Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 42


__ADS_3

Sebenarnya tubuh Aruna itu tidak besar, Aruna bertubuh mungil sama seperti Rachel. Namun, Aruna terus saja menggeliatkan tubuhnya. Dia terlihat seperti cacing kepanasan.


Tentu saja hal itu membuat Sigit kesusahan dalam menggendong tubuh mungil itu, terlebih lagi Aruna kini malah mendekatkan wajahnya pada wajah Sigit. Aruna yang ada dalam keadaan tidak sadar berusaha untuk mencium bibir pria muda itu.


"Astagfirullah! Sadar, Aruna!" pekik Sigit.


Sam yang melihat Aruna hendak mencium Sigit merasa kesal, dia berusaha bangun dan hendak memukul kepala Sigit menggunakan vas bunga yang ada di sana.


Prang!


Vas bunga yang dipegang oleh Sam hancur berkeping-keping, bukan karena terkena kepala Sigit. Namun, vas bunga itu jatuh setelah anak buah Steven datang dan membekuk tubuh Sam.


"Maaf kami datang terlambat," ujar salah satu pengawal yang datang.


"Tidak apa-apa, beri dia pelajaran. Aku akan pergi membawa Aruna!" ujar Sigit.


Sigit membawa Aruna pergi dari sana, Sam berteriak-teriak seperti orang gila meminta Sigit agar tidak membawa mantan istrinya itu pergi dari kediaman Rahardi.


Sayangnya Sigit tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Sam, dia mempercepat langkahnya agar bisa segera keluar dari rumah terkutuk itu.


Sam ingin sekali mengejar Sigit, dia ingin menghalangi pria itu agar tidak membawa mantan istrinya. Namun, kedua tangannya dibekuk oleh pengawal Steven. Bahkan, wajahnya mulai terkena pukulan yang membuat wajah tampan Sam berubah seketika.


Sigit dengan cepat mendudukan Aruna di bangku samping kemudi, lalu dia memasangkan sabuk pengaman untuk Aruna. Setelah itu, dengan cepat Sigit masuk dan duduk di balik kemudi lalu menyalakan mesin mobilnya.


Aruna menolehkan wajahnya ke arah Sigit, dia tersenyum nakal seraya mengerlingkan matanya. Jika saja seluruh tubuhnya tidak dibalut selimut, sudah dapat dipastikan jika Aruna akan berbuat nekat.


"Engh! Tolong lepaskan, ini sangat sakit. Tolong sentuh aku, gatel. Akunya mau itu," pinta Aruna dengan gelisah seraya menatap milik Sigit yang terdiam aman di balik celana yang dia pakai.


Aruna benar-benar terlihat berantakan, dia sangat kacau. Beruntung Sigit begitu mengagumi wanita itu, sehingga dia tidak merasa jijik sedikit pun kala melihat keadaan Aruna yang seperti itu.


"Sabar, Sayang. Tunggu aku halalkan dulu, baru nanti kamu boleh memintanya," jawab Sigit.


Pria muda itu berusaha untuk bersikap tenang, walaupun pada kenyataannya dia benar-benar gelisah. Dia benar-benar tergoda oleh Aruna, apalagi dia sempat melihat tubuh polos Aruna.

__ADS_1


Terus terang saja Sigit sangat tergoda, karena dia adalah pria yang normal. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahan hasrat yang tiba-tiba saja datang.


"Lama! Buruan sentuh aku, ininya udah gatel. Pengen itu," ujar Aruna seraya menggoyangkan pinggulnya.


"Ya ampun! Dia sangat menggoda," ujar Sigit seraya terkekeh.


Tidak lama kemudian, Sigit melajukan mobilnya dengan begitu cepat. Dia terus aja fokus melihat ke jalanan, dia tidak berniat sedikit pun untuk menolehkan wajahnya ke arah Aruna.


Bukannya tidak cinta atau tidak peduli, tapi dia takut khilaf dan malah membelokkan mobilnya menuju hotel untuk menuruti keinginan Aruna, memuaskan wanita itu.


Setelah sampai di kediaman Dinata, Sigit langsung menggendong tubuh Aruna dan berjalan dengan cepat menuju pintu utama.


"Saga! Tolongin gue!" teriak Sigit.


Satria yang mendengar teriakan Sigit langsung keluar dari dalam rumah utama, Satria merasa sedih sekali melihat keadaan Aruna yang dibalut dengan selimut seraya menggeliatkan tubuhnya seperti wanita malam yang haus akan belaian.


