Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 182. Kaitan Peristiwa di rumah


__ADS_3

Lain halnya dengan keadaan anak-anak sejak kepergian kedua kakek dan neneknya yang kembali ke Semarang. Akbar dan Qani menjadi sangat rewel... Leon pun jadi tidak tega melihat istrinya kerepotan untuk menenangkan si bayi yang terus menangis walaupun sudah ditenangkan Bu Jum. Apalagi Akbar yang ikut ngambek, dan tidak mau menyentuh sarapannya.


" Kita keluar rumah sebentar, Yuk!" ajak Leon kepada Asti.


" Tempatnya jauh nggak? Nanti kalau terlalu jauh, pulangnya anak-anak malah kurang enak badan. Terus sakit!" ujarnya beralasan.


" Coba panggil Bu Jum! Suruh menyiapkan barang-barang keperluan Qani dan Akbar! Aku mau telepon Cakra, biar mengambil alih urusanku di proyek!"


Hampir sepuluh menit, Bu Jum dibantu Asti sudah menyiapkan barang - barang keperluan kedua anak tersebut. Ada baju ganti, pampers dan keperluan bayi lainnya yang dimasukkan dalam tas besar. Terutama susu asi yang disiapkan dalam botol untuk Qani.


Leon sudah mengeluarkan mobil Pajero miliknya sambil mengendong Akbar. Anak laki-laki itu sudah mulai tenang. Walaupun matanya masih memerah. Namun dia menurut ketika Leon menyuruhnya harus duduk di tengah bersama adik dan Bu Jum.


Mereka keluar dari rumah itu hampir pukul sepuluh siang. Leon membawa mobilnya secara perlahan saja menuju ke arah utara. Perjalanan yang hanya 40 menit itu telah mencapai sebuah kota kecil lain yang paling dekat dengan tinggalnya.


Pemandangan di pinggiran kota tersebut lumayan bagus untuk cuci mata... Ada hamparan kebun- kebun sayur yang hijau, sawah menguning di kejauhan dan sungai besar dengan jembatan besi besar yang dilintasi berbagai jenis kendaraan di atasnya.


Tak jauh dari pinggiran kota itu ada sebuah tempat makan yang cukup bagus penilaiannya lewat beberapa akun di media sosial. Sekaligus tempat refreshing yang ramah buat anak-anak. Dulu, Leon pernah membawa Asti ke tempat ini, setelah mereka menikah baru beberapa bulan. Namun pada waktu itu tanggapan Asti sangat berbeda.


Asti kini menyadari, arti pentingnya seorang ayah bagi seorang anak seperti Akbar. Leon selalu dapat mendisiplinkan anak laki- laki itu yang sudah hampir berusia 3 tahun. Mungkin selama ini Akbar merasa disayang semua orang, sehingga dia menjadi lelaki kecil yang sedikit agak egois.


" Kakak tunggu di sini sama, ayah! Biar Ibu gendong Qani, dan Bu Jum membawa tas itu!" Pesan Leon lagi.

__ADS_1


Akbar berdiri patuh di sebelah sang ayah, ketika Ibunya dan Bu Jum bergantian turun dari mobil itu. Qani masuk gendongan Asti. Bu Jum mengambil tas bepergian dengan perlengkapan bayi di dalamnya.


Mobil itu berhenti di sebuah pelataran kafe yang cukup luas dan nyaman. Qani segera digendong Leon ketika mereka masuk ke dalam bangunan kafe utama. Pria itu memesan tempat untuk keluarganya makan siang di meja resepsionis.


Mereka segera diantar oleh seorang pelayan wanita, berjalan ke arah bangunan kafe di sebelah barat. Di sana ada semacam tempat makan berupa pondok-pondok dari bangunan bambu. Setiap pondok terdiri dari enam kursi... Tidak jauh dari pondok ada kolam ikan koi, dengan taman-taman yang dipenuhi tanaman hias, dan beberapa air mancur dan air terjun buatan di atas kolam itu. Kolam itu pun diberi pembatas yang cukup tinggi sehingga aman untuk anak-anak.


Akbar menikmati makan siangnya kali ini berupa nasi putih dengan ayam goreng dan semangkok sup sayuran. Asti membantu anaknya itu makan dengan membuat suwiran dari potongan ayam goreng itu. Walaupun dia dapat menikmati masakan yang dipesannya kali ini berupa ikan gurami yang dimasak dengan saos asam manis, sayur asem dan sambal dadak.


Leon memilih menu iga bakar dan segelas es lemon tea. Sedangkan Bu Jum memilih cah kangkung dan cumi saos Padang. Qani anteng terduduk di strollernya. Bayi perempuan itu sibuk mengunyah biskuitnya dengan nikmat.


