Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 104


__ADS_3

Sam begitu kaget ketika melihat Ayaka yang melaksanakan shalat ashar bersama dengan Ayana setelah memakan seblak, dia tidak menyangka jika kedua putrinya kini sudah berpindah agama.


Jika Ayana masuk Islam, Sam sangat paham karena ternyata keluarga mantan istrinya itu memanglah keluarga muslim. Namun, dia merasa heran ketika melihat Ayaka yang juga ikut menganut agama Islam.


Secara dirinya dan juga Angel memiliki agama yang sama, tetapi bukan agama Islam. Sam jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apa yang mendasari Ayaka bisa berpindah agama.


Namun, Sam sudah memutuskan untuk tidak membahas masalah tersebut. Dia akan membiarkan Ayaka hidup sesuai dengan keinginannya.


Tentunya selama anaknya tersebut berada di jalan yang benar, Sam akan selalu mendukung apa pun langkah yang diambil oleh putrinya.


"Bang! Aku mau jemput Ay," ujar Sigit memecahkan lamunan Sam.


"Eh? Tuan sudah datang, kok bisa masuk?" tanya Sam saat melihat Sigit yang sudah berada di dalam ruang keluarga.


Sigit terkekeh melihat raut wajah bingung dari Sam, dia sudah datang dari tadi dan mengucapkan salam. Namun, Sam tidak juga menyahuti ucapan salamnya.


Maka dari itu Sigit memaksakan diri untuk masuk, saat dia masuk ternyata Sam sedang berdiri seraya menatap kedua putrinya yang sedang melaksanakan shalat ashar.


Pantas saja Sam tidak menyahuti dirinya, karena sepertinya pria itu sedang ada dalam lamunan. Entah apa yang dilamunkan oleh pria itu, tetapi semua itu pasti ada hubungannya dengan apa yang sedang dilakukan oleh kedua putrinya, pikir Sigit.


"Maaf jika aku asal masuk saja, karena sejak tadi aku mengucapkan salam tetapi Abang masih saja melamun di situ. Oiya, Bang. Jangan panggil aku, Tuan. Karena aku bukan atasan Abang lagi," ujar Sigit.


Sigit rasanya sangat tidak enak jika Sam masih saja memanggil dia dengan sebutan tuan, karena Sam sudah lama tidak bekerja dengannya. Sam yang paham langsung menganggukkan kepalanya.


"Oh, oke. Duduklah dulu, biar aku buatkan kopi." Sam terlihat hendak melangkahkan kakinya menuju dapur, tetapi dengan cepat Sigit menghentikan langkah pria itu.


"Tidak perlu, Bang. Aku hanya akan menjemput Ay, mau ngajak dia ke rumah ayah Satria," ujar Sigit.


Sam terlihat kaget mendengar nama mantan mertuanya itu disebutkan, takut-takut pria paruh baya itu sedang sakit parah.


"Eh? Kenapa mau ke rumah beliau, apakah beliau sakit?" tanya Sam.


Sigit tersenyum dengan pertanyaan yang diajukan oleh Sam, karena pria itu kini terlihat lebih perhatian dan lebih peka.


"Tidak, alhamdulillah ayah Satria sehat-sehat saja. Bunda Rachel juga sangat baik keadaannya, kami memang sengaja ingin berkumpul di sana. Karena ingin merayakan kehamilan Aruna," jawab Sigit dengan bangga.


Tentunya karena pria itu mampu membuat Aruna hamil kembali, Sigit benar-benar merasa bahagia karena akan mendapatkan keturunan kembali.

__ADS_1


"Oh! Aruna hamil anak kedua, ya?" ujar Sam.


Hamil anak kedua dari Sigit, tentunya setelah mereka dikaruniai anak laki-laki dan kini Aruna mengandung kembali. Karena Ayana adalah anak Aruna yang lahir dari benihnya.


"Ck! Hamil anak ketiga, Bang. Calon adiknya Ay dan juga Ken," jawab Sigit.


Sam tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, karena Aruna memang kini tengah mengandung anak ketiga. Namun, anak pertama yang Aruna kandung adalah anak yang terlahir dari benihnya.


Anak kedua dan calon buah hati yang sedang dikandung oleh Aruna kini merupakan benih dari Sigit, jika mengingat akan hal itu rasanya Sam ingin mengulang waktu kembali.


Sam ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Aruna, Sam tidak ingin menuruti hawa napsunya untuk berselingkuh dengan Angel.


Karena jika boleh jujur, dulu Sam hanya berniat untuk bersenang-senang saja ketika berhubungan dengan Angel. Ingin menyenangkan hatinya dan hati Angel, tapi tidak berniat untuk menikahi wanita itu.


"Hem! Selamat untuk kehamilan Aruna yang ketiga ini, semoga kalian semakin bahagia. Tolong ucapkan maaf kepada Aruna, karena aku tidak bisa datang untuk mengucapkan selamat secara langsung. Aku juga mengucapkan terima kasih karena kamu sudah memperlakukan kedua putriku sebagai anak kandung kamu," ujar Sam tulus.


"Iya, Bang. Sama-sama, untuk ucapan selamatnya nanti aku sampaikan," ujar Sigit.


Di saat Sigit dan juga Sam sedang asyik mengobrol, Ayaka dan juga Ayana yang sudah menyelesaikan shalat ashar langsung menghampiri Sigit. Kedua gadis kecil itu langsung memeluk Sigit dengan begitu posesif.


