Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 161


__ADS_3

Ayaka merasa jika dirinya kini sudah ketularan messum, karena setiap melihat Stefano tanpa sehelai benang pun, Ayaka selalu membayangkan hal yang tidak tidak.


Terlebih lagi saat ini dia melihat milik suaminya yang nampak berdiri dengan begitu tegak, rasanya Ayaka ingin segera ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Lalu, dia ingin segera meminta suaminya untuk segera menghentak inti tubuhnya. Karena semakin lama dia melihat keperkasaan suaminya, rasanya miliknya berkedut dengan kuat dan terasa ingin segera dimasuki.


Ayaka terkadang begitu heran dengan kekuasaan Tuhan, keperkasaan milik suaminya itu awalnya terlihat biasa saja, tetapi bisa mengembang dan terasa begitu keras bagaikan batu.


Bahkan, milik suaminya itu mampu memuaskan dirinya. Milik pria itu mampu membuat Ayaka menjerit-jerit keenakan. Sungguh ini adalah hal yang diluar nalar manusia.


Kalau sudah seperti itu, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan coba. Hanya dengan bernapas dan bisa makan dengan enak saja, sebenarnya itu sudah merupakan kenikmatan yang luar biasa.


Diberikan tubuh yang normal, bisa bergerak dengan bebas dan juga bisa berbicara dengan normal, itu benar-benar kenikmatan yang luar biasa.


Namun, banyak sekali orang-orang di luar sana yang tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Maka dari itu mereka tidak pernah bersyukur karena merasa kurang dan kurang.


"Yang! Buruan dong, jangan lama-lama pake skin care-nya," protes Stefano.


Karena setelah istrinya itu membersihkan make up di wajahnya, Ayaka kini terlihat sedang mengoleskan skin care pada wajahnya itu.


Banyak pria yang berkata jika mereka mencintai wanita itu apa adanya, tetapi nyatanya jika ada dananya, tentu para pria ingin melihat wanita pujaan hatinya tampil dengan sempurna dan paripurna.


"Bentar, Yang." Ayaka lalu mempercepat aktivitasnya, setelah itu dia langsung menghampiri suaminya dan duduk di tepian tempat tidur.


Ayaka menatap wajah Stefano dengan penuh cinta, tidak lama kemudian Ayaka juga menatap keperkasaan suaminya yang tampak begitu menegang.


Stefano tersenyum dengan begitu lebar, lalu dia membantu istrinya untuk melucuti pakaian yang Ayaka kenakan dengan tidak sabarnya.


"Kamu sangat cantik dan juga seksi, malam ini aku mau kamu yang goyang." Stefano langsung menunduk dan menyusu layaknya seorang bayi.

__ADS_1


Ayaka nampak kegelian, dia juga merasakan kenikmatan yang luar biasa. Karena kini Stefano nampak menyesap dada sebelah kirinya, sedangkan dada sebelah kanannya Stefano remat dengan begitu lembut.


"Engh!" terdengar lenguhan dari bibir Ayaka.


Wanita itu nampak menengadahkan wajahnya, kedua tangannya nampak menjambak rambut tebal milik Stefano.


Setelah puas bermain dengan dada istrinya, Stefano nampak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu, dia mengisyaratkan istrinya untuk naik ke atas tubuhnya.


Walaupun terlihat kebingungan, tetapi Ayaka menuruti keinginan dari suaminya tersebut. Dia menaiki tubuh Stefano dan duduk tepat di paha suaminya tersebut, lalu dia menatap milik suaminya yang nampak gagah sekali.


Milik Stefano sudah seperti jamur yang siap disantap, ingin rasanya Ayaka memasukkan milik suaminya tersebut ke dalam liang bergerigi miliknya. Namun, dia masih merasa malu karena memang belum pernah melakukan hal seperti itu.


