Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 64. Ada Berita Duka.


__ADS_3

Rencana semula untuk membuat nasi kuning dalam kotak untuk merayakan ulang tahun pertama Akbar menjadi semakin meluas. Apalagi Lek No juga punya sedikit rezeki untuk membelikan cucunya itu kue-kue agar dapat diberikan kepada anak- anak seusianya yang ada di lingkungan rumah Asti.


Di rumah Bulek Ratih di Sendang Mulyo, akan dibuat nasi kuning lengkap dengan lauknya, yang akan dimasukkan ke dalam kotak-kotak. Nanti nasi kuning ini akan dibagikan ke tetangga di rumah Bulek Ratih. Sebagian lagi akan dibawa ke rumah Asti.


Sedangkan di rumah Asti, dibantu Bu Jum dan Mbak Ning mereka membuat bingkisan berupa jajanan dan minuman untuk anak- anak.


Setiap bingkisan dimasukan ke dalam kantong plastik bergambar dan diberi pita. Juga dimasukan tulisan yang dikerjakan oleh Ninuk dalam bentuk print berbentuk kartun lucu untuk menunjukkan kalau hari itu adalah ulang tahun pertamanya Akbar.


Dua hari yang lalu, Asti memesan pada penjual ayam goreng ala fried chicken sebanyak tiga puluh kotak. Pedagang itu membuka toko ayam gorengnya tidak jauh lokasinya dengan SPBU.


Pada keesokan harinya Akbar sangat senang saat dibawa oleh Asti berjalan ke beberapa rumah tetangga. Bayi berusia dua belas tahun itu menyaksikan, Ibu , Tante Ninuk dan pengasuhnya memberikan bingkisan dan nasi ala fried Chicken itu untuk anak- anak di sekitar rumah mereka.


Apalagi saat Akbar yang sedang berulang tahun itu juga disalami. Ada yang mencubit sayang pipinya gembul. Bu Ani pun sampai menciumi pipi layaknya bakpao milik Akbar itu berkali- kali karena gemas.


Dalam perayaan itu, tak ada acara tiup lilin ataupun potong kue. Apalagi mengundang anak tetangga ke rumah untuk merayakan hari ulang anaknya itu. Yang Asti pikir, Akbar juga belum mengerti kalau dirinya sudah berumur satu tahun.


Cukup berbagai rezeki dengan memberikan bingkisan kue dan nasi saja sebagai bentuk rasa syukur karena Akbar tumbuh semakin sehat dan bertambah pintar setiap harinya.


Pak Roh dan Mas Yanto juga sudah ikut membantu membagikan nasi kuning dalam kotak itu ke beberapa pegawai yang bekerja di ruko juga pemilik warung dan para pedagang yang membuka usahanya di seberang jalan sana.


Menurut Lek No, Bulek Ratih juga sudah membagikan 30 kotak nasi kuning untuk para tetangganya di desa Sendang Mulyo.


Kini sisa nasi kotak dibagikan Asti kepada beberapa orang yang lewat di depan ruko itu. Terutama untuk pedagang yang berjualan keliling, pemulung, dan tukang becak yang melewati depan ruko itu.


Setiap nasi kotak itu dimasukan ke dalam satu tas kresek, juga sudah ditambah dengan satu botol air mineral ukuran sedang.


Banyak orang- orang yang mendapatkan nasi itu mendoakan kesehatan dan kesejahteraan untuk Akbar, putra Asti.


Sampai Asti dikejutkan dengan kehadiran Pak Leon dan Mbak Almira di sampingnya. Tiba -tiba mereka saja sudah ada di parkiran ruko. Tentu mereka cukup tertarik melihat Asti dan Akbar dengan acara bagi-bagi makanan itu.

__ADS_1


" Aduh, sekarang Akbar ulang tahun, ya!" Seru Mbak Almira gembira. Bayi itu tersenyum sambil memperlihatkan gigi - giginya yang baru tumbuh beberapa buah saja.


" Waduh, Om Leon juga nggak bawa kado, nih! Buat Akbar! Besok Om, kirim saja, ya!" Ujar Pak Leon gembira.


Akbar menjerit senang saat digendong dan diayun tinggi. Lelaki itu menciumi pipi gembul dengan penuh kasih sayang.


" Mari masuk ke rumah saya, Pak! Mbak Almira. Kami masih mempunyai nasi kuning di rumah!"


Benar saja, di meja ruang makan Asti telah tersaji nasi kuning lengkap yang diletakkan di tampah kecil. Tampah adalah baki khas yang banyak digunakan masyarakat pedesaan yang dibuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran.


Pak Leon tampak tertarik untuk mencoba semua lauk-pauk yang ada di sisi nasi kuning itu. Ada urapan, sambel goreng kentang hati ayam, ada perkedel, tahu dan tempe bacem sampai tumpukan potongan ayam goreng berbumbu.


