Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 193


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan Ayaka, Ayana pada akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Dia ingin segera menemui suaminya, dia ingin meminta maaf kepada Sandi.


Karena wanita itu sempat berniat untuk menghindari suaminya, dia merasa tidak tahan karena Sandi terus saja meminta haknya sebagai suami.


Padahal, Ayana merasa cape dan juga lelah. Pagi-pagi sekali, setelah shalat subuh dia akan memasak. Walaupun dia memasak ditemani oleh Sandi, tetap saja dia selalu kelelahan.


Karena setelah selesai memasak, Sandi akan beralasan mengajak Ayana untuk mandi. Namun, sebelum mandi pasti Sandi kembali mengajak dirinya untuk bercinta.


Sandi terlihat segar sekali, berbeda dengan Ayana yang selalu nampak kelelahan. Karena malam harinya juga Sandi akan meminta haknya, pria itu beralasan tidak bisa tidur jika tidak mendapatkan jatahnya.


Walaupun memang untuk urusan membersihkan rumah dan mencuci baju ada pelayan yang mengerjakannya, tetapi tetap saja terkadang Ayana merasa begitu lelah.


"Sayang!" panggil Ayana ketika dia sampai di rumah sederhananya dengan Sandi.


Ayana nampak melangkahkan kakinya menuju kamar utama, tetapi saat dia sampai di kamar utama, kamar itu terlihat kosong.


"Sandi! Kamu di mana?" tanya Ayana yang merasa takut jika suami tercintanya itu pergi dari rumah.


Ayana memang sempat merasa kesal terhadap suaminya, lalu dia berniat untuk menginap di rumah Sam karena ingin menghindari suaminya itu.


Namun, karena Sam ternyata tidak ada di rumah, akhirnya Ayana memutuskan untuk pergi ke rumah Angel tanpa memberitahu Sandi terlebih dahulu.


Awalnya, Ayana bahkan berniat ingin menginap di rumah adiknya tersebut. Namun, niatnya dia urungkan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka.


"Ayang, ih! Kamu di mana?" tanya Ayana dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Ayana nampak melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar utama, lalu dia mengitari rumah sederhana tersebut. Dia nampak mencari suamimya, tetapi tidak kunjung ditemukan.


Tidak lama kemudian, Ayana nampak melihat suaminya yang sedang tertidur di ruang makan, Sandi tidur dalam posisi duduk dengan kepala yang dia sandarkan pada meja makan.


Di dekat pria itu ada botol air mineral dan juga ponsel milik pria itu, Ayana langsung duduk tepat di samping suaminya. Lalu, dia usap puncak kepala suaminya dan dia kecup keningnya.


"Yang, bangun. Maaf karena aku pergi nggak bilang-bilang dulu sama kamu," ujar Ayana.


Ketika Sandi tidur, Ayana sengaja menelpon ayahnya. Awalnya dia berniat untuk tidur di rumah Sam, tetapi niatnya dia rubah menjadi ingin menginap di rumah Angel.


Namun, niatnya dia urungkan karena takut suaminya nantinya benar-benar akan selingkuh jika dia tinggalkan. Dia sangat takut, karena dulu Aruna saja begitu sedih ketika diselingkuhi oleh Sam.


"Sayang," panggil Ayana. Lalu, wanita itu mengecup bibir suaminya.

__ADS_1


Tidak hanya sekali, tetapi Ayana mengajak bibir suaminya sampai beberapa kali. Hal itu dia lakukan agar Sandi cepat bangun dari tidurnya, karena dia ingin segera berbicara dengan suaminya tersebut.


Lebih tepatnya, dia ingin meminta maaf kepada suaminya. Dia takut jika Tuhan tidak akan mengampuninya, karena sudah berusaha untuk menjauh dari suamimya. Karena Ayaka mengatakan hal seperti itu kepada dirinya.


"Hem," jawab Sandi seraya membuka matanya dengan perlahan.


Ketika mata Sandi terbuka dengan sempurna, Sandi terlihat begitu bahagia ketika melihat Ayana yang kini berada tepat di sampingnya, dia bahkan menghela napas lega beberapa kali.


"Yang, kamu pulang?" tanya Sandi.


Ayana tersenyum canggung ke arah suamimya, padahal dia sudah mengira jika Sandi akan memarahi dirinya. Namun, justru suaminya terlihat begitu bahagia saat menatap wajahnya.


