
Selepas bercinta dengan begitu panas dengan suami tercintanya, Ayana langsung melaksanakan ritual mandinya bersama dengan sang suami. Karena Sandi tidak ingin mandi sendirian, dia seolah ingin menempel terus dengan istrinya tersebut.
Ayana baru saja bersikap manja dan menunjukkan jika dirinya begitu membutuhkan Sandi, maka dari itu Sandi tidak ingin melewatkan hal ini.
Ketika mereka mandi bersama, bahkan pria itu berusaha untuk memanjakan istrinya. Sandi bahkan yang menggosok tubuh istrinya menggunakan spon mandi yang sudah dia pakaian sabun cair.
Sandi juga bahkan membantu Ayana dalam mencuci rambutnya, Ayana sampai terlihat begitu bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami tercinta.
"Sudah siap untuk pulang?" tanya Sandi yang sudah merapikan barang-barang miliknya dan juga milik Ayana.
Walaupun mereka akan pulang ke rumah Sigit, Sandi tetap merasa senang. Karena mereka tetap bisa beraktivitas bersama, karena keduanya memang masih mengambil cuti.
"Sudah, maaf karena tidak bisa langsung pulang ke rumah kita. Karena papa meminta aku untuk menjaga Kenzo dan juga Alice," ujar Ayana seraya memeluk Sandi.
Sandi merasa senang sekali mendengar Ayana mengatakan rumah Sandi sebagai rumah kita, karena itu artinya Ayana sudah menerima dirinya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Ayana sudah berencana akan hidup mandiri dengan suaminya itu, susah senang akan dia jalani bersama dengan pria yang baru dua hari menjadi suaminya itu.
Namun, jika memang Aruna dan juga Sigit membutuhkan bantuannya, tentu saja dia tidak akan menolak permintaan dari kedua orang tuanya itu.
Lagi pula menjaga Kenzo dan juga Alice pastinya tidak akan lama, Aruna dan juga Sigit pasti tidak akan pergi berlama-lama.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mungkin kita memang belum diperbolehkan untuk tinggal berduaan saja, ayo kita pulang." Sandi merangkul pundak istrinya dengan tangan kanannya, lalu dia menarik koper yang berisikan perlengkapan keduanya dengan tangan kirinya.
Ayana menurut, dia ikut melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar hotel tersebut. Ayana bahkan terlihat memeluk Sandi tanpa ragu, pasangan pengantin baru itu nampak bahagia sekali.
Saat tiba di lobi hotel, Ayana dan juga Sandi sudah ditunggu oleh sopir pribadi keluarga Dinata. Karena memang dia meminta Satria untuk mengirimkan seorang sopir untuk menjemputnya dan juga suaminya.
Sandi dan juga Ayana memang tidak membawa mobil saat pergi ke hotel, maka dari itu dia meminta Satria untuk menjemputnya dengan mengirimkan sopir pribadi keluarga Dinata.
Tentu saja Satria langsung mengabulkan permintaan dari cucunya tersebut, jika Ayana meminta hal yang lain pun pasti Satria akan mengabulkannya.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju kediaman Sigit, Ayana terus aja memeluk suaminya. Terlihat sekali jika Ayana begitu manja kepada Sandi, tentu saja hal itu membuat Sandi senang bukan kepalang.
Saat tiba di kediaman Sigit, Ayana dan juga Sandi langsung masuk ke dalam rumah megah tersebut. Dia bersama dengan sang suami langsung melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
"Ken, Al! Kalian di mana?" tanya Ayana seraya mengedarkan pandangannya.
Tidak lama kemudian, Ayana melihat Kenzo yang masuk dari dapur. Pria muda itu terlihat hanya menggunakan celana training panjang saja, pria itu nampak bertelanjang dada.
Sepertinya Kenzo baru saja selesai berolahraga, karena tubuh Kenzo penuh dengan keringat. Ayana tersenyum melihat keindahan tubuh adiknya itu, karena memang Kenzo begitu giat dalam berolahraga dan membentuk tubuhnya.
"Kakak udah dateng?" tanya Kenzo yang langsung menyalimi tangan Ayana dan juga Sandi secara bergantian.
