Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 224. Cerita Mbah Imah


__ADS_3

Lek No juga punya keinginan untuk mendapatkan fakta tentang keberadaan dan kabar dari ibunya Asti itu. Bertahun-tahun, wanita itu menghilang dan tidak kembali lagi ke Pulau Jawa. Padahal saat dia meninggalkan Desa Sendang Mulyo, bayinya baru berumur 2 bulan lebih.


Tentu kalau tidak sangat penting sekali. Tak mungkin seorang ibu berani menitipkan bayinya yang masih merah itu di rumah mertuanya. Karena perjalanan ke kampung halaman itu sangat jauh, melintasi laut dan sungai. Mengambil dia tidak pernah berkirim kabar apapun kepada mertuanya tentang bayinya itu, yang sekarang sudah dewasa, dan sudah berumah tangga.


Waktu itu Lek No juga baru menikah dengan Ratih. Gadis yang dijodohkan oleh keluarganya. Pak Harjo Winangun, selaku kakak ibunya yang membiayai pesta pernikahan itu. Sebuah pesta yang cukup meriah bagi kalangan masyarakat di sebuah desa pelosok yang letaknya agak jauh di belakang Pasar Kecamatan. Pasar terbesar di wilayah itu.


Setelah menikah, Lek No menerima tawaran untuk membantu kakak ibunya itu mengelola sawah dan kebun milik keluarganya. Dia juga diberi gaji perbulan dan menempati sebuah rumah yang cukup nyaman di belakang rumah Joglo, bersama istrinya itu.


***


Suasana rumah Pakde Kerto terlihat sangat sepi. Rumah besar milik kakaknya Pak Kushari itu lebih mirip gudang yang tak terurus, daripada sebuah rumah tinggal. Hilang sudah penampakan rumah megah yang dulu menjadi kebanggaan seorang Kerto Juwono . Tuan tanah yang menguasai sawah-sawah dan kebun dari beberapa penduduk di wilayah berbagai desa yang berbeda. Beliau juga membeli hasil bumi dari masyarakat di sekitarnya. Lalu dijual ke beberapa daerah dengan puluhan kendaraan truk miliknya. Mulai dari padi, kelapa pisang sampai hasil penen palawija.


Sedangkan rumah Pak Kushari yang dulunya merupakan rumah termewah di lingkungan ini telah dijual dan berganti kepemilikan. Rumah besar itu terletak di pinggir jalan provinsi. Malah sekarang wujudnya berganti dengan berdirinya sebuah gedung berlantai tiga, milik sebuah yayasan pendidikan, yang menyelenggarakan sekolah berlatar belakang agama Islam dari tingkat TK, SD sampai SMP.


" Assalamualaikum!" ucap Lek No saat mengetuk pintu depan rumah itu. Namun berkali - kali diketuk tak ada jawaban dari penghuni rumah di dalamnya.


Lek No berkeliling sebentar ke belakang rumah. Hari belum gelap baru pukul 16.00. Agak putus asa dia mencari arah dapur. Sebab dapur bagi orang desa biasanya menunjukkan adanya aktivitas orang-orang yang ada di dalam rumah itu kalau ada asap yang keluar dari sana.


Ternyata dapur itupun terlihat sepi. Hanya ada dinding yang kosong dan pintu belakang yang tertutup rapat. Sambil memperlihatkan pemandangan halaman belakang rumah itu yang tampak tak pernah dibersihkan secara teratur. Selain banyak tumpukan sampah dan kayu-kayu. Rumput liar pun dibiarkan tumbuh tinggi menyatu dengan semak - semak berduri lainnya.


Tatapan mata Lek No berhadapan dengan mata Pakde Muin. Segera pria itu menunjuk sebuah rumah bagus yang ada di depan.


" Kang kita mampir ke rumah depan sana ... Rumah Pak Darmaji Hendardi, dia masih berkerabat dengan Kakeknya Asti.... Beliau kepala desa di sini!"


Kedua pria itu berjalan menyeberangi jalan yang sudah diberi aspal bagus. Bahkan cukup untuk dilalui dua mobi secara dua arah. . . Memang keadaan desa ini terlihat lebih maju bila dibandingkan desa-desa tetangga.


