
Kenzo terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya tersebut, dia sudah menduga jika ibunya pasti akan menyangka dirinya ingin menikahi Asmara karena wajahnya yang begitu mirip dengan Anaya.
"Ngga, Bun. Ken benar-benar menyukai Asmara, walaupun wajah mereka sama, tetapi keduanya memiliki karakter yang berbeda. Satu hal lagi, Bun. Setiap kali berdekatan dengan Asmara, jantung Ken berdebar dengan begitu kencang." Kenzo nampak tersenyum seraya mengelus dadanya.
Aruna sampai tertawa melihat tingkah dari Kenzo, dia merasa senang karena putranya telah kembali. Kini Kenzo terlihat begitu ceria seperti dulu, hangat dan juga senyum di bibirnya tidak pernah pudar.
"Lebay!" ujar Aruna yang langsung memeluk lengan putranya dan segera menuntun putranya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Kenzo tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu dari ibunya, perlakuan yang sudah satu bulan lebih tidak dia dapatkan dari ibunya.
"Buna istirahat gih, udah malem."
Anak itu sangat paham jika ibunya pasti sangat lelah, karena sudah melakukan perjalanan selama tujuh jam dari ibu kota menuju Kota Sorong.
"Bentar dulu napa! Buna mau ngomong bentar," ujar Aruna yang langsung duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar putranya tersebut.
Kenzo mengira jika ibunya pasti masih ingin melepas rindu dengan dirinya, secara mereka sudah satu bulan lebih tidak bertemu. Karena dirinya juga merasakan hal yang sama, begitu rindu kepada ibunya tersebut.
"Oke!" jawab Kenzo seraya duduk tempat di samping ibunya.
Aruna menghela napas sepenuh dada, dia soalnya sedang mempersiapkan diri untuk berbicara dengan putranya. Dia merasa harus berbicara dengan pelan-pelan agar putranya tidak tersinggung.
"Buna mau tanya, kamu kenal Ara di mana?" tanya Aruna.
Kenzo tersenyum hangat seraya menggenggam kedua tangan ibunya, Aruna ikut tersenyum melihat kelakuan dari putranya.
"Jadi gini, Buna. Waktu itu--"
Kenzo pada akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Asmara untuk pertama kalinya, dia juga menceritakan bagaimana akhirnya Asmara bisa menjadi asisten pribadinya.
Bahkan, Kenzo juga menceritakan bahwa Asmara adalah anak angkat dari paman Aman. Pria yang pekerjaannya melaut itu menemukan asmara di tengah lautan dalam keadaan mengenaskan, Asmara bahkan sampai koma selama enam bulan.
Kenzo juga menceritakan bagaimana Asmara bisa menjadi seorang muslim, paman dari Aman yang mengislamkan Asmara. Karena pria paruh baya itu tidak tahu agama apa yang dianut oleh Asmara sebelumnya.
Bahkan, Kenzo juga menceritakan kenapa paman dari Aman itu memberikan nama Asmara kepada gadis yang diadopsi itu.
Mendengar putranya menceritakan tentang kisah Asmara, entah kenapa Aruna jadi berpikir jika Asmara adalah Ayana.
"Ken! Kamu tidak curiga kalau Asmara adalah Anaya?" tanya Aruna setelah mendengarkan cerita dari putranya.
Kenzo sedikit tidak suka karena ibunya itu kembali membahas Anaya, karena nyatanya wanita itu sudah meninggal dunia.
__ADS_1
"Maksud Buna?" tanya Kenzo tidak paham.
Anaya dan juga Asmara merupakan dua orang yang berbeda, itulah yang Kenzo yakini. Karena walaupun mereka memiliki wajah yang sama, tetapi Kenzo merasa jika keduanya memiliki kepribadian yang berbeda.
"Pamannya Aman menemukan Asmara di lautan lepas dalam keadaan sekarat, apakah mungkin jika itu adalah Anaya?" tanya Aruna.
Aruna menebak jika saat kapal itu meledak, Anaya selamat dari ledakan kapal itu. Namun, tubuh wanita itu terbawa arus laut yang kencang. Bisa saja bukan, kalau hal itu terjadi kepada Anaya, pikirnya.
"Entahlah, Bun. Aku tidak mau memikirkan hal itu, yang pasti jika aku berjodoh dengan Asmara aku merasa bahagia. Aku sudah tidak ingin membahas Anaya lagi," ujar Kenzo yang selalu merasa sedih jika teringat akan wanita itu.
Aruna bisa melihat kesedihan yang begitu dalam dari sorot mata putranya, Aruna pun jadi berpikir untuk tidak meneruskan obrolan malam ini.
Namun, dia berjanji akan mencari tahu sendiri siapa Asmara sebenarnya. Karena dia benar-benar merasa penasaran, dia ingin tahu asal usul dari Asmara.
