Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 133


__ADS_3

Pagi ini Stefano terlihat bersemangat sekali, bahkan senyum yang begitu manis terus saja tersungging dari bibirnya. Pria itu terlihat begitu bahagia, terlebih lagi ketika mengingat kebersamaannya tadi malam bersama dengan Ayaka.


Hati pria itu benar-benar berbunga-bunga, dia sudah mendapatkan restu dari Sam. Sepertinya dia tinggal menemui Angel saja, karena hanya kepada ibu kandung dari wanita itu yang belum dia temui dan belum dia dapatkan restunya.


Setelah melaksanakan ritual sarapan paginya, pria itu langsung menyalakan mesin mobilnya. Lalu, dia pergi ke kediaman Sam untuk menemui Ayaka.


Stefano merasa ingin menyanyikan lagu dangdut yang berjudul pacar lima langkah ketika dia sedang berjalan menuju rumah Sam. Karena jarak antara rumah dirinya dan juga rumah Sam sangatlah dekat, hanya beberapa langkah saja dia sudah sampai di rumah calon mertuanya tersebut.


Saat Stefano tiba di kediaman Sam, ternyata Ayaka sudah bersiap untuk berangkat menuju Resto. Wanita itu sudah terlihat cantik menggunakan kemeja berwarna navy dipadupadankan dengan celana bahan berwarna hitam.


"Pagi, Ayah." Stefano nampak mendekat ke arah Sam, lalu dia mencium punggung tangan pria itu.


Sam tersenyum, lalu dia menepuk pundak Stefano. Walaupun Sam belum lama mengenal Stefano, tetapi dia sangat yakin jika pria itu adalah pria yang baik untuk putrinya.


Walaupun usia Stefano dan Ayaka terpaut jauh, tetapi Sam merasa jika dengan seperti itu justru pria itu mampu mengayomi putrinya.


"Pagi juga, Nak." Sam tersenyum hangat ke arah Stefano.


Setelah menyapa Sam, Stefano nampak menghampiri gadis kecilnya. Dia tersenyum hangat ketika melihat wajah Ayaka, dia merasa jika Ayaka semakin hari semakin cantik dan semakin membuat dirinya jatuh cinta.


"Pagi, Aya. Kamu cantik sekali, Aya. Ayo kita berangkat," ajak Stefano.


Ayaka nampak tersenyum malu-malu mendengar pujian dari Stefano, terlebih lagi ketika Stefano menatap dirinya dengan tatapan penuh puja. Wajah Ayaka nampak memerah.


"Terima kasih atas pujiannya, ayo kita berangkat," ajak Ayaka.


Tentunya sebelum keduanya pergi mereka berpamitan terlebih dahulu kepada Sam, bahkan Ayaka memberikan kunci mobilnya kepada ayahnya tersebut.


Takutnya Sam akan pergi menggunakan mobilnya, karena Sam hanya memiliki mobil bak terbuka dan juga motor. Walaupun dia sudah banyak uang, dia seolah tidak ingin membeli barang mahal atau sekedar mobil yang sama dengan yang dimiliki oleh Ayaka.


Kehidupan Sam sudah berbeda, dia tidak seperti dulu lagi. Sam kini terlihat hidup dengan kesederhanaan, uang yang dia kumpulkan akan Sam berikan kepada kedua putrinya untuk biaya pernikahan kedua putrinya itu.


Setidaknya Sam bisa membahagiakan Ayana dan juga Ayaka di saat mereka menikah nanti, pikirnya. Karena dari dulu Sam sudah banyak mengecewakan kedua putrinya tersebut.


"Ehm! Dek, nanti Kakak mau ngajakin kamu pergi ke suatu tempat. Kamu mau kan' pergi sama Kakak?" tanya Stefano ketika dia sedang mengemudikan mobilnya.


Ayaka yang sedang menatap ke arah jalanan langsung menolehkan wajahnya ke arah Stefano, wanita itu nampak menatap pria itu dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Mau ke mana? Jangan bilang mau ke rumah itu lagi, Aya ngga mau." Ayaka langsung menolak permintaan Stefano, wajahnya bahkan terlihat muram ketika Stefano mengajak dirinya untuk pergi.


