Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 69


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sigit, Steven dan juga Anjana datang untuk melamar Aruna. Pria itu bahkan langsung meminta restu kepada Satria untuk dinikahkan, dia blak-blakan mengatakan jika dirinya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama membujang.


Padahal usia Sigit baru dua puluh tiga tahun, Satria dan Rachel yang mendengarnya sampai tertawa karena merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Sigit.


Pria muda itu begitu pandai dalam menyusun kata-kata, tentu saja Satria dan juga Rachel langsung meminta putrinya untuk mengutarakan jawabannya.


"Ay mau segera melihat Buna dan juga Papa menikah!" ujar Ayana bersemangat.


Itulah jawaban yang terlontar ketika Sigit bertanya kepada Aruna, bukannya janda beranak satu itu yang menjawab pertanyaan dari Sigit, melainkan putri semata wayangnya.


Ayana yang sudah begitu dekat dengan Sigit bahkan langsung melompat ke atas pangkuan pria itu, dia memeluk Sigit dengan posesif.


"Buruan nikah sama Buna, biar Ay bisa tinggal satu rumah sama Buna dan juga Papa. Ay suka sedih kalau lihat teman-teman Ay yang tinggal satu rumah sama ayahnya," ujar Ayana dengan sedih.


Ya, selama satu tahun ini Ayana merasa iri ketika melihat sahabatnya yang tinggal dengan keluarga yang utuh. Ada ayah dan juga ibu, sedangkan dia merasa jika ayahnya sudah direbut oleh Ayaka dan berpikir jika Sam tidak akan kembali lagi kepada dirinya.


Maka dari itu ketika Sigit mendekati dirinya, anak kecil itu menggantungkan harapan yang begitu tinggi kepada Sigit.


"Papa sangat setuju kalau harus segera menikah, karena Papa benar-benar tidak sabar untuk--"


Sigit tidak meneruskan ucapannya, dia malah menolehkan wajahnya ke arah Aruna dan menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


"Papa! Jangan bikin Ay penasaran, Papa sudah tidak sabar untuk apa?" tanya Ayana.


"Ada deh," jawab Sigit tanpa melepaskan tatapannya dari Aruna.


Aruna hanya memutarkan bola matanya dengan malas, dia adalah seorang janda sedangkan Sigit adalah seorang pria perjaka.


Kalau memang Sigit sudah tidak sabar untuk merasakan yang namanya malam pertama, rasanya malam pertama mereka juga tidak akan begitu istimewa, karena nyatanya Aruna bukanlah seorang perawan.


"Papa nyebelin, tapi Ay sayang Papa." Ayana memeluk Sigit dan mengecup pipi pria itu.


Sigit merasa begitu senang sekali karena sudah menguasai hati Ayana, pria muda itu lalu menolehkan wajahnya ke arah Aruna.

__ADS_1


''Jadi bagaimana, Yang? Kamu mau kan, tunangan sama aku? Kamu mau kan, nikah secepatnya dengan aku?" tanya Sigit penuh harap.


Dia sudah begitu sabar menunggu wanita itu, rasa-rasanya dia sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia ingin menjadikan Aruna sebagai pasangan halalnya, dia ingin membuat adik kecil untuk Ayana. Karena beberapa kali dia berkata ingin mempunyai adik yang lucu.


"Ya, aku mau nikah sama kamu. Tapi, kamu harus ingat satu hal. Sekali saja kamu menghianatiku, sekali saja kamu melirik wanita lain untuk dijadikan selingkuhan atau hanya sebagai pelampiasan, aku tidak akan pernah mau lagi berhubungan dengan kamu."


Aruna yang pernah mengalami trauma setelah dikhianati oleh Sam langsung mengajukan persyaratan seperti itu, tentunya karena dia takut dikhianati lagi oleh pria yang katanya ingin meminang dirinya itu.


"Tidak akan, Sayang. Aku tidak akan pernah menghianati kamu, aku akan terus menyayangi dan mencintai kamu. Aku juga akan memperlakukan Ay layaknya putriku sendiri," jawab Sigit.


Sigit sungguh-sungguh mencintai Aruna dengan luar biasa, dia bahkan pernah menyangka jika dia mengalami yang namanya cinta monyet ketika jatuh cinta kepada Aruna.


Namun, ternyata rasa cintanya terhadap Aruna semakin hari malah semakin besar. Tidak ada yang namanya cinta monyet bagi Sigit, karena cintanya terhadap Aruna benar-benar sangat besar dan semakin hari dia semakin ingin memiliki wanita itu.


