Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 73


__ADS_3

Aih! Pantes aja banyak orang yang pengen punya suami bule, itunya gede banget,' ujar Aruna dalam hati.


"Yang, kenapa kamu malah diem aja? Kenapa kamu malah lihatin itu aku? Udah ngga sabar ya mau ngambil keperjakaan aku?" tanya Sigit.


Ya ampun, Aruna benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut. Pria itu seakan menuduh dirinya yang sudah tidak sabar ingin bercinta dengan pria itu, tetapi nyatanya Sigit yang terlihat begitu tidak sabar.


"Hah? Maksudnya bagaimana?" tanya Aruna yang merasa tidak percaya dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya itu.


Sigit malah tersenyum seraya menaik turunkan alisnya, dia seolah menggoda istrinya itu. Aruna adalah seorang janda, dia pastinya sudah berpengalaman dalam urusan ranjang.


Rasanya Sigit tidak perlu berbasa-basi lagi, karena Aruna pastinya sudah lebih ahli dari dirinya dalam urusan ranjang.


"Kamu pasti ngga sabar buat ngambil keperjakaan aku, makanya kamu diam aja. Ayo, Sayang. Jangan malu-malu, kalau mau pegang dulu juga boleh." Sigit menuntun tangan Aruna untuk menyentuh miliknya.


Aruna menggigit bibir bawahnya seraya mengusap-usap benda yang yang masih terlindung dengan bungkusnya itu, Sigit tersenyum lalu dengan tidak sabarnya dia membuka sisa kain yang melekat di tubuhnya.


"Wow!" puji Aruna.


Ternyata dugaan yang sangat benar, milik suaminya itu sangatlah besar. Bentuknya juga berbeda dengan punya mantan suaminya, Sam. Punya Sigit terlihat lebih bagus dan terlihat begitu kekar di mata Aruna.


"Kenapa, Sayang?" tanya Sigit penasaran.


"Tidak apa-apa, hanya kaget saja. Maklum, aku sudah lama tidak melihat itu," jawab Aruna secara asal.


"Serius? Tapi, cara kamu menatap punyaku beda loh!" ujar Sigit.


Dia takut jika istri itu berpikiran tentang hal yang tidak-tidak, karena Aruna terus saja menatap miliknya dengan tatapan yang berbeda dan begitu sulit untuk diartikan.


"Itu, anu. Kok bentuknya beda?" tanya Aruna.


Sigit langsung tertawa mendengar pertanyaan dari istrinya, karena kini dia paham ke mana arah pembicaraan istrinya tersebut.


"Aku ini seorang muslim, tentu saja topinya sudah dibuang ketika aku berusia 6 tahun. Dalam Islam ada tradisi yang namanya disunat, anak lelaki yang sudah siap akan disunat dengan cara dipotong penutup kepala jamurnya. Begitu, Yang," jelas Sigit.


"Oh!" ujar Aruna seraya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sudah paham.


"Selain untuk kebersihan, bentuknya juga terlihat lebih tampan. Rasanya juga pasti berbeda dengan punya mantan kamu itu," ujar Sigit membanggakan.


"Mana ada, pasti rasanya sama saja. Hanya bentuknya memang sedikit berbeda," sangkal Aruna.

__ADS_1


"Kalau gitu kita buktikan," ujar Sigit bersemangat.


Sigit langsung mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya, lalu dia menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya hingga melebur menjadi satu.


Tangannya dengan tidak sabar membuka kain yang melekat pada tubuh Istrinya, Aruna sampai tidak sadar dengan apa yang dilakukan oleh Sigit, karena pria itu dengan lihainya bermain dengan bibirnya.


Setelah kain yang melekat di tubuh Aruna hilang entah ke mana, Sigit mulai meremat dan juga memilin ujung dada istrinya. Aruna sampai menggeliatkan tubuhnya karena rasa geli dan juga nikmat bercampur aduk menjadi satu.


Tidak lama kemudian, Sigit nampak mendorong masuk miliknya ke dalam inti tubuh Istrinya. Aruna adalah seorang janda, banyak orang berkata jika bercinta dengan seorang janda akan lebih mudah daripada bercinta dengan seorang perawan.


"Aduh! Sakit!" keluh Aruna ketika merasakan milik suaminya menerobos masuk ke dalam inti tubuhnya.


"Eh? Sakit, ya?" tanya Sigit ketika dia merasakan miliknya terjepit dengan begitu kuat oleh milik istrinya.


Bahkan, dia merasakan jika milik istrinya berkedut dengan kuat. Aruna seperti sedang menahan rasa sakit yang terjadi akibat ulahnya.


"Katanya kalau Janda udah ngga akan mengalami rasa sakit lagi? Kok kamu kesakitan?" tanya Sigit penasaran.


