Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 181


__ADS_3

Tiba di kampung halaman Sahrul, Arin dan juga Sahrul langsung dimandikan dan dikuburkan. Ayana terus saja menangis sepanjang melakukan proses pemakaman, Aruna bahkan sampai kembali jatuh pingsan ketika jasad Arin dan Sahrul ditimbun dengan tanah.


Setelah proses pemakaman selesai, Sigit pada akhirnya meminta saudara dari Sahrul untuk memanggilkan dokter. Dia merasa jika kondisi Aruna kini sedang tidak baik-baik saja, wanita itu harus mendapatkan penanganan.


Setelah dokter datang, Sigit meminta kepada dokter agar Aruna diberikan suntikan obat penenang. Hal itu dia lakukan agar istrinya bisa beristirahat dengan tenang, agar istrinya tidak terus saja menangisi kepergian sahabatnya.


Sigit takut jika Aruna terus saja menangis, istrinya itu akan sakit. Dia tidak mau hal itu terjadi, terlebih lagi mereka masih harus menjaga Anisa yang sampai saat ini belum sadarkan diri.


Saat malam hari tiba, Sigit dan juga Aruna tidur di rumah milik almarhumah sahabatnya itu. Aruna tidur dengan begitu tenang, saat ada orang berkumpul untuk melaksanakan tahlilan saja wanita itu tidak terganggu sama sekali.


Sigit bisa bernapas dengan lega, setidaknya istrinya bisa beristirahat sampai esok hari tiba. Jika besok dia sudah terlihat lebih tenang, Sigit akan mengajak Aruna untuk kembali menemani Anisa di rumah sakit.


Kalau dokter memperbolehkan, Sigit akan membawa Anisa untuk dirawat di rumah sakit yang ada di ibu kota.


Anak itu sudah menjadi yatim piatu, rasanya Sigit benar-benar tidak tega jika membiarkan Anisa tinggal bersama dengan saudara Sahrul di kampung halaman pria itu.


Setidaknya jika tinggal di kediamannya, ada dirinya dan juga Aruna yang akan memberikan kasih sayang sebagai orang tua untuk gadis itu.


"Sudah bangun, Yang?" tanya Sigit ketika melihat Aruna yang terbangun dari tidurnya seraya memegangi kepalanya.


Sigit dengan cepat menyadarkan kepala wanita itu pada pundaknya, lalu dia menunduk untuk mengecup kening istrinya.


"Sudah, tapi kepalaku masih terasa sangat berat. Terasa sakit juga," jawab Aruna.


"Kamu tiduran saja kalau memang masih merasa sakit kepala, aku akan mengambilkan sarapan dan juga akan membuatkan teh hangat untuk kamu." Sigit untuk kembali merebahkan tubuhnya.


Aruna malah kembali duduk seraya menggelengkan kepalanya, dia merasa sudah cukup lama tertidur. Wanita itu lebih memilih duduk di atas tempat tidur caranya menyadarkan kepalanya pada tembok.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu ngga mau tidur lagi ngga apa-apa. Aku ambilkan sarapan dulu sama teh hangat," ujar Sigit.


"Hem!" jawab Aruna dengan mata yang terpejam.


Sigit merasa iba melihat keadaan dari istrinya tersebut, tetapi dia juga tidak bisa banyak mengatakan apa pun. Takut-takut istrinya itu akan tersinggung dengan apa yang dia katakan.


Sigit nampak melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar tersebut, lalu dia mengambil bubur yang ada di dapur dan juga membuatkan teh jahe untuk istrinya.


Di saat istrinya masih terlelap dalam tidurnya, pria itu dengan cekatan membuatkan bubur untuk istrinya. Karena menurutnya bubur merupakan makanan yang tepat untuk dikonsumsi oleh istrinya tersebut.


Setelah itu Sigit kembali ke dalam kamar, lalu dia duduk di tepian tempat tidur dan menyuapi istrinya itu dengan telaten.


"Makanlah, Sayang. Jangan malas makan, nanti kamu malah sakit dan tidak bisa mengurusi Anisa."


