
Sigit sungguh merasa tidak peduli dengan perubahan dari sikap Afifah yang dirasa sangat aneh, padahal biasanya wanita itu bersikap sangat genit.
Akan tetapi, kali ini wanita itu terkesan tidak ingin berbicara sama sekali dengan dirinya. Bahkan, hanya untuk bersalaman dengan Sigit pun Afifah seakan tidak sudi.
Namun, dia tidak peduli dengan perubahan dari sikap Afifah. Karena yang terpenting saat ini dia bisa segera pulang ke ibu kota, pulang ke kediamannya.
Dia sangat merindukan istri tercintanya, dia juga merindukan anak-anaknya. Walaupun hanya berpisah selama tiga hari saja, tetapi dia benar-benar merindukan pujaan hatinya, istri tercinta.
Selama Sigit menikah dengan Aruna, memang Sigit-lah yang lebih sering merasa cemburu dan rindu berlebihan kepada wanita itu. Bukan malah Aruna yang merasakan hal itu.
Walaupun wanita itu umurnya lebih tua tiga tahun dari dirinya, tetapi menurut Sigit Aruna sangatlah cantik, menarik, seksi dan benar-benar tipe dari pria itu.
Wanita yang merupakan janda dari Sam itu benar-benar mampu mengalihkan hidupnya dari dunia luar, hanya Aruna yang ada di mata, hati dan juga pikirannya. Tidak ada wanita lain yang mampu masuk ke dalam kehidupannya.
"Mau langsung pulang atau mau membeli oleh-oleh dulu?" tanya Ben ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Mereka baru saja pergi ke luar kota dan saat ini hendak pulang ke ibu kota, rasanya tidak mungkin mereka datang tanpa membawa oleh-oleh sama sekali, pikir Ben.
"Mungkin membeli oleh-oleh terlebih dahulu akan lebih baik," ucap Sigit yang mengingat di rumahnya masih ada Kenzo dan juga Alice.
Tentunya Sigit juga ingin memberikan oleh-oleh untuk kedua mertuanya, karena biasanya kalau dia pergi ke luar kota, Satria dan juga Rachel selalu saja berkunjung ke rumahnya.
Tak jarang Steven dan juga ibunya akan berkunjung, karena putri bungsunya, Alice begitu dekat dengan keluarga Siregar ataupun keluarga Dinata.
"Oke!" jawab Ben singkat seraya melajukan mobilnya menuju tempat oleh-oleh di kota tersebut.
Setelah Ben membelikan oleh-oleh yang cukup banyak sesuai dengan permintaan Sigit, akhirnya keduanya segera pergi menuju ibu kota. Karena nyatanya bukan hanya sigit yang merindukan keluarganya.
Akan tetapi, Ben juga begitu merindukan istri tercintanya. Karena selama tiga hari berada di luar kota membuat Ben tidak bisa mendapatkan dekapan hangat dari istrinya tersebut.
"Ben! Kenapa sangat ramai?" tanya Sigit ketika melihat halaman rumahnya begitu penuh dengan mobil mewah milik keluarga Siregar dan juga keluarga Dinata.
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan selama dua jam, akhirnya Sigit dan juga Ben sampai di kediamannya. Akan tetapi, dia merasa heran karena di sana banyak mobil yang terparkir dengan cantik.
Tentunya Sigit sangat hafal mobil siapa saja yang ada di sana, miliki dua keluarga besarnya dan juga keluarga besar Aruna.
Mendengar pertanyaan seperti itu dari tuannya, Ben nampak menggedikkan kedua bahunya. Lalu, tidak lama kemudian pria itu pun berkata.
"Mana saya tahu, Tuan. Kok nanya saya? Saya kan' juga datangnya barengan sama Tuan."
Ya ampun! Jawaban dari Ben benar-benar membuat Sigit kesal dan juga membuat tensi darahnya naik seketika.
Jika saja asisten pribadinya yang merangkap sebagai sopir itu tidak sangat dia butuhkan, sudah dapat dipastikan jika Sigit akan memukul kepala pria itu.
"Ben! Apa kamu ingin dipecat?" tanya Sigit.