Stefano langsung tersenyum kecut melihat reaksi dari Ayaka, padahal pada kenyataannya dia bukan ingin mengajak ke rumah milik Andin.


Namun, sesuai dengan permintaan Sam yang menyebutkan jika dirinya tidak boleh berlama-lama dan terkesan membuang-buang waktu kalau memang ingin menikahi Ayaka, karena semakin cepat akan semakin baik.


Maka dari itu Stefano memutuskan untuk mengajak Ayaka Membeli cincin pertunangan mereka berdua, bukan ingin mengajak wanita yang dia cintai itu menuju kediaman lama Andin.

__ADS_1


Stefano hanya takut jika dia yang membeli sendiri ukurannya tidak akan pas, bisa saja kekecilan atau kebesaran. rasanya tidak enak juga nanti pas dipakaikan.


"Ngga dong, Kakak ngga bakal ngajak kamu ke sana. Apalagi kalau membuat kamu merasa tidak nyaman," jawab Stefano.


Ayaka nampak menghela napas lega, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Stefano dengan senyum di bibirnya.


"Kakak mau ajak Aya ke mana?" tanya Ayaka.


"Rahasia, nanti kamu pasti tau mau Kakak ajak ke mana." Stefano tersenyum setelah mengatakan hal itu, berbeda dengan Ayaka yang nampak menekuk wajahnya.


Pada akhirnya Ayaka hanya terdiam selama perjalanan menuju Resto, tentunya dia merasa kesal kepada Stefano.


Stefano berkata jika pria itu begitu mencintai Ayaka, Stefano berkata bahkan akan segera mengesahkan hubungan mereka agar menjadi halal. Setidaknya itulah yang dia dengar kala Stefano hendak pulang dan berbicara dengan Sam.


Namun, kini pria itu bermain rahasia-rahasiaan dengan dirinya. Jika saja Ayaka merasa tidak sayang kepada Stefano, rasanya gadis itu ingin memukul dan mencubit lengan pria tersebut.


"Jangan marah, jangan cemberut. Nanti kamu juga tahu akan Kakak ajak ke mana," ujar Stefano seraya memberhentikan mobilnya tepat di depan Resto Rahardi.


Pria itu bahkan membantu Ayaka untuk membuka sabuk pengamannya, lalu dia usap pipi Ayaka dengan begitu lembut.


"Senyum dong, Kakak suka lihat senyum kamu. Cantik," puji Stefano.


Hati Ayaka yang masih kesal membuat dia gengsi untuk tersenyum, padahal dia sangat ingin tersenyum. Bahkan, Ayaka ingin sekali mencium bibir Stefano yang terlihat begitu manis saat tersenyum.


"Pelit!" ujar Stefano seraya menarik kedua pipi Ayaka dengan lembut agar Ayaka tersenyum.


Hatinya sangat senang, tetapi dia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Stefano benar-benar gemas sekali, pada akhirnya Stefano mencubit gemas dagu Ayaka.


"Sakit!" keluh Ayaka seraya memukul pundak Stefano, tetapi seulas senyum tertampil di bibir manis Ayaka.


Stefano langsung tertawa, bahkan dia nampak mengusap-usap dagu Ayaka dan juga mengusap pipi wanita itu. Senyum di bibir Ayaka semakin melebar karena mendapatkan perlakuan seperti itu dari Stefano.


"Gitu dong, senyum yang manis. Kakak suka, kamu hati-hati kerjanya. Kakak sayang sama Aya," ujar Stefano.


Kembali Stefano mengungkapkan isi hatinya, Ayaka kembali tersipu dengan kata-kata yang keluar dari bibir pria itu.


"Hem, Aya tau! Kakak juga hati-hati kerjanya,'' jawab Ayaka.


Setelah mengatakan hal itu, Ayaka langsung turun dari dalam mobil Stefano. Wanita itu turun dengan bibir yang terus tersenyum, walaupun memang masih ada rasa kesal di dalam hatinya.


