Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 106. Dalam Rentang Kehidupan


__ADS_3

Asti berkali-kali menarik napas. Dadanya sedikit sesak dengan tambahan beban baru. Kali ini lamaran Pak Leon yang terus berputar-putar di kepalanya. Mirip gasing dan membuatnya pusing!


Sekalipun Asti tidak bermaksud meremehkan niat baik dari Pak Leon. Selama ini yang ditampilkan lelaki yang lahir dan besar di Jakarta itu adalah sisi terbaiknya! Asti belum mengenal secara menyeluruh mengenai kepribadiannya, sikap dan wataknya. Apalagi latar belakang keluarganya.


Dulu, dia menerima lamaran Satrio agak terlalu cepat demi membahagiakan almarhumah Bude Ayu... Lalu untuk keperluan apa dia menerima lamaran Pak Leon?


Selama ini Asti lebih menutup diri dari pandangan orang lain untuk menjaga kehormatan dirinya sebagai wanita dengan satu sebutan " Janda".


Bukan dia merendahkan dirinya sendiri! Banyak perempuan takut dengan julukan itu sehingga bertahan dalan jalinan rumah yang berjalan tidak sehat. Terkadang wanita itu hanya dapat menggantungkan hidupnya dari gaji dan pemberian suami. Ada juga yang memberi alasan demi anak- anak , sehingga mereka bertahan dengan hati yang sakit.


Banyak juga lelaki yang berpandangan negatif tetang predikat janda itu! Tetapi hati Asti saat itu bukanlah terbuat dari besi atau plastik waterproof. Dia merasakan sakit hati, kecewa juga merana! Pengkhianatan Satrio terhadap dirinya lebih menyakitkan dari perilaku lelaki kejam di manapun!


Berkali-kali dia terus beristighfar, memohon kepada Allah SWT, agar diberi kekuatan, keluasan hati dan ketenangan menghadapi ujian hidup ini . Malam itu berkali-kali Asti terbangun, seperti tidak yakin kakinya mau berpijak di mana. Namun setelah dia menyelesaikan sholat tahajud dan istikharah, tiba- tiba dia mulai merasa tenang kembali. Sampai dia tertidur di atas sajadah menjelang waktu subuh.


Ada ketukan di pintu kamarnya dan panggilan suara lembut Ninuk! Asti terperanjat kaget. Waktu sholat subuh telah terlewat sedikit. Sambil membuka pintu, dia melihat sosok Ninuk dan Bulek Ratih di depan kamarnya.


" Sebentar!" bisiknya. Dia membuka kembali mukenanya, lalu masuk kamar mandi yang ada di kamar tidur utama untuk berwudhu. Dia kembali menghadap sang Ilahi pemilik alam semesta.


Dapur mulai sibuk dengan kegiatan masak -memasak sampai harum sajian untu sarapan pagi itu menyeruak ke seluruh ruangan di lantai satu rumah itu. Tadi Lek No dan Joko sempat sholat ke Mesjid Raya yang letaknya hampir 500 m dari rumah ini.


Si bayi gemoy masih nyaman di tempat tidur boksnya. Bulek Ratih mendorong Ninuk keluar dari kamar utama, agar anaknya tidak mengganggu Akbar dulu. Nanti kalau semua persiapan sudah selesai, baru si bayi dibangunkan.


Asti menikmati sarapan terakhir bersama orang- orang yang menjaga , mengurus dan membantunya selama ini. Bu Jum nanti sore akan berangkat ke Bandung, karena kakaknya sedang mengadakan pesta pernikahan anak bungsunya. Nanti setelah Bu Jum kembali, barulah Mbak Ning yang pulang ke desanya.


Hampir pukul 08.00. Ketika suara mobil berjenis Elf memasuki halaman ruko di samping warung tenda. Sebab di depan sudah terparkir Honda Jazz milik Asti dan Avanza punya Joko.


"Assalamu'alaikum! " Sapa Bu Haji Anissa, dari pintu samping.


Wajah cantik istri Pak Haji Anwar itu semakin cerah ketika salamnya dijawab oleh semua orang yang ada di dalam rumah.

__ADS_1


Joko dan Mas Yanto menurunkan koper- koper dari lantai dua. Pak Supir dan kernet dari mobil yang menjemput rombongan keluarga Lek No pun segera membantu.


Tak sampai 30 menit kemudian. Semua sudah siap berangkat. Bu Jum, Mbak Ning dan Pak Roh ikut mengantarkan sampai ke halaman ruko.


Dengan membaca "Bismillahirrahmanirrahim" kendaraan itulah bergerak meninggalkan halaman itu, menuju ke arah Utara untuk ke kota Solo.


Selama perjalanan, pak Supir menyalakan sholawat dan bacaan lainnya yang diambil bluetooth hapenya. Sesekali Akbar bergumam. Dia duduk di tengah sehingga tidak dapat melihat pemandangan luar dari jendela mobil.


" Maaf, Pak Haji menjemput keluarga Mas Adam tadi. Mudah-mudahan kita nanti bisa bertemu di bandara Adi Sumarmo!" Kata Bu Haji memberi penjelasan


" Pak Haji Anwar ikut juga Bu Haji?"


" Ya, Ikut. Pak Sarno. Apalagi kakeknya Mas Adam kan Pakde nya. Beliau sudah sepuh, kasihan kalau nggak di jagain."


Perjalanan memakan waktu hampir satu jam lebih. Keadaan jalan di luar kota malah ramai dan lancar. Bulek Ratih tampak terharu, ketika mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki area bandara. Sampai mereka berhenti di titik kumpul rombongan jemaah yang dipimpin oleh Pak Haji Anwar Sa'id sendiri.


