Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 63


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, sigit dan juga Aruna mengajak Ayaka untuk bertemu dengan Almira.


Karena walau bagaimanapun juga, Ayaka adalah cucu kandung dari Almira. Rasanya tidak mungkin kalau Aruna dan juga Sigit langsung menyerahkan Ayaka begitu saja ke panti asuhan.


Mereka berdua sungguh berharap jika Almira terketuk hatinya untuk mengasuh Ayaka, karena walau bagaimanapun juga diasuh oleh nenek kandungnya sepertinya akan lebih baik daripada dititipkan di panti asuhan.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Almira, Ayaka hanya terdiam seraya menolehkan wajahnya ke arah jalanan. Gadis kecil itu seakan tidak tahu harus melakukan apa.


Saat tiba di kediaman Rahardi Aruna menuntun Ayaka untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Ayaka yang tidak mengetahui jika Aruna adalah mantan istri dari Sam hanya menuruti apa yang diminta oleh wanita itu.


Saat tiba di dalam kediaman Rahardi, Almira terlihat begitu kesal ketika menatap wajah Ayaka yang begitu mirip dengan Sam. Bukannya kasihan atau merasa iba terhadap gadis kecil itu, justru emosi Almira malah semakin memuncak.


Wanita itu terdiam seraya berusaha untuk menahan emosinya, dia memejamkan matanya seraya memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.


"Maaf, Aruna, Sayang. Mom tidak bisa mengasuh gadis kecil itu," ujar Almira dengan penuh sesal


Tidak ada reaksi apa pun dari Ayaka, gadis kecil itu seolah terdiam dengan pikiran yang tidak bisa ditebak. Berbeda dengan Aruna dan Sigit yang terlihat kaget saat mendengar keputusan dari Almira.


Karena wanita yang merupakan ibu kandung dari Sam itu benar-benar tidak mau menerima kedatangan Ayaka, padahal menurut mereka Ayaka masih butuh perlindungan dan pengasuhan dari keluarga kandungnya.


"Baiklah, Mom. Maaf jika kedatanganku mengganggu, semoga Mom sehat selalu. Aku pergi dulu ke panti," ujar Aruna.


Aruna memeluk Almira, setelah itu dia pergi bersama dengan Sigit dan juga Ayaka menuju panti asuhan untuk menitipkan gadis kecil itu.


Selama perjalanan menuju panti asuhan, Ayaka tetap saja terdiam. Gadis kecil itu seperti memiliki beban yang begitu berat, rasanya Aruna begitu kasihan kepada anak itu.


Ayaka hanyalah korban, sayangnya Aruna tidak bisa mengurus Ayaka. Karena walau bagaimanapun juga dia akan tetap terluka, begitupun dengan Ayana.


Sampai di panti asuhan, Sigit dan juga Aruna langsung menitipkan Ayana pada pengurus panti. Ayaka hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun saat diantarkan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Maafkan Tante, Sayang. Tante tidak bisa mengurusi kamu, semoga kamu betah di sini." Aruna tersenyum lalu memeluk gadis kecil itu.


"Terima kasih, Tante," ujar Ayaka seraya memeluk Aruna dan menangis di dalam pelukan wanita itu.


Sedih sekali saat mendengar Ayaka menangis di dalam pelukannya, dia malah teringat akan putri cantiknya, Ayana. Dia pasti akan sangat sedih jika ada di dalam posisi seperti itu.


"Baik-baik di sini ya, Sayang. Tante akan usahakan untuk sering mengunjungi kamu," ujar Aruna.


Walaupun tidak janji, dia akan usahakan untuk menemui Ayaka. Karena gadis kecil itu tetap butuh perhatian, terlepas dari kesalahan kedua orang tuanya, Ayaka tetap anak kecil yang tidak berdosa.


"Ya, Tante," jawab Ayaka.


Tidak lama kemudian Aruna nampak melerai pelukannya, lalu dia mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi gadis kecil itu.


