Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 102


__ADS_3

"Anu, Yang. Coba kamu lihat ini deh,'' ujar Aruna seraya memberikan amplop putih dengan logo rumah sakit terbesar di pusat kota.


"Apa ini?" tanya Sigit.


Takut?


Tentu saja Sigit merasa takut, dia takut jika istrinya tersebut mengidap penyakit berbahaya. Dia merasa tidak akan sanggup, jika harus melihat istrinya kesakitan.


"Buka aja, Yang."


Aruna terlihat menatap Sigit dengan takut-takut, dia takut jika Sigit akan kecewa dengan apa yang dia berikan. Kabar yang entah harus dirasa bahagia atau malah sedih, Aruna malah merasa ragu.


Sigit dengan perlahan membuka amplop putih yang diberikan oleh Aruna, tidak lama kemudian dahinya terlihat mengernyit dalam. Dia sedang membaca apa yang tertera pada kertas itu dengan begitu serius.


"Hamil? Kamu positif hamil?" tanya Sigit.


Wajah takut Sigit berubah menjadi binar bahagia, dia merasa senang karena akhirnya akan memiliki momongan kembali.


Di luar sana banyak yang tidak dipercaya untuk memiliki momongan, tentu saja ini merupakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi Sigit.


"Heem, Yang. Aku udah tua, tapi malah hamil lagi. Gimana dong, Yang?" tanya Aruna.


Aruna pernah mendengar jika perempuan itu tidak boleh hamil lagi ketika usianya menginjak tiga puluh lima tahun ke atas, karena itu sangat beresiko baik untuk ibu ataupun kandungannya.


Namun, di zaman sekarang ini banyak wanita yang sudah berumur malah bisa kembali mengandung. Bahkan, mereka bisa melahirkan secara normal. Tidak ada keluhan apa pun, bayi dan ibunya sehat dan selamat.


"Siapa yang bilang kamu udah tua, hem? Kamu tuh masih masih kaya anak abege, masih cantik banget. Wajah kamu juga imut-imut" ujar Sigit.


Aruna merasa senang dengan pujian yang dilontarkan oleh suaminya, karena memang selama ini Aruna begitu rajin melakukan perawatan kecantikan.


Tentunya hal itu dia lakukan karena usianya yang berbeda jauh dengan Sigit, karena bakal rutin olahraga dan juga melakukan senam kegel. Tentunya agar Sigit betah di rumah, tanpa ada niatan untuk berselingkuh dengan wanita lain.


"Kamu tuh bisa aja, usiaku sudah semakin tua. Aku takut tau," adu Aruna.


Sigit tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia mengecup bibir istrinya beberapa kali lalu kembali berkata.


"Aih! Tua dari mana? Goyangannya aja masih hot banget, maunya di atas terus," ujar Sigit.


Ya, sudah satu bulan ini Aruna selalu membangunkan Sigit kala malam hari tiba. Lalu, Aruna akan naik ke atas tubuh Sigit dan bergoyang dengan sangat lincah.

__ADS_1


Sigit awalnya merasa heran, tetapi tidak lama kemudian dia berpikir jika Aruna sengaja melakukan hal itu agar hubungan mereka tetap harmonis.


Setelah mereka bisa merasakan puncak kenikmatan, Aruna akan merengek dan meminta Sigit untuk memasak makanan yang dia suka. Aruna akan makan dengan lahap, selain karena lapar dia juga pasti kecapean karena sudah menjadi pengendali.


Namun, ini dia paham kenapa sifat Aruna berubah drastis. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, bukan karena takut Sigit berpindah ke lain hati.


Aruna memang mencintai Sigit, tetapi wanita itu sempat berkata jika Sigit berani macam-macam terhadap dirinya, atau pria itu memilih untuk berselingkuh, Aruna tidak akan memperjuangkan Sigit.


Karena itu artinya Sigit bukanlah orang yang layak untuk dirinya, karena pria yang mencintai pasangannya tidak akan pernah menduakan wanitanya.


Aruna adalah wanita yang pernah diduakan, Aruna adalah wanita yang pernah disakiti oleh suaminya pada pernikahan pertamanya, tentunya dia tidak ingin disakiti lagi oleh Sigit.


Jadi, jika Sigit benar-benar selingkuh, lebih baik dia melepaskan Sigit dan menjalani kehidupannya dengan anak dan juga keluarganya.


"Mas, ih! Malu, akunya. Jangan diomongin juga," ujar Aruna seraya mengusap-usap dada suaminya.


Bahkan, tangan itu terlihat turun untuk mengusap perut Sigit. Tanpa ragu Aruna juga mengusap-usap milik suaminya, Sigit sampai menahan napasnya karena ulah dari istrinya tersebut.


"Ck! Jangan kaya gini juga, nanti aku pengen. Kamu tuh lagi hamil, aku ngga bisa sembarangan kalau pengen." Sigit menyingkirkan tangan Aruna agar tidak menyentuh sesuka hatinya.


Namun, di dalam hatinya Sigit merasa begitu bersyukur. Karena Aruna mau berdekatan dengan dirinya, padahal di kehamilan yang pertama Sigit begitu tersiksa.


