
Sebenarnya Kenzo ingin segera pulang karena merasa tidak cocok berinteraksi dengan Anisa, menurutnya Anisa itu terlalu banyak bicara dan terlalu ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.
Kenzo adalah orang yang paling tidak suka privasinya terganggu, dia paling tidak suka jika ada orang yang terlihat mencari tahu tentang dirinya.
Terlebih lagi dengan orang yang cerewet dan terus saja berbicara tentang banyak hal yang membuat dirinya terusik, Kenzo sangat tidak suka.
Jika saja Anisa bukan putri dari Arin, wanita yang dulu selalu ada di dalam suka maupun duka di dalam hidup ibunya, Kenzo pasti sudah meninggalkan wanita itu.
Namun, walaupun sekesal apa pun dirinya terhadap seseorang, Kenzo merupakan pria yang bertanggung jawab dan tidak akan meninggalkan orang tersebut.
Pada akhirnya keduanya berkeliling taman dalam keadaan diam, Kenzo seakan tidak ingin membahas apa pun. Anisa yang merasa tidak enak hati tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Dia lebih banyak diam dan memperhatikan area taman, walaupun Kenzo lebih menarik, sayangnya dia tidak bisa berinteraksi dengan pria itu.
Kenzo malah teringat terus kepada Anaya yang kakinya terlihat memar karena terinjak oleh Anisa, ingin sekali dia menghampiri Anaya dan mengompres kaki wanita itu menggunakan es batu.
"Ehm! Ken, aku bosan. Bagaimana kalau kita pulang saja? Aku nanti keliling kotanya sama Ibu aku aja," ujar Anisa pada akhirnya.
Dia benar-benar tidak betah berlama-lama berada di samping Kenzo, karena pria itu hanya diam saja tanpa mengajak dirinya berbicara.
"Hem!"
Hanya kata itu yang keluar dari bibir pria muda itu, akhirnya Anisa hanya bisa menghela napas berat. Karena melayangkan protesnya pun dirasa percuma, karena dia bukan siapa-siapa dari Kenzo.
Pada akhirnya keduanya terlihat pulang ke kediaman Sigit, sesampainya di rumah Kenzo berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Anisa ikut mengobrol di ruang keluarga bersama dengan ibunya.
Sampai di dalam kamarnya, Kenzo langsung mengambil ponselnya. Lalu, dengan cepat Kenzo mengetikkan pesan chat kepada Anaya.
"Bagaimana keadaan elu sekarang? Kaki elu ngga kenapa-kenapa, kan?"
Itulah pesan cat yang dikirimkan oleh Kenzo kepada Anaya, Anaya yang memang sudah pulang ke rumah nampak membaca pesan yang dikirimkan oleh Kenzo.
Wanita itu tidak memiliki nomor Kenzo, maka dari itu dia mengabaikan pesan itu. Walaupun dia merasa aneh karena tiba-tiba saja mendapatkan pesan dari seseorang yang terasa begitu perhatian.
Kenzo yang tidak mendapatkan pesan balasan nampak kesal, dia merasa khawatir dan ingin segera mengetahui keadaan dari Anaya, tapi tidak segera mendapatkan kabar dari wanita itu.
Kenzo nampak mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya, karena dia benar-benar ingin mengetahui kabar dari Anaya tetapi tidak bisa.
"Apa aku telepon saja?" tanya Kenzo.
__ADS_1
Kenzo nampak berpikir dengan begitu keras, dia ingin menelpon Anaya tetapi begitu ragu. Namun, kalau tidak menelpon dia tidak bisa mendapatkan kabar dari wanita itu.
"Telpon aja deh," ujar Kenzo pada akhirnya.
Kenzo dengan cepat menelpon Anaya, satu kali panggilan Kenzo tidak mendapatkan jawaban. Pria itu tidak putus asa dan kembali mencoba untuk menelpon Anaya, sayangnya kembalian Anaya tidak mengangkat panggilan telepon dari Kenzo.
''Haish! Menyebalkan!" ujar Kenzo seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
Pria itu kembali mencoba untuk menelpon Anaya, hingga panggilan ke enam barulah panggilan dari Kenzo diangkat oleh Anaya.
"Halo! Siapa sih ini? Pake nelpon-nelpon segala! Ini Salman, ya? Elu sengaja kan' nelpon gue pakai nomor lain, karena nomor telepon elu yang kemarin udah gue blokir. Gue udah bilang, kalau gue nggak suka sama elu."
Kaget sekali Kenzo mendengar apa yang dikatakan oleh Anaya, terlebih lagi wanita itu berkata dengan nada yang lumayan tinggi.
Satu hal lagi yang membuat Kenzo kaget, dia tidak menyangka jika teman satu kelasnya yang bernama Salman itu menyukai Anaya.
Apalagi ketika Anaya mengatakan hal seperti itu, itu tandanya Salman sudah mengutarakan rasa cintanya kepada gadis itu.