Sigit sengaja mengatakan hal itu, bukan untuk mengungkit kesedihan Aruna, tetapi agar wanita itu kembali bangkit dan bersemangat karena masih ada Anisa yang harus mereka urusi.


Awalnya Aruna memang terlihat begitu enggan untuk memakan bubur yang sudah dibuatkan oleh Sigit, tetapi setelah mengingat Anisa yang sendirian, Aruna nampak memakan bubur itu dengan begitu lahap.


Sigit tersenyum hangat ke arah istrinya, dia bahkan terlihat menggenggam kedua tangan istrinya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Ya, nanti setelah aku merasa lebih baik, kita akan segera berangkat ke rumah sakit," jawab Aruna.


Sore harinya keadaan Aruna terlihat lebih baik, pada akhirnya Sigit mengajak Aruna untuk pergi ke rumah sakit dan memantau keadaan dari Anisa.


Ternyata saat mereka tiba di rumah sakit, kondisi kesehatan dari Anisa tetap saja seperti sebelumnya. Belum ada tanda-tanda yang menunjukkan jika gadis itu akan secepatnya membuka matanya.


Karena dirasa lamban pada akhirnya Aruna dan juga Sigit memberanikan diri untuk menemui dokter, mereka ingin bertanya dengan hal apa yang harus mereka lakukan agar Anisa cepat sembuh.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kondisi kesehatan Anisa, Dok?" tanya Aruna.


"Kondisinya terasa lebih baik, tapi sepertinya dia mengalami syok yang begitu berat. Maka dari itu hal ini menjadi pemicu bagi Anisa untuk tidak segera bangun, karena ada hal yang sangat dia takutkan," jelas Dokter.


Hati Aruna seakan mencelos saat mendengarkan menjelaskan dari dokter, mereka merasa kasihan karena Anisa mengalami hal yang sangat buruk di usianya yang sangat muda itu.


"Ehm! Dok, kami berniat untuk memindahkan Anisa ke rumah sakit yang ada di ibu kota. Karena kami tidak mungkin berlama-lama lagi di sini," ujar Sigit pada akhirnya.


Dokter itu nampak mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sigit, karena Anisa memang membutuhkan perawatan yang khusus.


"Boleh, Tuan, Nyonya. Di sini masih perkampungan, ketersediaan pelayanan kesehatan juga sangat terbatas. Jika anda membawa nona Anisa untuk pergi ke ibu kota, rasanya itu adalah hal yang sangat baik."


Karena pasti Anisa akan mendapatkan perawatan yang terbaik, karena Sigit ingin melihat Anisa cepat pulih kembali seperti sedia kala.


"Terima kasih, Dok!" ujar Aruna.


Setelah berbicara dengan dokter, Aruna dan juga Sigit merasa lebih lega. Malam ini keduanya terlihat bisa tidur dengan pulas, karena mereka sudah menemukan solusi terbaik untuk Anisa.


Keesokan paginya Aruna dan juga Sigit benar-benar membawa Anisa menuju ibu kota, mereka menyewa ambulance untuk membawa Anisa menuju rumah sakit besar di ibu kota.


Dalam hati Aruna berjanji akan mengurus putri dari sahabatnya itu, dia berjanji akan memperlakukan Anisa dengan baik dan akan menyekolahkan putri dari sahabatnya itu sampai menggapai cita-citanya.


"Kamu terlihat begitu lelah, Sayang. Ayo kita pulang dulu, aku sudah menyewa perawat untuk menjaga Anisa."


Semenjak Anisa dipindahkan ke rumah sakit yang ada di pusat, Aruna tidak beranjak sedikit pun dari samping gadis itu. Bahkan, Aruna tidak beristirahat sama sekali.


Sigit yang takut jika Aruna apa sakit mengajak istrinya untuk pulang terlebih dahulu, besok dia bisa datang kembali untuk menemani Anisa, pikirnya.

__ADS_1


"Baiklah, Sayang," jawab Aruna dengan lesu.


Setelah mengatakan hal itu, akhirnya keduanya nampak pulang ke kediaman Sigit. Karena tidak bisa dipungkiri oleh Aruna jika dirinya memang benar-benar sangat lelah dan butuh istirahat.


__ADS_2