Sesekali Leon masih sibuk menjawab beberapa email dan WA dari hapenya... Mau bagaimana lagi? Mereka keluar rumah di saat sang kepala keluarga masih harus mengurus berbagai pekerjaan di kantornya. Apalagi hari adalah hari kerja.


Padahal yang paling mudah adalah melaporkan peristiwa itu ke pihak yang berwajib. Sebab mereka punya CCTV di depan rumah, di jalan samping ruko juga di kantor di area perumahan. Tetapi Joko sudah tahu cara mengurus permasalahan untuk tersebut. Setelah nanti dia cukup yakin akan orang yang menjadi pelaku pelemparan batu itu.


Susah payah Leon berusaha tampak bersikap tenang dihadapan istrinya itu. Setelah mendapatkan laporan itu. Sampai dia menyadari sesuatu... Mungkinkah anak-anaknya itu lebih peka dan merasakan ada sesuatu yang akan terjadi di rumah mereka tadi ? Bagaimana dengan tanggapan Asti bila mendengar sendiri suara kaca yang dilemparkan batu itu... Apa dia tidak tambah kepikiran?


Kedua anaknya kini sedang asyik bermain di taman samping... Akbar terus bermain seluncuran dijaga Bu Jum... Sementara Asti sedang mengurus bayinya dan segera membawa Qani masuk ke dalam toilet. Karena baju bayinya itu kotor penuh remahan roti dan sedikit es krim yang tadi dipesan Akbar.


Qani sudah berganti baju dan pampers. Bayi perempuan itu dengan gembira masuk ke dalam pelukan sang ayah. Banyak pengunjung kafe yang umumnya para wanita itu kagum melihat keberadaan Leon dengan bayi perempuannya itu yang sangat erat. . Apalagi wajah keduanya sangat serupa, seperti pinang dibelah dua katanya.


Hanya saja wajah Qani lebih imut, feminim dan bibirnya selalu mengumbar senyum... Sangat berbeda dengan sosok sang ayah yang terlihat sangat cool. Sedikit pendiam, sehingga terlihat angkuh dan sangat percaya diri.

__ADS_1


Bayi itu sudah merengek minta turun dari gendongan ayahnya, dan mau merangkak di halaman berumput. Tetapi Leon melarangnya, sehingga timbulan perdebatan yang lucu di antara ayah dan bayi itu. Karena sang ayah takut di rerumputan itu ada duri, serangga atau benda tajam lainnya yang akan melukai kulit bayi mungilnya itu.


Mereka kembali ke rumah saat hari sudah beranjak semakin siang. Asti tadi memesan makanan lain untuk dibawa pulang yaitu cumi saos Padang, dan gurami saos asam manis, yang kata Bu Jum sangat enak. Dua boks lauk-pauk itu untuk oleh-oleh orang yang ada di rumahnya.


Anak-anak sudah terlelap, di car seat masing-masing, ketika mobil itu mulai keluar dari halaman parkir kafe. Siang itu semakin ramai saja kedatangan para pengunjung di kafe yang banyak direkomendasikan oleh para warga yang mempunyai media sosial.


Di tengah perjalanan, Asti tertarik dengan banyaknya para pedagang yang berjualan berjejer di sepanjang pinggir jalan menuju arah pulang. Mereka berjualan buah yang sama, yaitu mangga.


Pedagang di sana selalu saja menggelar dagangan berbagai buah yang sama pada tiap musimnya seperti durian, mangga ataupun jeruk Bali. Sampai Leon memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang lebih lebar dan tidak menganggu pengguna jalan yang lain.


Asti memilih buah mangga Indramayu yang masih mengkal dan buahnya besar. Juga mangga arum manis. Asti dibantu memilih buah itu oleh Bu Jum, sehingga transaksi pembelian berjalan cepat.


Hati hati mereka naik dan menutup pintu mobil itu. Karena anak-anaknya tidurnya semakin pulas, dan tak mau membuat mereka terbangun.


Sampai di rumah, keadaan seperti biasa pada umumnya... Leon sudah berpesan sebelumnya kepada Mbak Ning dan Putri jangan membicarakan hal itu terlebih dahulu... Takut Asti senewen dan bertambah banyak pikiran.


Cepat seorang tukang yang mempunyai keterampilan membuat jendela kaca dipanggil Pak Cakra untuk mengganti kaca yang pecah itu. Tukang itu juga bekerja di pembangunan perumahan tahap 2.


Karena kaca jendela itu, memang berukuran secara umum. Tukang itu sudah memesan pada toko material langganan bos mereka, di sebuah toko di pinggiran kota. Menjelang Magrib kaca jendela yang baru sudah terpasang sempurna pada tempatnya


Mbak Ning cukup lega, sebab pria itu bekerja sangat cekatan hanya dibantu Pak Sembodo. Pria itu juga sudah melaporkan semua perbaikan itu kepada Pak Leon yang sudah kembali ke kantornya lagi.

__ADS_1


__ADS_2