
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Aruna, dia membelikan banyak baju dan juga tas serta sepatu untuk Arin dan juga Anisa. Tidak mengapa baginya mengeluarkan uang yang banyak, yang terpenting sahabat dan juga putrinya itu merasa senang.
Sigit tidak mempermasalahkan hal itu, karena nyatanya Aruna menggunakan uang miliknya untuk membelikan barang-barang tersebut.
Justru Sigit merasa begitu bangga mempunyai istri seperti Aruna, karena Aruna memiliki hati yang begitu lembut dan tulus. Dia benar-benar merasa bahagia mendapatkan wanita seperti Aruna.
"Oh ya ampun! Aku sangat lelah, kakiku pegal." Aruna memeluk lengan Sigit dan menyandarkan kepalanya pada lengan pria itu.
Wanita itu nampak manja sekali, Sigit langsung mengelusi puncak kepala istrinya tersebut. Jika saja mereka sudah berada di dalam rumah, pasti Sigit akan mengambil minyak hangat dan memijat kaki istrinya.
"Kalau sudah cape, bagaimana kalau kita pulang saja? Lagi pula ini sudah pukul delapan," usul Sigit.
Mereka sudah sangat lelah berjalan-jalan, rasanya akan lebih baik jika pulang saja. Makan malam dan beristirahat.
"Jangan pulang dulu, Yang. Aku mau ngajak Arin buat makan malam di Resto dekat mall," ujar Aruna.
Sigit langsung tertawa dibuatnya, istrinya sudah mengeluh kakinya sakit dan juga pegal. Bahkan, wajah istrinya itu terlihat begitu kelelahan. Namun, Aruna seolah belum ingin pulang karena masih ingin menikmati kebersamaannya dengan sahabatnya itu.
"Baiklah, aku akan menuruti kamu." Sigit mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.
Tentunya kebahagiaan istrinya adalah yang utama, apa pun yang membuat Aruna bahagia, tentu Sigit akan menuruti. Walaupun dia akan begitu kelelahan karena menuruti keinginan istrinya tersebut.
Arin yang melihat perlakuan Sigit kepada Aruna terlihat begitu bahagia sekali, dia bisa melihat Aruna yang begitu bebas dalam tersenyum dan mengungkapkan apa keinginannya.
Berbeda dengan Aruna yang dulu saat menikah dengan Sam, wanita itu selalu bertindak tidak sesuai dengan keinginannya dan tidak tidak terlihat bahagia.
Bahkan, Arin begitu sedih ketika melihat Aruna yang mengadu seraya menangis kepada dirinya kala Sam berselingkuh dengan Angel.
"Terima kasih, Sayang," ujar Aruna dengan tulus.
"Sama-sama," jawab Sigit.
Pada akhirnya mereka semua melangkahkan kakinya menuju Resto yang tidak jauh dari mall tersebut, mereka bahkan tidak menggunakan mobil. Akan tetapi, pergi dengan berjalan kaki.
Saat tiba di depan Resto, mereka langsung masuk ke dalam Resto tersebut. Sigit yang terus saja mengobrol dengan istrinya tanpa sengaja menyenggol wanita yang sedang berjalan berlainan arah dengan dirinya.
"Aduh!" ujar wanita itu yang langsung menunduk karena barang bawaannya terjatuh.
Sigit langsung menghentikan langkahnya, dia ikut menunduk karena ingin membantu wanita itu mengambil barang-barangnya.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak sengaja. Anda--"
Sigit tidak meneruskan ucapannya, karena saat wanita itu menegakkan tubuhnya dan menatap dirinya, Sigit sangat kaget karena ternyata wanita yang ada di hadapannya adalah Afifah.
"Tuan Sigit! Apa kabar?" tanya Afifah.
Afifah nampak mengedarkan pandangannya, dia menatap wajah Aruna yang kebingungan. Dia juga menatap wajah Arin dan semua orang yang ada di sana secara bergantian.
"Saya baik, maaf karena saya sudah menabrak anda. Anda sedang apa di sini?" tanya Sigit.
"Saya sedang menyusul suami saya, dia baru pulang dari luar negeri. Kami berencana akan menginap beberapa hari di ibu kota, ada urusan bisnis soalnya." Afifah tersenyum setelah mengatakan hal itu.
Senyum mengejek ke arah Sigit, bukan senyum penuh kekaguman ataupun senyum yang menggambarkan kebahagiaan karena telah bertemu kembali dengan Sigit.
"Oh! Kalau begitu, bagaimana kalau anda dan juga tuan Swan menginap di rumah saya?" tawar Sigit berbasa-basi.
