Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 156


__ADS_3

Sebenarnya untuk bersanding dengan Ayana terkadang Sandi merasa minder sendiri, karena nyatanya Ayana adalah keturunan dari orang berada.


Berbeda dengan dirinya yang hanya orang biasa, sederhana dan tidak memiliki banyak harta. Namun, cinta yang begitu kuat membuat dia berani untuk mengajak Ayana menikah dengannya.


Jika untuk urusan harta dia memang tidak punya, tetapi dia sangat yakin jika untuk cinta, Sandi memiliki cinta yang sangat besar untuk Ayana.


Namun, jika melihat Ayana yang sedang berdua-duaan bersama dengan pria muda yang terlihat begitu kaya, Sandi benar-benar minder sendiri.


Rasanya, dia ingin membatalkan pernikahannya dengan Ayana. Karena bisa saja Ayana akan merasa begitu bahagia dengan pria kaya yang saat ini berada di sampingnya.


Namun, sebelum itu Sandi ingin memastikan apakah Ayana akan memilih dirinya atau pria muda yang kini berada di hadapannya itu.


"Moo! Ngapain? Kamu sama siapa?" tanya Sandi dengan suara yang nampak lemah.


Ayana yang sedang asyik mengobrol bersama dengan pria muda itu langsung menolehkan wajahnya ke arah Sandi, Ayana tersenyum ke arah Sandi dan tanpa ragu langsung memeluk pria itu.


"Kangen!" ucap Ayana seraya menelusupkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya.


Kangen, katanya?


Apa Sandi tidak salah mendengar, pikirnya. Sandi melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Ayana sedang berbicara dengan pria muda itu dengan begitu ceria.


Lalu, kini Ayana dengan mudahnya mengatakan kata kangen kepada dirinya. Rasanya ini sangat lucu, Sandi jadi merasa dipermainkan.


Kesal sekali rasanya, tetapi dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia ingin mengorek terlebih dahulu kebenarannya, tidak mungkin rasanya dia langsung marah-marah tidak jelas kepada Ayana.


Karena nyatanya, dia bukan anak kecil lagi. Dia harus menyelesaikan masalahnya secara baik-baik, bukan dengan cara marah-marah tidak jelas.


"Beneran kangen?" tanya Sandi.


Ayana nampak mendongakkan kepalanya, dia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Sandi tersenyum, lalu dia menunduk untuk mengecup kening Ayana.


"Aku juga kangen sama kamu, Moo. Terus, siapa pria itu?" tanya Sandi seraya menunjuk pria muda yang tidak jauh dari dirinya dengan ekor matanya.

__ADS_1


Ayana mengikuti arah pandang dari Sandi, dia terkekeh lalu melerai pelukannya dengan pria itu. Tanpa ragu Ayana menggandeng tangan Sandi dan menghampiri pria yang disangka kekasih dari Ayana itu.


"Kenalin, Yang. Ini Sammy, walaupun dia masih muda tapi dia adalah kakak sepupu aku. Dia anaknya om Sahil, masih inget sama om Sahil, kan?" tanya Ayana.


Sandi tersenyum lalu mengeluarkan tangannya ke arah pria yang bernama Sammy itu, Sammy tersenyum lalu membalas uluran tangan dari Sandi.


"Gue Sammy, selamat untuk pernikahan yang akan digelar sebentar lagi. Gue ke sini cuma mau kasih kado," ujar Sammy seraya memberikan kado kepada Ayana.


Sandi nampak mengingat-ingat pria yang ada di hadapannya, wajahnya tidak jauh beda dengan Steven. Ayah dari Sigit, tidak lama kemudian Sandi teringat akan kedua kakak dari Sigit.


Sahil dan Sahlan, dua orang pria yang telah lahir terlebih dahulu sebelum Sigit. Keduanya tinggal di luar negeri bersama dengan keluarga kecil mereka.


Pastinya, kini mereka datang karena ingin menghadiri acara pernikahan Ayana dengan dirinya. Sekalian berlibur juga, karena memang saat ini sudah mulai memasuki libur sekolah.


