
Satu bulan ini Kenzo selalu bekerja dengan begitu baik, karena ada Anaya yang selalu membantu dirinya. Lebih tepatnya menemani pria itu, karena Kenzo tidak pernah membiarkan Anaya untuk bekerja sama sekali.
Jika Anaya merasa bosan menemani suaminya, maka dia akan membantu Alan untuk berjualan di rumah makan. Namun, Kenzo tidak memperbolehkan wanita itu untuk capek dalam bekerja.
Kenzo hanya akan membiarkan Anaya berdiam diri di ruang kerja, dia hanya diperbolehkan untuk mengurus atau menghitung masalah keuangan saja.
Terkadang Anaya merasa jika sikap Kenzo dirasa sangat berlebihan, tetapi dia juga merasa senang mendapatkan perhatian yang begitu lebih dari suaminya tersebut.
Rumah tangganya dengan pria itu dia rasa sangat menyenangkan, Anaya merasa tidak salah untuk memutuskan menikah dengan pria itu.
Dia juga merasa tidak salah karena melabuhkan cintanya kepada pria itu, cinta yang sudah dia rasakan sejak masa remaja. Walaupun begitu banyak halangan dan juga rintangan dalam cinta mereka, tetapi Anaya merasa bersyukur karena akhirnya mereka bisa bersatu juga.
"Yang! Udah sore loh, ayo pulang." Kenzo masuk ke dalam ruang kerja Alan, lalu dia duduk tepat di hadapan Anaya.
Anaya sempat memperhatikan wajah suaminya, pria itu terlihat begitu kelelahan sekali. Bahkan, wajahnya pucat dan bibirnya nampak mengering.
"Kamu tuh bibirnya kering banget, sini aku cium biar basah." Anaya bangun dan mencondongkan tubuhnya lalu mencium bibir pria itu.
Cukup lama mereka berciuman, apalagi Kenzo nampak membalas ciuman dari istrinya dengan begitu mesra.
"Kayaknya aku kurang vitamin sama kurang makan buah deh, aku hari ini lemes banget."
Anaya merasa jika Kenzo sangat kelelahan dalam bekerja, bukan kurang vitamin ataupun kurang makan buah. Karena asupan makanan yang Kenzo makan selalu bagus dan lengkap.
Anaya dalam setiap harinya selalu memperhatikan asupan makanan yang Kenzo konsumsi, wanita itu selalu memperhatikan apa pun yang dimakan oleh pria itu.
"Kita pulang aja, kamu harus istirahat. Kalau mau apa-apa tinggal bilang sama bibi aja, nanti dibeliin," ujar Anaya.
"Iya, aku sangat lelah. Mau pulang dan mau istirahat," ujar Kenzo.
Pada akhirnya Kenzo dan juga Anaya pulang ke kediamannya, tentunya setelah berpamitan kepada Alan. Setibanya di dalam kamar utama, Kenzo benar-benar langsung merebahkan tubuhnya tanpa mengganti baju terlebih dahulu.
__ADS_1
Pria itu bahkan terlihat akan tertidur dengan matanya yang mulai terpejam, Anaya langsung menghampiri Kenzo dan menegur pria itu.
"Yang, ini udah jam lima loh. Udah sore, masa kamu mau tidur jam segini?" tanya Anaya.
Kenzo membuka matanya kembali, lalu dia menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh permohonan. Dia seolah meminta izin kepada istrinya untuk tidur walaupun hanya sebentar saja.
"Abis aku-nya lemes banget, Yang. Ini kepalanya malah terasa pusing," jawab Kenzo.
Kenzo memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berputar-putar, Anaya menjadi kasihan terhadap suaminya tersebut. Wanita itu dengan cepat mengusap-usap kepala suaminya itu.
"Mau ke dokter, nggak?" tanya Anaya.
Sungguh dia merasa begitu khawatir dengan keadaan dari Kenzo, karena wajah pria itu kini semakin memucat.
"Aku nggak kuat kayaknya kalau harus ke dokter, aku boboan aja. Kamu tolong buatkan aku perasaan jeruk lemon, jangan dikasih gula. Enak kayaknya," pinta Kenzo.
Kenzo sampai menelan ludahnya beberapa kali, dia seolah-olah tidak sabar untuk meminum perasan jeruk lemon yang pasti rasanya akan asam dan menyegarkan.
