Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 24


__ADS_3

Kini Kenzo, Aman dan juga Asmara nampak duduk di atas pondok. Ketiganya nampak terdiam seraya menatap makanan yang sudah dipesan oleh Asmara, makanan favorit dari wanita itu.


Tidak lama kemudian Asmara nampak menatap wajah Kenzo yang ternyata kini sedang menatap dirinya, ada rasa sebal karena pria itu tiba-tiba saja berkata menyukai dirinya dan ingin menjadikan dirinya sebagai istri.


Menikah itu bukanlah hal yang gampang, bahkan untuk berpacaran saja, rasanya Asmara harus berpikir berulang-ulang kali agar tidak salah dalam berkomitmen dengan seorang pria.


"Malah pandang-pandangan, mending makan. Yuk!" ajak Aman.


Aman benar-benar tidak habis pikir terhadap sahabatnya itu, karena Kenzo terlihat begitu ngebet terhadap Asmara. Padahal, biasanya pria itu begitu menjaga jarak dengan wanita.


"Tapi gue mau ngomong dulu sama adik elu," ujar Kenzo.


Aman langsung menggelengkan kepalanya mendengar permintaan dari Kenzo, karena niat mereka ke sana untuk makan. Bukan untuk mendekatkan Kenzo dengan adiknya.


Jika memang mereka mau berbicara, rasanya tidak masalah. Namun, hanya sesekali saja di saat mereka menikmati makanan yang sudah dipesan.


"Makan dulu, Ken. Lagian elu itu aneh, elu malah bersikukuh untuk menjadikan adik gue sebagai istri elu. Adik gue ini manusia biasa, bukan kambing yang elu liat di pasar dan elu merasa cocok, terus elu beli. Ada tahapannya walaupun dalam berkenalan saja," ujar Aman.


Kenzo langsung menganggukkan kepalanya, karena nyatanya yang dikatakan oleh Aman adalah benar adanya.


"Iya, maaf. Mulai saat ini gue bakalan pedekate dulu sama adek elu," ujar Kenzo.


Mulai hari ini Kenzo berjanji akan meminta orang-orang kepercayaan dari Steven dan juga Satria untuk mengikuti ke mana pun Asmara pergi, selain untuk menjaga wanita itu, Kenzo juga ingin melindungi wanita itu.


"Hem! Pedekate boleh, tapi ngga boleh maksa. Inget, biarkan semuanya mengalir seperti air. Jangan aneh-aneh dan jangan macam-macam," ujar Aman.


Ah! Aman benar, sepertinya Kenzo harus memberikan penjagaan kepada Asmara secara diam-diam. Dia juga harus mencari tahu kegiatan wanita itu dan kesukaan wanita itu secara diam-diam.


"Hem!" jawab Kenzo hanya dengan deheman saja.

__ADS_1


Namun, di dalam hatinya dia sedang berpikir dengan begitu keras bagaimana caranya agar dia bisa mendekati Asmara.


"Sekarang makan, jangan mandangin wajah adek gue terus. Perut elu ngga bakal kenyang," ujar Aman kepada sahabatnya itu.


Kenzo langsung menganggukan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu, karena nyatanya dia tidak akan kenyang hanya dengan memandang Asmara saja.


"Siap!" jawab Kenzo yang langsung melakukan apa yang diminta oleh Aman.


Kenzo mulai mengambil nasi dan mengisi perutnya, Asmara dan juga Aman melakukan hal yang sama. Namun, keduanya makan Papeda. Bukan makan nasi seperti Kenzo.


Bayangan Aman mereka akan makan malam dengan suasana yang ceria, mereka akan menghabiskan malam dengan mengobrol dan juga bercanda tawa.


Namun, nyatanya kini dia malah merasakan suasana yang begitu canggung. Mau berbicara pun menjadi serba salah, karena Kenzo dan juga Asmara terlihat mencuri-curi pandang ketika mereka sedang makan.


Jika Kenzo mencuri pandang karena begitu terlihat menyukai Asmara, berbeda dengan Asmara yang nampak tidak menyukai Kenzo. Menurut Asmara, Kenzo itu merupakan pria pemaksa.


"Gue udah kenyang, Kak. Si Tuan Bos bikin gue ngga enak makan, langsung begah perut gue," ujar Asmara yang baru saja menyantap setengahnya saja.


Berbeda dengan Kenzo yang langsung tersenyum dengan begitu manis ke arah Asmara, lalu tanpa ragu pria itu berkata.


"Jangan dipaksa kalau kenyang, takut muntah. Kita ngobrol aja yuk, sambil jalan di bibir pantai. Mau?" tawar Kenzo yang langsung menghentikan aktivitas makan malamnya.


Bukannya merasa senang, justru Asmara malah semakin merasa kesal dibuatnya. Asmara bahkan menatap Kenzo dengan tatapan tidak suka.


Kenzo itu menurutnya terlalu menggebu, tingkahnya sudah seperti om-om hidung belang yang ingin menggauli cabe-cabean.


"Ck! Elu itu nyebelin banget deh," keluh Asmara.


"Ngga apa-apa kalau elu sebel ama gue, siapa tau nanti malah berubah jadi cinta." Kenzo tersenyum penuh kekaguman saat menatap Asmara.

__ADS_1


Bukan hanya Asmara saja yang merasa kesal kepada Kenzo, tetapi kini Aman juga merasa kesal terhadap sahabatnya itu.


"Elu beneran kaya orang kesambet," ujar Asmara.


Kenzo tidak marah sama sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Asmara, karena nyatanya memang kelakuan dia benar-benar sangat aneh setelah bertemu dengan Asmara.


"He'em! Kalau kelakuan elu tetap aneh kaya gitu, gue bakal bawa adik gue pulang," ancam Aman.


Rasanya dia perlu mengancam Kenzo, agar sikap pria itu yang berubah. Tidak aneh dan menjadi pemaksa seperti saat ini,. seperti bukan Kenzo.


"Jangan, Man. Gue diem," ujar Kenzo.


Ah! Aman benar-benar tidak paham kenapa Kenzo bisa berubah seperti itu, adiknya itu seakan menjadi magnet untuk Kenzo agar bisa semakin mendekat.


Kenzo benar-benar hanya diam seraya menatap wajah Asmara, tentu saja hal itu membuat Asmara benar-benar merasa risih.


"Pulang yuk, Kak. Gue ngga betah," ujar Asmara.


Ingin sekali Kenzo menahan Asmara untuk tetap berada di dekatnya, tetapi dia sadar jika hal itu pasti akan membuat Asmara lebih membenci dirinya lagi.


"Ya udah, kalian pulang aja. Sampai bertemu besok," ujar Kenzo.


"Iya," jawab Aman dengan cepat.


Setelah mengatakan hal itu, Aman benar-benar mengajak adiknya untuk pulang. Dia merasa kasihan karena Asmara tidak nyaman saat berdekatan dengan Kenzo.


Kenzo menatap kepergian Asmara dan juga Aman dengan senyum kecut di bibirnya, dia tidak menyangka jika dirinya akan berubah seperti itu saat berhadapan dengan Asmara.


"Untuk saat ini elu boleh nolak gue, tapi lain kali ngga boleh," ujar Kenzo.

__ADS_1


Pria itu berkata dengan senyum penuh arti di bibirnya, kalau sudah banyak hal yang dia pikirkan tetapi belum sempat dia realisasikan.


__ADS_2