"Om datang buat jemput Kak Ay?" tanya Ayaka.


"Wah! Aya pengen ikut, tapi kasian Ayah Sam sendirian di rumah. Memangnya ada acara apa?" tanya Ayaka.


"Buna Aruna hamil lagi, kita akan mengadakan perayaan kehamilan buna Aruna. Mau ikut?" tanya Sigit.


Ayaka dan juga Ayana terlihat begitu bahagia mendengar kabar tersebut, keduanya bahkan terlihat melompat-lompat dengan kegirangan.


"Aku mau punya adik lagi, Pa? Adiknya cewek apa cowok? Kalau bisa, Ay mau adik cewe lagi aja. Ken ngga asik, dia jarang ngomong," ujar Ayana.


Ken begitu pendiam, rasanya kalau boleh request Ayana ingin memiliki adik perempuan saja. Terlebih lagi kini Ayaka sudah tinggal dengan Sam, Ayana sudah tidak memiliki teman satu kamar lagi.


Ayana sudah tidak ada teman untuk berkeluh kesah dan teman untuk berdebat atau berkasih sayang, kalau ada adik perempuan lagi rasanya akan sangat menyenangkan, pikir Ayana.


"Eh? Mana boleh ngomong kayak gitu, mau perempuan ataupun laki-laki sama saja. Yang penting dalam keadaan sehat dan juga sempurna," jelas Sigit.


"Maaf, Papa. Ay lupa kalau semuanya sudah ada garis takdirnya," ujar Ayana seraya nyengir kuda.

__ADS_1


"Hem! Semuanya sudah ada yang atur," timpal Sigit.


Setelah mengatakan hal itu, Sigit nampak menolehkan wajahnya ke arah Ayaka. Lalu, pria itu mengusap puncak kepala seorang putri kecil yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


"Bagaimana, Sayang. Mau ikut?" tanya Sigit.


"No, Om! Titip salam aja buat tante Aruna, tolong bilang kalau Aya sayang banget sama tante Aruna. Nanti Aya akan datang untuk menemui tante Aruna," ujar Ayaka.


"Ya, Sayang. Datanglah kapan pun kamu mau, pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk kamu," ujar Sigit.


"Terima kasih, Om,'' ujar Ayaka dengan tulus.


Setelah terjadi obrolan antara Sigit dan juga kedua putri dari Sam, Sigit langsung mengajak Ayana untuk pergi ke rumah Satria. Di mana rumah kediaman Dinata itu sudah sangat ramai.


Tentunya hal itu terjadi karena ingin merayakan kehamilan Aruna, mereka ingin mengucapkan selamat kepada wanita yang selalu terlihat begitu kuat itu.


Selepas kepergian Sigit dan juga Ayana, Ayaka mengajak ayahnya untuk berbicara. Mereka kini nampak duduk di atas bangku kayu yang ada di ruang keluarga, Ayaka juga bahkan tanpa ragu memeluk ayahnya.


"Yah, tadi aku sudah berpikir dan juga berbicara dengan kak Ay. Sepertinya aku ingin menemui bunda Angel, apakah Ayah mau mengantarkan aku ke rumah bunda Angel?" tanya Ayaka.


Kaget?


Tentu saja Sam begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Ayaka, bahkan dia juga merasa takut ketika Ayaka mengatakan hal tersebut.


Sam sangat takut jika Ayaka memutuskan untuk tinggal bersama dengan Angel, jika sudah seperti itu dia akan tinggal dengan siapa, pikirnya.


Kini tidak ada lagi Aruna yang menjadi istrinya, kini tidak ada lagi pekerjaan yang membuat dirinya terlihat berharga di mata orang lain. Kini bahkan tidak ada gelimang harta yang membuat dirinya terlihat berharga di mata orang lain.


Jika Ayaka akan tinggal bersama dengan Angel, rasanya dia sudah tidak punya semangat lagi dalam melanjutkan kehidupannya. Terlebih lagi dia dan Angel sudah memutuskan akan menjalani hidup masing-masing, keduanya tidak akan mengulang kisah di masa lalu yang terasa begitu kalam.


Sebuah kenikmatan yang menghasilkan dosa, sebuah kenikmatan yang begitu menyesatkan. Kini Sam sangat sadar jika dulu dia melakukannya bersama dengan Angel bukan karena cinta, tetapi karena napsu belaka.


"Kamu mau tinggal bersama dengan bunda Angel? Kamu udah nggak mau tinggal sama ayah lagi?" tanya Sam dengan raut wajah yang begitu sedih.


Ayaka dengan cepat menggelengkan kepalanya, dia hanya ingin berbaikan dengan ibu kandungnya tersebut. Tidak ada niatan sama sekali untuk tinggal bersama dengan ibunya, karena dia lebih mengkhawatirkan keadaan Sam.


"Tidak, Ayah. Aku hanya ingin memberitahukan kepada wanita itu jika aku tidak hilang, selama ini aku dirawat dan diasuh oleh tante Aruna dengan sangat baik. Aku baik-baik saja," jelas Ayaka.

__ADS_1


Sam langsung melebarkan senyumnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, dia benar-benar merasa lega karena ternyata Ayaka hanya ingin menyampaikan keberadaannya saja.


"Baik, Sayang. Mau kapan ke rumah bundanya?" tanya Sam.


__ADS_2