Bibir Anaya terasa langsung berliur mendengar apa yang diminta oleh suaminya tersebut, bisa-bisanya suaminya itu meminta perasaan jeruk lemon tanpa diberikan gula ataupun madu. Anaya bisa membayangkan jika rasanya pasti sangat asam, padahal dia belum mencicipinya.
"Iya, Sayang. Tunggu sebentar," ujar Anaya.
Anaya dengan cepat melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar utama, dia ingin membuat perasaan jeruk lemon untuk suami tercintanya itu.
"Kamu tuh aneh, Ken. Bisa-bisanya minta perasan jeruk lemon, pasti rasanya sangat asam."
Anaya nampak menggerutu ketika dia tiba di dapur, tetapi walaupun seperti itu Anaya tetap membuatkan Kenzo perasan jeruk lemon seperti yang diinginkan oleh pria itu.
"Semoga saja suamiku yang tampan itu tidak akan sakit perut," ujar Anaya setelah dia membuatkan satu gelas perasan jeruk lemon.
Anaya menghela napas berat, lalu dia kembali menuju kamar suami tercintanya. Kenzo langsung tersenyum dengan begitu lebar ketika melihat istrinya yang membawakan dirinya minuman yang dia inginkan.
__ADS_1
"Widih, Yang! Seger bener romannya," ujar Kenzo yang langsung bangun walaupun kepalanya terasa begitu berat.
Aroma yang dihasilkan oleh perasan jeruk lemon itu benar-benar tercium begitu wangi di hidungnya, Kenzo sampai mengendus perasan lemon itu dengan senyum lebar di bibirnya.
"Iya, ini aku buatkan khusus untuk suami tercintaku." Anaya langsung memberikan gelas berisikan perasan jeruk lemon tersebut.
Kenzo dengan cepat menerima perasan jeruk lemon itu, lalu dia meminumnya hingga tandas. Kenzo nampak biasa saja, dia seperti tidak merasakan asam sama sekali saat meminum minuman tersebut.
"Ken! Ngga salah itu? Masa minumannya habis dalam sekejap?" tanya Anaya kebingungan.
Anaya benar-benar merasa aneh dengan tingkah suaminya tersebut, padahal mulut Anaya benar-benar terasa berliur melihat apa yang sudah dilakukan oleh suaminya itu.
"Enak, Yang. Rasanya kecut, bikin aku melek lagi. Sakit kepala aku sudah hilang, mandi bareng yuk?" ajak Kenzo.
Wajah pria itu kini terlihat lain, tatapan matanya saat menetapkan Anaya begitu berbeda. Dia paham dengan tatapan suaminya tersebut, jika sudah seperti itu tandanya Kenzo menginginkan dirinya.
Namun, saat ini Anaya sedang tidak ingin bercinta dengan suaminya tersebut. Karena dia merasa lelah sekali, badannya juga terasa lemas.
"Aku lapar, Yang. Makan yuk, habis itu baru shalat maghrib," ujar Anaya berusaha untuk mengalihkan perhatian.
Kenzo menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Kenzo paham jika istrinya itu pasti sangat kelelahan. Dia tidak boleh egois, walaupun dia memang sudah membayangkan hal yang pastinya menyenangkan.
Kenzo sudah membayangkan akan mengajak istrinya untuk bercinta di bawah kucuran air shower yang hangat, rasanya itu akan begitu menyenangkan.
Namun, keinginannya langsung buyar seketika saat mendengar penolakan secara halus dari bibir istrinya.
"Yah! Ya udah deh," jawab Kenzo lesu.
Walaupun wajah pria itu terlihat lesu, tetapi dia menuruti keinginan dari istrinya tersebut. Dia langsung mengajak istrinya untuk pergi ke ruang makan.
Beruntung bibi baru saja selesai memasak, sehingga Anaya dan juga Kenzo bisa langsung menyantap makanan yang terlihat masih panas itu.
__ADS_1
"Makannya pelan-pelan, Sayang. Masih panas soalnya," ingat Kenzo ketika Anaya langsung mencicipi sup tanpa meniupnya terlebih dahulu.
"Iya, Sayang," jawab Anaya seraya nyengir kuda.