Apalagi desa ini menjadi pintu masuk utama bagi desa lainnya. Sebagian warga melalui jalan itu untuk beraktivitas ke sekolah, bekerja ataupun ke pasar. Termasuk Desa Sendang Mulyo yang jaraknya mencapai 4 km.

__ADS_1


Sampai Pak Harjo Winangun yang pada saat itu menjabat sebagai kepala desa, berinisiatif untuk membuka isolasi desa tersebut karena tidak mempunyai akses jalan desa tersendiri....Maka dilakukanlah penebangan sebagain hutan bambu, untuk untuk membuka isolasi desa tersebut dari akses dunia luar. Malah lebih dekat ke mana-mana.


Makanya jalan itu juga digunakan masyarakat desa lain karena mengurangi waktu tempuh untuk ke pasar, ke kecamatan atau ke kota kecil lainnya yang letaknya di barat wilayah itu.


Desa Sendang Waru ini letaknya paling dekat dengan jalan raya provinsi, yang menghubungkan provinsi Jawa Tengah dan provinsi Jawa Timur. Jadi lalu lintas di jalan raya penghubung itu banyak dilalui kendaraan barat, seperti truk, mobil boks atau truk kontainer.


Bahkan beberapa rumah penduduk yang letaknya di tepi jalan raya yang sangat ramai itu banyak yang beralih fungsi... Ada yang membuka warung, toko, rumah makan, sampai pom bensin. Juga berdiri sebuah sekolah swasta pertama yang ada di daerah itu. Dengan Masjid besar di sisi jalan itu.


Sekolah yang didirikan oleh seorang pemuka agama dengan bertujuan agar anak-anak desa itu tidak harus pergi sangat jauh agar dapat melanjutkan pendidikan mereka ke sekolah. Sebab jarak terdekat sekolah SD dan SMP negeri hampir mencapai 6 km dari tempat itu. Bahkan lebih bila desa mereka terletak lebih ke pelosok lagi.


" Assalamualaikum!" suara Lek No cukup dikenali ketika pria itu mengucapkan salam di depan pintu rumah... Pintu rumah itu terbuka sehingga memperlihatkan kalau isi rumah itu cukup bagus dengan beberapa barang modern dan mahal yang menjadi perabot dan penghiasnya di dalam rumah itu.


" Mas Sarno?" tegur seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan sedikit uban di kepalanya yang menandakan usianya pun sudah tidak muda lagi, yang muncul di ruang depan. " Mari masuk!"


Pakde Muin ikut masuk dan duduk di bangku kayu jati berukir rumit dan megah. Di ruang tamu itu juga banyak kursi lainnya yang mengelilingi ruangan ini.


" Ini Keponakan almarhumah Mbah Sri, neneknya Asti!"


" Iya, saya yang mengutus dua orang kepercayaan saya waktu itu, sekaligus dibantu Satrio!" ujar Si Pakde.


Setelah berkenalan dan sedikit basa-basi. Dari dalam ruangan belakang, keluarlah seorang ibu tua membawa baki berisi cangkir kopi dan cemilan di sebuah piring.


" Kowe apa kabarnya, No? " tanya perempuan tua itu yang biasa dipanggil Mbah Imah.


" Baik, Mbah ... Mbah Imah sehat?" tanya Lek No setelah menyalami tangan wanita tua itu dengan takzim.


" Baik, No. Cuma itu sering kambuh saja encokku... Jadi sudah nggak bisa pergi kemana-mana lagi.."

__ADS_1


Wanita tua itu segera pamit masuk ke dalam ruangan lain sambil membawa baki yang telah kosong. Mereka berbincang - bincang agak lama. Sampai Lek No menanyakannya keberadaan Pakde Karto, tetangga depan rumah itu.


" Ah, masa nggak ada orang di rumah? Pak Karto sudah setahunan ini sakit parah... Anak-anaknya tidak punya inisiatif membawa ayahnya itu berobat karena alasan nggak punya duit!" Ujar Pak Darmaji geram.


" Ini soal kepergian Ibunya Asti, Emilia.. . Dulu kata Pak Harjo Winangun, diantar Pak Kushari dan saudaranya.. . Apa Pak Karto juga ikut mengantar?"