Mendengar ucapan dari suaminya, sontak saja Aruna terlihat begitu marah. Dia bahkan langsung memukul dada suaminya itu, Sigit sampai meringis dibuatnya.


"Aku tuh udah lama ngga ngelakuin itu, lagi pula aku sering berolahraga dan juga senam kegel." Aruna langsung mengerucutkan bibirnya setelah mengatakan hal itu.


"Akh!" jerit Aruna seraya mencengkram kuat pundak Sigit.


Dia tidak menyangka akan kembali merasakan kesakitan saat dimasuki oleh milik Sigit, mungkinkah karena dirinya memang sudah lama tidak melakukannya atau memang milik suaminya yang kebesaran.


"Maaf, Yang. Tapi aku ngga bisa berhenti," ujar Sigit yang terus saja menggoyangkan pinggulnya.


Aruna hanya bisa terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, sesekali dia akan menggigit pundak Sigit. Lalu, dia akan mencengkram kuat pundak suaminya itu.


Sigit tidak keberatan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Istrinya, karena justru hal itu membuat dirinya semakin bersemangat untuk menumbuk milik istrinya.


"Enak, Yang. Kamu sangat nikmat, rapet banget. Punya aku kejepi ini," ujar Sigit meracau.


Rasanya benar-benar sangat nikmat, dia seolah tidak mau berhenti untuk bercinta dengan istrinya. Sigit tersenyum lalu menunduk untuk menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya, tangan kirinya juga dia gunakan untuk meremat dada istrinya yang terlihat besar itu.


"Aduh, Yang. Aku ngga tahan pengen keluar," ujar Sigit setelah dia menggoyangkan pinggulnya selama lima belas menit.


"Jangan!" pekik Aruna seraya mendorong dada suaminya.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat milik Sigit langsung terlepas dari liang kelembutan milik Aruna, Aruna merasa tidak rela jika Sigit akan sampai pada puncaknya.


Dia baru saja merasakan kenikmatan surgawi setelah beberapa saat yang lalu dia merasa kesakitan, Aruna merasa tidak ikhlas jika Sigit keluar duluan sedangkan dirinya baru saja mulai merasakan enaknya.


"Aduh, Yang!"


Sigit terlihat mengeluh dan melayangkan tatapan penuh protes kepada istrinya, kaget dan juga kesal yang dia rasakan saat ini.


"Kamu tuh kenapa sih?" tanya Sigit.


"Aku masih pengen, masa kamunya udah mau keluar aja." Aruna langsung bangun dan menuntun Sigit agar merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kamu mau apa?" tanya Sigit yang melihat Aruna duduk di atas kedua pahanya.


"Mau ini," jawab Aruna seraya memainkan milik suaminya.


Sigit langsung memejamkan matanya, dia sedang menikmati sensasi kenikmatan yang disuguhkan oleh Istrinya. Aruna memosisikan milik suaminya dan tidak lama kemudian milik Sigit sudah tertelan dengan sempurna oleh liang kelembutan miliknya.


"Ouch! Sayang, ini sangat nikmat." Sigit langsung menahan kedua paha istrinya, lalu menghujam inti tubuh istrinya dari bawah.


Aruna sampai menengadahkan wajahnya, dia bahkan meremat kedua dadanya seraya menggigit bibir bawahnya. Seksi sekali penampilan Aruna di mata Sigit, hal itu tentu saja membuat Sigit semakin bersemangat untuk mencari dan memberikan kepuasan.


Sesekali Aruna yang akan menjadi pengendali, sesekali Sigit yang akan menghentak milik Aruna dari bawah. Begitulah yang terjadi, mereka seolah bergantian untuk memberikan kenikmatan.


"Ouch! Aku, aku mau sampe." Aruna langsung menunduk dan memeluk Sigit dengan begitu erat.


Melihat tingkah dari istrinya, Sigit mempercepat hentakkannya. Tentu saja hal itu membuat Aruna dengan cepat mencapai puncaknya, Sigit tersenyum dengan penuh kepuasan.


Karena dia bisa merasakan jika milik istrinya berkedut dan terasa lebih menjepit miliknya, dia merasa bangga karena bisa membuat istrinya merasakan kenikmatan mencapai puncak.


"Sekarang giliran aku," ujar Sigit yang langsung melepaskan miliknya.


Dengan cepat Sigit meminta Aruna untuk bangun dan membelakangi dirinya, Sigit tersenyum kala Aruna menuruti permintaannya.


Tanpa ragu Sigit mengentak istrinya dari belakang seraya menekan bokong bulat istrinya, tidak lama kemudian Sigit merasakan ada yang keluar dari miliknya.


"Ouch! Enak banget, Yang." Sigit memeluk Aruna, lalu dia meremat kedua dada istrinya dan mengecupi punggung polos Aruna.


"Hem!" jawab Aruna dengan deheman saja, karena dia juga kini sedang menikmati pelepasannya untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2