar agar ibu dapat lolos menjadi ASN. Juga saat Ibu diangkat jadi kepala sekolah, dan ditempatkan di sekolah favorit di kota."


" Jadi, keluarga Mbak Sasya nggak dapat apa-apa dari Mbah Sanjaya?"


" Sudahlah nggak apa-apa ... Asal Bapaknya anak- anak bisa membuat tabungan pendidikan untuk mereka. Itu pun sudah cukup!" Ujar Mbak Sasya diplomatis.


" Jangan, kaget gitu, Asti! Saya sudah tahu, orang tua saya bercerai, bukan hanya karena masalah kamu dan Satrio saja. Bapak saya sudah sangat kecewa dengan Ibu. Satrio telah melakukan kesalahan yang sangat besar padamu , tetapi selalu dibela ibu! Tetapi semua resto, toko itu sudah atas nama istri mudanya. Jadi ibu tidak mendapatkan banyak harta gono-gini yang dia harapkan. Sekarang Bapak tinggal dengan Ibu Lilis di sebuah desa dekat tempat sebuah wisata. Selain toko dan mempunyai pabrik pengolahan makanan, Bapak membangun rumah peristirahatan di sana..."


Pantas, Ibu Widya agak kecewa saat Satrio dimutasi dari kantornya di kota itu. Sebagian besar orang di sana, pasti akan menertawakan Satrio di belakangnya.


Kecelakaan itu adalah balasan yang setimpal bagi Satrio. Untuk lelaki yang sudah berselingkuh dari istrinya, berzinah dengan wanita lain. Juga menceraikan istrinya tanpa memberikan Istrinya hak yang susuai dengan kaidah dan hukum- hukum agama yang telah ditetapkan. Sesuai ketentuan dengan Keputusan Pengadilan Agama.


Tak ada harta gono-gini yang diberikan kepada Asti. Setelah mantan istrinya itu mendapat hak asuh penuh atas Akbar. Bahkan Satrio dengan tidak sukarela membayar biaya hidup untuk Akbar atas tekanan dari pihak pengacara Asti. Ibu Imelda S.H.


Kepindahan keluarga Satrio pun sudah dipantau oleh anak buah Bambang. Joko tertawa geli, setelah melihat foto- foto Satrio yang mengangkut semua isi rumah dinasnya itu ke dalam truk besar.


Tanpa peduli kalau sebagian dari barang-barang itu adalah hak Asti. Terutama pada barang- barang pemberian dari kerabat Mbah Winangun... seperti peralatan elektronik yang mahal dari mesin cuci, AC, kulkas sampai TV 42 inci.

__ADS_1


" Sudah makan, Yang?" tanya Leon.


Mata Asti berpendar ganjil." Makan? Kamu suruh aku makan terus... Nanti tubuhku tambah bulat ini!"


" Kan di sini ada dedek bayinya. Jadi Ibu hamil harus banyak makan makanan bergizi! Supaya bayi yang dilahirkannya sehat walafiat ..." Jawab Leon sambil mengusap -usap perut Asti yang mulai terlihat membuncit.


" Sok tahu, kamu. Mas! Memang kamu pernah hamil?"


Leon hanya dapat mengelus dadanya, menahan seribu kesabaran. " Kan kamu yang hamil, Sayang. Aku hanya mengulang omongan dokter Eva untuk menjaga dirimu. Saya kan suami siaga, begitu?"


Dalam hitungan 3 bulan saja, wajah dan tubuh Asti sudah membulat. Kenaikan berat tubuh Asti dipantau cukup baik oleh dokter yang kemarin memeriksanya. Namun mereka masih belum dapat mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi. Tetapi bisikan Bu Jum dan Bu Ratih kepada Leon, sudah memprediksi kalau bayi yang ada di rahim Asti itu berjenis kelamin perempuan. Lihat saja kesehariannya Asti yang sangat berbeda.