Walaupun merasa tidak tega, tetapi pada akhirnya Aruna meninggalkan Ayaka di panti asuhan tersebut. Dia harus segera kembali karena waktu sudah malam, dia tidak ingin membiarkan putri cantiknya menunggu.


"Jangan bersedih, mending kamu cepat mandi dan segera laksanakan shalat isya. Kalau mau hati lebih tenang, jangan lupa untuk shalat malam. Bayakin denger shalawatan sama dengan bacaan surat pendek," pesan Sigit ketika dia memberhentikan mobilnya tepat di kediaman Dinata.


Sigit turun dan membukakan pintu mobil untuk Aruna, Aruna tersenyum lalu turun dari mobil tersebut dan berkata.


"Terima kasih untuk waktunya, karena kamu selalu mau menyempatkan waktu untuk aku." Aruna menutup pintu mobilnya dan menatap Sigit dengan lekat.


"Sama-sama, terima kasih juga karena kamu sudah mau memberikan kesempatan untuk aku."


"Hem!" jawab Aruna.


Setelah mengatakan hal itu, Aruna segera masuk ke kediaman Dinata. Sedangkan Sigit langsung pulang ke kediaman Siregar, dia sudah sangat lelah ingin mandi dan juga ingin beristirahat.


Saat Aruna masuk ke dalam kamarnya, Ayana yang begitu merindukan ibunya langsung melompat ke dalam pelukan Aruna. Gadis kecil itu bahkan langsung mengecup pipi ibunya beberapa kali.

__ADS_1


Padahal, mereka baru setengah hari tidak bertemu, tetapi Ayana terlihat sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan ibunya tersebut.


"Ay kangen, Buna. Kenapa pergi ngga ajak Ay?" tanya Ayana.


"Buna ada urusan, Sayang. Maaf," jawab Aruna tanpa berani mengatakan jika dirinya baru saja mengantarkan Ayaka menuju panti asuhan.


Walaupun dia merasa kasihan terhadap gadis kecil itu, tetapi tetap saja dia harus mengingat tentang bagaimana perasaan Ayana. Karena awal bagaimanapun juga Ayaka pernah menyakiti putrinya.


"Iya, Buna. Ngga apa-apa, Ay ngerti. Oiya, Buna. Ay belum makan loh, kita makan sama-sama yuk?" ajak Ayaka.


Ayaka sengaja tidak ikut makan bersama dengan keluarga Dinata, karena dia ingin makan bersama dengan bundanya.


"Boleh, Sayang. Tapi Buna-nya mandi dulu," ujar Aruna.


"Oke, Ay tunggu di ruang makan." Ayana langsung turun dari gendongan Aruna, lalu gadis kecil itu keluar dari kamar tersebut


keesokan harinya


Aruna menjalani harinya seperti biasanya, dimulai dari mengantarkan Ayana sekolah lalu dia pergi ke perusahaan Dinata untuk membantu Sagara karena hari ini ada kilen penting dari luar kota.


Siang harinya Aruna pergi untuk menjemput Ayana, lalu dia mengajak anaknya untuk pergi ke rumah pak ustad karena di sana mereka akan belajar shalat berjamaah dan juga belajar membaca Al Qur'an bersama anak-anak lainnya.


Kedua wanita cantik berbeda generasi itu begitu serius dalam belajar, mereka bahkan menghabiskan waktu sampai sore hari tiba.


Selepas melakukan shalat ashar, Aruna memutuskan untuk pulang. Namun, baru saja dia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering dengan begitu kencang.


Dengan cepat Aruna mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari panti asuhan tersebut, hatinya tiba-tiba saja menjadi was-was.


''Assalamualaikum, Bu. Ada apa, ya?" tanya Aruna dengan sopan kepada pemilik panti asuhan itu.

__ADS_1


Jujur saja hatinya tiba-tiba saja merasa tidak enak mendapatkan telepon dari pemilik panti, karena dia berkata akan menghubungi Aruna jika ada sesuatu hal yang penting.


"Ehm! Anu, Nyonya. Ayaka hilang, sudah dicari ke mana-mana tapi tidak ditemukan."


__ADS_2