Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 18


__ADS_3

Aruna benar-benar merasakan sakit hati yang luar biasa mengetahui kenyataan pahit ini, untuk meluapkan kesedihannya Aruna malah duduk di bangku taman yang tidak jauh dari perumahan elit tersebut.


Dia meluapkan kesedihannya di sana, dia menangis tanpa suara seraya memegangi dadanya yang begitu sesak. Matanya sampai terlihat membengkak karena terlalu lama menangis, sesekali dia akan menyusut air matanya dan juga ingusnya dengan ujung baju yang dia pakai.


"Aih! Kakak tuh jorok banget, masa ngelap air mata sama ingus pake baju. Nih pake sapu tangan aku," ujar seorang pria muda seraya menyerahkan sapu tangan kepada Aruna.


Untuk sesaat Aruna terdiam, dia mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah pria muda yang ada di hadapannya. Pria muda itu sangat tampan dan terlihat sangat baik juga pengertian.


"Jangan bengong, apa perlu aku yang mengusap air mata Kakak?" tanya pria muda itu lagi.


Pria muda itu menatap Aruna dengan penuh rasa iba, pria itu seakan tidak tega jika melihat wanita yang menangis seperti itu.


"Eh? Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Aruna mengambil sapu tangan dari tangan pria muda itu, lalu dia mengelap air mata dan juga ingusnya.


Aruna bahkan membuang sisa-sisa ingusnya pada sapu tangan tersebut, pria muda yang sejak tadi berdiri di hadapan Aruna langsung tertawa dan segera duduk tepat di samping wanita itu.


"Kakak itu jorok!" cibirnya.


"Anak kecil ngga perlu berisik, tapi terima kasih untuk sapu tangannya." Aruna hendak mengembalikan sapu tangan tersebut, tetapi pria muda itu terlihat menatap jijik ke arah sapu tangan miliknya.


"Bener-bener jorok, ada ingusnya Kakak loh. Kenapa malah mau diberikan sama aku?" keluhnya.


Aruna langsung melipat sapu tangan tersebut, lalu dia memasukkan sapu tangan tersebut ke dalam tas miliknya.

__ADS_1


"Ya udah, nanti aku cuci dulu, baru aku balikin ke kami. Kamu anak kecil ngapain berkeliaran di jam pelajaran seperti ini?"


Pria itu merasa terima dengan apa yang dipertanyakan oleh Aruna, dengan cepat dia pun melayangkan protesnya.


"Eh? Aku ini sudah lulus kuliah, bahkan aku sudah lulus S2. Aku baru pulang ke tanah air satu minggu yang lalu, Jangan pernah bilang aku anak kecil." Pria muda itu nampak mencebik dengan tidak suka.


karena benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu, dia bahkan sampai membulatkan matanya dengan bibir yang menganga lebar. Namun, tidak lama kemudian Aruna berkata.


"Iya, kah? Tapi wajah kamu kayak anak SMA," celetuk Aruna seraya tertawa.


"Astagfirullah! Ternyata di mana pun wanita itu selalu terlihat aneh, kamu saja tadi menangis sampai sesenggukan. Kaya orang pesakitan tahu nggak! Sekarang kamu malah tertawa-tawa, aneh!" keluh pria itu.


"Kamu tuh berisik! Sono pulang, kalau ngga kamu seharusnya bekerja. Masa lulusan S2 ngga kerja?" ledek Aruna.


"Satu minggu lagi aku akan memimpin perusahaan milik ayah yang sudah lama ditinggalkan, kalau kamu butuh pekerjaan. Kamu boleh bekerja di perusahaanku, nanti kamu bisa menjadi sekretarisku." Pria muda itu nampak merogoh saku celananya, lalu dia memberikan kartu namanya kepada Aruna.


"Sagara Arsenio Dinta, Dinata?" ulang Aruna dengan penuh tanya.


Seingatnya nama Dinata adalah marganya, setelah 6 tahun lamanya kini dia baru mengingat kembali jika dirinya belum sama sekali mencari tahu tentang keberadaan kedua orang tuanya.


"Kenapa? Kok kata kaget gitu?" tanya Sagara.


"Coba sebutkan nama lengkap kamu!" pinta Aruna.

__ADS_1


"Sagara Arsenio Dinata," jawab Sagara.


"Sekarang coba sebutkan nama lengkap kedua orang tua kamu," pinta Aruna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nama ayah Satria Putra Dinata, terus kalau bunda namanya Rachel Dinata. Memangnya kenapa sih?" tanya Sagara kebingungan.


"Lalu, ke mana saja kamu selama ini?" tanya Aruna.


"Aku dan keluargaku pergi ke luar negeri, selama ini kami tinggal di sana. Memangnya kenapa?" tanya Sagara.


Aruna kembali menangis mendengar apa yang dikatakan oleh Sagara, tanpa sadar dia bahkan langsung memeluk tubuh kekar pria muda yang ada di sampingnya.


Sagara langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, dia merasa bingung harus merespon perlakuan dari Aruna itu seperti apa.


"Hey! Jangan tiba-tiba memelukku seperti ini, nanti bisa salah paham loh." Sagara mencoba melepaskan diri dari Aruna, tetapi Aruna malah mengeratkan pelukannya.


Sebenarnya Aruna ingin sekali berkata jika dia adalah kakak kandung dari Sagara, tetapi jika dia langsung mengatakan hal itu, rasanya Sagara tidak akan langsung percaya.


"Aku itu lagi sedih, suami aku berselingkuh dengan wanita lain. Dia bahkan sudah memiliki anak dari wanita itu, aku harus bagaimana?" tanya Aruna pada akhirnya.


"Jawabannya cuma dua, jika mampu kamu harus bertahan. Jika tidak mampu maka lepaskan, Tuhan memang membenci yang namanya perceraian. Namun, jika pria yang sudah menjadi suami kamu itu menyakiti kamu terlalu berlebihan, maka kamu boleh memilih jalan untuk bercerai."


Aruna semakin menangis mendengar apa yang dikatakan oleh pria muda yang ada di dalam pelukannya, karena dia merasa jika adiknya itu benar-benar sangat bijak dalam berbicara.

__ADS_1


"Jadi, menurut kamu apa yang harus aku lakukan? Karena jika untuk memaafkan rasanya aku tidak bisa," ujar Aruna.


"Kamu harus--"


__ADS_2