"Tapi akunya beneran pengen, boleh ngga?" tanya Aruna.


Sigit juga merasakan hal yang sama, dia juga menginginkan istrinya. Namun, dia salah sadar jika istrinya tersebut sedang mengandung.


"Akunya lagi kerja, Yang. Lagian kasian Ken di rumah sendirian, kamu pulang aja." Sigit kembali menyingkirkan tangan Aruna, karena tangan istrinya tersebut sudah menelusup masuk ke dalam celananya.


"Ck! Ken sedang pergi sama Saga," jawab Aruna.


Namun, tangan Aruna tetap saja bermain pada milik Sigit. Bahkan, Aruna memelintir ujung jamur milik suaminya itu.


"Aduh, Yang. Ngilu," ujar Sigit seraya merapatkan kedua pahanya.


Sigit bahkan sampai memejamkan matanya, sungguh perbuatan istrinya itu benar-benar di luar dugaan. Sigit sepertinya harus waspada, jangan sampai Aruna berbuat aneh-aneh terhadapnya.


"Aih! Kamu tuh pakai malu-malu segala, udah kayak anak perawan aja. Pura-pura nggak mau lagi, padahal itunya udah bangun. Basah lagi," ujar Aruna kala merasakan milik suaminya ngiler.


Aruna menatap Sigit dengan lekat, dia bahkan terlihat menggigit bibir bawahnya. Tidak lama kemudian wanita itu terlihat mengerlingkan sebelah matanya, Aruna seakan sengaja berusaha untuk menggoda suamimya.

__ADS_1


"Ck! Bukan begitu, Yang. Satu jam lagi aku ada meeting, ngga mungkin juga aku---"


Sigit langsung menghentikan ucapannya, karena Aruna sudah meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Dia berdiri di kedua kakinya, lalu tangan itu dengan nakalnya membuka resleting celana yang dipakai oleh suaminya.


Lalu, dengan cepat dia mengeluarkan milik suaminya yang terlihat sudah membesar itu. Tanpa ragu Aruna langsung menyesap ujung jamur milik Sigit.


"Shitt!" umpat Sigit kala dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika hisapan bibir Aruna seakan menelan miliknya yang sudah berdiri tegak di dalam bibir istrinya tersebut.


Aruna tidak menghiraukan umpatan suaminya, dia malah sengaja mempermainkan lato-lato milik suaminya dan sesekali memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Yang!" panggil Sigit seraya merapikan rambut istrinya.


Ini benar-benar sangat nikmat, ini adalah hal yang benar-benar diinginkan oleh suaminya. Namun, ini bukanlah waktu yang tepat.


"Mau," rengek Aruna seraya bangun dan langsung membuka kain segitiga miliknya dan langsung menelan milik suaminya dengan liang kelembutan miliknya.


Aruna datang dengan menggunakan dress di atas lutut, tentunya hal itu mempermudah Aruna untuk melancarkan aksinya.


Sigit langsung mengerang penuh nikmat, perbuatan istrinya tersebut selalu saja bisa membuat dirinya hilang akal. Namun, dia berusaha untuk menjaga kewarasannya.


Dengan cepat dia mengambil ponselnya, lalu dia mengirimkan pesan chat kepada Ben. Dia meminta kepada pria itu agar acara meeting diundur selama 1 jam ke depan, karena dia tidak mungkin menolak keinginan istrinya.


Wanita itu sedang mengandung benihnya, jika Sigit tidak menuruti keinginannya, maka tamatlah riwayatnya. Lagi pula dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang begitu berharga ini.


Dulu di saat Aruna mengandung Kenzo, Sigit begitu tersiksa karena Aruna tidak bisa dekat-dekat dengan dirinya. Kini dia harus memanfaatkan keadaan, yang terpenting jangan sampai membahayakan janin yang sedang tumbuh di dalam rahim Istrinya.


Di saat Sigit sedang asik menikmati goyangan Istrinya, ponsel miliknya tiba-tiba saja berdenting. Sigit yang takut ada kabar penting pun langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan chat yang ternyata dikirimkan oleh Ben itu.


"Tuan Matiew sedang dalam perjalanan, setengah jam lagi dia sampai."


Sigit benar-benar kaget saat membaca pesan dari Ben, tetapi dia juga tidak mungkin melewatkan suguhan kenikmatan yang diberikan oleh istrinya kali ini.


"Jamu dia terlebih dahulu jika sudah datang, aku tidak bisa datang tepat waktu."


Setelah mengirimkan pesan kepada Ben, Sigit langsung mematikan ponselnya. Lalu, dia memejamkan matanya seraya menurunkan dress yang dipakai oleh istrinya.


"Oh ya ampun! Dia sangat besar dan padat," ujar Sigit kala melihat dada istrinya yang begitu menantang.


Aruna tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Sigit, dia terus saja menggoyangkan pinggulnya seraya mencengkram kuat pundak suaminya.

__ADS_1


"Enak, Yang." Aruna menengadahkan wajahnya ketika Sigit mulai menyesap ujung dada Aruna.


__ADS_2