Jika memang benar Asmara adalah Anaya, tentunya Aruna akan merasa sangat senang. Karena itu artinya Kenzo bisa bersatu dengan cinta sejatinya.
"Maaf kalau Buna membuat kamu sedih, sekarang tidurlah. Bukankah besok kamu akan jalan-jalan dengan Ara dan juga Alice?" ujar Aruna.
Sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah itu bersama dengan putranya, Aruna paham jika Kenzo pasti sangat sedih jika harus diingatkan kembali dengan Anaya.
Karena Aruna sangat paham jika kisah cinta di antara keduanya sangatlah pelik, begitu susah untuk direalisasikan karena penghalang yang begitu sulit untuk ditembus.
"Hem! Mumpung libur, Ken mau ngajak Ara sama Alice ke salon sama jalan-jalan," jawab Kenzo.
"Ya, Sayang," ujar Aruna.
Setelah terjadi obrolan antara ibu dan anak tersebut, akhirnya Aruna memutuskan untuk segera keluar dari dalam kamar putranya dan masuk ke dalam kamar tamu.
Saat dia masuk ke dalam kamar tamu, Aruna melihat Sigit yang sedang berdiri di depan jendela. Dia menghampiri Sigit dan memeluk pria itu dari belakang.
"Sedang melihat apa?" tanya Aruna seraya menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu.
Selalu saja rasa nyaman yang dia rasakan ketika berpelukan dengan suaminya itu, pria yang mampu membuat dirinya jatuh cinta dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
"Liat hujan, Yang. Di sini ternyata udah hujan, walaupun tidak lebat. Padahal di ibu kota belum juga hujan," jawab Sigit.
Sigit sempat berpikir jika dia akan kepanasan ketika tinggal di sana, belum lagi dia harus beradaptasi dengan udara di kota tersebut.
Namun, justru nyatanya dia malah merasakan kenyamanan. Karena selain pemandangannya yang begitu indah, ini ditambah lagi dengan hujan yang mampu menyegarkan.
"Pantas anginnya dingin banget,'' ujar Aruna seraya mengeratkan pelukannya kepada sang suami.
__ADS_1
Sigit terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya, karena setelah menikah dengan dirinya Aruna selalu mengutarakan isi hatinya.
"Kamu dingin, Yang?" tanya Sigit seraya menutup jendelanya.
"He'em," jawab Aruna.
Sigit langsung membalikkan tubuhnya, dia tersenyum lalu menggendong Aruna. Pria itu dengan langkah perlahan membawa istrinya menuju tempat tidur.
"Biar Papa hangatkan," ujar Sigit seraya merebahkan tubuh istrinya dengan begitu perlahan.
Aruna langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, karena Aruna sangat paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
"Hangat apa panas?" tanya Aruna.
"Panas!" jawab Sigit yang langsung melucuti kain yang melekat di tubuh istrinya.
Sigit tersenyum ketika melihat keadaan istrinya kini yang sudah polos, tubuh wanita itu tetap terlihat ramping dan juga sangat indah.
"Aih! Ngga sabar banget sih," ujar Aruna ketika Sigit langsung menyesap ujung dada istrinya.
"Hem!"
Sigit hanya berdehem saja, karena mulut pria itu kini sedang sibuk menyesap ujung dada istrinya secara bergantian. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, Aruna sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
Wanita itu langsung menjambak rambut suaminya, lalu dia mengunci pinggang suaminya dengan kedua kakinya.
"Lepas dulu, Yang. Aku belum buka baju," ujar Sigit.
"Iya, maaf."
Sigit tertawa setelah Aruna menurunkan kedua kakinya, lalu pria itu melepaskan kain yang melekat pada tubuhnya dengan begitu tergesa. Aruna sampai tertawa dibuatnya.
Pria itu sudah terlihat begitu matang jika dilihat dari usia, tetapi pria itu tetap gagah dan memiliki bentuk tubuh yang indah. Karena Sigit selalu menjaga bentuk tubuhnya itu.
Pria itu tetap rajin berolahraga, bahkan pria itu juga mengatur makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Aduh, Yang. Jangan buru-buru!" ujar Aruna ketika Sigit tidak lagi memberikan rangsangan.
Namun, pria itu langsung memasukkan miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya tersebut. Liang yang selalu terasa sempit dan juga nikmat, karena Aruna masih aktif melakukan senam kegel.
"Maaf, Yang. Abisan enak," ujar Sigit yang langsung menggoyangkan pinggulnya.
__ADS_1
Aruna hanya tertawa seraya mengimbangi goyangan pinggul dari suaminya, karena dia tidak mau menjadi wanita yang pasif. Dia juga ingin memuaskan suaminya, bukan hanya dipuaskan saja.