Mendapatkan tawaran seperti itu dari Sigit, Afifah tidak merasa senang sama sekali. Justru dia malah menampilkan ekspresi wajah jijik saat berisitatap mata dengan Sigit, dia mengingat akan kejadian yang telah lalu.
"Ieww! Tidak usah," ujar Afifah seraya menatap wajah Aruna dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
Di antara yang lainnya Aruna terlihat menempel kepada Sigit, maka dari itu Afifah menyimpulkan bahwa istri dari Sigit adalah Aruna.
Sigit merasa heran dengan sikap dari Afifah, karena wajah wanita itu begitu lain saat menatap dirinya. Namun, tidak lama kemudian dia teringat akan kekonyolan yang sudah dia lakukan saat bertemu dengan wanita itu.
Sigit langsung tertawa karena mengingat kejadian saat dia berpura-pura menjadi banci, lalu dia melipat tangan kirinya di depan dada dan mengayunkan tangan kanannya pada Afifah.
"Jangan ragu loh jeng untuk menginap di rumah saya, nanti saya jamu dengan baik. Apalagi tuan Swan, pasti saya kasih servis terbaik."
Sigit mengerlingkan sebelah matanya setelah mengatakan hal itu, tentu saja hal itu membuat Afifah semakin merasa jijik kepada pria itu.
"Hiiiiih! Ogah," ucap Afifah seraya bergidik ngeri melihat tingkah Sigit.
Afifah bahkan dengan cepat melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam Resto tersebut, Sigit sampai tertawa dibuatnya.
Berbeda dengan Aruna dan juga yang lainnya, Mereka terlihat memandang Sigit dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
"Yang! Bisa jelaskan,'' pinta Aruna.
"Akan aku jelaskan," ujar Sigit.
__ADS_1
Pada akhirnya Sigit menceritakan apa yang terjadi saat dirinya pergi ke luar kota, dia menceritakan bagaimana agresifnya Afifah saat bertemu dengan dirinya.
Karena dia tidak ingin dikejar-kejar oleh wanita itu, Sigit menceritakan kepada Aruna jika dia berpura-pura menjadi banci. Aruna, Alice dan semua yang ada di sana nampak tertawa.
"Yang! Kamu tuh aneh-aneh aja, ngga bisa apa nyari alasan yang lain. Masa harus pura-pura jadi banci juga!" kesal Aruna.
Tidak terbayang oleh Aruna ketika suaminya itu berpura-pura menjadi seorang banci, pasti Aruna juga akan merasa ilfil. Karena keadaan Sigit berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Pria itu sangat gagah perkasa. Apalagi saat berada di atas kasur, bahkan pria itu selalu bisa membuat Aruna menjerit-jerit meneriakkan nama suaminya itu.
"Udah jangan dibahas lagi, Alice katanya sudah lapar. Ayo kita pesan makanan," ajak Sigit.
"Aih! Kenapa jadi aku yang dijadikan alasan," ujar Alice dengan bibir yang mengerucut.
Bisa-bisanya ayahnya tersebut menjadikan dirinya sebagai alasan, padahal dia tahu sendiri jika Sigit sengaja mengatakan hal itu agar Aruna tidak banyak bertanya lagi kepada pria itu.
"Ya ampun! Kamu tuh ngga mau tolongin Papa sekali," ujar Sigit seraya mencubit gemas pipi putrinya.
"Aih! Udah ayo kita makan, Bunda yang lapar." Aruna langsung melangkahkan kakinya untuk memilih meja yang kosong.
Sigit nampak terkekeh lalu merangkul pundak putrinya, Alice ikut terkekeh lalu memeluk ayahnya dengan penuh kasih.
"Pesanlah apa pun yang kalian inginkan," ujar Aruna seraya membagikan buku menu.
"Siap, Nyonya!" jawab Arin.
Aruna langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Arin, Arin yang melihat reaksi dari Aruna langsung tertawa.
"Haish! Jangan melotot kaya gitu, nanti Sigit ngga cinta lagi sama kamu." Arin nampak menggoda sahabatnya itu.
Aruna langsung mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu dia tersenyum dengan sangat manis dan memeluk lengan Sigit. Lalu, dia menyandarkan kepalanya di pundak suaminya itu.
"Mana ada kaya gitu, yang ada dia sangat tergila-gila kepadaku. Iya kan, Sayang?" tanya Aruna.
Aruna mengelus-elus pundak suaminya, Sigit merasa lucu dengan kelakuan istrinya dan berkata.
"Ya, aku sangat mencintai kamu sampai hampir gila karena begitu sulit untuk mendapatkan kamu," jawab Sigit.
Semua orang yang ada di sana nampak menertawakan Aruna dan juga Sigit.
__ADS_1