"Biar Om yang bawa ke dalam kamarnya," ujar Satria. Sigit menurut dan terdiam di depan kamar Aruna.


Satria dengan cepat membawa Aruna menuju kamar mandi yang ada di kamar putrinya tersebut, lalu dia meminta Rachel dan dua orang pelayan untuk memegangi putrinya itu.


"Iya, Sayang," jawab Rachel dengan sedih.


Jika saja dia tahu kalau putrinya akan mendapatkan kemalangan seperti ini, Rachel tidak akan pernah mengizinkan Aruna untuk pergi ke rumah sakit.


Satria dan juga Sigit meninggalkan Aruna yang sedang dimandikan oleh Rachel dan kedua pelayan tersebut, lalu Satria langsung mengahampiri Ben yang baru saja datang dan menunggunya di ruang keluarga.


Di sana juga sudah ada Sagara yang baru saja datang, dia baru datang dari rumah sakit nasional di mana adik kembarnya dirawat.


"Kenapa hal ini bisa terjadi?" tanya Satria.


"Maaf, Tuan. Saya teledor," ujar Ben menunduk pasrah. Mau dipecat pun dia sudah tidak bisa berkilah.


"Apa yang Sam berikan pada putriku? Kenapa putriku bisa bertingkah seperti itu?" tanya Satria.

__ADS_1


"Tuan Sam memberikan jus alpukat kepada nona Aruna, setelah saya meminta dokter untuk memeriksa apa yang terkandung dalam jus tersebut, ternyata ada kandungan obat perangsang dan juga alkohol di dalam jus alpukat tersebut," jelas Ben.


"Kurang ajar! Dasar lelaki sialan!" kesal Satria.


Sigit yang mendengar penjelasan dari Ben tidak kalah kesal, dia benar-benar kesal karena Sam dirasa seperti pria pengecut dengan melakukan hal itu.


"Lalu, di mana pria itu sekarang?" tanya Satria.


Ben menolehkan wajahnya ke arah Sigit, dia seolah meminta bantuan kepada pria itu untuk menjelaskan tentang Sam saat ini.


"Sam ada di rumahnya, dia--"


Sigit tidak meneruskan ucapannya, dia memberikan ponselnya kepada Satria. Di sana ada foto Sam yang terlihat begitu mengenaskan setelah dipukuli oleh anak buah Steven.


Satria tersenyum kecut melihat akan hal itu, dia merasa sedih karena nasib putrinya benar-benar sangat menyedihkan. Dia bahkan berpikir, bagaimana cara menebus semuanya agar Aruna bisa merasakan kesenangan dan ketenangan setelah mendapatkan siksaan batin dari Sam.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus melaporkan kasus ini ke kepolisian?" tanya Satria.


Sigit langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan apa yang diusulkan oleh Satria. Karena jika Sam mendekam di penjara, rasanya itu adalah hukuman yang tidak setimpal.


"Sepertinya kita harus membalas perbuatan Sam dengan cara yang lain, kita juga harus menunggu Aruna sadar. Karena Aruna juga berhak menentukan," jawab Sigit.


"Kamu benar, Nak. Oiya, Nak Sigit. Terima kasih atas pertolongan yang sudah kamu lakukan, kamu sangat baik sekali." Satria berbicara dengan begitu tulus kepada Sigit.


"Tidak perlu berterima kasih, Om. Karena untuk wanita yang aku cintai, aku akan melakukan apa pun," jawab Sigit dengan yakin.


Satria mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, tidak lama kemudian dia teringat kala Sigit berkunjung ke kediamannya yang ada di negara A.


Sigit tidak pernah pergi dengan seorang wanita muda ketika malam minggu tiba, justru dia akan datang ke rumah Satria untuk menemani Sayaka.


Ketika Satria bertanya, Sigit hanya menjawab jika dia mempunyai wanita yang sudah sangat dia cintai sejak dia duduk di bangku kelas dua belas SMA. Sigit bahkan berkata jika dia akan mengejar cinta wanita itu ketika dia lulus S2 dan telah bekerja.


"Ya ampun! Jadi, wanita yang kamu cintai selama 7 tahun itu adalah putriku?" tanya Satria.

__ADS_1


"Iya, Om." Sigit menjawab pertanyaan Satria dengan yakin, Satria sampai menggelengkan kepalanya. Sedangkan Sagara langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


__ADS_2