Walaupun dia terkenal dengan sebutan pria dingin, tetapi Kenzo memang selalu bersikap hangat kepada keluarganya. Bahkan, pria itu selalu tiba-tiba saja banyak bicara ketika sedang berada di dekat orang-orang terkasihnya.
"He'em, mana Alice?" tanya Ayana.
Adik kecilnya itu yang dia khawatirkan, karena adiknya itu memanglah sangat manja. Apalagi Aruna berkata jika saat ibunya itu pergi, Aruna tidak sempat berpamitan kepada putri bungsunya itu.
"Tidur, Kak. Dia kan' emang kaya gitu, kalau libur pasti banyakin tidur." Kenzo nampak menggelengkan kepalanya. "Oiya, dia tidur di kamar buna," imbuhnya
"Tak apa, biarkan saja dia tidur. Kamu juga cepat mandi gih, bau!" ujar Ayana seraya menjepit hidungnya dengan kedua jari tangannya.
"Aih! Wangi begini dikata bau," ujar Kenzo seraya mengangkat kedua tangannya.
Sandi yang melihat akan hal itu langsung tertawa dibuatnya, karena biasanya Kenzo memang jarang sekali berbicara apalagi bercanda seperti itu.
"Astagfirullah, Ken! Bau ketek ih!" ujar Ayana.
Kenzo dan juga Sandi langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, lalu Kenzo berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Dia ingin segera mandi, lalu dia ingin pergi untuk melihat seseorang yang dia suka. Dia ingin menemui wanita itu walaupun tidak bisa bertemu secara langsung dengannya.
__ADS_1
"Aku ke kamar dulu, kamu mau ikut ke kamar atau mau temenin Al dulu. Takutnya nanti dia terbangun dan kaget ketika sadar jika dia ternyata hanya sendirian di kamar bunda," ujar Sandi.
"Aku sih maunya temenin Al dulu, itu pun kalau kamu tidak keberatan." Ayana tersenyum seraya mengelus lengan suaminya.
Secara tidak langsung Ayana meminta izin kepada suaminya tersebut, karena kini dia sudah memiliki suami dan apa pun yang akan dia lakukan harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari suaminya.
"Boleh dong, Yang. Sangat boleh, pergilah!" ujar Sandi.
"Terima kasih," jawab Ayana yang langsung mengecup bibir suaminya. Lalu, dia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar utama.
Saat tiba di dalam kamar utama, Ayana nampak menggelengkan kepalanya. Dia merasa lucu saat melihat adiknya yang sedang tertidur dengan begitu pulas di atas tempat tidur kedua orang tuanya.
Kasur itu nampak begitu berantakan, sepertinya anak itu tidurnya tidak bisa diam. Ayana lalu menghampiri adiknya dan duduk di tepian tempat tidur.
"Semoga saja kalau Al bangun, dia tidak ingin menyusul buna," ujar Ayana.
Di lain tempat.
Aruna sudah sadarkan diri, wanita itu nampak mengantarkan jenazah Sahrul dan juga Arin menuju kampung halamannya.
Sepanjang perjalanan menuju kampung Sahrul, Aruna terus saja menangis seraya memeluk suaminya. Dia benar-benar merasa sedih karena setelah delapan belas tahun berpisah dan baru bertemu sebentar, kini mereka dipisahkan.
Jika saja dipisahkan oleh jarak dan waktu, Aruna masih bisa bertemu dengan sahabatnya itu. Namun, masalahnya Arin dan juga Sahrul kini sudah dipanggil oleh Sang Khalik.
Itu artinya dia sudah tidak bisa bertemu kembali dengan sahabatnya itu, dia hanya bisa mengenang kebaikan yang dilakukan oleh sahabatnya itu kepada dirinya.
Lalu, bagaimana dengan Anisa?
Gadis remaja itu masih dalam keadaan koma, dia belum sadarkan diri sampai saat ini. Sepertinya hal itu disebabkan karena Anisa mengalami benturan yang begitu keras.
"Sabar, Sayang. Jangan menangis terus, nanti kamu malah sakit,'' ujar Sigit seraya mengelusi punggung istrinya.
__ADS_1
"Hem!"
Hanya suara deheman saja yang keluar dari bibir Aruna, karena dia benar-benar merasa sedih sekali. Dia benar-benar merasa kehilangan sahabat terbaiknya.