Akbar terbangun mendengar kesibukan yang ada di sekitarnya. Bayi itu digendong Joko, sambil menghabiskan sisa susu di botol pertamanya.


Dalam hati, Asti selalu mengumandangkan doa agar perjalanan umroh mereka semua berjalan aman dan lancar.


Bulek Ratih sudah minum dua pil anti mabuknya. Sebab perjalanan mereka menuju negara Arab Saudi, agak memakan waktu yang cukup lama. Ruang tunggu semakin penuh dan sesak. Lek No tampak tenang dan santai.


Para petugas biro mulai mengatur rombongan. Koper Asti dibawakan oleh salah satu asisten Pak Haji karena Akbar harus digendongnya. Walaupun bandara ini tidak sebesar bandara di kantor kota- kota besar lainnya. Namun segala yang ada di sana cukup bagus fasilitasnya dan modern.


Ninuk sesekali memperhatikan keadaan ibunya. Bulek Ratih selalu tersenyum melihat keberadaan anggota keluarganya. Ini kepergian pertama keluarga mereka secara bersama - sama tetapi bukan untuk jalan-jalan seperti pada umumnya. Namun perjalanan ibadah. Suatu keberkahan bagi mereka semua.


" Pecawat? tanya Akbar pada Asti ketika mereka duduk kembali di ruang tunggu. Kaca jendela itu memperlihatkan kesibukan yang ada di landasan di depan mereka. Beberapa pesawat yang tubuhnya sangat besar itu sedang menaikkan koper-koper di dalam bagasi.


" Iya, kita naik pesawat. Akbar yang tenang dan antengnya nanti, ya?"

__ADS_1


Mata Akbar semakin melotot ketika melihat sebuah pesawat mendarat. Badan besar burung besi yang melintasi landasan itu mengeluarkan suara deru yang sangat keras.


Mulut Akbar mulai berceloteh riang ketika dia melihat beberapa pesawat terparkir hampir sejajar di ujung sana. Celoteh bayinya ternyata cukup menghibur orang - orang yang ikut menunggu di sana.Ternyata urusan boarding pass itu memakan waktu yang cukup lama. Apalagi mereka terdiri dalam satu rombongan besar. Hampir 3 jam lebih mereka di sana.


" Senang ya, Nak? kita nanti naik pesawat, Sama Om Joko, Tante Ninuk. Juga Mbah No dan Mbah Ratih."


Sambil berbicara Asti berkali- kali meniupkan doa di kepala Akbar


Usia anaknya belum mencapai dua tahun. Semoga di perjalanan nanti Akbar tidak rewel atau menangis.


Mereka akhirnya dipersilakan menuju ke sebuah pintu. Lorong itu merupakan jembatan yang membawakan mereka masuk ke dalam badan pesawat.


Para pramugari cantik dengan ramah dan sabar mengantar mereka mencari bangku yang sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket. Asti mendapat bangku di samping Ninuk dan Bu Haji Anissa. Untungnya kali, Asti dapat duduk tepat di samping jendela.


Ternyata pesawat ini memuat hampir semua anggota dari rombongan kantor biro dan travel perjalanan umroh milik Pak Haji Anwar. Sebab di ruang depan sebelum kokpit, ada dua petugas biro yang mulai memimpin doa untuk memohon keselamatan sebelum memulai perjalanan mereka.


Hampir 30 menit kemudian, pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan pacu di bawahnya. Suara - suara gumaman doa terus terdengar, beriringan suara mesin pesawat itu yang mulai mengudara.


Maklum sebagian penumpang ini adalah orang- orang yang berasal dari desa dan kampung yang ada di satu kabupaten dengan Asti. Mereka cukup lama menabung dari sedikit sisa penghasilan yang mereka dapatkan sehari- hari. Agar dapat bepergian umroh ke tanah suci. Apalagi ketika mendengar kalau untuk keberangkatan ibadah haji, harus ada kuota. Sehingga untuk menjalankan ibadah haji, dibutuhkan waktu bertahun-tahun kemudian agar dapat diberangkatkan ke tanah suci.


Akbar mulai tertidur di pangkuan Asti. Sampai Asti pun memejamkan matanya, beristirahat sejenak dari sedikit kepanikan, dan segala kerepotan tadi di di rumah dan di ruang tunggu bandara.


Hampir 8 jam lebih sudah mereka berada di udara. Berkali- kali para pramugari mengedarkan makanan untuk para penumpang dari minuman, camilan sampai makanan berat. Alhamdulillahnya, Asti dapat menikmati semua sajian makanan itu. Begitu juga Akbar yang tampak asyik menggigit sebuah roti isi keju.


Suara pilot yang berirama memberitahukan kepada seluruh penumpang, kalau sebentar lagi mereka mendarat di sebuah bandara di kota Jeddah. Samar- samar Asti mendengar nama bandara itu seperti nama seorang raja yang pernah menjadi pemimpin di negara ini.


Tadi di dalam pesawat, Bu Haji memimpin Ninuk dan Asti sholat Dzuhur dengan berwudhu secara tayamum.


Bahkan dengan sabar para pramugari bergantian menuntun jemaah yang berusia lanjut untuk ke toilet. Tentu mereka membutuhkan pertolongan karena keterbatasan dalam baca tulis juga alat - alat canggih yang ada di dalam badan pesawat yang penumpang ini. Sungguh perjalanan yang memberi mereka pengalaman hidup yang berarti.

__ADS_1


__ADS_2