Sigit menatap wajah pria itu dengan tatapan tajamnya melalui kaca tengah, Ben yang melihat tatapan mata dari atasannya yang begitu mengerikan langsung menunduk dan berkata.
"Tidak, Tuan. Mana mungkin saya ingin dipecat, saya masih membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi istri dan juga anak saya."
Sigit turun terlebih dahulu tanpa menunggu Ben membukakan pintu mobil untuk dirinya, tentunya dia ingin segera masuk ke dalam kediamannya dan bertemu dengan istrinya.
Dia juga ingin tahu sebenarnya ada apa di dalam rumahnya tersebut, apakah ada acara yang sangat penting dan dia tidak tahu atau bagaimana, pikirnya.
Ben hanya bisa pasrah, dia dengan cepat membawa banyak oleh-oleh yang dibeli dari luar kota dan berjalan dengan begitu kesusahan menuju kediaman Sigit.
Akan tetapi, saat dia hendak masuk ke dalam rumah tersebut, beruntung ada beberapa pelayan yang membantu dirinya untuk membawakan oleh-oleh tersebut.
Tentu saja hal itu membuat Ben bisa bernapas dengan lega, karena ternyata masih banyak orang yang mau membantunya walaupun bosnya sering menyiksa dirinya.
"Sayang! Ada apa ini?" tanya Sigit yang melihat Aruna sedang berbicara dengan Satria.
Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah Sigit, dia tersenyum dengan begitu hangat lalu menghampiri suaminya tersebut.
__ADS_1
Tanpa lagu Aruna langsung memeluk suaminya, bahkan dia nampak mengecup pipi Sigit tanpa malu walaupun di sana banyak sekali keluarga besarnya.
Ya, di sana ada Rachel, Sagara dan juga Sayaka bersama dengan anak dan juga istri mereka masing-masing. Ada juga Steven dan istrinya, semuanya nampak berkumpul dan sedang mengobrol dengan begitu riang.
"Kalau pulang kerja itu ucap salam dulu, Sayang. Jangan nanya dulu, kamu itu aneh." Aruna menuntun Sigit untuk duduk bersama dengan keluarganya.
"Maaf, aku benar-benar merasa penasaran. Habisnya rumah kita saat ini terlihat begitu ramai, ada apa, hem?" tanya Sigit.
"Malam ini kami akan melaksanakan acara makan malam bersama, itung-itung sebagai syukuran karena Ay dan juga Aya akan menikah."
Satria nampak memberikan jawaban dari pertanyaan yang Sigit lontarkan, bukan dari Aruna, istrinya.
"Menikah? Jadi, kedua putriku akan segera menikah? Kapan?" tanya Sigit.
"Aya akan menikah dengan cepat, sedangkan Aya bulan depan," jawab Rachel.
"Oh ya ampun! Kedua putriku akan menikah, perasaan kemaren masih aku gendong." Sigit terkekeh Ayah mengingat-ingat kala Ayana sering sekali dia gendong ketika awal-awal dia menikah dengan Aruna.
"Sekarang mereka sudah besar, sudah ada yang melamar. Nanti malam kita akan berkumpul dan makan malam bersama," ucap Aruna.
"Hem! Siapa lagi yang akan datang?" tanya Sigit.
Di satu sisi Sigit sangat merasa bahagia mendengar kabar yang baru saja disampaikan oleh Aruna dan juga Satria, tetapi di satu sisi yang lain dia juga merasa kecewa.
Dia baru saja pulang dari luar kota, dia benar-benar begitu merindukan istri tercintanya. Jika saja tidak banyak orang di sana, rasanya Sigit ingin menggendong Aruna dan membawanya ke dalam kamar utama.
Dia sudah tiga hari tidak mendapatkan jatahnya, pria berpredikat sebagai suami mesumm itu sudah rindu ingin bercinta dengan istrinya.
"Angel dan juga Sam akan datang, bahkan anak dan suami Angel juga akan ikut." Aruna nampak memeluk lengan Sigit.
Tentu saja hal itu membuat Sigit panas dingin, terlebih lagi ketika tangan Aruna mulai mengusap paha pria itu. Bukan bermaksud menggoda, hanya saja Aruna merasa tidak sadar.
__ADS_1