"Ya ampun, maaf aku tidak mengenali kamu." Sandi tersenyum kecut karena tadi dia sudah salah menduga.


"Tidak apa, wajar jika Kakak tidak mengenali gue. Karena nyatanya gue memang jarang balik," jawab Sammy.


"Kenalannya jangan lama-lama, ayo kita masuk ke ruangan aku. Sammy suruh pulang aja," ujar Ayana yang ternyata sudah tidak sabar ingin berduaan bersama dengan calon suaminya.


"Dasar Bucin! Gue balik," pamit Sammy seraya menepuk lengan Sandi dan Ayana secara bergantian.


Setelah mengatakan hal itu, Sammy nampak pergi dari perusahaan Siregar. Berbeda dengan Ayana, wanita itu langsung menuntun Sandi untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Kamu kok tumben nggak bawa makanan? Biasanya suka bawa makanan atau camilan," ujar Ayana.


Ayana mengajak sandi untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut, Ayana bahkan tanpa ragu memeluk pria itu dan menyadarkan kepalanya pada bidang Sandi.


"Lupa, Yang. Abisan tadi tuh aku kangen banget, hawanya pengen ketemu sama kamu aja. Jadinya lupa buat bawain makanan, maaf."


Sandi menunduk, lalu dia mengusakkan hidungnya pada pipi Ayana. Ayana tersenyum dan langsung mengecup bibir Sandi, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ayana, Sandi sampai terbengong.


Sandi tidak menyangka jika dia akan mendapatkan kecupan yang terasa begitu manis di bibirnya, Sandi sampai menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, takut-takut ada orang yang melihat apa yang sudah Ayana lakukan kepada dirinya.

__ADS_1


"Yang! Kamu tuh nekat banget, kalau Papa liat bagaimana?" tanya Sandi.


Ayana langsung mengerucutkan bibirnya, tadi pagi ketika dia hendak pergi dari kediaman Ayaka, Ayana sempat melihat Ayaka dan juga Stefano yang nampak berciuman dengan penuh hasrat.


Hal itu membuat Ayana menginginkannya, Ayana ingin merasakan yang namanya berciuman dengan penuh hasrat dan ciuman lembut seperti yang dilakukan Stefano kepada Ayaka.


"Pengen, Yang. Maaf," ujar Ayana.


"Aih! Aku tuh cowok, jangan suka mancing-mancing. Nanti kalau aku khilaf abis kamu," ujar Sandi seraya mencubit gemas pipi Ayaka.


"Iya, maaf. Aku masih ada kerjaan loh, mau bantuin, ngga?" tanya Ayana yang langsung bangun dari duduknya dan mengambil laptopnya.


"Mau dibantu?" tanya Sandi.


"Mau dong," jawab Ayana seraya memberikan laptopnya kepada Sandi.


"Ya udah, kamu duduk santai aja. Biar aku yang kerjain," ujar Sandi.


Ayana tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, dia merasa senang karena calon suaminya itu mau membantu dirinya.


"Terima kasih," ucap Ayana yang langsung mengecup pipi Sandi dengan mesra.


"Moo!" protes Sandi karena lagi-lagi Ayana memancing kesabarannya.


Kaget sekali rasanya dengan apa yang dilakukan oleh Ayana terhadap dirinya, karena kekasihnya itu bersikap tidak seperti biasanya.


"Dikit doang, Yang. Untuk penyemangat," jawab Ayana seraya nyengir kuda.


Padahal, jika saja Sandi tidak menegurnya, rasanya Ayana ingin sekali mencium bibir tebal pria itu. Padahal, biasanya dia tidak menginginkan hal itu.


Namun, setelah melihat Ayaka dan juga Stefano berciuman dengan begitu mesra, Ayana juga ingin merasakan hal yang sama.


"Jangan lakukan lagi," pinta Sandi yang takut khilaf.

__ADS_1


Bisa berabe jika dirinya nanti malah khilaf, walaupun pada awalnya Ayana yang memulainya, tetapi pastinya Sandi yang nantinya akan disalahkan.


"Iya," jawab Ayana seraya membentuk huruf v dengan jari telunjuk dan juga jari tengahnya.


__ADS_2