Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 38


__ADS_3

Kenzo terlihat begitu bahagia sekali bisa berlibur dengan Asmara, begitupun dengan Alice. Dia bahagia karena bisa pergi berlibur bersama dengan Kenzo.


Selain itu, dia juga merasa bahagia karena melihat kebahagiaan dari wajah kakak kandungnya itu. Sudah sangat lama dia tidak melihat keceriaan di wajah Kenzo.


Ternyata yang berlibur di taman wisata alam itu bukan hanya mereka bertiga, tetapi ada juga beberapa kelompok yang melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan oleh Kenzo bersama dengan Alice dan juga Asmara.


Bahkan, ada juga yang membawa kompor gas portable. Mereka terlihat melakukan pesta barbeque, ada juga yang makan hotspot bersama. Mereka terlihat begitu bahagia dengan apa yang mereka lakukan.


Ah! Jika tahu seperti itu pasti Alice juga akan melakukan hal yang sama, karena pastinya sangat menyenangkan jika berlibur sambil bakar jagung. Atau bakar ikan dan makan hotspot di alam bebas seperti itu.


"Kayaknya makan hotspot enak deh, Kak!" ujar Alice seraya memperhatikan orang-orang yang sedang memakan hotspot tidak jauh dari sana.


Kenzo menolehkan wajahnya ke arah apa yang sedang diperhatikan oleh adiknya tersebut, dia tersenyum lalu mengelus lengan adiknya dengan begitu lembut.


"Nanti setelah dari sini kita mampir ke Resto," ujar Kenzo.


Alice yang mendengar perkataan dari kakaknya langsung menolehkan wajahnya ke arah pria itu, dia menatap Kenzo dengan tatapan tidak suka lalu berkata.


"Ish! Beda," ujar Alice dengan bibir yang sudah mengerucut.


Kenzo hanya tertawa menyikapi adiknya itu, Asmara yang sedang menikmati camilan nampak mengelus lembut punggung wanita muda itu.


"Kapan-kapan kita makan hotspot di tepi pantai, saat malam tiba. Pasti asik," ujar Asmara mencoba untuk menghibur wanita muda itu.


Jika makan hotspot di tepi pantai pasti tidak perlu mengeluarkan biaya banyak, karena dirinya yang nantinya akan menyiapkan semuanya.


"Ah! Kakak benar, pasti akan menyenangkan juga. Soalnya dilakukan di alam terbuka, ditemani deburan ombak."


Alice membayangkan apa yang nanti dia lakukan di pinggir pantai seraya memejamkan matanya, Kenzo sampai tertawa dibuatnya.


Di saat mereka bertiga sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja terjadi kebocoran gas pada kompor portable yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Tidak lama kemudian, terjadi ledakan yang tidak terlalu besar. Namun, Asmara yang melihat ledakan itu terlihat begitu ketakutan. Bahkan, dia langsung menunduk seraya menutupi wajahnya.


Kenzo sempat kaget melihat reaksi dari Asmara, karena menurutnya reaksi dari Asmara sangatlah berlebihan. Dia merupakan wanita yang kuat dan mandiri, rasanya dia benar-benar tidak menyangka jika Asmara akan bereaksi seperti itu.


"Tenanglah, Ara. Hanya ledakan kecil saja," ujar Kenzo menenangkan.

__ADS_1


Pria itu mencoba untuk menenangkan Asmara dengan mengusap-usap punggung wanita itu, Kenzo begitu kaget karena wanita itu terlihat begitu gemetaran.


Bahkan, dia bisa mendengar isak tangis dari bibir wanita itu. Asmara terlihat begitu ketakutan, Kenzo dengan cepat menarik lembut wanita itu ke dalam pelukannya.


''Tenanglah! Itu hanya ledakan kecil saja, jangan takut." Kenzo nampak mengusap-usa punggung wanita itu dengan begitu lembut sekali.


"Aku takut," ujar Asmara dengan suara serak karena menangis.


Asmara yang ketakutan bahkan sampai mengeratkan pelukannya, Alice sampai merasa aneh karena reaksi dari Asmara sangatlah berlebihan.


