
Kenzo yang melihat kepergian Anaya hanya terdiam seraya mengusap bibirnya, bibirnya yang masih basah karena duel perdana yang baru saja dia rasakan dengan Anaya. Dia tidak menyangka jika dirinya mampu melakukan hal senekat itu.
Namun, sungguh Kenzo melakukan hal itu bukan karena napsu semata. Akan tetapi, dia hanya ingin menunjukkan tentang perasaannya yang begitu tulus kepada wanita itu. Perasaan yang sulit untuk dilanjutkan pada sebuah hubungan yang lebih dari kata teman.
Akan tetapi, pria itu tidak menyesali apa yang sudah dia lakukan. Karena setidaknya walaupun tidak bisa menyatukan hubungannya dengan Anaya, tetapi dia masih bisa merasakan manisnya bibir wanita itu.
Rasanya benar-benar sangat manis, bahkan jika boleh Kenzo ingin merasakan kembali manisnya bibir itu.
"Semoga saja setelah kejadian ini sikapnya tidak berubah terhadapku," doa Kenzo sebelum dia pergi ke dalam kamarnya.
Tentunya Kenzo tidak mau hubungannya menjauh dengan Anaya karena mereka masih dua hari berada di sana, besok bahkan dari pihak sekolah akan mengadakan kunjungan ke Candi Prambanan dan juga Pantai Parangtritis.
Kenzo ingin mengajak Anaya untuk bermain di pantai, dia berharap jika wanita itu tidak marah dan mau menghabiskan waktu untuk bermain di pantai dengan dirinya.
Saat tiba di dalam kamar, Kenzo terlihat begitu gelisah. Teman-teman satu kamarnya bahkan nampak menggoda dirinya, karena pria itu seperti seorang pria yang begitu merindukan kekasihnya.
"Cie! Roman-romannya lagi galau nih karena jauh dari Ayang."
"Ehm! Sepertinya Kenzo punya pacar di belakang kita, tetapi tidak mau mempublikasikannya."
"Hebat loh kalau sampai ada cewek yang bisa naklukin hati Ken, pria super dingin di sekolah kita."
"Eh? Semoga saja cewek yang jadi pacarnya Ken tidak akan membeku, karena Ken tidak hangat sama sekali."
Itulah kata-kata yang teman-teman Kenzo katakan, mereka nampak sengaja menggoda pria dingin itu.
Namun, dia tidak menggubris apa pun ucapan dari para teman-temannya itu. Walaupun dia merasa susah tidur, tetapi Kenzo berusaha untuk memejamkan matanya.
Kenzo tidak mau mendengarkan kata-kata temannya, karena takutnya dia malah merasa semakin pusing dan terbayang-bayangi Anaya yang pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Hal serupa juga dirasakan oleh Stefano, waktu sudah larut malam, tetapi dia tidak bisa tidur karena istrinya benar-benar dirasa sangat aneh. sikap Ayaka nampak berbeda dari biasanya, dirasa sangat memusingkan.
Selepas makan malam Ayaka mengeluh kepalanya terasa pusing, Stefano berpikir jika istrinya itu pasti sangatlah kelelahan. Pada akhirnya dia memutuskan untuk memijat kepala istrinya, bahkan dia juga memijat punggung istrinya menggunakan minyak hangat.
Setelah dipijat istrinya itu nampak tertidur dengan begitu lelap, tetapi tidak lama kemudian istrinya terbangun kembali. Ayaka berkata jika kepalanya kembali pusing, Ayaka bahkan berkata ingin memakan mie kuah yang sangat pedas.
Awalnya Stefano tidak mengizinkan, karena istrinya itu memang tidak terbiasa dengan makan makanan yang pedas. Ayaka dari dulu selalu menyukai makanan manis.
Stefano takut jika istrinya itu akan sakit, tetapi Ayaka malah merengek dan hampir menangis. Alhasil kini Stefano sedang berada di dapur membuat mie kuah pesanan dari istrinya.
"Inget, Yang. Cabenya sepuluh, baksonya tiga aja. Terus pake sawi sama telornya dua," ujar Ayaka.
__ADS_1
Stefano yang sedang mengambil bahan pelengkap untuk memasak mie langsung menghentikan aktivitasnya, lalu dia menghampiri Ayaka dan terlihat menurunkan resleting celananya.
Tentu saja hal itu membuat Ayah kaget bukan main, dia itu sedang lapar dan ingin memakan mie yang sangat pedas. Bukan ingin diajak bercinta oleh suaminya itu, apalagi sampai bercinta di dapur dengan perut yang lapar.
Walaupun bercinta itu rasanya sangat nikmat, tetapi sungguh saat ini dia tidak sedang menginginkannya.
"Ayang mau ngapain?" tanya Ayaka dengan perasaan was-was.
Stefano nampak tertawa melihat reaksi dari istrinya tersebut, tidak lama kemudian dia mengusap-usap miliknya dan berkata.
"Tadi kamu bilang telurnya mau dua, ini dia telurnya. Boleh langsung diambil," ucap Stefano seraya mengusap-usap lato-lato miliknya.
Sontak saja hal itu membuat Ayaka begitu kaget, bahkan wanita itu dengan cepat mendekat ke arah suaminya dan berkata.
"Astagfirullah, Yang! Jangan macam-macam, yang ini telur spesial." Ayaka langsung merapikan celana milik suaminya tersebut.
Stefano sampai tertawa dibuatnya, karena Ayaka terlihat ketakutan. Padahal dirinya hanya bercanda saja, mana mungkin dia merelakan lato-lato miliknya itu untuk diseduh bersama dengan mie kuah keinginan istrinya itu.
