Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 91


__ADS_3

Bahagia sekali rasanya Sigit malam ini, karena akhirnya dia bisa memeluk istrinya dengan leluasa. Sigit bahkan tanpa hentinya mengelusi perut istrinya yang masih rata itu dengan begitu lembut.


Setelah istrinya tertidur dengan begitu pulas, dengan cepat Sigit membuka masker yang dipakai oleh istrinya. Karena dia takut jika istrinya itu akan sesak napas jika terlalu lama memakai masker.


Setelah maskernya terbuka, Sigit terdiam sesaat. Pria itu memperhatikan reaksi dari istrinya, ternyata istrinya itu tetap saja pulas dalam tidurnya. Dia semakin bisa bernapas dengan begitu lega.


"Alhamdulillah, akhirnya malam ini aku bisa tidur sambil meluk kamu," ucap Sigit dengan begitu bahagia.


Setelah mengatakan hal itu, Sigit benar-benar memeluk istrinya lalu membaca doa dan berusaha untuk masuk ke alam mimpinya.


Tentunya sebelum tidur Sigit memasang alarm terlebih dahulu, karena dia berpikir jika dirinya harus bangun sebelum Aruna bangun. Takutnya ketika bangun nanti Aruna akan kembali merasakan mual ketika dekat dengan dirinya.


Sayangnya, karena terlalu nyaman tidur bersama dengan istrinya, saat pagi menjelang Sigit bahkan masih terlelap dalam tidurnya. Ketika Aruna terbangun, dia kembali mual karena berdekatan dengan suaminya itu.


Bahkan, saat Aruna mencium tubuh suaminya, perutnya tiba-tiba saja terasa bergejolak. Seperti diaduk-aduk dan sangat tidak nyaman.


"Oh ya ampun! Aku mau--"


Aruna tidak meneruskan ucapannya, dengan cepat wanita itu berlari ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya. Sigit yang mendengar istrinya muntah-muntah di dalam kamar mandi langsung menyusul karena merasa khawatir.


"Sayang, kamu mual? Kamu muntah? Akunya harus ngapain?" tanya Sigit di ambang pintu seraya mengucek matanya.


Sedih sekali rasanya melihat Aruna muntah-muntah seperti itu, tetapi dia tidak bisa dekat dengan istrinya. Dia benar-benar merasa bersalah terhadap Aruna, karena seharusnya dia bangun sebelum Aruna terbangun.


"Tolong ambilkan aku minyak hangat saja," pinta Aruna seraya menyeka bibirnya.


"Ya, Sayang," jawab Sigit seraya mengambil minyak hangat di dalam kotak P3K.


Setelah itu dia memberikan minyak hangat tersebut kepada Aruna, tentunya dengan menjaga jarak aman. Aruna menerima minyak hangat itu dan memborehkannya pada leher dan juga perutnya.


Tidak lama kemudian, Aruna nampak duduk di atas kloset tertutup. Lalu, dia menunduk seraya memijat kepalanya yang terasa pusing. Sigit yang melihat akan hal itu langsung menitikan air matanya karena merasa kasihan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku bikinin kamu teh hangat, ya? Sekalian aku panggil bunda juga, mau minta tolong biar temenin kamu," ujar Sigit dengan lesu.


Aruna tidak menjawab pertanyaan Sigit dengan ucapan, tetapi dia hanya menganggukkan kepalanya dengan begitu lemah.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, Sayang," ujar Sigit.


Setelah mengatakan hal itu, Sigit dengan cepat berlari menuju kamar tamu. Dia mengetuk pintu kamar tamu tersebut dengan tidak sabarnya, setelah Rachel dan juga Satria membuka pintu kamarnya, Sigit dengan cepat mengutarakan keinginannya.


"Bunda, Ayah. Aku mau minta tolong, Aruna sedang muntah-muntah tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Kalau aku berdekatan dengannya, Aruna akan semakin mual," pinta Sigit.


Satria merasa iba sekali dengan menantunya itu, karena di saat istri sedang mengandung, pasti sang suami ingin berdekatan terus dengan sang istri dan memanjakan istrinya tersebut.


"Iya, Bunda sama Ayah akan segera ke kamar kamu," jawab Rachel.


"Terima kasih, Bunda. Kalau begitu Sigit ke dapur dulu, mau bikinin teh hangat buat Aruna."


"Jangan lupa kasih jahe, biar perutnya hangat," ucap Rachel.