"Akan aku pegang ucapan kamu," ucap Aruna seraya tersenyum hangat.


Sigit benar-benar sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, terlebih lagi saat melihat senyuman hangat di bibir wanita itu.


Uuh! Rasanya Sigit sudah tidak sanggup lagi untuk segera mencicipi bibir wanita itu, wanita yang selalu membuatnya merasakan jantungnya berdebar dengan begitu kencang saat berdekatan dengan wanita itu.


"Tentu saja," ujar Aruna seraya mengulurkan tangan kirinya.


Sigit tersenyum dengan begitu bahagia, lalu dia memasangkan cincin berlian tersebut di jari manis wanita pujaan hatinya.


"Sangat pas, terus... kapan aku boleh menikahi kamu?" tanya Sigit dengan wajah seriusnya.


"Besok," jawab Aruna dengan wajah tidak kalah serius.


"Hah?" tanya Sigit dengan kaget.


Semua orang yang ada di sana nampak tertawa melihat reaksi dari Sigit, dalam setiap harinya pria itu selalu saja tidak sabar untuk memiliki Aruna.


Namun, ketika Aruna berkata jika dirinya sudah siap untuk menikah dengan Sigit besok hari, pria itu malah terlihat begitu syok.


"Cepat pulang dan persiapkan acara pernikahan kamu dengan kakakku, jangan sampai ada yang kelewat. Ingat, persiapan pernikahan harus siap dalam satu malam," ucap Sagara seraya menepuk pundak sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Sagara benar-benar suka saat melihat wajah syok dari Sigit, sahabatnya itu benar-benar tidak sabar untuk bisa mencium kakak perempuannya.


"Gila! Mana ada nyiapin acara pernikahan dalam waktu semalam, itu bullshit namanya. Bagaimana kalau besok kita nikah di KUA saja dulu? Seminggu kemudian baru diadakan resepsi," tawar Sigit.


Aruna ingin sekali tertawa mendengar pertanyaan dari Sigit, dia benar-benar suka karena berhasil mengerjai calon suaminya tersebut.


"Ck! Bagaimana, Yah? Boleh atau tidak?" tanya Aruna seraya menolehkan wajahnya ke arah Satria.


"Sebenarnya sih Ayah nggak setuju kalau caranya kayak gitu, tapi--"


"Tapi apa?" tanya Sigit cepat.


Untuk sesaat Satria terdiam, dia memperhatikan raut wajah calon menantunya itu dengan begitu lekat. Dia bisa merasakan jika Sigit benar-benar serius ingin meminang putrinya, tidak lama kemudian dia berkata.


"Kalau kamu benar-benar ingin membahagiakan putriku dan juga cucuku, aku menyetujuinya," putus Satria.


Oh, oh, oh. Hati Sigit benar-benar bahagia dibuatnya, dia bahkan langsung mengangkat tubuh Ayana yang sedang duduk di atas pangkuannya. Lalu, dia mendudukan Ayana di salah satu sofa yang ada di sana.


Pria muda itu menghampiri Aruna, dia bahkan nampak hendak mencium pipi Aruna, tetapi dengan cepat Satria mendorong wajah Sigit.


"Tolong dihalalkan dulu, jangan kaya Soang asal sosor aja."


Satria merasa tidak suka saat Sigit hendak mencium putrinya, padahal dulu dia saja dengan tidak sabarnya mencium bibir Rachel ketika mengungkapkan rasa cintanya.


Namun, di saat anak perempuannya hendak dicium oleh pria lain dengan status yang belum halal, rasanya Satria tidak rela.


"Cium dikit doang, Om. Masa ngga boleh, kemarin Aruna boleh cium aku. Malah aku mau minta nambah," jawab Sigit.


Aruna langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, sedangkan Satria dan juga Rachel langsung menolehkan wajahnya ke arah Aruna.


"Aruna, Sayang. Apakah itu benar?" tanya Satria.


"Eh? Mana ada kaya gitu, aku tidak mungkin melakukan hal itu." Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah lain setelah menyatakan hal itu.


Sigit yang melihat reaksi dari Aruna langsung tertawa tertahan, dia benar-benar merasa lucu melihat tingkah calon istrinya tersebut.

__ADS_1


"Aih! Sudah berbuat tidak berani bertanggung jawab," ujar Sigit dengan bibir yang mencebik.


__ADS_2