
"Iya, Kak," jawab Ayaka.
"Ada apa ini? Kenapa suasana rumah jadi sedih seperti ini?" tanya Kenzo yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
Mendengar teguran dari Kenzo, Ayaka dan juga Ayana melerai pelukannya. Kemudian, mereka menolehkan wajahnya ke arah anak tampan berusia 5 tahun itu.
"Sini, Dek. Duduk dengan Kakak, ada yang mau Kakak bicarakan," ucap Ayaka.
Rasanya Ayaka juga harus berpamitan kepada Kenzo, anak tampan yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.
Kenzo menurut, dia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Ayaka. Lalu, anak itu duduk di antara Ayana dan juga Ayaka.
"Ada apaan sih? Kenapa kalian terlihat begitu sedih?" tanya Kenzo kembali.
Ayaka tersenyum ke arah adik tampannya, dia elus lengan adiknya dengan penuh kasih. Lalu, Ayaka mulai bersuara.
"Mulai besok Kakak akan tinggal di rumah ayahnya Kakak, nanti kalau Ken rindu sama Kakak, jangan lupa untuk berkunjung. Tapi kalau misalkan Ken ngga sempet datang, nanti Kakak yang akan datang. Tapi, ngga bisa tiap hari. Mungkin satu minggu sekali," jelas Ayaka.
Kenzo nampak mengerutkan dahinya mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut, selama ini Ayaka selalu tinggal bersama dengannya.
Tidak pernah sekalipun Kenzo melihat kedua orang tua dari Ayaka, tidak pernah sekalipun ada orang tua yang berkunjung untuk menemui Ayaka.
Lalu, ayah siapa yang dibicarakan Ayaka, pikirnya. Kenapa tiba-tiba saja dia harus pergi, kenapa tidak terus tinggal saja bersama dengan Kenzo di rumah tersebut saja, pikir anak itu.
"Kenapa Kakak harus pergi? Kenapa Kakak harus tinggal dengan ayahnya Kakak? Memangnya Kakak punya Ayah?" tanya Kenzo dengan tatapan sedihnya, tetapi terdengar lucu saat anak itu bertanya.
Ayaka sampai tertawa dibuatnya, karena anak itu begitu lucu saat bertanya. Ayaka bahkan tanpa sadar langsung mencubit gemas kedua pipi adiknya tersebut.
"Tentu saja Kakak punya ayah dan bunda, ayah Kakak sekarang buka toko buku kecil-kecilan. Kakak mau bantu ayahnya Kakak jualan, Ken jangan nakal. Jangan lupa temani Kak Ay biar dia nggak sedih dan kesepian," pesan Ayaka kepada Kenzo.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, Kenzo langsung menolehkan wajahnya ke arah kakak perempuannya. Dia terdiam sesaat, lalu tidak lama kemudian dia berkata.
"Aku nggak mau nemenin Kak Ay ah, males. Kak Ay cerewet," ujar Kenzo.
__ADS_1
Ayana yang mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo langsung membulatkan matanya dengan sempurna, dia tidak menyangka jika adiknya akan mengatakan hal seperti itu.
"Aih, kamu tuh begitu amat sama Kak Ay. Awas aja kamu kalau ada PR yang nggak paham, Kak Ay ngga akan bantu," ujar Ayana dengan bibir yang tidak kalah mengerucut.
"Tenang saja, Ken adalah anak yang pandai dan tidak akan menyusahkan Kakak. Ken pasti bisa mengerjakan PR sendiri," ucap Kenzo dengan percaya diri.
Karena pada kenyataannya anak itu benar-benar sangat pintar, dia selalu bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh pihak sekolah tanpa bantuan kedua kakaknya itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya Ayana terlihat mengerucutkan bibirnya, anak itu lalu menolehkan wajahnya ke arah Aruna dan berkata.
"Buna, apakah tadi Buna merekam apa yang sudah dikatakan oleh Ken?" tanya Ayana.
"Tidak, Sayang. Memangnya kenapa?" tanya Aruna dengan heran.
"Yah, Buna payah. Seharusnya Buna merekam kejadian tadi, karena ini adalah hal yang langka. Biasanya Ken tidak akan berbicara sepanjang ini," ujar Ayana.
"Kamu benar, ini adalah obrolan terpanjang sepanjang sejarah yang keluar dari bibir Ken," ujar Aruna disertai tawa.