"Iya, Bunda," jawab Sigit yang segera berlalu dari sana menuju dapur, sedangkan Rachel dan juga Satria langsung pergi ke dalam kamar putrinya.


Saat tiba di dalam kamar putrinya, Satria langsung membopong tubuh Aruna dan merebahkannya di atas tempat tidur. Lalu, dia mengusap puncak kepala putrinya dan mengambil tisu untuk membersihkan sisa muntahan putrinya tersebut.


Rachel juga tidak tinggal diam, dia memborehi tubuh Aruna dengan minyak hangat, keduanya terlihat begitu perhatian sekali.


"Sama-sama, Sayang. Sekarang kamu istirahat saja dulu, jangan turun dari tempat tidur. Oiya, Sayang. Kamu mau dibikinin sarapan apa sama Bunda?" tanya Rachel dengan begitu lembut.


Untuk sesaat Aruna terdiam, dia seolah sedang memikirkan apa yang dia inginkan. Tidak lama kemudian, dia tersenyum dan berkata.


"Mau sarapan bubur ayam, tapi jangan pakai ayamnya. Terus, maunya buburnya dikasih kuah kaldu ayam. Terus, minumnya mau teh lemon hangat," jawab Aruna.


"Iya, Sayang. Nanti Bunda bikinkan selepas shalat subuh," ujar Rachel.


Aruna tersenyum lalu menganggukan kepalanya, dia benar-benar merasa senang karena di kehamilannya kali ini dia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya.


Tidak seperti dahulu saat kehamilannya yang pertama, mau melakukan apa pun, mau meminta apa pun, dia merasa enggan. Karena Sam memang bersikap baik, tetapi entah mengapa dia tidak bisa bebas untuk meminta apa pun kepada pria itu.


"Yang, tehnya diminum dulu," ujar Sigit seraya memberikan teh hangatnya kepada Rachel, setelah itu dia menjauh dan duduk di atas sofa.


Satria membantu Aruna untuk bangun, lalu Aruna mengambil teh hangat dari tangan Rachel dan meminumnya.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Aruna seraya tersenyum miris karena suaminya tidak bisa berdekatan dengan dirinya.


Beberapa saat kemudian.


Satria, Rachel, Aruna, Sigit dan kedua putri cantiknya sudah berada di ruang obgyn di rumah sakit milik keluarga Huntler.


Dari wajah mereka begitu terpancar kebahagiaan yang luar biasa,


Aruna sedang melakukan USG setelah melakukan serangkaian pemeriksaan kehamilan, wanita itu sedang anteng menatap layar monitor di mana di sana ada calon buah hatinya.


"Usia kandungan anda sudah memasuki Minggu ke 6, babynya masih sebesar biji kacang," ujar Dokter sambil menggerakkan alat di atas perut Aruna.


"Kondisi kesehatan ibunya sangat baik, kondisi babynya juga sangat sehat,'' imbuh Dokter.


Semua yang ada di sana nampak bahagia, terlebih lagi dengan Ayaka dan juga Ayana. Keduanya terlihat begitu antusias saat mendengarnya.


"Tante, kalau nanti adenya lahir. Dia boleh jadi adik Aya, ngga? Aya boleh jagain dia ngga?" tanya Ayaka.


"Boleh, dong," jawab Aruna.


"Alhamdulillah, kalau Aya pegang perut Tante, boleh?" tanya Ayaka yang memang begitu menginginkan kehadiran seorang adik.


"Boleh, Sayang." Aruna melambaikan tangannya.


Ayaka tersenyum lalu menghampiri Aruna, dia elus perut itu dengan penuh kasih. Lalu, dia tatap wajah Aruna dengan lekat.


"Terima kasih, Tante. Terima kasih karena Tante sudah begitu baik sama Aya, terima kasih karena Tante lebih baik dari bunda aku sendiri," ujar Ayaka dengan tulus.


"Loh, Aya bilang ngga ingat sama sekali tentang bundanya Aya. Memangnya sekarang Aya udah inget siapa bundanya Aya?" tanya Aruna.


"Ehm! Aya ngga inget siapa bunda Aya, tapi pokoknya Tante lebih baik dari bundanya Aya," ujar Ayaka dengan kikuk.


Aruna hanya saling pandang dengan Sigit, tetapi tidak lama kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum hangat ke arah Ayaka.


"Oh, semoga nanti Aya bisa cepat ingat siapa ayah dan bundanya Aya. Biar Aya bisa kumpul lagi sama keluarga Aya," ujar Aruna tulus.

__ADS_1


__ADS_2