Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 122


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Ayana menghampiri Stefano yang sedang merapikan berkas. Lalu, Ayana duduk tepat di hadapan pria itu.


"Tolong jemput Aya terlebih dahulu, setelah itu kamu telepon aku kalau sudah sampai di depan lobi."


Stefano nampak menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menolehkan wajahnya kepada Ayana lalu menganggukan kepalanya dengan patuh.


"Siap, Nona!" jawab Stefano dengan semangat.


Wajah pria dewasa itu terlihat begitu ceria setelah diberikan tugas oleh Ayana, Ayana sampai ingin tertawa dibuatnya. Namun, masih dia tahan.


Ketara sekali jika Stefano benar-benar menyukai Ayaka, jika memang Ayaka menyukai Stefano, Ayana tidak akan keberatan. Bahkan, jika Ayaka ingin menikah terlebih dahulu pun Ayana tidak keberatan.


Walaupun Ayana belum begitu mengenal Stefano, tetapi dia begitu yakin jika Stefano adalah pria yang begitu baik. Ayana sangat yakin jika Stefano mampu membahagiakan adiknya.


"Pergilah!" ujar Ayana.


"Iya, Nona."


Setelah mengatakan hal itu, Stefano langsung pergi dari ruangan tersebut. Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk menjemput Ayaka, sedangkan Ayana terlihat mengambil ponselnya dan berselancar dengan benda pipih berteknologi canggih itu.


Belum lama Ayana mendengar pintu ruangan itu tertutup, tetapi tidak lama kemudian dia mendengar pintu ruangan tersebut kembali terbuka.


"Apa ada yang tertinggal?" tanya Ayana yang menyangka Stefano kembali ke dalam ruangan tersebut.


Dia bahkan tidak menolehkan wajahnya sama sekali, tatapan matanya tertuju pada layar ponselnya.


Tidak ada sahutan sama sekali, Ayana menjadi penasaran dibuatnya. Wanita itu nampak menolehkan wajahnya ke arah pintu, Ayana terlihat begitu kaget ketika mendapati seorang pria yang sedang berdiri di ambang pintu seraya menatap dirinya dengan begitu lekat.


"Sandi, ngapain elu di sini?" tanya Ayana.


Pria itu melipat tangan kanannya di belakang punggungnya, lalu dia tersenyum ke arah Ayana dan dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ayana.


Pria itu nampak begitu aneh sore ini, hanya itu bahkan terlihat berpenampilan dengan begitu rapi. Sandi yang biasanya memakai baju santai, kini terlihat memakai kemeja berwarna putih dipadu padankan dengan celana bahan berwarna hitam.

__ADS_1


Rambutnya juga terlihat begitu rapi, Sandi benar-benar terlihat begitu lain sore ini. Tidak seperti Sandi pada hari biasanya.


"Anu, kebetulan gue lewat sini. Jadinya sekalian gue nemuin elu, mau pulang bareng sama gue, ngga?" tanya Sandi.


Padahal, pada kenyataannya pria itu memang sengaja datang ke perusahaan Siregar untuk menemui Ayana. Hanya saja dia terlalu malu untuk mengakuinya.


Pria itu nampak mengulurkan tangan kanannya yang sejak tadi dia sembunyikan di balik punggungnya, sebuket bunga mawar berwarna merah dia berikan kepada Ayana.


"Ngapain elu kasih gue bunga?" tanya Ayana dengan heran.


Sandi nampak salah tingkah mendengar pertanyaan tersebut dari Ayana, wajah pria itu bahkan terlihat memerah.


"Gue suka sama elu," jawab Sandi dengan suara yang begitu pelan sekali.


Deg!


Jantung Ayana berdebar dengan begitu kencang mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, walaupun terdengar begitu pelan di telinganya, tetapi Ayana bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Sandi.


"Elu ngomong apaan sih? Gue ngga denger," ujar Ayana dengan berbohong.