Selain tambah cengeng dan manja, istrinya itu sehat - sehat saja. Tetapi Leon tetap mengusahakan seorang supir untuk mengantar Asti pergi kemanapun. Dia tidak tega istrinya naik motor atau menyetir mobil untuk belanja atau menengok tokonya di pasar.


Beberapa hari kemudian, kelompok Bambang dan Mas Barep datang ke warung tenda atas undangan Lek No. Pria paruh baya itu merasakan kalau anak-anak gang motor ini sangat berbeda dengan kelompok anak motor lainnya. Apalagi bila dibandingkan dengan kelompok Jago.


" Silahkan dinikmati, Mas. Ini atas traktirannya Pak Sarno, ayah saya!" kata Joko.


Di halaman samping, sudah disiapkan beberapa piring nasi goreng spesial, mie tek-tek juga es teh manis. Maklum cuaca di kota ini semakin hangat... Sementara hujan turun belum terlalu merata di seluruh wilayah ini.


Mbak Ning, mengeluarkan puding buah kreasi Asti. Mereka makan sambil ngobrol dengan Lek No, Joko dan Leon ... Mereka sangat kagum dengan pria yang menikahi Mbak Asti itu. Tampang orang kota yang terlihat mapan, bergaya dan ganteng. Tetapi pria itu sangat ramah dan terbuka.


Jangan tanya, betapa berterima kasihnya Lek No pada anak-anak muda itu. Mereka melakukan semua hal itu kepada Joko tanpa pamrih.


" Kulit orang memang beda- beda, Pak. Walaupun hampir sama..." Kata Joko. Maksudnya orang bisa berbuat baik atau jahat dengan berkedok gang anak motor. kalau para orang yang berseragam yang melakukan tindakan negatif, sering disebut juga dengan 'oknum'.


Benar saja prediksi kedua wanita yang kaya dengan pengalaman hidup itu. Tentang jenis kelamin bayi yang ada di rahim Asti itu memang perempuan. Mereka telah melakukan USG, setelah melakukan pemeriksaan berkala pada bulan berikutnya.

__ADS_1


Leon yang kesenangan. Dia membayangkan mempunyai anak perempuan lucu, cantik,mungil dan mirip Asti manjanya. Tetapi Akbar juga tak mau jauh darinya. Mereka bisa seharian di kamar setelah magrib dalam ajang memperebutkan perhatian Leon oleh Asti dan Akbar.


" Ayah aku!" Begitu teriak Akbar, ketika melihat Asti masih bermanja-manja di pelukan Leon.


" Suami aku!" Ledek Asti tak mau kalah. Bayi itu akan berjalan di atas kasur, menghampiri Asti, dengan keras akan mendorong tubuh ibunya agar lepas dari pelukan Leon.


Gemas Leon akan menciumi kedua orang kesayangannya itu, sampai mereka tertawa kegelian.


" Sudah Ayah, sudah!" Pinta Akbar. Perutnya sudah terbuka karena digelitik oleh Leon dan Asti.


Sekarang mereka tidur di ranjang besar itu secara bersamaan. Akbar yang berbaring di tengah. Nanti kalau sudah tidur lebih nyenyak, barulah Leon akan memindahkan ke kamar sebelah.


" Mau ibu nyanyiin?" bisik Asti.


Nyanyi di sini, adalah bersholawat. Dulu cara inilah yang melindungi dia dan bayinya dari perbuatan jahat orang lain yang dikirim secara tak kasat mata.


" Ndak. Ayah aja yang nyanyi!"


" Kok, ayah?" tanya Leon geli. Dia baru mulai belajar mengaji dengan mempelajari bacaan pendek untuk hapalan dalam sholat fardhu sehari - hari.


" Kata Om Joko, suara ayah kayak 'Tuk Tonton'...."


"'Oh, truk Tronton yang lewat di jalan sana, iya?" jelas Asti.


" Iya, besar!"


Asti tertawa- geli di lengan Leon. Saat Akbar menggambarkan suara berat Leon, Ayahnya. Kesal Leon mencubit pipi bakpao Istrinya itu kuat- kuat.

__ADS_1


__ADS_2