"Halo! Elu siapa sih? Orang iseng, ya? Gue matiin nih!" ancam Anaya.
Dia merasa kesal karena ada orang yang menelponnya tetapi tak kunjung bicara, dia merasa jika orang tersebut hanya menghabiskan waktunya saja.
Pada akhirnya Kenzo mengeluarkan suaranya, dia tidak mau jika sambungan teleponnya dimatikan oleh Anaya. Karena Kenzo masih ingin mendengarkan suara wanita itu.
Lebih tepatnya, Kenzo ingin mengetahui keadaan dari Anaya. Dia ingin tahu apakah wanita itu baik-baik saja atau tidak.
Luka yang diderita oleh Anaya memang tidak seberapa, tetapi akan berbeda halnya dengan orang yang menyukai Anaya.
"Ken? Elu nelpon gue? Dari mana elu tau nomor ponsel gue? Terus, ngapain lu telepon-telepon gue?" tanya Anaya.
Padahal hati Anaya benar-benar berbunga ketika mengetahui Kenzo yang menelpon dirinya, tetapi dia berusaha untuk menyembunyikan rasa bahagianya itu.
Takut-takut dia akan digoda oleh Kenzo, takutnya dia nanti akan menjadi bahan ledekan jika mereka bertemu. Walaupun rasanya Kenzo tidak akan melakukan hal seperti itu.
"Gue, gue--mau nanya kabar elu. Kaki elu udah sembuh atau belum?" tanya Kenzo ragu.
Bukannya mendengar jawaban dari Anaya, justru Kenzo malah mendengar suara Anaya yang tertawa dengan begitu kencang.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Kenzo.
__ADS_1
Saat ini Kenzo sedang merasa khawatir terhadap Anaya, rasanya tidak sepantasnya wanita itu malah menertawakan rasa khawatirnya itu.
"Ngga apa-apa, gue cuma aneh aja karena elu nelpon gue. Terus, sekali lagi gue tanya. Elu dapet nomor ponsel gue dari mana?" tanya Anaya.
Anaya memang tipe wanita yang jarang bergaul sama seperti Kenzo, tetapi dia masih bersikap ramah terhadap orang lain. Tidak seperti Kenzo yang sangat dingin kepada teman-temannya.
"Dari kak Ay," jawab Kenzo.
Padahal, Kenzo tidak meminta nomor ponsel Anaya kepada Ayana. Namun, dia mengambil nomor ponsel Anaya secara diam-diam dari ponsel kakaknya tersebut.
"Elu kangen ya, sama gue? Elu khawatir? Elu pengen tahu kabar gue karena elu begitu peduli sama gue kan?" tanya Anaya.
Sengaja Anaya bertanya seperti itu kepada Kenzo, walaupun Anaya tahu jika Kenzo pasti tidak akan mengatakan jika pria itu merindukan dirinya apalagi peduli terhadap dirinya.
"Nggaklah, gue cuma inget kaki elu yang luka aja. Makanya gue nanya, lagian elu itu ade gue. Mana ada perasaan kaya gitu!" sangkal Kenzo.
Setelah mengatakan hal itu, Kenzo nampak memukul-mukul kepalanya sendiri. Dia merasa bodoh karena sudah mengatakan hal seperti itu.
"Oh! Ade, ya? Padahal gue yang lahir duluan, satu bulan lebih dulu dari elu. Bisa-bisanya elu nganggep gue sebagai ade," kesal Anaya.
Harusnya Kenzo memanggil dirinya dengan sebutan kakak, karena dia terlahir lebih dulu daripada Kenzo.
"Ck! Walaupun elu lebih tua dari gue satu bulan, tapi tetep aja elu itu adeknya kak Aya. Itu artinya elu juga ade, gue!" ucap Kenzo beralasan.
Padahal, nyatanya dia begitu mengkhawatirkan Anaya. Dia takut jika kaki Anaya akan membengkak dan wanita itu tidak akan bisa berjalan.
"Terserah, gue tutup dulu telponnya. Mau ke rumah sakit dulu gue, jangan kangen sama gue." Anaya langsung menutup panggilan telepon dari Kenzo. Surya sudah meneriaki Anaya, itu artinya Anaya harus segera pergi.
"Naya!" teriak Kenzo.
Kesal sekali rasanya Kenzo karena Anaya sudah mematikan sambungan teleponnya, padahal dia ingin mengetahui keadaan dari gadis itu.
Namun, satu hal yang membuat Kenzo saat ini begitu khawatir. Anaya berkata akan pergi ke rumah sakit, Kenzo takut jika kaki Anaya terluka parah.
"Kenapa dia membuat aku begitu khawatir? Haruskah aku menemuinya?" tanya Kenzo dengan gelisah.
Namun, jika Kenzo menyusul rasanya sangat percuma. Karena Kenzo tidak tahu ke mana Anaya pergi, dia tidak tahu gadis itu pergi ke rumah sakit mana.
"Haish! Ini sangat menyebalkan!" gerutu Kenzo.
__ADS_1