Karena pada kenyataannya, Ayana mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi. Walaupun suara punya itu terdengar begitu lirih, tetapi telinga Ayana masih mampu menangkap suara pelan itu.


"Ngga apa-apa, ngga jadi. Terima dong bunganya, mahal gue belinya." Sandi menarik tangan Ayana, lalu memberikan bunga itu pada tangan kanan Ayana.


Ayana tersenyum kecut melihat sebuket bunga yang diberikan oleh Sandi, tanpa ragu Ayana mencium wangi bunga mawar tersebut.


"Wangi bunganya, terima kasih. Sini duduk, elu mau minum apa?" tanya Ayana seraya menepuk kursi kosong di sampingnya.


Sandi memang merasa senang bisa berduaan di dalam ruangan tersebut bersama dengan Ayana, tetapi dia merasa canggung karena bingung harus membicarakan apa jika berlama-lama di sana.


"Ngga haus gue, pulang yu, Moo. Gue pengen nganterin elu pulang," ujar Sandi tanpa berniat untuk duduk terlebih dahulu.


"Ck! Ngapa sih masih manggil gue, Moo. Gue udah bukan pemalas lagi, gue udah gawe. Sekarang rajin gue," ujar Ayana.

__ADS_1


"Hem! Gue tahu, kata om Sigit elu rajin sekarang. Gawe ngga pernah telat, tapi bagi gue elu tetep sapi pemalas gue." Sandi terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Di saat masa kuliah dulu Ayana selalu saja malas kalau diajak ke mana pun, maka dari itu Sandi menyebut Ayana sebagai sapi pemalas yang suaranya paling kenceng kalau minta makan.


Ayana lebih memilih tidur jika hari libur tiba, jika pulang kuliah juga dia jarang pergi ke mana pun. Ayana merasa lebih nyaman tinggal di rumah saja, lebih aman dan tidak akan tergoda dengan pergaulan bebas.


"Ayo kita pulang, Moo." Sandi menarik lengan Ayana dengan lembut.


"Iya, iya. Gue ambil tas dulu," ujar Ayana pada akhirnya. "Oiya, helmnya mana?" imbuh Ayana.


Bukan maksud Ayana menghina Sandi, karena pada kenyataannya Sandi selalu bepergian dengan menggunakan motor kesayangannya.


"Moo! Gue udah bisa beli mobil, makanya gue berani datang ke sini buat jemput elu." Sandi nyengir kuda.


"Alhamdulillah! Tapi, San. Walaupun elu datang jemput gue pake motor, gue pasti mau, kok. Ayo pulang," ujar Ayana seraya melangkahkan kakinya terlebih dahulu.


"Tungguin gue, Moo!" ujar Sandi seraya menyusul Ayana dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Walaupun Ayana seorang keturunan dari keluarga kaya, Sandi sangat suka dengan kepribadian Ayana yang selalu sederhana dan apa adanya.


"Buruan, San. Kita mampir dulu ke taman yuk? Gue jadi pengen beli cilok kuah setelah liat muka elu," ujar Ayana.


"Loh, kok liat gue jadi inget cilok?" tanya Sandi seraya mensejajarkan langkahnya dengan Ayana.


Di saat masa kuliah dulu, jika masa libur tiba Sandi akan membuat makanan dengan bahan yang ada. Lebih seringnya pria itu membuat cilok kuah untuk camilan masa liburnya, daripada jajan lebih baik membuat makanan tersebut, ujar Sandi kala itu.


Selain membuat makanan itu sangat mudah, bahannya juga pastinya murah. Terlebih lagi dikasih kuah, sudah pasti perut akan lebih cepat kenyang.


"Pan dulu kebiasaan elu kalau libur suka bikin cilok," ucap Ayana seraya memukul pelan lengan Sandi.


Sandi nampak malu sekali jika teringat akan masa lalunya, terasa sangat menyedihkan dengan kenyataan jika dia terlahir dari keluarga sederhana.


"Elu bener," ucap Sandi seraya mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin.

__ADS_1


__ADS_2