
Sam yang sedang melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya itu langsung menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Aruna.
"Maksudnya apa?" tanya Sam seraya menatap koper yang ada di hadapan Aruna.
Dia tidak paham kenapa Aruna membawa banyak koper seperti itu, yang pastinya karena tidak mungkin akan ikut tinggal bersama dengan dirinya. Karena mereka sudah resmi bercerai 6 tahun yang lalu.
"Ck! Ini adalah barang-barang milik Aya, kamu bawalah masuk. Masa aku yang bawa," ujar Aruna dengan bibir yang mengerucut.
Oh, oh, oh. Jika saja Aruna masih menjadi istrinya, pastinya Sam akan langsung membopong tubuh Aruna ke dalam kamar. Karena Aruna benar-benar terlihat menggemaskan saat ini.
Usia boleh saja bertambah, tetapi setelah 6 tahun tidak bertemu justru Aruna malah terlihat semakin cantik. Tubuh dan wajahnya terlihat begitu terawat, padahal wanita itu sudah memiliki dua anak.
"Eh? Kok Aya bawa banyak barang? Kenapa? Kamu langsung mengusir Aya setelah kamu mengetahui dia putriku?" tanya Sam dengan sedih.
Tuh kan, suka gitu emang kamu tuh Sam. Nyangkanya yang nggak-nggak, Aruna pasti bakalan marah deh kalau kayak gitu caranya.
"Aih! Mana ada kaya gitu, Aya itu begitu mencintai kamu. Padahal dia sudah tinggal sama aku selama 5 tahun, tapi dia malah bilang pengen tinggal sama kamu." Aruna terlihat sedih sekali setelah mengatakan hal itu.
Sam benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang sudah Aruna katakan, dia bahkan sampai mengusap telinganya karena takut salah mendengar.
Sam dengan cepat menatap wajah Ayaka, dia menatap wajah putrinya dengan binar penuh bahagia. Lalu, Sam bertanya kepada putrinya untuk memastikan apa yang dia dengar.
"Aih! Benarkah itu, Sayang?" tanya Sam dengan raut wajah yang begitu bahagia.
Padahal, Sam sempat berpikir jika dia akan hidup sendirian. Anak hilang, Angel sudah tidak peduli lagi kepada dirinya dan Aruna sudah menikah kembali.
Namun, ternyata Tuhan begitu baik kepada dirinya. Setelah Ayaka ditemukan, justru anak itu malah memilih untuk tinggal bersama dengan dirinya. Ini adalah sebuah kebahagiaan yang begitu luar biasa bagi Sam.
"Ya, Ayah. Aya mau tinggal sama Ayah, boleh?" tanya Ayaka.
Sam langsung menganggukan kepalanya dengan cepat, dia begitu merindukan kehadiran putrinya tersebut. Bagaimana mungkin dia tidak memperbolehkan putrinya untuk tinggal bersama dengan dirinya.
"Tentu saja, Sayang. Sangat boleh, Ayah bahkan sangat senang kalau Aya mau tinggal sama Ayah. Tapi, Ayah tidak punya banyak uang sekarang. Apa kamu tidak keberatan jika harus hidup sederhana dengan Ayah?" tanya Sam dengan sedih.
"Tidak akan, Ayah. Aya sayang Ayah, jadi sekarang tolong bawakan barang-barang milik Aya. Karena Aya keberatan kala bawa sendiri," ujar Ayaka.
"Ya, Sayang." Sam langsung bangun dan menghampiri Aruna.
Dia membawa dua koper sekaligus ke dalam rumahnya, lalu dia kembali lagi untuk mengambil satu koper sisanya.
"Aya main dulu gih sama Kakak Ay, Ayah mau ngomong dulu sama Tante Aruna," ujar Sam.
__ADS_1
"No! Aya nggak mau main, Aya mau merapikan barang-barang Aya di dalam kamar."
"Ay juga mau bantu," ujar Ayana.
''Hem! Pergilah, jika lelah jangan memaksakan. Biar nanti Ayah yang rapikan," ujar Sam.
"Ya, Ayah!" jawab Ayana dan Ayaka dengan kompak.
Ayaka dan juga Ayana langsung masuk ke dalam kamar, lalu mereka berdua dengan kompak merapikan barang bawaan milk Ayaka.
Ayana sempat memperhatikan tempat tidur yang ada di dalam kamar tersebut, hanya kasur busa yang tergeletak di atas lantai. Tanpa adanya ranjang, di sana juga hanya ada satu lemari kecil.
"Apa kamu yakin akan betah tinggal di sini?" tanya Ayana.
Ayaka ikut mengedarkan pandangannya, walaupun keadaannya tidak semewah di rumah Aruna, tetapi Ayaka sangat senang berada di sana karena ada ayahnya.
Dulu saat Ayaka tinggal di rumah Andin, bahkan keadaannya lebih mengenaskan dari saat ini. Dia hanya diberikan tempat tinggal di dalam kamar yang begitu kecil dan juga sempit.
Untuk makan pun dia hanya diberikan makanan sisa, rasanya jika hidup sederhana tetapi bersama dengan Sam, Ayaka merasa tidak akan menderita.
"Yakin, Kak. Walaupun ayah Sam sudah jatuh miskin, tetapi aku yakin ayah Sam akan berusaha untuk membahagiakan kita," jawab Ayaka.