"Ayo dong, Yang. Di sayang dedek gemesnya, abis itu masukin. Terus, kamunya goyang. Aku juga mau digoyang," ujar Stefano yang mulai menarik tangan Ayaka dan mengarahkannya pada keperkasaannya.


Ayaka ingin sekali tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Stefano, milik suaminya itu terlihat begitu besar dan juga berat. Namun, bisa-bisanya Stefano memanggil dede gemes pada miliknya tersebut.


Ayaka menuruti keinginan dari suaminya, dia mengurut milik suaminya itu dengan begitu perlahan. Sesekali Ayaka akan bermain dengan kedua bola milik suaminya itu.


"Yang, masukin!" pinta Stefano seraya mengangkat tubuh istrinya dan memosisikan miliknya agar bisa segera masuk ke dalam inti tubuh istrinya.


Stefano benar-benar sudah tidak sabar ingin melakukan penyatuan, penyatuan yang dirasa begitu nikmat dan selalu bisa membuat dirinya mendesahh keenakan.


"Aduh!" keluh Ayaka.


Antara enak, geli dan juga kaget yang dia rasakan saat ini. Pastinya dia juga kini merasakan jika miliknya begitu penuh dengan keperkasaan suaminya.


"Goyang dong, Yang. Aku mau digoyang," ujar Stefano penuh permohonan.


Walaupun Ayaka masih pengantin baru dan belum berpengalaman, akhirnya dia mulai menggoyangkan pinggulnya ke depan dan juga ke belakang.

__ADS_1


Stefano langsung memejamkan matanya karena miliknya terasa dihisap dengan begitu kuat, apalagi gerakan yang dilakukan oleh Ayaka begitu pelan sekali.


Namun, ketika Ayaka menggoyangkan pinggulnya ke depan, rasanya milik Stefano seakan masuk semua ke dalam inti tubuh wanita itu.


"Ouch! Enak, Yang. Sini nunduk," ujar Stefano.


Ayaka menuruti keinginan dari suaminya, Ayaka menunduk. Lalu, Stefano dengan cepat menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya, bahkan kedua tangan pria itu langsung meremat kedua dada istrinya.


Ayaka yang baru pertama kali merasakan hal ini terlihat menggeliatkan tubuhnya dengan pinggulnya yang terus saja bergoyang, kedua tangannya terlihat mencengkeram kuat pundak Stefano.


Ternyata rasanya sangat nikmat ketika dirinya yang menjadi pengendalinya, terlebih lagi ketika Stefano mulai menghentak inti tubuhnya dari bawah. Ayaka sampai menjerit-jerit karena keenakan.


"Enak, Yang. Ini rasanya sangat nikmat, Aya suka." Ayaka lalu menunduk dan menggigit pundak Stefano.


Namun, Stefano tidak merasa kesakitan. Justru, pria itu malah semakin bersemangat untuk menghentak inti tubuh istrinya tersebut.


"Kamu pinter banget, Yang. Aku suka," ujar Stefano ketika Ayaka ikut menggoyangkan pinggulnya ketika Stefano menghentak pinggulnya dengan perlahan.


Ayaka merasa begitu senang mendapatkan pujian dari suaminya, karena itu artinya dia sudah mulai bisa memuaskan suaminya tersebut.


"Pinter dong, kan' kamu yang ajarin." Ayaka berbicara dengan napas yang terengah-engah, karena dia sedang menikmati suguhan kenikmatan dari suaminya itu.


Stefano tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh istrinya, karena kini dia sedang fokus untuk mendapatkan puncak kenikmatan.


"Pelan-pelan, Yang.'' Ayaka memukul dada Stefano, karena tiba-tiba saja pria itu mempercepat gerakannya.


Stefano merasa tidak tahan melihat tubuh istrinya yang begitu seksi saat berada di atasnya, maka dari itu dia mempercepat goyangan pinggulnya.


"Maaf, Yang. Abisnya enak banget," ujar Stefano seraya memelankan hentakkannya.

__ADS_1


__ADS_2