" Dulu sih, banyak orang yang lihat kepergian Emilia dengan kakaknya itu dari rumah Pak Karto... Mereka menggunakan kijang punya Pak Karto... Tetapi yang kembali ke rumah itu hanya Pak Karto dan adiknya yang lain. Kata Ibu, Pak Kushari ikut sampai ke Banjarmasin. Karena baru dua minggu kemudian beliau kembali ke rumah!" ujar Pak Darmaji.


Lelaki yang bernama Darmaji Hendardi itu segera berdiri dari duduknya. Dia tahu, kalau masalah ini agak serius...Dulu dia memang tinggal di sini bersama orang tuanya... Sebelum bekerja di sebuah pabrik di kota lain. Namun sebagai anak sulung dan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga mereka. Jadi Pak Darmaji tidak bisa meninggalkan kedua orangtuanya begitu saja. Apalagi adik-adik perempuannya ada yang kuliah dan bersekolah di kota lain.


Mbah Imah berjalan pelan digandeng oleh Pak Darmaji... Lek No membantu mendorong sebuah kursi yang dudukannya lebih tinggi dari kursi tamu...


" Kamu mau tahu Pak Kushari yang pergi mengantar Ibunya Asti kembali ke kampung halamannya itu, toh?" tanya Wanita tua itu menatap wajah Lek No.


" Mbah Imah tahu kejadiannya seperti apa?"


" Aku hanya dengar dari pengakuan Pak Karto itu setahun yang lalu... Waktu itu dia terkena stroke yang pertama, sehingga mengakibatkan kakinya lumpuh dan bicaranya pelo. Istrinya Darmaji yang berusaha mencarikan pertolongan agar dapat dibawa ke puskesmas kecamatan."


" Setahun yang lalu?" tanya Lek No kurang yakin.


" Iya, Pak Kushari menyimpan kebenaran dari cerita ibunya Asti sejak lama... Hampir 25 tahun, bahkan mampu menekan Pak Harjo Winangun untuk memberi izin menikahi Ayu yang sudah lama menjanda."


" Jahat sekali niat dan kepentingan yang digunakan Pak Kushari itu!" ucap Pakde Muin sambil berdecak tidak percaya.


" Sebenarnya, mengapa Ibunya Asti tidak kembali ke Jawa, Mbah?" tanya Lek No penasaran.


" Semua itu berawal dari Ibunya Emilia, neneknya Asti. ... Gadis muda yang bernama Sarifah Mutia itu berasal dari kabupaten lain yang merantau ke kota Banjarmasin. Gadis muda itu bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko. Dia mengenal berhubungan dengan pria muda yang masih berkerabat dengan ayahnya Emilia... Saat gadis itu hamil dan mau meminta pertanggung jawaban kepada pacarnya itu. Sarifah malah mendapatkan informasi kalau si lelaki malah sedang bersiap naik pelaminan dengan gadis yang dijodohkan oleh keluarga besarnya."

__ADS_1


" Merasa dizolimi, Sarifah itu datang ke pesta pernikahan itu dan memberitahu kepada pihak keluarga pengantin wanita betapa tidak bertanggung jawabnya pria yang akan menjadi menantu mereka... Tetapi Sarifah malah dikira hanya mengacau dan menyebar fitnah... Perempuan itu dianiaya oleh saudara laki-laki pengantin wanita sampai luka parah dan keguguran..."


" Samsul Muhadi Jaffar yang menolong Sarifah dan membawanya ke rumah sakit... Setelah sembuh, Pak Samsul yang merupakan duda beranak satu itu malah semakin dekat dengan Sarifah. Sampai akhirnya mereka menikahi. Sayangnya, mantan pacarnya itu selalu melontarkan fitnah kepada pasangan itu. Padahal Sarifah sudah menjauhi keluarga mereka. Bahkan sampai istri Pak Syamsul itu hamil dan melahirkan anak perempuan...Mulailah berhembus kabar tak sedap tentang bayi perempuan itu yang diberi nama Emilia Jaffar itu sebagai bayi kutukan... Itu dilakukan oleh istri dari mantan kekasihnya itu ... sampai ucapan itu diyakini oleh para warga lainnya."


__ADS_2