"Hem, kamu benar," timpal Ayana.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Sam?" tanya Aruna.
"Aku mau mengucapkan banyak terima kasih kepada kamu, terima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan untuk aku bisa berdekatan dengan Ay. Terima kasih karena selama 5 tahun ini kamu sudah membesarkan Aya dengan baik, kamu memang wanita yang berhati bidadari."
Sam tersenyum dengan begitu tulus kepada Aruna, jika saja waktu bisa diulang, rasanya Sam ingin tetap setia kepada wanita itu. Sam ingin tetap berumah tangga dengan Aruna, sayangnya itu tidak mungkin terjadi.
"Sama-sama," jawab Aruna.
Aruna memperhatikan penampilan Sam, pria yang dulu terlihat tampan dan juga kaya raya, kini terlihat begitu sederhana.
"Oiya, Sam. Bagaimana kalau resto yang mom wariskan untuk Aya kamu saja yang kelola, nanti kalau Aya sudah cukup umur, Aya yang mengambil alih Resto tersebut?"
Rasanya itu bukanlah ide yang buruk menurut Aruna, karena walau bagaimanapun juga Sam adalah ayah dari Ayaka. Sam juga merupakan ibu kandung dari Sam.
"No! Aku tidak mau kelola Resto milik Aya, aku takut khilaf. Biarkan orang kepercayaan mom yang kelola, uangnya kamu yang urus buat keperluan dia. Aku tidak mau menyentuh uang itu," jawab Sam.
Entah mengapa Sam merasa tidak berhak atas Resto milik ibunya yang sudah diwariskan kepada Ayaka, ada rasa ketakutan yang luar biasa tetapi sulit untuk diungkapkan.
__ADS_1
"Baiklah! Kalau begitu aku akan membelikan beberapa barang yang diperlukan oleh Aya, tapi... yakin ngga mau pegang buku tabungan Aya?" tanya Aruna.
Karena selama dia yang mengurus resto milik Ayaka, Aruna selalu menyimpan uang milik Ayaka pada buku tabungan yang dia buat.
"Tidak usah, pegang sama kamu aja. Kalau misalkan kamu memang mau membelikan barang-barang keperluan Aya, silakan!" ujar Sam.
"Oke! Semoga kamu bisa sukses dengan jalan yang kamu ambil, tolong urus Aya dengan baik." Aruna berkata dengan raut wajah khawatir, karena selama ini Ayaka hidup bersama dengan dirinya dalam kemewahan.
Walaupun Ayaka tidak meminta apa pun kepada Aruna, justru wanita itu yang selalu berniat untuk membelikan barang-barang keperluan dari Ayaka. JIka Ayaka harus tinggal di rumah sederhana tersebut, Aruna takut jika Ayaka tidak akan merasa nyaman.
"Hey! Aya adalah putriku, sudah pasti aku akan berusaha untuk membahagiakannya. Aku akan berusaha untuk mengurus Aya dengan baik," jawab Sam.
"Hem! Aku hanya khawatir, kalau begitu aku pamit pulang. Nanti malam aku akan datang sekalian membawakan makan malam untuk kalian," ujar Aruna.
"Hem! Terima kasih," jawab Sam.
Aruna terlihat berpamitan untuk pergi dari kediaman Sam kepada Ayana dan juga Ayaka, karena kedua gadis kecil itu ingin menghabiskan waktu dengan Sam.
Setelah berpamitan, Aruna langsung pergi ke perusahaan Siregar. Dia ingin menemui suaminya, dia sebenarnya ingin bertanya kepada suaminya tersebut.
Saat tiba di perusahaan Siregar, Aruna langsung masuk ke dalam ruangan Sigit. Ben yang sedang ada di sana langsung pamit undur diri, karena dia tidak enak hati jika harus berada di antara sepasang suami istri tersebut.
"Tumben dateng ke sini ngga bilang-bilang?" tanya Sigit.
"Memangnya kalau aku dateng harus laporan dulu?" tanya Aruna seraya duduk di atas pangkuan suaminya.
Inilah yang Sigit suka, Aruna kini lebih bersikap manja kepada dirinya. Aruna tidak segan-segan mengutarakan apa yang ada di dalam isi hatinya, tidak pernah sedikit pun wanita itu merahasiakan sesuatu hal kepada dirinya.
"Ngga juga dong, Yang. Perusahaan ini milik kamu juga, ada apa hem?" tanya Sigit seraya memeluk pinggang istrinya.
"Aku ingin bertanya kepada kamu, Yang. Tapi jangan marah," pinta Aruna.
"Ngga dong, Sayang. Aku ngga akan marah, kamu mau nanya apa?" tanya Sigit.
''Anu, Yang. Kalau misalkan aku---ehm! Itu, maksudnya kamu mau punya anak lagi ngga?" tanya Aruna takut-takut.
Usia Sigit memang masih sangat muda, pria itu baru berusia dua puluh sembilan tahun. Namun, Aruna kini sudah berusia tiga puluh lima tahun. Rasanya sangat tua jika harus hamil kembali, pikirnya.
"Maksud kamu bagaimana sih? Kenapa kamu kaya orang ragu gitu ngomongnya?" tanya Sigit.
"Anu, Yang. Coba kamu lihat ini deh,'' ujar Aruna seraya memberikan amplop putih dengan logo rumah sakit terbesar di pusat kota.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Sigit.