"Iya, maaf tadi aku pergi nggak bilang-bilang. Kamu pasti kaget pas bangun nggak ada aku," ujar Ayana.


Sandi tidak mengatakan apa pun, dengan cepat dia menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya. Dia peluk istrinya dengan penuh kasih, dia bahkan terlihat mengusap-usap punggung Ayana dengan begitu lembut.


Saat terbangun dari tidurnya, Sandi begitu kaget karena istrinya tidak ada di sampingnya. Sandi berusaha untuk mencari istrinya, tetapi mobilnya saja tidak ada.


Sandi yang panik tentunya langsung menelpon Aruna, dia tidak peduli walaupun menelpon Ibu mertuanya di saat malam-malam seperti itu.


Aruna ikut kaget dan langsung menelpon Sam, Aruna bisa bernapas dengan lega karena ternyata putrinya itu sedang mengunjungi Ayaka. Lalu, Aruna memberitahukan keberadaan Ayana kepada Sam.


Mendapatkan Ayana bukanlah hal yang mudah bagi Sandi, jika Ayana benar-benar ingin meninggalkan dirinya, rasanya Sandi tidak akan sanggup.


Namun, jika dia memang sudah melakukan kesalahan. Sandi ingin meminta maaf, dia berharap semoga Ayana mau memaafkan dirinya.


"Maaf," ujar Ayana.


"Aku yang seharusnya meminta maaf, kalau aku salah tolong tegur aku. Tapi, jangan pernah kamu berniat untuk meninggalkan aku." Sandi nampak mengeratkan pelukannya.


"Iya, Sayang," jawab Ayana.


Keduanya saling memeluk, tidak lama kemudian mereka mengurai pelukannya. Lalu, Sandi mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Dia mengajak istrinya untuk tidur bersama.


"Sandi sayang, Moo!" ujar Sandi seraya memejamkan matanya.


Pria itu terlihat begitu lega sekali, bahkan bibirnya yang sejak tadi mengerucut kini berganti menjadi sebuah senyuman.


Dua hari kemudian.

__ADS_1


Anaya, Angel dan juga Surya sudah bersiap untuk pergi menuju pelabuhan. Mereka memutuskan untuk pergi ke tanah air bagian timur menggunakan kapal, karena mereka ingin membawa mobil dan juga banyak barang-barang lainnya.


Walaupun memerlukan waktu sampai enam hari lamanya menuju tanah air bagian timur, tetapi tetap mereka memutuskan untuk pergi menggunakan jalur laut.


"Sudah siap untuk berangkat?" tanya Angel pada Anaya.


"Sudah, Bun," jawab Anaya.


"Ngga bakal nyesel, kan?" tanya Angel.


"Ngga!" jawab Anaya yakin.


Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Angel berpamitan kepada Ayaka dan juga Stefano. Tidak lupa Angel meminta Stefano agar menjaga putrinya dengan sangat baik.


Angel juga meminta Ayaka agar menjaga kandungannya dengan baik, Angel berjanji akan menghubungi Ayaka dengan sering.


Selesai berpamitan, Angel, Anaya dan juga Surya nampak pergi dari sana menuju Pelabuhan. Ayaka melambaikan tangannya seraya memeluk Stefano, karena dia begitu sedih melihat kepergian ibunya.


"Jangan sedih, Sayang," ujar Stefano.


"Hem!" jawab Ayaka seraya terisak.


Stefano terlihat begitu khawatir kepada istrinya, karena menurut dokter Ayaka tidak boleh banyak menangis karena bisa menyebabkan wanita itu sesak napas.


"Jangan menangis, ingat apa kata dokter,'' ujar Stefano.


"Iya, Sayang." Ayaka dengan cepat menyusut air matanya, dia bahkan terlihat berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Ayaka nampak menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Hal itu dia lakukan berulang-ulang, tidak lama kemudian Ayaka terlihat lebih tenang.


"Sudah lebih tenang?" tanya Stefano.


"Sudah," jawab Ayaka.


"Bagus, ayo kita masuk." Stefano menuntun istrinya untuk masuk ke dalam rumah, tetapi tidak lama kemudian mereka menghentikan langkahnya.


Keduanya lalu menolehkan wajahnya ke arah pintu gerbang, karena mereka mendengar ada orang yang memanggil Ayaka.


"Kak Aya!"

__ADS_1


__ADS_2