Ayaka langsung masuk ke dalam ruangannya, lalu dia duduk dan malah melamunkan Stefano. Dia teringat akan. Stefano yang nampak manis, tapi juga dia merasa jika Stefano sangat menyebalkan.


"Dia itu menyebalkan, tapi aku tetap cinta." Ayaka memejamkan matanya seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Ah! Gadis itu memang sedang merasakan jatuh cinta, cinta pertamanya yang sempat terpisah karena jarak.

__ADS_1


Setelah puas melamunkan Stefano, Ayaka langsung memulai pekerjaannya. Hari ini gadis itu terlihat lebih ceria dalam bekerja, bahkan Ayaka dengan cekatan membantu karyawannya untuk memasak.


"Sudah selesai," ucap Ayaka setelah mengoleskan gincu berwarna merah muda pada bibirnya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ayaka nampak masuk ke dalam ruangan lalu dia mencuci muka dan memoleskan riasan tipis di wajahnya.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena sebentar lagi Stefano akan menjemput dirinya, Stefano bahkan sudah mengirimkan pesan kepada Ayaka bahwa sebentar lagi pria itu akan tiba.


Karena tidak ingin tampil berantakan di depan sang pujaan hati, akhirnya Ayaka memperbaiki penampilannya. Bukan berniat ingin menggoda, hanya saja ingin tampil sempurna di hadapan orang yang dia cintai.


"Kakak sudah ada di depan Resto, apakah kamu sudah selesai kerjanya?"


Itulah satu pesan chat yang masuk ke dalam ponsel Ayaka, wanita itu tidak membalas pesan chat dari Stefano, tetapi dia malah terburu-buru menemui orang kepercayaannya dan mengatakan jika dirinya akan pulang.


Setelah itu dia keluar dari Resto dan tersenyum hangat ketika melihat Stefano yang sedang berdiri di dekat mobil miliknya, Stefano membalas senyuman Ayaka, lalu pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Ayaka.


"Sudah siap untuk pergi?" tanya Stefano dengan lembut.


Pria itu bahkan menuntun Ayaka untuk masuk ke dalam mobilnya dan membantu Ayaka untuk duduk. Tentunya dia juga membantu Ayaka untuk memasangkan sabuk pengamannya.


"Terima kasih," ujar Ayaka dengan senang.


"Sama-sama," jawab Stefano seraya menutup pintu mobilnya.


Setelah mengatakan hal itu, Stefano nampak masuk ke dalam mobilnya. Lalu, dia duduk di balik kemudi. Dia memasang sabuk pengamannya dan menyalakan mesin mobilnya.


"Kak, sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Ayaka yang benar-benar merasa penasaran akan diajak ke mana oleh pria itu.


Stefano menolehkan wajahnya sebentar ke arah Ayaka, dia tersenyum hangat lalu kembali fokus dalam mengemudi.


"Kakak sih maunya langsung pergi ke KUA, tapi takut kamunya nggak mau," jawab Stefano.


Karena pada kenyataannya dia memang ingin segera menikahi Ayaka, tetapi tidak bisa terburu-buru karena ada hal-hal yang harus dilakukan sebelum meminang anak perempuan.


"Kakak, Ih! Nggak lucu!"


Ayaka yang merasa gemas dan juga kesal langsung memukul pundak Stefano, Stefano hanya bisa tertawa menanggapi kekesalan di wajah pujaan hatinya itu.


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kamu akan tahu kita pergi ke mana," ujar Stefano.


Stefano tahu jika Ayaka pasti kesal karena dirinya tidak langsung berterus terang mau mengajak wanitanya pergi, dia mengulurkan tangannya lalu mengusap puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih.


Hati Ayaka menghangat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Stefano, tetapi tetap saja ada rasa kesal karena Stefano tidak mau langsung berterus-terang.


"Hem!" jawab Ayaka dengan wajah yang ditekuk karena kesal.

__ADS_1


__ADS_2