Sigit yang sejak tadi diam ikut merasa bahagia karena ternyata Aruna bisa dengan mudah menerima Ayaka, padahal selama ini dia terdiam karena takut melukai hati Aruna. Dia takut Aruna tidak akan bisa berlapang dada menerima anak dari madunya itu.
Seperti yang sudah dijanjikan oleh Aruna, selepas pulang sekolah Aruna langsung mengantarkan Ayaka ke kediaman Sam. Walaupun dengan berat hati dan juga perasaan sedih.
Karena walau bagaimanapun juga Aruna sudah mengasuh Ayaka selama 5 tahun lamanya, berat rasanya untuk menyerahkan anak itu kepada Sam. Walaupun pada kenyataannya Ayaka ternyata adalah anak dari madunya sendiri.
Saat melihat Ayana, Kenzo, Aruna dan juga Ayaka datang ke sana, Sam terlihat bahagia sekaligus bingung. Karena Aruna tidak berbicara sama sekali kepada dirinya akan datang untuk bertamu.
Sam yang sedang memasukkan minuman ke dalam showcase langsung menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menghampiri Aruna dan berkata.
"Aruna, kamu datang? Kenapa tidak bilang-bilang?" tanya Sam kebingungan.
"Maaf, aku datang ke sini untuk mengantarkan Aya," jawab Aruna.
"Aya? Mana? Di mana dia?" tanya Sam seraya mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"Ini adalah Aya, putri kamu dengan Angel. Aku juga baru tahu kemarin, maaf karena aku tidak mengenali putri kamu," ujar Ayana.
"Aya? Dia Aya-ku?" tanya Sam dengan sedih bercampur bahagia, karena putrinya yang hilang akhirnya ditemukan.
"Ya, dia, Aya."
Sam langsung meluruhkan tubuhnya ke atas tanah, dia berdiri dengan kedua lututnya seraya merentangkan tangannya.
"Sini, Sayang. Peluk Ayah," pinta Sam.
Ayaka langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya tersebut, senang bercampur sedih rasanya Karena kini dia sudah mengatakan identitas dirinya yang sesungguhnya.
Ayana yang melihat ayah dan juga adiknya berpelukan terlihat menitikkan air matanya, anak itu bahkan terlihat mengerucutkan bibirnya. Sam yang melihat akan hal itu langsung terkekeh dan berkata.
"Sini, Kak Ay peluk Ayah juga." Sam kembali merentangkan kedua tangannya.
Ayana langsung memeluk Sam, dia merasa bahagia karena bisa kembali merasakan pelukan dari ayah kandungnya tersebut.
Kenzo yang melihat akan hal itu merasa kebingungan, anak itu merasa heran karena tidak hanya Ayaka yang memeluk pria asing di hadapannya. Namun, Ayana juga ikut memeluk pria itu dengan perasaan bahagia.
"Buna! Kenapa Kak Ay peluk-peluk Ayahnya Kak Aya juga?" tanya Kenzoi seraya menarik-narik tangan bundanya.
Aruna terkekeh mendengar pertanyaan dari putranya tersebut, karena nyatanya Sam adalah ayah dari Ayana. Tentunya anak sulungnya itu menginginkan pelukan kasih sayang dari ayahnya.
"Karena Ayah Kak Aya, sama Ayah Kak Ay itu sama," jawab Aruna.
"Jadi, orang itu Ayah Ken juga?" tanya Kenzo dengan raut wajah semakin bingung.
Bahkan dahi anak itu terlihat berkerut dengan dalam, melihat tingkah Kenzo yang seperti itu membuat semua yang ada di sana nampak tertawa.
"Aih! Sudah jangan dipikirkan, nanti kepalanya Ken bisa botak. Sekarang kita masuk, minum dulu biar Ken ngga tambah bingung." Sam menuntun kedua putrinya, dia juga menuntun Kenzo untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Hey, saudara! Jangan asal masuk rumah saja! Bawa tuh kopernya," ujar Aruna seraya menurunkan 3 koper berukuran besar dari bagasi mobil.
__ADS_1
Sam yang sedang melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya itu langsung menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Aruna.
"Maksudnya apa?" tanya Sam seraya menatap koper yang ada di hadapan Aruna.