"Iya, Sayang. Yang ini spesial punya kamu dan nggak bakal aku kasih sama siapa pun, apalagi buat diseduh sama mie yang kamu inginkan," ujar Stefano.
"Kamu tuh bikin aku deg-degan," ucap Ayaka seraya memukul pundak suaminya.
Stefano ingin sekali tertawa melihat tingkah dari Ayaka, karena tidak biasanya wanita itu gampang panik seperti itu. Bahkan, Ayaka begitu menganggap ucapannya serius.
"Ya," jawab Ayaka.
Ayaka nampak duduk di salah satu bangku yang ada di dapur, sedangkan Stefano terlihat merebus mie yang diinginkan oleh istrinya itu.
Stefano memang memasukkan cabe yang disebutkan oleh istrinya tersebut, tetapi sengaja cabenya tidak dia Iris agar tidak terlalu pedas nantinya.
Stefano juga memasukkan telur, bakso, sayuran dan bahkan Stefano memasukkan irisan daging ke dalam mie yang dia rebus. Sengaja hal itu dia lakukan agar bukan hanya mie-nya saja yang dimakan oleh Ayaka.
Beberapa saat kemudian mie yang dipesan oleh istrinya itu sudah matang, dengan cepat Stefano menyajikannya ke atas mangkok berukuran besar.
Ayaka nampak tersenyum dengan begitu lebar, karena Stefano benar-benar membuatkan mie yang sesuai dengan harapannya.
"Aku cicipin ya, Sayang?" ujar Ayaka.
"Ya, Sayang. Makanlah, jangan cuma diicip-icip aja," ujar Stefano.
Ayaka tersenyum lalu mulai mencicipi mie yang dibuatkan oleh Stefano, rasanya sangat enak. Akan tetapi, menurutnya mie itu terasa begitu pedas.
__ADS_1
Padahal cabenya masih utuh, tidak ada yang diiris sama sekali. Akan tetapi, tetap saja menurut Ayaka itu sangat pedas. Namun, Ayaka tetap memakan beberapa bakso yang dimasukkan ke dalam mie kuah itu.
"Rasanya sangat enak, Sayang. Terima kasih sudah membuatkan mie yang begitu spesial untukku, tapi sepertinya aku sudah tidak sanggup memakannya. Jadi, tolong dihabiskan ya?" ucap Ayaka tanpa rasa bersalah.
Stefano terlihat begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut, istrinya itu berkata ingin memakan mie kuah yang pedas. Mie-nya bahkan belum dimakan sama sekali, karena Ayaka baru mencicipi kuahnya saja dan mengambil beberapa baksonya.
"Tapi, Yang. Kamu belum memakan mie-nya loh," ucap Stefano.
"Pokoknya aku sudah kenyang, aku tidak mau lagi makan mie ini. Jadi, tolong dihabiskan," ucap Ayaka seraya mendorong mangkok berisikan mie kuah tersebut ke arah suaminya.
Padahal Stefano sedang tidak merasa lapar, tetapi jika harus membuang mie yang sudah dia buat, itu rasanya sangat mubazir.
"Baiklah, aku akan memakannya," ujar Stefano pada akhirnya dengan wajah yang begitu lesu.
"Makasih ya, Sayang. Kamu memang yang terbaik," ujar Ayaka seraya mencium bibir suaminya dengan begitu mesra.
"Ehm! Yang, kalau makan kamu aja boleh ngga?" tanya Stefano yang terpancing hasratnya akibat perbuatan dari istrinya tersebut.
Ayaka tersenyum dengan begitu manis lalu menganggukan kepalanya, Stefano benar-benar merasa bahagia dengan reaksi dari istrinya tersebut.
Pria itu bahkan langsung mendekatkan wajahnya karena ingin kembali mencium bibir istrinya, tetapi dengan cepat Ayaka mendorong dada suaminya dan berkata.
"Mie-nya tolong dimakan dulu, tolong dihabiskan. Setelah itu kamu boleh meminta hak kamu," ucap Ayaka seraya mengecup kening suaminya.
Lalu, Ayaka melangkahkan kakinya menuju kamar. Stefano sampai menghela napas dengan begitu berat, karena syarat yang diajukan oleh istrinya itu.
Memakan mie di malam hari bukanlah hal yang biasa dia lakukan, karena menurutnya hal itu akan membuat dia nantinya menjadi gemuk.
Dia adalah pria yang tampan dengan body yang sangat atletis, dia ingin mempertahankan bentuk tubuhnya yang atletis itu.
Karena jika dia terlalu banyak makan dan nantinya perutnya akan gendut, dia takut jika istrinya akan selingkuh dengan pria lain yang lebih tampan dan juga bodinya bagus.
"Ya ampun, dia itu keterlaluan sekali," ujar Stefano ketika melihat Ayaka menutup pintu kamar mereka.
Mau tidak mau akhirnya Stefano memakan mie yang sudah dibuat sendiri, dalam setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya, dia berdoa semoga esok hari dia tidak berubah menjadi pria yang gemuk.
Setelah memakan mie-nya sampai habis, Stefano langsung mencuci piring bekas dia makan. Lalu, dengan cepat dia masuk ke dalam kamarnya. Tentunya dia terlihat begitu semangat, karena sebentar lagi dia akan bercinta dengan istrinya tersebut.
"Ya ampun, Sayang. Kenapa kamu malah tidur?" tanya Stefano dengan lesu.
Bagaimana dia tidak lesu, jika kini dia melihat istrinya yang sedang tertidur dengan begitu pulas. Bahkan, Stefano bisa mendengar dengkuran halus dari bibir istrinya.
__ADS_1
"Kamu tega banget sama aku, Yang." Stefano duduk di tepian tempat tidur dengan lemas seraya menatap wajah cantik istrinya.