Lagi pula ledakan itu sudah bisa ditangani, tidak sampai memakan korban. Bahkan, tidak ada yang terluka sama sekali. karena memang ledakannya hanya dalam skala kecil saja.


"Mending kita pulang aja deh! Kasian Kak Ara," ujar Alice.


Kenzo setuju jika dia harus membawa Asmara pulang, tetapi setidaknya dia harus menenangkan Asmara terlebih dahulu sebelum pulang.


"Biarkan dia tenang dulu," ujar Kenzo dengan tangannya yang kini mengusap puncak kepala wanita itu dengan begitu lembut.


Kenzo bisa merasakan jika tubuh wanita itu bergetar dengan hebat, detak jantungnya berdebar dengan tidak karuan.


"Tenanglah, Ara. Baca istighfar, jangan takut," ujar Kenzo.


"Minum, aku mau minum!" ujar Asmara setelah sekian lama dia berada di dalam pelukan Kenzo.


Alice yang mendengar ucapan Asmara langsung mengambilkan sebotol air mineral, lalu gadis itu memberikan air tersebut kepada Asmara.


"Minumlah, Kak!" ujar Alice.


"Terima kasih," ujar Asmara.


Asmara dengan cepat mengambil air mineral yang diberikan oleh Alice, kemudian dia menenggak air mineral itu sampai hampir habis.


Setelah itu, dia kembali memeluk Kenzo. Rasa takutnya seolah belum hilang, Kenzo dan juga Alice menjadi khawatir dibuatnya.


"Jangan takut, ada aku sama Alice. Mau pulang apa mau ke salon dulu?" tawar Kenzo.


"Mau pulang aja, mau ketemu bapak."

__ADS_1


"Oke, aku antar kamu pulang," ujar Kenzo pada akhirnya. "Kamu diem dulu, aku mau rapikan barang bawaan kita."


Asmara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia soalnya benar-benar tidak ingin ditinggalkan oleh Kenzo.


"Ngga mau, mau peluk aja." Asmara seolah tidak mau ditinggalkan oleh Kenzo, wanita itu malah mengeratkan pelukannya.


Alice yang sejak tadi diam nampak menepuk-nepuk punggung Asmara, dia terlihat begitu khawatir dan juga iba terhadap keadaan wanita itu.


"Biar aku yang rapikan, Kakak tenangin Kak Ara aja," ujar Alice.


"Makasih ya, Dek!" ujar Kenzo karena adiknya itu dirasa begitu pengertian.


"Santai aja, Kak!" ujar Alice.


Alice nampak merapikan perbekalan mereka ke dalam keranjang, setelah itu Alice memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Tidak lupa dia juga melipat karpet yang dipakai untuk duduk, dia bahkan merapikan semua sampah agar tidak mencemari lingkungan di sana.


"Sudah selesai, ayo pulang," ujar Alice.


"Ya," jawab Kenzo.


Kenzo langsung menuntun Asmara untuk masuk ke dalam mobil, wanita itu seolah tidak mau lepas dari pria itu. Alhasil Alice menawarkan diri untuk menyetir mobil.


"Biar aku saja yang menyetir, Kakak temani Kak Ara aja," ujar Alice.


Rasanya lebih baik melihat asmara di dalam pelukan kakaknya, karena sepertinya Asmara lebih merasa nyaman ketika berada di dalam pelukan kakaknya itu.


"Ya," jawab Kenzo yang pada akhirnya mengajak Asmara untuk duduk di bangku kemudi.


Alice pada akhirnya yang membawa kendaraan tersebut, selama perjalanan pulang Asmara terus saja memeluk pria itu. Dia terlihat begitu ketakutan dan juga cemas.


Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, Kenzo merasakan pelukan dari wanita itu mulai mengendur. Saat dia menunduk, ternyata Asmara terlelap dalam tidurnya.


"Ya ampun! Dia ketakutan sampai tertidur, kasihan sekali kamu! Apakah kamu pernah mengalami hal yang begitu mengerikan?" tanya Kenzo dengan rasa penasaran yang tinggi.


Pria itu bahkan memperhatikan wajah Asmara, kini keadaan wanita itu sudah lebih tenang. Sedih dan juga penasaran yang Kenzo rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2