Tak lama, Lek No, Joko dan Mas Adam juga datang. Ninuk dan Bu Jum menyiapkan minuman dingin berupa es degan , kelapa dengan gula merah.


Rumah jadi meriah. Orang- orang dewasa makan siang bersama untuk menikmati acara ulang tahun Akbar yang sederhana ini namun kaya makna.


Setelah acara makan- makan itu, para pria ngobrol di teras samping kanan rumah. Taman yang sudah ditata dan dirawat oleh Pak Roh itu sudah memperlihatkan keindahannya.


Besoknya kiriman hadiah ulang tahun berdatangan ke rumah Asti untuk Akbar. Dari Pak Leon berupa mainan mobil kecil yang dijalankan dengan remote control. Dari Mbak Almira berupa boneka berbentuk mobil. Dari Mas Adam setumpuk boneka bebek berwarna kuning untuk teman mandi.


Belum lagi ada botol minuman, kaos, sampai perlengkapan mandi Akbar dari shampo, sabun mandi dan pasta gigi anak-anak.


"Rezeki anak Sholeh, ya. Akbar!" teriak Ninuk saat mereka menerima bingkisan itu.


Akbar hanya melonjak gembira dari Baby Walker-nya yang sedang dinaikinya. Dia mengikuti Om Joko yang asyik memainkan mobil remote milik Akbar. Semua orang tertawa geli melihat kelakuan anak sulung Lek No itu. Sebab mainan seperti itu tidak ada pada zaman dia masih anak- anak.


Tampaknya, Akbar mulai bermanja- manja lagi keesokan harinya. Dia menangis saat akan ditinggal Asti berangkat ke pasar. Susah payah Bu Jum menenangkan bayi yang sudah berumur dua belas bulan itu. Yang mau ikut ibunya pergi.


Untungnya saat Asti pulang di siang hari, bayinya itu sudah nampak biasa lagi. Tidak demam ataupun rewel. Sesekali Asti menciumi pipi tembam Akbar yang terlelap tidur dalam pelukannya.

__ADS_1


Pagi menjelang pukul 07.00, hape Asti berdering berkali- kali. Sampai Asti membuka nomor Lek No yang ternyata tertera di sana.


" Assalamu'alaikum, Lek. Ada apa?"


" Asti! Mbah Sanjaya Sudah nggak ada itu!"


" Nggak ada, gimana? Maksud Lek No, apa. Sih ?" tanya Asti bingung.


" Mbah Sanjaya meninggal, Asti. Ini berita dikirim dari anaknya yang tinggal di Sendang Ranti."


" Innalilahi wa innailaihi Raji'un " Ucap Asti kaget.


Tentu saja, Bu Jum dan Mbak Ning yang masih repot di dapur ikut kaget juga mendengar berita itu. Mata mereka saling berpandangan, menebak berita heboh apa yang diterima Asti pagi ini.


" Mbak Ning sudah selesai masaknya?"


" Sudah, Mbak!"


" Tolong bantuin Bu Jum nyiapin Akbar, ya! Kita mau jalan ke desa Sendang Ranti, Mbah Sanjaya meninggal. Beliau adalah Mbah buyutnya Akbar."


Semua terdiam. Untunglah Akbar tidak rewel ketika dibangunkan Asti. Sementara anak itu dimandikan Bu Jum. Asti menuju garasi untuk memanaskan mesin mobilnya.


"Pak Roh, tolong jaga rumah, ya. Kami mau pergi melayat ke Sendang Ranti!"


" Iya, Mbak. Mas Joko juga sudah pergi tadi Subuh saat ditelpon Pak No."


Kedua wanita itu sudah bersiap - siap di depan. Bu Jum sudah mengendong Akbar dengan membawa tas perlengkapan bayi. Mbak Ning membantu memasukan stroller ke bagasi juga dua buah payung besar yang biasanya ada di simpan dekat rak di ruang tamu.


Mobil merah itu bergerak meninggalkan rumah menuju ke arah Timur. Perjalanan harus ditempuh dalam jangka waktu tiga puluh lima menit lebih. Kendaraan yang dikemudikan Asti kembali berbelok ke kanan, setelah mencapai pasar kecamatan.

__ADS_1


Jalan raya di depannya mulai menyempit. Terbagi dua arus, namun tanpa pembatas di tengahnya. Apalagi sebagain besar jalanan itu dipenuhi oleh anak-anak sekolah berseragam SMP dan SMA, dengan berbagai macam jenis motor yang mereka kendarai.


Sesuatu yang dulu jarang dilakukan oleh anak - anak daerah pedesaan seperti ini. Mereka pada umumnya bersepeda ke sekolah walaupun menempuh jarak yang sangat jauh . Terkadang sampai enam kilo meter jauhnya dari rumah ke sekolah.


__ADS_2